Bukittinggi dingin malam itu. Sunyi menyambut kedatangan saya, sudah tidak ada kehidupan di luar, yang ada hanya hembusan angin lembut yang terdengar samar dari hutan bambu di sisi kiri jalan. Gelap di sana, tak ada cahaya. Beruntung, sorotan lampu dari mobil travel yang mengantarkan saya malam itu tetap setia menemani lari kecil saya yang berusaha menembus sunyi jalan menuju rumah Nenek, ibu dari Papa saya. Mereka sempat khawatir karena sunyinya jalan, menawarkan telepon genggam untuk menghubungi keluarga di rumah atau berbagai macam kalimat kekhawatiran lainnya. Terimakasih banyak, teman seperjalanan saya baik sekali.
Dalam lari kecil yang saya usahakan dalam tempo sesingkat-singkatnya itu, ingatan saya terlempar ke masa kecil. Saat saya menatap sebuah rumah di hutan bambu di suatu magrib. Rumah yang hanya muncul dalam selintas tatapan, memperlihatkan seseorang yang melambai-lambai ke arah saya. Tak terlalu ingat, namun rasa mistis itu cukup membekas. Rasa takut yang sempat terselip itulah yang mendorong adrenalin saya untuk terus berlari kencang hingga sampai ke rumah. Ternyata keluarga saya masih terbangun dan sedang menunggu saya di ruang tamu, seperti mengkhawatirkan lambatnya kedatangan saya dari jadwal yang seharusnya. Ya, jam sebelas malam. Cukup lama dan melelahkan.