Thursday, April 5, 2012

Status Chronicle- Jomblo

"Sejomblo-jomblonya jomblo, lebih jomblo lagi kalo ga Sholat. Cinta Manusia ga ada, Cinta Tuhan ga punya"
(Surya Dinando)

Bagus sekali. Sederhana dan Mengena. Mantap.. Nanti saya sambung lagi.

Beautiful Scenery in My Hometown

Berikut ini saya tampilkan pemandangan-pemandangan yang sempat saya potret. Dari Bukittinggi, di sepanjang perjalanan, hingga di Sungai Indarung (Solok). Saya berharap mungkin kalian ada yang tertarik berkunjung ke daerah ini.





Wednesday, April 4, 2012

Status Chronicle-Insomnia

(Source: here)

Kalau orang selalu update status di jejaringan sosial, rasanya saya suka update status di blog. Mengapa? Sebab
1. Bikin status di blog bisa lebih panjaaaaaang dan lebaaaar.
2. Nggak semua orang bisa lihat apa yang saya tulis, berbeda dengan jejaring sosial lainnya. Hanya orang yang dekat dan kenal saya saja yang menjadi pembaca atau orang yang tidak sengaja terdampar di blog saya.
3. Saya senang sekali bercerita. Lah, itu lah gunanya blog. Lagian blog saya tidak didedikasikan untuk sesuatu yang berbau ilmiah, hehehe.

Tuesday, April 3, 2012

My Baibi - Sepenggal Cerita

 (Source: here)

Entah kenapa saya suka saja dengan kata sepenggal, sekeping, sepotong, dsb. Lagi-lagi saya cerita Bibi, ponakan kecil yang saya temui selama cuti kemaren. Dia hobinya manyun kalau tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, seperti tidur di dekat saya. Hwahahaha, entah apa istimewanya saya sampai dia suka sekali nempel kemana saya pergi.

Ada banyak cuplikan percakapan lucu atau sedikit bermakna yang saya hasilkan dengan Bibi, masa itu. Mungkin lucunya, lucu bagi saya. Mungkin juga bermaknanya, hanya bagi saya juga. Saya suka dia, dia punya rasa kemanusiaan yang luar biasa. Saya juga merasakannya, sebab saya merasa dia sayang sekali sama saya, semoga tak berubah hingga dia besar nanti. Setiap saya akan bepergian, dia selalu mengantarkan saya ke bandara. Setiap akan tidur, dia selalu ingin bersama saya. Setiap mempunyai sesuatu, dia selalu berbagi kepada saya, bahkan impiannya. Saya suka.
***

Monday, April 2, 2012

Minas - Kota Minyak Itu Kini Gersang

(Source: here)

Saya menghabiskan waktu setengah hari untuk mencapai Minas, setelah kunjungan singkat ke Sungai Indarung. Satu-satunya yang membuat saya terikat dengan daerah penghasil minyak ini adalah keluarga saya. Saya memang tidak suka perjalanan darat yang terlalu lama (entah berapa kali saya mengucapkan ini). Sebab saya selalu mual.

Sewaktu kecil saya lebih memilih kendaraan tak ber-AC dan membuka jendela lebar-lebar. Bernapas dengan menggunakan mulut, agar sama sekali tak mencium bau kendaraan. Sedikit tercium, maka kepitan perut akan semakin erat antara dada dan paha, agar tak ada ruang untuk mual. Hal ini selalu saya lakukan ketika bepergian jauh dan duduk di samping Papa. Aaah, I miss that moment, dan itu sudah lama sekaliii.

Sungai Indarung - Tak Lagi Sama

(Siang di perjalanan)

Matahari bersinar terik siang itu. 7 jam perjalanan darat dari Bukittinggi untuk mencapai tempat tumbuh Mama di kala kecil. Duduk bersama dua keponakan di bagian terbelakang mobil sambil sesekali memotret pemandangan yang menakjubkan di sepanjang perjalanan. Hutan tropis yang lebat, jalanan berkelok yang memisahkan tebing-tebing yang menjulang, sungai yang mengalir di sisi jalan, kebun teh yang menghijau, danau yang terbentang luas atau padi yang menguning menemani mata  (suasana syahdunya semakin terasa ketika saya mendengarkan musik Heaven and Earth-nya Kitaro). 

Bukittinggi - Ternyata Saya Rindu


Malam Sepi
 
Bukittinggi dingin malam itu. Sunyi menyambut kedatangan saya, sudah tidak ada kehidupan di luar, yang ada hanya hembusan angin lembut yang terdengar samar dari hutan bambu di sisi kiri jalan. Gelap di sana, tak ada cahaya. Beruntung, sorotan lampu dari mobil travel yang mengantarkan saya malam itu tetap setia menemani lari kecil saya yang berusaha menembus sunyi jalan menuju rumah Nenek, ibu dari Papa saya. Mereka sempat khawatir karena sunyinya jalan, menawarkan telepon genggam untuk menghubungi keluarga di rumah atau berbagai macam kalimat kekhawatiran lainnya. Terimakasih banyak, teman seperjalanan saya baik sekali.

Dalam lari kecil yang saya usahakan dalam tempo sesingkat-singkatnya itu, ingatan saya terlempar ke masa kecil. Saat saya menatap sebuah rumah di hutan bambu di suatu magrib. Rumah yang hanya muncul dalam selintas tatapan, memperlihatkan seseorang yang melambai-lambai ke arah saya. Tak terlalu ingat, namun rasa mistis itu cukup membekas. Rasa takut yang sempat terselip itulah yang mendorong adrenalin saya untuk terus berlari kencang hingga sampai ke rumah. Ternyata keluarga saya masih terbangun dan sedang menunggu saya di ruang tamu, seperti mengkhawatirkan lambatnya kedatangan saya dari jadwal yang seharusnya. Ya, jam sebelas malam. Cukup lama dan melelahkan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...