Sudah hampir 4 tahun saya berkutat di bidang ini. Ada sedikit ruang yang membuat saya berpikir ulang lagi dan lagi tentang tujuan hidup saya ke depan. Apakah tahun depan saya akan tetap disini? Apakah tahun depan saya akan tahan untuk melakukan hal yang sama lagi tanpa mengetahui jelas kemana arah hidup saya? Ya, jujur saja, saya mulai kehilangan arah.
Dalam diam saya sering mempertanyakan semua yang saya alami. Well, saya bukanlah orang yang dapat membagi-bagi waktu saya dengan baik. Saat ini, yang ada dipikiran saya, hanya kerja kerja kerja. Tetapi bukanlah sebuah kepuasan yang saya rasakan. Saya bekerja tanpa paham kemana karir saya akan mengarah. Tidak ada peningkatan karir yang jelas di sini. Dan saya sering bertanya-tanya, apakah dengan 4 tahun saya di sini, saya memberi manfaat bagi orang-orang di sini? Entahlah. Dari sekian banyak proyek yang saya tangani, tidak ada yang benar-benar jadi. Apakah itu karena rencana berubah atau karena dihentikan untuk sementara atau karena ketidakjelasan yang menyita waktu saya dengan melakukan pola berulang, melakukan hal itu lagi dan lagi.
Terlempar ingatan saya pada suatu sore yang muram, setelah saya memborbardir sebuah perusahaan asing mengenai sebuah perhitungan yang detail, setelah sedikit terbantu oleh pihak asing ini (yang saya yakin rasanya yang diminta sudah melebihi batas dari yang diperjanjikan) dan sedikit memberikan kejelasan pada apa yang kami butuhkan, klien saya berkata bahwa mereka tertarik menggunakan teknologi lain dari yang ditawarkan dan bisa jadi tak lagi berniat menggunakan teknologi dari pihak asing itu. D**n!! Again!! I have been through this path before, and still with the same client.
Friday, November 7, 2014
Wednesday, October 15, 2014
Random Note: Sad but Happy
Yeeaaayy, akhirnya balasan email dari Houston datang juga. Isinya bukanlah sesuatu yang menyenangkan tetapi sebuah penolakan. Tetapi saya tetap senang dengan kondisi ini. Karena akhirnya mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan.
PS: It is better to know what they feel rather than stay in quiet moment
Thursday, September 25, 2014
Cungkiii, See You Soon My Friend
"Cung, lu udah dengar?"
"Apaan?"
"Gue disuruh masuk tanggal 7 Oktober ini."
"Yaah cuungkii, Sumpah luuu? Cepet amat sih?"
"Apaan?"
"Gue disuruh masuk tanggal 7 Oktober ini."
"Yaah cuungkii, Sumpah luuu? Cepet amat sih?"
Itu yang dikatakan sahabat seperjuangan saya di kantor. Oke, saya belum siap (inhale, exhale). Saya siapnya dia pindah bulan Februari tahun depan, bukan Oktober tahun ini, yang berarti satu minggu lagi (guling-guling di trotoar). Ikut senang tapi juga sedih. Mendoakan yang terbaik tetapi setengah tidak rela melepas. Hahaha, sindrom perpisahan yang tidak bisa terelakkan.
Hampir empat tahun bersama-sama membuat dia jadi bagian penting dalam hidup saya yang tidak bisa saya pisahkan. Pokoknya kalau masuk kantor, saya pasti akan lihat dia duduk di mejanya sambil mengunyah (ya tempe, ya tahu, ya mie ayam, ya nasi kuning dan semua jenis makanan yang dia temui di jalan) atau memakai jilbab yang lagi-lagi berwarna sama dengan saya. Kalau bercerita sama sekali tidak bisa saya tertawakan karena kurang pandainya dia bercerita, tetapi rasa frustasi dan ekspresinya lah yang membuat saya terbahak-bahak. Atau niat dietnya yang hanya bertahan sehari dua hari namun terhapuskan seketika dengan semua makanan yang tersedia di kantor.
Paling aktif kalau sudah membicarakan makanan, meskipun sedang diet. Paling cekatan menghabisi kepiting atau ceker. Sparing partner saya untuk makan semua makanan hingga habis tak bersisa, bahkan untuk menghabisi semangkok mie ayam basi karena tidak mau rugi.
Teman diskusi pekerjaan kalau saya sudah mencapai titik nadir. Sering satu tim pada masa-masa awal saya bekerja membuat semua percakapan kami lebih hidup karena sama-sama mengalami. Paling sering memberi masukan kalau saya sudah jalan di tempat atau sudah mulai jerawatan memikirkan pekerjaan. Sering sekali saya memaparkan isi hati saya, sampai dia bosan mendengarnya. Berkat sifatnya yang jarang mengeluh dan selalu ceria itulah yang terkadang memacu saya untuk pantang menyerah dan terus berusaha.
Pokoknya saya sama sekali belum bisa membayangkan kalau di kantor tidak ada dia. Saya tabah kok, sungguh, tapi nanti sepiii. Sekarang saya belum nangis, tetapi nanti saya akan nangis. Lihat aja. Pokoknya, kalau lu ada niat jalan, ajak gue yaaa. Terlepas dari saran lu
untuk solo backpacker supaya segera mendapat tambatan hati.
Cungkii, gue pasti bakal kangen banget sama luuu, ditambah lagi, lu akan pindah ke pojok barat Jawa sana.
Monday, September 8, 2014
What am I working?
Learning from the draft or any published information. Compiling with my case and adjusting to the right term. Somehow, I don't know what I am doing right now. Is it right? I don't know. It is so frightening when you should draft about something that you are not an expert on it.
People say, you will learn by doing. It just puts me in uncomfortable area. Should learn about the Contract, should I become a Contract Engineer. Hellowww, I am an engineer. Fine, if I work in specific area, but what if I should put my shoes in every aspect. Lately, I act as a Cost Engineer as well as a Process Engineer as well as a Contract Engineer as well as an Environmental Engineer as well as a Project Engineer. Who am I? I am not focusing on one area. It is good but also bad. Maybe, I can call myself as the Project Manager. Hell yeah!! It seems to be like that.
People say, you will learn by doing. It just puts me in uncomfortable area. Should learn about the Contract, should I become a Contract Engineer. Hellowww, I am an engineer. Fine, if I work in specific area, but what if I should put my shoes in every aspect. Lately, I act as a Cost Engineer as well as a Process Engineer as well as a Contract Engineer as well as an Environmental Engineer as well as a Project Engineer. Who am I? I am not focusing on one area. It is good but also bad. Maybe, I can call myself as the Project Manager. Hell yeah!! It seems to be like that.
Saturday, September 6, 2014
Catatan Hati Seorang Ibu
Wanita itu sudah sering menangis apabila dia menceritakan perihal yang dia rasakan akhir-akhir ini. Tak ayal hanya menguak luka yang sudah disimpannya sedemikian rapi. Setiap kali dia bercerita, sesering itu pula wajahnya merasakan segarnya luka itu merobek-robek perasaannya.
Ya, dia seorang nenek yang terpisah dari cucu-cucunya. Bukan terpisah oleh jarak fisik, tapi jarak magis yang tak dapat ditembus kecuali didekatkan oleh pemiliknya. Perasaan sedih juga ikut menjalari siapa pun yang mengetahui kendala yang dia hadapi, jika orang itu berada di sampingnya, berusaha melihat dari kacamatanya dan juga berdiri di sepatunya.
Ya, dia seorang nenek yang terpisah dari cucu-cucunya. Bukan terpisah oleh jarak fisik, tapi jarak magis yang tak dapat ditembus kecuali didekatkan oleh pemiliknya. Perasaan sedih juga ikut menjalari siapa pun yang mengetahui kendala yang dia hadapi, jika orang itu berada di sampingnya, berusaha melihat dari kacamatanya dan juga berdiri di sepatunya.
(Source: Crying for Sun)
Thursday, June 26, 2014
Ini Kamis
I had a bad day! Again!
Bukannya nyumpahin hari saya yang belum berakhir, tapi perasaan nyesek dan ngancurin ritme pernapasan ini mengganggu. Bagaikan ada sebuah lubang besar yang tiba-tiba menyempit, membuat saya bernapas dengan susah. Perasaan ini sudah lama tak muncul. Perasaan ini seperti indikator alami saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang tidak berjalan lancar, dan yah memang saya tidak puas dengan apa yang telah terjadi hingga saat ini, di hari ini. Saya tidak puas dengan diri saya.
Kata mama, kalau saya sakit hati, hati saya memang benar-benar sakit. Tapi bagaimana kalau saya merasa tidak beres dan tidak nyaman dengan suatu keadaan dan menimbulkan bahwa saya menjadi sulit bernapas. Apakah itu benar, bahwa saluran pernapasan saya memang sedang menyempit? Luar biasa memang keadaan mental ini.
Ngomong-ngomong ini adalah hari Kamis. Kamis yang harusnya berkah, malah sering menjadi hari yang menguji bagi diri saya. Dan sekarang hari Kamis, saya langsung menghubungkan perasaan tidak menyenangkan ini dengan hari dan mencoba menyendiri di ruang meeting kecil di kantor saya.
Saya mau ketenangan dan melarikan dari ketakutan-ketakutan pribadi saya, yang sampai sekarang belum dapat saya kalahkan dengan tuntas. Saya mau menyendiri dari segala pikiran-pikiran yang terus menerus mempermainkan logika saya dan menyesakkan pernapasan. Saya mau ketidaksempurnaan yang akan memberikan saya pengecualian terhadap ketidaksempurnaan dari saya dan yang lain. Saya mau menenangkan diri dan bersikap lebih manusiawi. Saya mau lebih santai, lebih rileks, lebih longgar terhadap diri saya sendiri yang selalu menghukum diri secara tak sadar.
Tenangkan saya Tuhan.
Ya, ini Kamis.
Ya, itu bukan sesuatu yang berarti.
Ya, ini hanya salah satu hari dalam seminggu
Ya, saya tidak apa-apa
Ya, semua baik-baik saja
Bukannya nyumpahin hari saya yang belum berakhir, tapi perasaan nyesek dan ngancurin ritme pernapasan ini mengganggu. Bagaikan ada sebuah lubang besar yang tiba-tiba menyempit, membuat saya bernapas dengan susah. Perasaan ini sudah lama tak muncul. Perasaan ini seperti indikator alami saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang tidak berjalan lancar, dan yah memang saya tidak puas dengan apa yang telah terjadi hingga saat ini, di hari ini. Saya tidak puas dengan diri saya.
Kata mama, kalau saya sakit hati, hati saya memang benar-benar sakit. Tapi bagaimana kalau saya merasa tidak beres dan tidak nyaman dengan suatu keadaan dan menimbulkan bahwa saya menjadi sulit bernapas. Apakah itu benar, bahwa saluran pernapasan saya memang sedang menyempit? Luar biasa memang keadaan mental ini.
Ngomong-ngomong ini adalah hari Kamis. Kamis yang harusnya berkah, malah sering menjadi hari yang menguji bagi diri saya. Dan sekarang hari Kamis, saya langsung menghubungkan perasaan tidak menyenangkan ini dengan hari dan mencoba menyendiri di ruang meeting kecil di kantor saya.
(Source: Siadventure Courtesy - Bilik Menyendiri)
Tenangkan saya Tuhan.
Ya, ini Kamis.
Ya, itu bukan sesuatu yang berarti.
Ya, ini hanya salah satu hari dalam seminggu
Ya, saya tidak apa-apa
Ya, semua baik-baik saja
Ketakutan-ketakutan itu muncul atas nama permainan logika
(DY - 26 June 2014)
Wednesday, June 25, 2014
Best Time on Yogyakarta
Pukul 3 sore lewat 45 menit. Rabu sore yang mendung.
Malam nanti akan berkunjung ke salah satu mall terbesar di Indonesia untuk menyaksikan penampilan salah satu sahabat sekaligus teman sekantor saya di konser sebuah musik. Siapkan diri untuk terbangun dan menikmati acara.
Sudah hampir 3 bulan tidak mencorat-coret dunia maya. Sayang sekali, blog ini ibarat rumah yang jarang dihuni, dibersihkan dan diberi perlengkapan baru. Perkembangan yang terjadi dalam hidup saya, well, murni tentang karir. Still didn't have some kind of romance story. Kenapa?? Hahahha, sedang tidak ada saja. Tuhan sedang meminta saya fokus dengan dunia karir, itu kilah saya selalu.
Seminggu yang lalu, saya menjadi Speaker di sebuah acara bergengsi di Indonesia bagi Industri Perpipaan. Target saya untuk menjadi seorang Key Note Speaker di tahun 2018, dapat diwujudkan pada tahun 2014. Lebih cepat 4 tahun dari target. Yeyeyye, loncat-loncat pakai trampolin. Mengutip dari kata bos saya menghadapi keadaan seperti ini adalah Ngeri-ngeri Sedap.
Subscribe to:
Posts (Atom)
