Saturday, March 22, 2014

Korean Visit: between work and fun (DAY 1)

It has been a long time since I wrote my last blog. With the new story of traveling. And I just forgot to finish my writing about China and the last vacation I had, Thailand. And here I am now, sitting in front of my laptop in South Korea, alone in my journey. Never think to be like this, but it is, alone. So, I should find my way to have a great visit to this country. Not only about my work, but I should explore it. 7 days should be enough.

Switch to bahasa by the way.

DAY (-) 14 to DAY (-) 1| Preparing but not really preparing

Awalnya, saya ada rencana dengan teman kuliah untuk pergi ke Makassar dengan salah satu pesawat komersial, tapi karena suatu alasan kepailitan, kami gagal berangkat. Namun, Tuhan punya rencana lain, saya diikutseratakan dalam salah satu Konferensi Gas Dunia di Negeri Ginseng, Gastech 2014. Yuhuu.
In fact, saya bukanlah orang yang sangat-sangat preparing untuk melakukan perjalanan, kecuali itu adalah mandatori yang harus dipenuhi. Saya tak terlalu menyukai administrasi, tapi saya tahu itu harus dilalui. Jadi, apa yang saya persiapkan sebelum ke Negara Ginseng ini? Ya, khusus administrasi saja. Hehe.

Berikut hal-hal yang administrasi yang dipersiapkan jauh-jauh hari untuk berangkat ke Korea:

Thursday, November 7, 2013

Bonsoir!!

Hari ini luar biasa!!! Saya benar-benar dalam hal ini.
Setidaknya itu yang saya rasakan.
Saya tertawa lepas di kelas. Hihihi, saya menjadi seorang murid sekarang. Setelah sekian lama tidak duduk di bangku dan berkonsentrasi mempelajari sesuatu, rasanya benar-benar nikmat. Apalagi karena saya menaruh minat di sana, karena saya sendiri yang memilih. Hihihi.

Saya memiliki semangat sekali. Setiap diminta ke depan, saya melengos saja, tak pernah gugup apalagi demam pangung. Sungguh!! Menulis yang saya bisa, dan tidak pernah khawatir akan dicela karena saya tak perduli. Saya bahagia di sana, saya bahagia mempelajarinya. Mungkin inilah yang dirasakan apabila seseorang memang berminat ya? Yang langsung dari hati, tanpa paksaan. Teman saya juga mulai menyenangkan, karena didasari kepolosan dan ketidaktahuan pada taraf yang sama, jadi kami sama-sama belajar. Derai tawa menjadi sering terdengar, entah karena kita serempak menjadi anak gagu, entah sama-sama cengok memandangi professour karena sama sekali nggak paham apa yanh diperintahkan, atau langsung pusing mendengarkan percakapan yang sama sekali tidak dipahami bunyinya.

Tadi siang juga saya presentasi lagi di depan klien. Menarik sekali tadi, saya samasekali tak ragu, tadi mengalir begitu saja. Yang saya rasakan sekarang adalah sama sekali tidak ada demam panggung. Tak ada lagi panas dingin. Awalnya karena saya sadar bahwa saya tidak bisa lari dari kewajiban itu, tapi lama-lama saya menikmatinya. Akibatnya, meskipun saya baru menyelesaikan presentasi yang akan saya sampaikan tepat setengah jam sebelumnya dan sama sekali belum membuat ancang-ancang mengenai alur yang akan saya sampaikan, Alhamdulillaaah, saya bisa menyampaikannya. Meskipun dikritik terlalu cepat, hahaha, saya senang. Karena hari ini, saya sudah bisa berkomunikasi saat presentasi. Tak lagi berbicara dengan papan. Hihihihi. Benar juga kata pepatah bahwa "Kamu akan menjadi sangat kuat, ketika kuat itu hanya satu-satunya pilihan yang bisa kamu pilih". Saya menangis, saya stres, saya mengeluh, saya ingin lari, tetapi saya tetap harus melaksanakannya. Lama kelamaan, ada pada satu titik saya berkata, ini harus dihadapi, ini harus diselesaikan. Dan salah satu hal positif yang saya rasakan di tempat saya bekerja sekarang adalah kepercayaan diri yang meningkat sangat tajam. Alhamdulillaaah.

Oh iya, saya akan menghadapi ujian pada hari kamis depan. Wihihihi, saya mau ujiaaannn!!! Sudah lama rasanya tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Yang lucunya lagi, saya diajak untuk belajar kelompok hari Minggu. Hahaha, belajaar kelompoook boo. Lucu amat yaa, belajarnya sama anak-anak yang teriak panggil kakak ke saya. Pokoknya seruu lah dan saya akan berusaha untuk menjadi ahli disini. Berusahaaaa!!!

Je m'appelle Dina. Je suis Indonesien. Je parle Anglais.
Je suis etudient. Je travaille dans les affaires. J'habite a` Jakarta.
Pourquoi etudier le francais? Pour parle avec de amis, puor le plaisir, et pour le CV.
(Coretan acak, persiapan ujian)

Sunday, November 3, 2013

Un-essential things for un-essential thought

Saya baru saja menyelesaikan kerjaan saya beberapa menit yang lalu
Dengan mengerjakannya seefektif mungkin dengan pikiran hampa
Tak disangka lebih cepat dari yang saya targetkan meskipun dengan pikiran melayang

Perlu tekad yang kuat untuk membuka benda itu
Menimbang dengan janji yang saya lontarkan pada atasan,
"Saya akan kirim proposal hari Minggu", demikian saya berkata
Dan pikiran itu mengikat saya. Meskipun saya dalam keadaan jenuh dan malas luar biasa, saya bersyukur karena masih bisa menepati apa yang saya janjikan

Acara televisi tak juga menyelesaikan kebosanan yang saya rasakan
Entah karena umur yang semakin bertambah, entah karena memang keadaannya demikian
Saya benar-benar kesal dengan acara-acara yang ditayangkan semua stasiun televisi di Indonesia saat ini, pada jam utama
Kalau bukan sinetron yang sudah hilang intinya, ya acara tarian yang tak jelas maksudnya
Tetapi sepertinya memang itulah yang disukai orang Indonesia saat ini. Berbondong-bondong datang menggunakan kostum dan menari dengan latah terhadap gerakan para pengisi acara.
Dan itu diputar setiap 7 hari dalam seminggu, yang artinya bahwa selain hidup saya yang akan berputar dengan ritme yang konstan dalam kehidupan nyata, saya juga akan dihadapkan dengan acara televisi yang sama pada jam yang sama setiap harinya
Saya hanya sedih, jika memang hal itu yang disukai masyarakat kita saat ini, alangkah mengkhawatirkannya. Kita terlalu terlena dengan sesuatu yang samasekali tidak ada esensinya
Bagaimana menurut kalian? Apa saya salah tentang ini? Acara televisi bukannya memberikan relaksasi, tetapi gejolak emosi yang timbul karena kebosanan yang ditimbulkan
Saya cukup tidak menontonnya, itu lebih baik daripada menggerutu

Saya melemperkan mata saya ke salah satu acara tari masal tanpa minat
3 jam dihabiskan untuk porsi acara ini
Wow, luar biasa sekali penempatannya, pada jam utama
Ketika diyakinkan semua orang di rumah pada saat itu
Apa sih yang terbayang oleh badan sensor negara kita dengan acara ini?
Pendidikan apa?

Saya kembali lagi ke topik ini. Miris.
Ada apa dengan dunia akhir-akhir ini?
Muram sekali
Mungkin saya perlu memakai kacamata berbeda memandangi dunia
Bukan dengan kacamata minus 4 yang selalu setia bertengger di mata saya
Mungkin pandangan saya memang sudah kabur
Sehingga sulit melihat dunia yang sebenarnya
Mungkin acara tersebut-tarian masal- dimaksudkan untuk bersenang-senang saja
Mungkin memang tak ada inti disana
Seperti layaknya saya, belum punya inti, belum punya jati diri


Bahkan ibuk-ibuk diminta menari sambil ngutip sampah. Tapi mau aja ya? 
Ya ampuuun, ampun deh ni acara. Mendidik banget. Tapi mereka senang sepertiny
Sudahlah, saya harus berhenti menjadi penasihat siaran.
Nanti saja, kalau saya punya kekuatan dan itu bukan sekarang
(3 November 2013)

Friend of Fren

"Mbak, kapan pulang?"
"Mbak ada di kosan?"
"Mbak, mau kemana hari ini?"

Itulah, bbm yang selalu kukirimkan kepadanya, jika rasa bosanku membumbung tinggi
Aku tak terlalu paham dengan jenis pertemanan yang terjadi di antara kami
Walaupun kadang dia membuatku kesal dan merasa sulit untuk memujiku,
Well, sebenarnya aku juga sering membuatanya kesal, kami memang sulit terlihat mesra sebagai teman. Memikirkannya saja sudah membuatku mual. Yang ada adalah perang argumen dan tak mau kalah yang diiringi dengan dada yang naik turun, nada suara yang tinggi dan berakhir dengan tawa terpingkal-pingkal
Tetapi yang kutahu dia selalu ada untukku
Untuk hal yang rasanya akan membuang waktu jika dia telaah dengan baik
Sama sekali tak ada untungnya baginya

Aku akan merengek-rengek kepadanya melaporkan bahwa charger laptopku rusak
Dan dia, pasti akan memarahiku, karena sudah merusak barang tersebut
Tidak sekali dua kali aku merusaknya
Sudah kurusak benda itu hingga kali ke empat
Sampai dia murka dan lelah lagi-lagi untuk menemaniku membeli benda yang sama
Meski marah dan terlihat terganggu, aku tahu dari sorot matanya bahwa dia terlihat geli

Aku akan datang kepadanya berlagak bak tamu tak diundang
Dan menggelinding di kamarnya sambil merecokinya
Tak bosan aku ke kamarnya, padahal 8 jam sebelumnya kami berada di kantor yang sama dan duduk bersebelahan
Ya, aku yang sering ke kamarnya. Dia hanya ke kamarku, jika benar-benar dalam kondisi darurat atau sedang menyeprot nyamuk

Aku akan selalu menjadi si tukang protes menyebalkan ketika duduk di bangku menumpang dan melihat temperamennya ketika berkendaraan
Atau dengan semangat memaksanya mendandaniku ketika aku harus pergi ke pesta
Dia sangat paham jenis makanan apa yang kusukai
Memesankannya dengan dosis yang tepat
Berbalik jengkel ketika aku menyebarkan aura menyebalkan
Atau merasa berat mengakui bahwa dia sedikit sedih waktu aku bertanya padanya jika aku mengambil tawaran pekerjaan yang sempat ku dapatkan kemaren
"Hmmm, sedih juga sih. Tapi gapapalah, mungkin kalau kau nggak ada. Aku jadi pendiam"
Pernyataannya membuatku terpingkal-pingkal. Seolah-olah, akulah penyebab dia menjadi cerewet seperti sekarang

Yang jelas, yang kutahu
Dia selalu ada untukku dan aku akan berusaha begitu juga
Dia bertindak seperti seorang kakak, walau kutahu akan sulit baginya unuk mengakui
Seperti diriku, tidak ada pengakuan dalam bentuk kasih sayang secara lisan
Hal itu hanya akan menyebabkan kami berakting tercekik dan terserang mual
Dia akan menghalau kelakuanku, jika saja aku mencoba menggodanya
Wajahnya berjengit ngeri memandangku. Tentu saja, aku akan meneruskannya sambil terbahak-bahak

Untuk itu aku menuliskannya disini
Karena sebelum ini, aku baru saja mengiriminya bbm
Bosan di kamar dengan kekosongan

Kadang, kita menemukan keluarga ketika jauh dari keluarga itu sendiri
(November 3, 2013)

Missing Link

Saya rindu pada cahaya mentari yang memberkas melewati jendela
Tetapi saya menyadari, saya tak bisa mendapatkannya sekarang
Saya masih berada di tempat yang sama dengan yang dulu
Dikelilingi jendela yang sama sekali tidak terhubung dengan dunia luar

Saya merindukan kicauan burung di pagi hari
Lagi lagi itu harapan hampa
Disini, di tempat saya sekarang, di kediaman yang hanya mampu saya sewa untuk satu ruangan
Mana mungkin saya bisa mendengarkan, kecuali hiruk pikuk kehidupan yang saling berhimpit di gang sempit ini

Berkali kali setiap Minggu, saya mencari penghiburan
Mencoba mengenyahkan dengan paksa bahwa saya bisa melewati satu hari tanpa memikirkan pekerjaan
Ada yang salah di sini, mengapa sulit sekali bagi saya merasa tenang

Ya, disinilah saya sekarang
Mencoba mengulur waktu untuk tidak melihat layar
Mengingatkan berulang-ulang, bahwa saya harus mencoba menikmati hari
Tetapi tetap saja pikiran ini bercokol di kepala
Menari-nari dan membuat saya merasa bersalah
Bersalah karena mengulur waktu dan tidak langsung melaksanakan pekerjaan

Saya tidak tahu, apakah saya sudah berjalan ke arah yang salah
Tetapi saya tak lagi menikmati liburan
Saya tak tahu apakah dengan tidak mengerjakan pekerjaan di kala libur datang adalah sebuah kesalahan
Apakah saya seorang pemalas karena tidak bekerja di hari libur? Hei, ini jelas salah
Saya tahu ini salah
Saya harus segera merampungkannya dan mengambil waktu liburan
Ya, saya tahu. Saya butuh liburan
Liburan yang jauh dari pekerjaaan. Liburan yang layak. Liburan yang pantas
Liburan yang membuat saya bersemangat kembali ketika kembali
No email, No phone, ya, saya butuh libur
Libur yang sebenarnya

Jenuh. Semua penuh. Tak ada ruang kosong.
Saya harus mengosongkannya
(November 3, 2013)

Tuesday, October 8, 2013

Less Patient!!!


http://www.viz4u.net/v3/img/cover/actual/Let%27s%20Lose%20Track%20of%20Time.jpg
(Source: here)
Hidup dan berkembang
Stres saya ngembang terus kayak dikasih pengembang kue
Tiap hari bersemedi, tapi sama sekali nggak ada gunanya
Kenapa sih saya ini? Otak saya sudah mulai miring ya? Koordinatnya sudah bergeser ya?
Yayaya, orang bilang you are what you think
Huhuhuhu
Mau liburan, liburan yang bener-bener liburaaan
Liburan yang sama sekali nggak mikirin pekerjaan

Tau nggak sih, kata orang, kita harus melakukan pekerjaan yang kita cintai dan cobalah cari pekerjaan itu
Soalnya kan, separuh hidup kita akan dihabiskan untuk melakukannya
Apa saya jadi penulis novel aja kali ya? #belagu, novel hampir 8 tahun di laptop aja belum ada perkembangan.

Saya coba menetralisir ledakan amarah saya. Masak tiap saya mau bikin keekonomian, harus berurai air mata dulu sih? Soalnya saya binguuuuung. Rasanya sendiri. Apa saya aja yang nggak mau berdiskusi?
Entahlah. Saya pengen diskusi, tapi orang sibuk semua. Tahaaan, tahaaan.
Lagian saya nggak suka diskusi, kalau pemetaan di otak saya saja berantakan nggak karu-karuan. Pasti nggak ada isinya entar apa yang saya omongin.

Banyaaak yang nggak saya tahu
Makanya dari itu, saya harus belajar
Tapi, banyaaak banget yang mau dikerjain
Proyek A lah, Proyek B lah, tiba-tiba disuruh ngerjain yang C lah
Jadinya, si A keteteran nggak karu-karuan
Itu sih yang saya rasakan saat ini. Tiap saya mau ngerjain dia, yang selalu dimulai dengan kepala pusing, mata berkaca-kaca, dan berusaha didongkrak dengan kopi 2 bungkus dan jiwa selapang-lapangnya, terus datanglah suatu hal yang membuat saya mengesampingkannya
Padahal saya merasa sendiriiiiiiiiiiiiiiiiiii. Tiap nanya sama yang lain, kadang nggak ada solusi
Gimana mau ada solusi? Saya yang berkecimpung di sana aja, sakit kepala terus kalau mau memulai, plus selaluuu aja dipotong-potong

Saya mau nenangin jiwa dulu
Sabaaar-sabar
Kuat-kuatin diri aja lah dulu, kalau memang udah limitnya. It is time to STOP!!
Maybe, this is not your place.
Harus mulai nyari-nyari pekerjaan yang membuat saya lupa waktu, karena saking menikmatinya
Soalnya kalau ditanya sekarang siih, saya tersiksa

I lost my time. But I am definitely not enjoying it. I think, this is the wrong place for me
I am dying, here
(08 October 2013)


Saturday, October 5, 2013

Last Breath


(Source: would be updated)

Kemaren, saya masih tertawa hingga tengah malam. Bertandang ke kamar teman dan melakukan hal lain. Ketika saya kembali ke kamar, saya mendapatkan kabar buruk, yang tergeletak kaku di sudut kamar yang sepi.

Tante saya sudah tiada. Saya mengenalnya dengan panggilan Tante I. Tidak terlalu sering saya bertemu dengannya karena posisi tempat tinggal yang tak sama. Setidaknya yang saya tahu, dia adalah orang yang baik. Namun sayang, saya jarang sekali bercengkrama ketika ada kesempatan. Percaya atau tidak, saya diam di lingkungan keluarga besar.

Waktu

Dia pergi dengan tenang di atas kursi di depan rumah. Sebelum menyiapkan kepergiannya, dia meminta maaf ke semua orang yang bersamanya saat itu. Suaminya, supir angkutan yang dia tumpangi, dan tetangganya yang saat itu pulang dari pasar bersamanya.

Dia sempat berkata ketika sedang makan ditengah perjalanan   pulang, "Mungkinkah ini aroma yang saya bawa?" Entah apa maksud pernyataan Tante. Yang jelas, dia seperti merasa kepergiannya sudah dekat.

Tak banyak yang dapat saya ceritakan tentangnya. Kecuali wajah sumringahnya sewaktu saya masih duduk di bangku SMP dan berkunjung ke rumahnya. Atau bagaimana saya duduk di dapurnya. Bermain dengan anaknya.

Saya berharap semoga Tante I beristirahat dengan tenang diperaduan yang terakhir. Dunia memang sudah tak lagi memilikimu, tapi Tante akan selalu saya ingat dengan kenangan yang baik.



You never know about your last breath. Use it as wisdom as you can.
(Saturday, 5 October 2013)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...