
Suatu hari, saya dan mama saya pergi jalan ke Pasar Baru. Pasar Baru adalah salah satu lokasi pasar yang sangat disukai emak-emak dan remaja yang suka belanja belinji ke sana kemari sambil nawar sana nawar sini. Sebenarnya yang mau belanja, mama saya dan bukan saya. Sepanjang perjalanan, saya bercakap-cakap dengan mama saya. Memaparkan semua cita-cita saya, tentang apa yang akan saya lakukan ke depannya, setelah saya wisuda nanti. Saya agak-agak mengeluh gitu deh, karena belum juga dapat panggilan kerja sementara teman saya udah mulai banyak nge-job ataupun yang dipanggil buat interview.
Mama saya berkata: "Jangan permasalahkan apa yang Ika dapat ya ka! (saya dipanggil Ika dikeluarga saya). Yang terpenting itu kita selalu usaha dan nggak lupa berdoa. Setiap kita udah punya hak dan porsi masing-masing yang dituliskan oleh-Nya di buku takdir kita. Nggak ada perjalanan yang mulus-mulus aja. Di situ letak seni hidupkan".
Ah, saya emang cinta mama saya. Kata-katanya itu selalu jadi penyejuk hati di kala gundah gulana. Penolak bala. Penenang jiwa. Pokoknya efek kata emak saya ampe sekarang masih terasa, secara baru dua hari yang lalu, sebelum mama saya kembali ke Minas (desa masa kecil saya). Ceritanya saya sudah wisuda, jadi mama saya pergi ke Bandung dengan Bapak buat menghadiri resepsi wisuda.
Terus mama bilang: "Yang penting itu, kita harus selalu bersyukur. Kamu bisa masuk kuliah saja itu adalah sesuatu yang harus disyukuri. Sekarang sudah wisuda pula. Kalau nggak besyukur, nanti Tuhan malah marah. Mau apa kita kalau dia marah??? Iya kan??"
Saya manggut-manggut. Semua kata-kata serangan balik yang biasanya saya lontarkan kalau sedang bercakap-cakap dengannya, lenyap seketika. Memang nggak bisa ditangkis juga sih. Bisa mati saya, kalau Tuhan malah marah. Emaaak, baru sehari kau ke Minas sana, aku kok sudah rindu padamu ya.. (saya nggak biasa teriak-teriak gini di depan mama, nggak biasa mellow-mellow gini..hehe. Jadi biarlah saya teriak di blog ini ya..)
No comments:
Post a Comment