Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Saturday, March 4, 2017

Jodoh yang Belum Dipertemukan

Cuaca Jakarta sekarang sudah mulai panas-panasnya. Tapi nggak sepanas semangat saya untuk menulis. Kenapa saya jadi nulis sekarang? Buat ngisi waktu aja. Sejujurnya, saya itu di fase malas semalas malasnya deh pokoknya. Gaya bahasa blog saya aja saya sampai lupa. Nonton aja malas. Mulai buat novel lagi malas, meskipun ada banyak ide yang berkecamuk di kepala, tapi saya benar-benar stuck ketika menatap layar.

Topik apa ya, yang agak menarik. Oh iya, saya baru beli tas carrier merek jerman. Harganya naudzubillah ya pemirsa. Ini kenapa harga barang mahal-mahal, atau saya aja yang udah terlalu konsumtif? Mau lari, kepikiran celana training sama sepatu lari, mau backpacker teringat carrier yang kecil, mau ke pelaminan tersadar kalau saya nggak pernah bersosialisasi lagi sama orang baru.

Pernah suatu hari, supervisornya perusahaan saya dari holding nanyain begini.
Supervisor (Spv): "Eh, lu gimana? Udah ada lampu hijau?"
Saya (D): " Maksudnya lampur hijau apaan?" (nanya pura-pura bego)
Spv: "Yaa, udah ada yang ngelamar elu belum?"
D: "Waah, gue kerja mulu ni, nggak sempat. Lagian, gue nggak cantik dari langit" (gw orangnya humble nggak kayak mimiperi yang tinggal di awang-awang)
Spv: (tertawa pu-as)
D:(ketawa-ketawa sakit)

Kebetulan, tetangga saya sudah mau married. 4 tahun lah di bawah saya. Ya, kebetulan orang-orang di sekitar saya lagi sibuk-sibuknya ngurusin pernikahan. Saya sibuk juga ngejahitin baju untuk jadi pagar betis buat orang-orang terdekat. Hahaha. 

Sebenarnya saya sih biasa-biasa aja karena saya percaya Tuhan akan mempertemukan saya dengan yang bersangkutan. Namun, lingkungan yang bikin saya jadi berpikir. Sayangnya, saya ya berpikir aja tanpa usaha. Entahlah, sedang nggak mood aja menjalin hubungan. Udah lupa perasaan ngeceng orang, udah lupa deg-degan dekat orang, mungkin masa itu udah lewat kali ya. Saya juga sebenarnya nggak pandai jalan sama orang, karena waktu kecil saya lebih suka di rumah. Jadi sifat naturalnya itu ya lebih demen ngendon di kamar dibanding jalan dan berakting bak wanita kalem. Pokoknya aneh deh, kalo saya udah mulai ngeceng orang, saya itu malah menjauh atau bersifat mandiri atau sifat saya nggak natural. Saya yang punya badan aja pengen muntah lihat kelakuan saya. Kok jadi kaku kayak batu. Akhirnya saya lelah dan bertanya-tanya kenapa saya nggak bisa bertingkah kayak cewek lain ya? Huhuhuhu.

Cukup banyak, dari orang yang "tahu" status saya berniat memperkenalkan dengan kenalan mereka. Kenalan di instalasi pemerintah, bos di kantor, teman sejawad, dan si supervisor tadi juga ikut andil berniat ngenalin saya dengan orang. Cuma ya itu, belum ada satu pun dari yang diomongin beneran kenalan sama saya. Semacam tanda belum waktunya aja.

Eh tapi eh tapi, ada satu sosok yang menarik dari yang ingin dikenalkan. Huahahah, waktu lihat si doi, serasa pulang ke rumah. Kebetulan juga si doi agak jauh di negeri kulit putih sana, entah itu si Bapak niat mau comblangin saya sama si doi atau cuma mau pamer aja dia punya temen guanteng sangat. Ya udahlaah yaaa, kalau Tuhan menginginkan, segala sesuatunya pasti akan terjadi. Amiiiin.

Tuhan, saya mau dipertemukan dengan jodoh, yang kalau saya lihat dia serasa pulang ke rumah
Bikin adem dan begitu pula sebaliknya
(DY, Maret 2017)


Monday, November 24, 2014

Pagar-Pagaran


(Source: here)

Kerjaan sudah beres, jadinya saya curi mencuri waktu buka blog. Hehehe, hey hey kaleem. Kan saya sudah mendahulukan kewajiban sebelum hak untuk bersenang-senang. Anggap saja sekarang lagi istirahat makan siang, belum makan soalnya, haha.

Berbicara tentang makan siang, saya belum bisa makan siang. Kenapaa? Karena saya lagi ikut-ikutan anak muda zaman sekarang, memakai pagar di gigi. Sekarang saya menjadi sangat kagum dengan teman-teman yang sudah memakai pagar ini dari kapan tahun. Oh Em Ji, saya bingung mau ngunyah makanan di bagian mana di dalam mulut, kebentok pagar kemana-mana, dan itu sakit jendral!! Mampus!!

Keputusan ini sudah saya wacanakan setahun yang lalu dan Alhamdulillah terwujud. Berbekal kebulatan tekad karena sama sekali nggak punya target hidup yang jelas, beda banget dengan sahabat saya yang punya target, akhirnya saya putuskan untuk memulai suatu impian saya dan dapat saya kontrol, yaitu memagar gigi. Proses dari wacana serius sampai terealisasi hanya memakan waktu 1 minggu saja. Cepat bukan?

Jujur saja, saya tidak punya masalah gigi yang serius. Bahkan kata dokter, saya tidak punya masalah kesehatan pada gigi. Yes, yes. Jadinya, waktu ingin merapatkan barisan gigi, saya cukup deg-degan bloon. Karena saya grogi bakal diapakan. Setelah mengalami, ternyata saya selamat sampai tujuan.

Saat Pemasangan Kawat
Hal pertama yang dilakukan bu Dokter asik adalah membersihkan gigi saya sebelum dipasang semacam lem khusus untuk tempat menopangnya braket. Proses pemasangan memakan waktu 2 jam. Mulut saya disumpal pake kapas supaya air liurnya nggak mengganggu proses pemasangan. Dengan posisi tersebut, saya sibuk memperhatikan apa saja yang dilakukan bu Dokter asik.

Saya bersyukur bahwa saya bukan dokter gigi atau dokter lain (dulu waktu saya masih anak bocah yang lucu dan imut, kalau ditanya mau jadi apa, selalu bilang mau jadi dokter. Maaf ya, saya hanyalah anak kebanyakan. Nggak variatif, buahhaha). Tidak terbayang sama sekali saya harus sabar melakukan pekerjaan mengutak-atik organ tubuh manusia dengan sabar. Bukan berarti, dengan pekerjaan saya saat ini tidak butuh ketelitian. Tetapi, ya, you knowlah, ini orang lho. 

Saya sibuk menghayal kalau saya jadi si Dokter ini, saya bakal nempelin si braket suka-suka saya. Yaah, miring dikit nggak papalah. Anggap aja seni. Buakakkak.

Setelah Pemasangan Kawat
Sebelum menggunakan kawat ini dan memberanikan diri mengambil keputusan, saya sering membaca artikel dan juga blog orang yang menceritakan pengalaman mereka memasang kawat. Mereka bilang, sakitnya itu sakiiit bangeeet. Mulut terasa luar biasa sakit karena ditarik-tarik. Jadilah saya mempersiapkan mental luar biasa untuk mengantisipasi momen ini.

Friday, November 7, 2014

Blossom Note

Memandangi jarum detik pada jam dan tiba-tiba tercebur pada ribuan kata yang pernah saya lekatkan pada kumpulan kisah yang tersimpan secara rahasia. Hahaha, jujur sudah lama saya tidak merasakan perasaan itu, belum ada yang membuat perasaan saya tergerak merasakan getaran yang sama seperti dulu. Bukan tahun lalu tetapi tahun sebelumnya, dimana hingga sekarang pun saya tak benci. Saya dengar kabar kalau dia sudah pindah ke Eropa dan saya makin kagum saja kepadanya. Aneh.

Jarum usia pun terus berdetak tanpa perduli apakah sang tuan memiliki kisah yang bagus untuk dijalani. Sungguh saya tidak punya sesuatu apa pun untuk saya ceritakan dalam tulisan ini. Tak ada debaran melihat seseorang, tak ada juga percikan kejengahan karena didekati.

Saya sedikit rindu juga dengan sensasi itu karena jika ini berlangsung lebih lama dari yang saya sanggup tangani, mungkin saya berubah jadi robot pekerja. Oh Tuhan, saya tak mau jadi perawan tua (guling-guling di tanah). Tak punya kehidupan pribadi untuk dihabiskan pada Sabtu Minggu kecuali menemani teman untuk membeli keperluan kantor (see, I talked about work, again) Tak punya agenda untuk dilakukan ketika sore menjelang. Hanya bertandang ke kamar kawan atau membaca novel-novel dari berbagai gendre yang sangat diyakinkan adalah fatamorgana dan fiksi saja.

(Source: here)


Thursday, June 26, 2014

Ini Kamis

I had a bad day! Again!
Bukannya nyumpahin hari saya yang belum berakhir, tapi perasaan nyesek dan ngancurin ritme pernapasan ini mengganggu. Bagaikan ada sebuah lubang besar yang tiba-tiba menyempit, membuat saya bernapas dengan susah. Perasaan ini sudah lama tak muncul. Perasaan ini seperti indikator alami saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang tidak berjalan lancar, dan yah memang saya tidak puas dengan apa yang telah terjadi hingga saat ini, di hari ini. Saya tidak puas dengan diri saya.

Kata mama, kalau saya sakit hati, hati saya memang benar-benar sakit. Tapi bagaimana kalau saya merasa tidak beres dan tidak nyaman dengan suatu keadaan dan menimbulkan bahwa saya menjadi sulit bernapas. Apakah itu benar, bahwa saluran pernapasan saya memang sedang menyempit? Luar biasa memang keadaan mental ini.

Ngomong-ngomong ini adalah hari Kamis. Kamis yang harusnya berkah, malah sering menjadi hari yang menguji bagi diri saya. Dan sekarang hari Kamis, saya langsung menghubungkan perasaan tidak menyenangkan ini dengan hari dan mencoba menyendiri di ruang meeting kecil di kantor saya.

(Source: Siadventure Courtesy - Bilik Menyendiri)
Saya mau ketenangan dan melarikan dari ketakutan-ketakutan pribadi saya, yang sampai sekarang belum dapat saya kalahkan dengan tuntas. Saya mau menyendiri dari segala pikiran-pikiran yang terus menerus mempermainkan logika saya dan menyesakkan pernapasan. Saya mau ketidaksempurnaan yang akan memberikan saya pengecualian terhadap ketidaksempurnaan dari saya dan yang lain. Saya mau menenangkan diri dan bersikap lebih manusiawi. Saya mau lebih santai, lebih rileks, lebih longgar terhadap diri saya sendiri yang selalu menghukum diri secara tak sadar.

Tenangkan saya Tuhan.
Ya, ini Kamis.
Ya, itu bukan sesuatu yang berarti.
Ya, ini hanya salah satu hari dalam seminggu
Ya, saya tidak apa-apa
Ya, semua baik-baik saja

Ketakutan-ketakutan itu muncul atas nama permainan logika
(DY - 26 June 2014)

Sunday, November 3, 2013

Un-essential things for un-essential thought

Saya baru saja menyelesaikan kerjaan saya beberapa menit yang lalu
Dengan mengerjakannya seefektif mungkin dengan pikiran hampa
Tak disangka lebih cepat dari yang saya targetkan meskipun dengan pikiran melayang

Perlu tekad yang kuat untuk membuka benda itu
Menimbang dengan janji yang saya lontarkan pada atasan,
"Saya akan kirim proposal hari Minggu", demikian saya berkata
Dan pikiran itu mengikat saya. Meskipun saya dalam keadaan jenuh dan malas luar biasa, saya bersyukur karena masih bisa menepati apa yang saya janjikan

Acara televisi tak juga menyelesaikan kebosanan yang saya rasakan
Entah karena umur yang semakin bertambah, entah karena memang keadaannya demikian
Saya benar-benar kesal dengan acara-acara yang ditayangkan semua stasiun televisi di Indonesia saat ini, pada jam utama
Kalau bukan sinetron yang sudah hilang intinya, ya acara tarian yang tak jelas maksudnya
Tetapi sepertinya memang itulah yang disukai orang Indonesia saat ini. Berbondong-bondong datang menggunakan kostum dan menari dengan latah terhadap gerakan para pengisi acara.
Dan itu diputar setiap 7 hari dalam seminggu, yang artinya bahwa selain hidup saya yang akan berputar dengan ritme yang konstan dalam kehidupan nyata, saya juga akan dihadapkan dengan acara televisi yang sama pada jam yang sama setiap harinya
Saya hanya sedih, jika memang hal itu yang disukai masyarakat kita saat ini, alangkah mengkhawatirkannya. Kita terlalu terlena dengan sesuatu yang samasekali tidak ada esensinya
Bagaimana menurut kalian? Apa saya salah tentang ini? Acara televisi bukannya memberikan relaksasi, tetapi gejolak emosi yang timbul karena kebosanan yang ditimbulkan
Saya cukup tidak menontonnya, itu lebih baik daripada menggerutu

Saya melemperkan mata saya ke salah satu acara tari masal tanpa minat
3 jam dihabiskan untuk porsi acara ini
Wow, luar biasa sekali penempatannya, pada jam utama
Ketika diyakinkan semua orang di rumah pada saat itu
Apa sih yang terbayang oleh badan sensor negara kita dengan acara ini?
Pendidikan apa?

Saya kembali lagi ke topik ini. Miris.
Ada apa dengan dunia akhir-akhir ini?
Muram sekali
Mungkin saya perlu memakai kacamata berbeda memandangi dunia
Bukan dengan kacamata minus 4 yang selalu setia bertengger di mata saya
Mungkin pandangan saya memang sudah kabur
Sehingga sulit melihat dunia yang sebenarnya
Mungkin acara tersebut-tarian masal- dimaksudkan untuk bersenang-senang saja
Mungkin memang tak ada inti disana
Seperti layaknya saya, belum punya inti, belum punya jati diri


Bahkan ibuk-ibuk diminta menari sambil ngutip sampah. Tapi mau aja ya? 
Ya ampuuun, ampun deh ni acara. Mendidik banget. Tapi mereka senang sepertiny
Sudahlah, saya harus berhenti menjadi penasihat siaran.
Nanti saja, kalau saya punya kekuatan dan itu bukan sekarang
(3 November 2013)

Tuesday, October 8, 2013

Less Patient!!!


http://www.viz4u.net/v3/img/cover/actual/Let%27s%20Lose%20Track%20of%20Time.jpg
(Source: here)
Hidup dan berkembang
Stres saya ngembang terus kayak dikasih pengembang kue
Tiap hari bersemedi, tapi sama sekali nggak ada gunanya
Kenapa sih saya ini? Otak saya sudah mulai miring ya? Koordinatnya sudah bergeser ya?
Yayaya, orang bilang you are what you think
Huhuhuhu
Mau liburan, liburan yang bener-bener liburaaan
Liburan yang sama sekali nggak mikirin pekerjaan

Tau nggak sih, kata orang, kita harus melakukan pekerjaan yang kita cintai dan cobalah cari pekerjaan itu
Soalnya kan, separuh hidup kita akan dihabiskan untuk melakukannya
Apa saya jadi penulis novel aja kali ya? #belagu, novel hampir 8 tahun di laptop aja belum ada perkembangan.

Saya coba menetralisir ledakan amarah saya. Masak tiap saya mau bikin keekonomian, harus berurai air mata dulu sih? Soalnya saya binguuuuung. Rasanya sendiri. Apa saya aja yang nggak mau berdiskusi?
Entahlah. Saya pengen diskusi, tapi orang sibuk semua. Tahaaan, tahaaan.
Lagian saya nggak suka diskusi, kalau pemetaan di otak saya saja berantakan nggak karu-karuan. Pasti nggak ada isinya entar apa yang saya omongin.

Banyaaak yang nggak saya tahu
Makanya dari itu, saya harus belajar
Tapi, banyaaak banget yang mau dikerjain
Proyek A lah, Proyek B lah, tiba-tiba disuruh ngerjain yang C lah
Jadinya, si A keteteran nggak karu-karuan
Itu sih yang saya rasakan saat ini. Tiap saya mau ngerjain dia, yang selalu dimulai dengan kepala pusing, mata berkaca-kaca, dan berusaha didongkrak dengan kopi 2 bungkus dan jiwa selapang-lapangnya, terus datanglah suatu hal yang membuat saya mengesampingkannya
Padahal saya merasa sendiriiiiiiiiiiiiiiiiiii. Tiap nanya sama yang lain, kadang nggak ada solusi
Gimana mau ada solusi? Saya yang berkecimpung di sana aja, sakit kepala terus kalau mau memulai, plus selaluuu aja dipotong-potong

Saya mau nenangin jiwa dulu
Sabaaar-sabar
Kuat-kuatin diri aja lah dulu, kalau memang udah limitnya. It is time to STOP!!
Maybe, this is not your place.
Harus mulai nyari-nyari pekerjaan yang membuat saya lupa waktu, karena saking menikmatinya
Soalnya kalau ditanya sekarang siih, saya tersiksa

I lost my time. But I am definitely not enjoying it. I think, this is the wrong place for me
I am dying, here
(08 October 2013)


Saturday, November 24, 2012

Time is moving!!

That spark just went, leave me burning without sense of knowing..
There are a lot of moment that I missed, in my real or my dream.
I stepped up without knowing what would I become, winner or loser.
In fact, that the reason why there is a life, am I right?
Don't go far, dude. It just some piece of useless note
Well, You should know by now

Duduk ditemani deru kipas yang semakin berdebu. Dunia bergerak perlahan meninggalkan patahan-patahan yang tak beraturan. Banyak orang besar berkata dengan berbagai kata bijak mereka, simpang siur dalam keinginan untuk pembuktian yang nyata.

Redundan, adalah pikiran yang mengalir tak beraturan, saling berkait satu sama lain dalam pemaksaan yang berusaha untuk menghubungkan. Jiwa tak lagi tenang dengan keadaan, terus membentuk cabang-cabang yang abstrak dalam kelam. Cahaya sudah lama memudar, sebatang lilin kecil tak lagi bisa menjadikan penerangan. Pikiran ini begitu mencekam. Jeritan ketidakpuasan atau kehilangan yang tak terbantahkan. Tapi jangan biarkan, tolong jangan biarkan jiwa ini pudar. Karena kelamlah yang akan datang, bersiap menanti di ujung jalan.

Monday, June 25, 2012

So, Tell me When will the story begin?

Rhythm of Love
(Source: here)

Hearing this song, just remind me about him.
Ternyata dalam kehidupan nyata pun, saya bisa punya theme song tersendiri akan suatu hal yang saya alami
Saya juga tidak mengerti, hal apa yang menyebabkan saya selalu terngiang-ngiang jika mendengarkan ini
Otomatis otak saya merekam segala ingatan yang saya punya dan merewind nya kembali
Hahahaha, entahlah ini maksudnya apa. Saya juga masih tidak mengerti ini arahnya kemana?

Yang jelas, pikiran saya saat ini sedang tidak stabil alias labil
Aaaaarrrgggghhhh,
Kalau malam datang dan saya sedang sendirian plus tidak punya kerjaan, saya sering mendengarkan lagu ini berulang-ulang. Iramanya yang menenangkan, setenang dulu yang saya ingat
Ini tidak baik, saya sudah tahu itu,
Ini tidak benar jika saya terus berlarut-larut dalam keadaan seperti ini
But who knows, life is suprising
And I just need to wait when will the story begin

We may only have tonight, but till the morning sun your mine, All mine
Play the music low, and sway for the rhythm of love
(Plain White T's - Rhythm of Love)





Friday, June 22, 2012

Potongan Kenangan bersama Papa

(Source: here)

#Scene 1
Gambar di layar petak itu memperlihatkan bayangan bergerak dengan kecepatan yang tak wajar. Suara teriakan ketakutan mengalun, mengiringi gerakan dengan lengkingan tajam yang semakin tinggi dan tinggi. Dia yang merasa pemberani dan mampu melahap semua tayangan yang ditampilkan di sana, bergerak mundur dan bersembunyi di punggung ayahnya.

"Aku nanti tidur dekat Papa, yaaa!" rengeknya lebih kearah perintah.

#Scene 2
Matanya menatap nanar ke arah bahan masakan yang akan dia buat bersama ayahnya. Dia sangat bersemangat sekali hari itu, ikut dalam kegiatan eksperimen memasak. Dapur kecil yang terbuat dari kayu, tempat dia dan ayahnya berada sekarang, berderak-derak ketika dia dan ayahnya sibuk menyiapkan bumbu masak. Tidak jelas juga dia sedang menyiapkan apa, yang penting bergerak. Begitu pikirnya. Hal ini terpaksa mereka lakukan sebab ibunya sedang bersama kedua adiknya di kampung halaman.

Ayahnya dengan semangat mencoba menggiling cabe. Hal yang tak pernah dia lakukan jika ibunya ada di rumah. Dia, gadis itu, hanya duduk bersimpuh disamping ayahnya dengan mata sipit yang semakin menyipit, saat ayahnya menambahkan bumbu tak biasa saat menggiling. Inovasi, begitu kata ayahnya.

Saat dia duduk bersimpuh lagi di depan nasi dan lauk yang sudah masak, dia tetap makan dengan lahapnya. Makanan itu tetap terasa nikmat dengan perut yang lapar.

#Scene 3
Ayahnya marah besar hari itu. Dia tak ingat mengapa. Yang jelas, saat yang dia ingat adalah saat dengan semangatnya dia mengemasi pakaiannya di kamar dengan berurai air mata. Dia merasa sangat sedih saat itu, merasa sangaaat tidak berdaya dan tidak disayangi. 

Bertanya-tanya mengapa nasibnya begini, padahal dia baru kelas 3 SD. Dia sudah siap, siap untuk lari dari rumah. Buat apa dia tetap berada di sana, jika dia tidak disayangi. Namun, tindakan itu tidak jadi dia lakukan, saat ayahnya menyapa dia lagi dengan hangat. Dia lupa dan dia senang.

Saturday, June 9, 2012

Jika Rasa sudah Kadaluarsa - There is No Turning Back

(Source: here)

Saya akan coba membuang masa lalu
Masa lalu dengan berbagai macam kisah itu
Saya akan membuang bayang-bayang yang tidak lagi perlu saya pikirkan
Saya tidak akan lagi menunggu seperti yang sempat saya katakan
Toh momennya sudah lewat dan ritmenya sudah tidak lagi sama
Semua sudah berubah
Hati saya sudah datar

Mungkin dulu saya masih labil
Mungkin dulu saya terlalu berlebihan dalam menanggapi
Mungkin dulu saya terlalu mudah untuk menyukai
Mungkin Tuhan malah mengarahkan saya untuk bertanya dan malah mengakhiri semuanya

Cukup lama bagi saya untuk menerima semuanya
Cukup lama bagi saya untuk mencerna semuanya
Cukup lama bagi saya untuk sadar bahwa itu sudah tidak ada gunanya
Cukup lama bagi saya untuk mengerti untuk tidak perlu menyia-nyiakan waktu saya

Ya, saya rasa hati saya sudah kembali lagi seperti dahulu kala
Datar tak ada rasa
Dan jika perasaan itu sudah mulai merasuki,
Maka seringnya tak ada jalan lagi untuk mengulang lagi perasaan itu
Semua sudah tertutup dan tak ada jalan kembali
Sesempurna apapun perasaan yang sempat saya rasakan itu
Yang jelas itu sudah kadaluarsa dan logika saya sudah berjalan sebagaimana adanya

Yang jelas dari semua itu saya sadar
Bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik buat saya
Saya tidak akan ragukan itu

Saya tidak berniat membuka pintu itu lebar-lebar
Saya akan menanti si pemilik kunci itu, yang memiliki kunci yang tepat untuk membuka pintu itu
(Pintu dan Kunci)
Saya tidak tahu siapa yang akan membukanya
Semua masih kabur, masih buram, dan masih tanda tanya
Tetapi tidak masalah, saya akan sabar saja hingga waktu itu datang

Ini bukanlah perkataan putus asa
Ini adalah sebuah kata-kata yang mengingatkan saya bahwa saya harus dan harus selalu percaya bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada hamba-Nya

 Apa yang terlihat, belum tentu seperti yang terlihat
(9 June 2012)


Sunday, May 13, 2012

My Day in this Week

(Source: here)

Menghitung detik yang sudah terlewat
Akhir-akhir ini pikiran saya melayang-layang
Tak jelas kemana, menelpon ke rumah pun rasanya mengambang
Serasa ada yang tak benar, aaaah
Memang cukup banyak yang terjadi minggu ini 

Tuesday, May 8, 2012

Cerita tentang Sippo

Pertama kali saya bertemu dengannya, dia masih kecil dengan berbadan gendut dan sangat lincah. Bergerak ke sana kemari, membuat saya ingin memeluknya erat-erat. Jika adik-adiknya diam, dia akan mengejar mereka dan mengajak adik-adiknya untuk ikut bermain dengannya. Tiba-tiba mendatangi adiknya dan memandikan mereka. Saat bermain ke tingkat atas rumah, dia akan selalu menanti adik-adiknya untuk tetap bersamanya. Saat saya berlari mencari posisinya, dia duduk dalam diam, memandangi saya dengan mata bulatnya.
 (Pertama kali berjumpa Sippo)

Thursday, April 19, 2012

Kesal

PSV saya sudah nge-pop.. Arrrggghhhh
Hari ini saya merasa diremehkaaaaan...
Kesaaaaaal Tingkat Dewaaaaaaaaaaaaa..
Kesal
Kesal
Kesal
Dan rasa ini menyebalkan..
Hah!!!

Ngomongnya sombong banget..
Memang dia mengingatkan tetapi lebih ke arah meremehkan..
Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang saya katakan..
Saya memang sangat reaktif dan itu membuat saya gampang terpancing kesal..

Sunday, April 15, 2012

Reactive

(Source: here)

My boss said that I am the most reactive staff in the office
My friend said I am really reactive about anything in the office, and I am so different with my old days in college, the cool one

Saya sadar itu akhir-akhir ini
Saya gampang tersulut akan sesuatu
Saya begitu reaktif
Jadi saya perlu pendingin yang menekan reaktif saya
I need the cool one to cover my reactivity.. ^^

Thursday, April 12, 2012

Malam Biru

 (Source: here)

Malam ini saya terdiam di dekat jendela kaca yang membingkai ruangan
Ditemani alunan biola yang terdengar samar dari ruangan sebelah
Dan malam ini rasanya biru
Malam sendu yang mengingatkan saya pada  sebuah kisah dulu

Malam Tenang

(Source: here)

Malam ini bertandang lagi..
Mencoba mengejar matahari.. Berharap dia bersinar cerah kembali
Di pagi nanti..

Langit malam tak kelihatan wujudnya
Terhalang pantulan cahaya dari ruangan yang membuat bayang-bayang berbentuk rupa manusia di kaca sana
Saya tertimbun kertas-kertas berserakan yang melambangkan keseriusan dalam pekerjaan
Sudah habis 4 hari 3 malam untuk menyelesaikan
Namun semua itu diiringi rasa senang dalam mengerjakan
Seperti nasehat seorang teman kepada saya suatu hari
Dalam perjalanan ke tempat yang sering saya tuju akhir-akhir ini

Saturday, April 7, 2012

Pintu dan Kunci - Until The Day

(Source: here)
Pintu itu tertutup sementara
Terkunci jauh dalam ruang dan waktu tak berdimensi di sudut hati
Dia rasa dia belum menemukan kunci yang tepat untuk membukanya
Bukan karena dia tak mau membuka
Bukan juga karena dia sengaja menguncinya rapat
Tetapi karena memang pintu itu sedang tertutup begitu saja
Tertutup dengan rapat
Membiarkan ruang di balik pintu itu tetap kosong
Tanpa isi, tanpa jendela, tanpa cahaya
Mengedapkan udara di dalamnya
Dia hanya bisa diam, tak bisa berbuat apa-apa

Sudah ada kunci yang sepertinya mencoba lagi untuk membuka pintu itu
Mencoba untuk memaksa, begitu yang dia rasa
Hanya saja kunci itu tetap tak berguna
Pintu tetap terkunci dan lebih terkunci lagi dan lagi
Semakin rapat dan rapat

Mungkin dia bisa saja membukanya sekarang ini, begitu pikirnya
Tetapi buat apa dipaksakan, toh nanti hanya muncul kesia-siaan
Dia tidak bisa melihat apa-apa di sana
Ruangan itu tetap kosong
Ruangan itu tetap tak juga bercahaya
Ruangan itu tetap tak berjendela
Ruangan itu tetap kelam sebagaimana adanya
Hingga rasa enggan untuk membuka pintu itu semakin kuat dia rasa
Jadi, buat apa? Tak ada gunanya. Setidaknya untuk saat ini.

Biarkan sajalah pintu itu tertutup untuk sementara waktu
Hingga dia menemukan penghuni baru yang mengantarkan kunci yang tepat untuk membukanya
Biarkan sajalah ruangan itu kosong untuk sementara waktu
Hingga dia menemukan penghuni baru yang akan mengisi tempat itu bersamanya
Biarkan sajalah ruangan itu tak bercahaya sementara waktu
Hingga dia menemukan penghuni baru yang menyalakan lilin kecil dan menerangi ruangan itu bersamanya
Biarkan saja ruangan itu tidak berjendela untuk sementara waktu
Hingga dia menemukan penghuni baru yang akan membuatkannya jendela untuknya

Pintu itu hanya satu dengan hanya satu kunci. Ruangan itu hanya satu, hanya cukup untuk satu penghuni lagi.
Kini dia tak mau banyak bicara dan mengira-ngira. Biarkan sajalah penghuni baru itu yang mencarinya.
Jika nantinya ada bunyi KLIK yang menggema, maka PINTU itu terbuka saja. 
Dan dia akan berada di sana, menyambut penghuni baru itu dengan senyum tulusnya. 
"Welcome Home, my Dear. I have waited you Until the Day"
(Pintu dan Kunci)

Tuesday, March 20, 2012

The Day

(Source: here)

Malam sebelumnya
Gelisah, tidak bisa tidur, deg-degan. Pikiran melayang-layang memikirkan besok. Selalu seperti itu, jika ada hal-hal yang menurut saya penting. Dan besok adalah momen saya untuk membuktikan saya juga bisa presentasi, nggak hanya pemain belakang saja.

Sunday, March 18, 2012

Di sana punya cerita

(Source: here)
Bos saya nyepet-nyepet aja ni gara-gara saya pernah debat sama dia. Sebab saya keras kepala.

"Saya debat sama si Dina sampai 1 harian. Kalau saya lihat wajahnya, dia bilangnya setuju tapi wajahnya tidak ikhlas." Saya menatapnya lesu dan berpikir "Hedeeeh, si bapak ini masih saja membahas masa lalu.. Capee deeh." 
Saya rada malas mengungkit-ungkit itu, bisa-bisa banjir lagi ni bendungan. #Eaaaa,, lemper ama kerupuk banget mental gue.

Lain waktu si bapak akan bilang:
"Gimana Dina? Setuju nggak kamu?" (saya sedang sibuk melakukan perubahan akan pekerjaan yang sedang asyik dikerjakan dan tak terlalu mendengarkan). "Kamu jangan asyik sendiri saja, ini waktu buat kamu belajar loh anak-anak." 
Hahhaha,, memang bener sih Pak. Cuma kita sudah jenuh saja kadang-kadang..

Thursday, March 15, 2012

Write It before You Forget

(Source: here)

I can't sleep this night. Entah karena kopi yang saya minum, entah kejadian yang terjadi hari ini terhadap teman saya, entah karena telpon tiba-tiba dari temannya mantan pacar teman saya yang menanyakan kedudukan saya dalam drama mereka atau entah perkataan seorang teman yang menyatakan feelingnya akan suatu hal yang terjadi setengah tahun yang lalu.

Saya rasa hal yang paling utama adalah hal yang terakhir. Sewaktu dia menyatakannya ada penyangkalan yang amat sangat yang muncul bahwa itu tak akan terjadi. Ada rasa tak nyaman yang menyelusup di dada saya ketika mendengar pernyataan itu yang seakan berteriak "Gw nggak setuju dengan pendapat lu. Itu nggak bakal terjadi. InsyaAllah nggak" Hanya saja saya takut akan kualat dengan perkataan saya, jadi saya diam saja dan meringis mendengar pernyataannya.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...