Tuesday, July 19, 2011

Step to The Top

Ini sekilas tentang pekerjaan saya.
Pekerjaan yang umumnya kalau saya cerita kerja dimana, mereka menggangap ini adalah batu loncatan. Pekerjaan yang disaat saya sebut nama perusahaan saya orang akan balik bertanya, perusahaan apa itu? Dibidang apa? Ketika saya jawab, kadang ada yang bertanya: Mau sampai kapan disana?

Well, sama sekali tidak salah jika mereka bertanya seperti itu. Toh, masing-masing orang mempunyai standar yang berbeda dalam melihat sesuatu itu dikatakan sukses atau tidak. Itu kembali lagi kepada orangnya. Ada yang bilang yang keren itu kerja di Oil and gas owner company, ada yang bilang diservices, atau ada juga yang bilang di jasa konsultasi migas. Saya pun dulu beranggapan bahwa yang dibilang keren itu ya kerja di services company ini atau itu, yang menjadi impian saya selama masa kuliah. Tapi setelah saya duduk di depan komputer yang saya gunakan selama 5 hari seminggu membuat saya sadar, hei mungkin ini yang saya butuhkan.

Perusahaan saya bergerak dalam bidang konsultasi minyak dan gas bumi. Untuk saat ini, umumnya proyek yang kami tangani lebih ke arah gas alam, baik dalam pengkonversiannya menjadi LNG maupun pendistribusiannya ke daerah yang membutuhkan gas sebagai media pembakar untuk menggerakkan gas turbin. Namun, kami juga akan mulai berekspansi ke arah minyak bumi dalam waktu dekat, doakan saja.

Dalam beberapa proyek yang saya ikuti, ada banyak hal yang bisa saya pelajari (aduh sepertinya mood saya agak turun untuk menulis, tulisan ini sebenarnya akan saya post kan kemaren. Tapi karena mati lampu saya mesti mengumpulkan ruh saya lagi untuk menulis). Pekerjaan saya adalah sebagai seorang konsultan. Dalam berperan sebagai seorang konsultan ada beberap hal yang mesti kita praktekkan dan lakukan:
  1. Selalu mencari tahu siapa yang akan menjadi klien kita. Usaha mereka apa dan bagaimana kinerja mereka selama ini di belantika bisnis
  2. Selalu berusaha menjadi lebih tahu dari klien kamu apa yang mereka mau. karena disini kamu adalah seorang konsultan bagi mereka. Tempat mereka bertanya.
  3. Selalu rajin mengumpulkan data mau dari database, internet, jurnal, dan paper. Intinya banyak baca jadi banyak tahu. Sehingga memperkaya otak kamu untuk dijadikan dasar pertimbangan dalam melakukan analisa masalah atau pencarian solusi terbaik.
  4. Kita harus selalu siap sedia spare waktu lebih untuk proyek yang kita lakukan. Sabtu-Minggu pun harus siap dikorbankan untuk bekerja. Bahkan teman saya selalu bilang kalau saya gila kerja. Tapi bekerja terus menerus itu juga tidak baik, sebagai seorang konsultan kita harus bisa memanage waktu dengan baik.
  5. Jangan pernah menolak secara lugas permintaan klien. Jawablah dengan diplomatis: Ya kami akan coba lakukan, tapi ...... (Tapi disini haruslah mengandung kalimat diplomatis yang berisi term-term yang dikaitkan dengan masalah legal)
  6. Paling baik lagi, jika kita memahami istilah-istilah bahasa legal. Bisnis legal itu menarik sekali "kalau paham". Selain itu juga mengerti peraturan pemerintah yang saling berkaitan dalam melakukan usaha. (Saya yakinkan bahwa peraturan ini bikin ruwet, dan bisa bablas kalau ini tidak diperhatikan. Bisnis bisa tidak jalan meskipun investasi sudah mulai mengucur).

Well, begitu sekilas tentang kerjaan saya. Umumnya banyak orang berkata, kerjakanlah sesuatu yang kamu cintai maka seolah-olah kamu sama sekali tidak pernah bekerja. Tapi ada juga yang berkata: Cintailah apapun yang kamu kerjakan, maka kamu akan menikmatinya. Kalau kamu berpikir tentang besarnya uang yang kamu dapat, jangan dipikirkan. Karena rezeki itu datang dengan sendirinya.

Step to The Top

When the Sun come to me, cheer me up

Dalam siang yang tenang, disaat saya menghabiskan waktu dengan membaca materi pekerjaan, diselingi dengan membuka google translator di laptop, dan membuka komik Bride of Water God, tiba-tiba sebuah deringan telepon mengusik konsentrasi saya melakukan dua kegiatan itu sekaligus. Deringan yang mengharuskan saya untuk mengangkatnya karena saya hanya sedang membaca, sementara partner kerja saya sedang sibuk dengan laporannya. Bukan berarti kegiatan membaca saya kurang bermanfaat minus membaca komik, tapi urgensi pekerjaan saya dibandingkan teman saya mungkin lebih rendah.

Suara disana ternyata menanyakan keberadaan saya. Tentu saja, saya jawab bahwa pemegang telepon ini saya. Lantas orang diseberang telepon ini, yang tak lain adalah senior di kantor menyatakan bahwa saya akan ikut menghadiri sebuah rapat di salah satu kantor klien perusahaan saya.

Rapat tersebut dimulai sekitar pukul setengah tiga. Perjalanan yang cukup memakan waktu oleh karena kemacetan kota Jakarta menyebabkan kami terlambat dari jadwal yang direncanakan. Namun, ternyata rapat itu juga belum dimulai berhubung semua pihak terkait belum sepenuhnya hadir. Permbicaraan kali ini terkait sebuah proyek di dunia migas. Perlu perencanaan matang jika seseorang akan terjun ke dunia ini, baik dari segi pengetahuan maupun pendanaan. Karena bagi klien kami ini adalah hal baru (termasuk bagi saya juga baru karena memang masih seumur jagung terjun ke dunia ini. Selain itu, proyek ini lebih ke minyak bumi bukan gas seperti scope kerja saya di kantor selama ini), maka mereka membutuhkan advice secara teknikal mengenai proyek ini kepada perusahaan kami yang memang bergerak di bidang konsultasi migas (saya memang belum sepenuhnya bercerita mengenai dunia kerja saya, exclude beberapa keluhan dan motivasi yang hilang).

Kebetulan bos besar saya adalah seorang expertise di bidang ini, dan saya HARUS banyak belajar. Istilah mereka untuk kami para staf-nya, kalian harus sedot semua ilmu kami dalam lima tahun (SIAP pak!!). Banyak hal baru yang membuat saya sadar, bahwa ilmu yang saya pegang saat itu masih jauh dari cukup untuk mengimbangi pembicaraan mereka. Pembicaraan ini berlangsung lebih ke arah konseptual ke depannya akan sebuah proyek atau investasi diberikan diimbangi dengan fakta yang tersedia.

Dan saat pembicaraan itu terjadi, saya melihat seorang ibu muda memasuki ruang rapat. Sikapnya yang ayu dan cukup pendiam tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang sedang rapat. Karena selain dia datang terlambat (mungkin ada urusan lain), dia juga memposisikan dirinya duduk dibelakang, lapis kedua dari orang-orang yang dahulu menghadiri rapat. Secara teknis (a.k.a fisik), ibu ini cantik, berpenampilan menarik, serta bertata krama juga mengesankan. Mengapa saya bilang mengesankan? Saya simpulkan aja karena dia duduk dengan posisi bahu tegak, tidak seperti saya yang duduk menggelosok ke sandaran kursi. Pokoknya, jika dibandingkan dengan saya, saya bukan bermaksud merendahkan diri saya sendiri, tapi lebih ke arah perbandingan yang nyata, saya mungkin masih seper seper nya dari ni ibu.

Seperti yang sudah saya paparkan tadi, bahwa dia tidak terlalu menarik perhatian orang, karena memang saat dia datang semua pikiran termasuk pikiran saya yang hanya memandangnya dengan tingkat perhatian taraf rendah diakibatkan sedotan pembahasan yang masih di atas nalar saya yang baruuu saja gabung membicarakan topik ini ditambah dengan kecepatan pembicaraan orang yang satu frekuensi ini sangat tinggi menyebabkan ibu ini bak boneka manis yang juga duduk manis di belakang sana.
Namun, tiba-tiba boneka manis itu berbicara. Oh Tuhaaan, dia wanita yang sempurna dalam pandangan saya saat itu. Tidak saja punya wajah yang menarik, penampilan yang mendukung, etika yang bersahaja, tetapi dia juga dianugerahi otak yang bak berlian dan termanfaatkan dengan baik. Berlian itu tidak hanya jadi potensi tapi sudah jadi sumber daya. Tutur katanya sangat berwibawa dibarengi dengan intonasi yang mengena. Sehening dia datang, sehening itu juga dia membuat perhatian orang-orang tertuju padanya. Dia berbicara tidak dengan kecepatan tinggi, tapi dengan intonasi yang membuat orang bodoh pun akan bertekuk lutut mendengarkan pernyataannya (mungkin ini terlalu berlebihan tapi tidak dosa tho ngasih deskripsi yang menjual..). Semua yang dikatakannya begitu sederhana, namun saat itu juga memperlihatkan betapa berisinya dia. Saat itu saya jadi teringat tentang Nabi Muhammad, kalau Beliau juga berbicara dengan pelan dan tidak terburu-buru. Hei, tanpa disadarinya, ibu ini sudah mencontoh pribadi bersahaja Nabi Muhammad. Well, I adore her.

Sungguh luar biasa saat dia memulai untuk berbicara, dia bertindak seolah-olah tidak tahu. Dan, deziiing, apa yang dikatakannya make sense semua. Logic, rasional, excellent.. Semua terperdaya, termasuk saya yang selalu berharap agar si ibu ini akan berbicara lagi sepanjang rapat. Saya sampai memegang kartu nama saya, berharap dapat kesempatan untuk berganti kartu nama. Tapi sepertinya saat ini saya kurang beruntung, kartu nama itu sampai sekarang masih saya pegang. Hahaha.

Setidaknya hari ini saya ada sebuah motivasi menarik. Saya ingin menjadi pribadi menarik seperti itu. Ingiiiin sekali. Menjadi seorang wanita yang bersahaja baik dari tingkah laku dan pikiran. Jadi semangat nih, meski saya belum terlalu kenal tapi you inspired me, Maam. Let me think about it again. So many thing to be learned. Hiaaat hiat hiat. It's feel like when the sun come to me and cheer me up. Hei, I also can do that, so I must prepare my self to be better.

Sunday, July 17, 2011

Dari Taman Suropati ke Taman Menteng

Siap lari tapi salah kostum (jaket + celana cargo)

Sabtu, 16 Juli 2011, akhirnya saya menggerakkan tubuh lebih pagi untuk menantang matahari. Setelah hampir vakum dari sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama lari pagi, akhirnya saya punya keinginan dan juga teman untuk melakukannya. Lia, yang notabene anak jakarta mau menemani saya, sebenarnya nggak juga sih, si Lia juga mau menyehatkan tubuh katanya. Hosh hosh hosh.

Jadi perjalanan itu kami mulai sekitar jam 6 pagi, sebenarnya untuk ukuran jakarta, berangkat jam segini bisa dibilang telat kalau ingin menghirup udara segar (warning buat yang hobi udara segar). Tapi apa daya, karena saya baru terbangung jam setengah 6 habis curcol bareng mama tercinta di malam sebelumnya yang nggak terasa udah 4 jam telpon-telponan, ya berangkat agak kesiangan. Saat akan berangkat, tiba-tiba jiwa pengen searching kita muncul. Maklum hampir 7 bulan di daerah sini, spot olahraga yang nampol di otak kita ya hanya MONAS. Dan itu juga seluruh rakyat indonesia raya tercinta juga tau dimana posisinya. Hahahha. Jadi kita pengen cari mangsa baru buat dijadiin medan olahraga.

Saya sering dengar orang menyebut Taman Suropati. Jadi hasil runding tarik ulur, akhirnya kita mutusin buat ke sana. Dengan berbekal GPS di tangan, maka kita cari rute kesana. Heihei, zaman sekarang GPS sangat membantu sekali, apalagi buat kami yang kayak anak hilang. Tidak ngerti arah gini. Jadi karena posisi kosan kami berada di Jl. Kali Pasir maka rute lari kita adalah:
Kali pasir --> Cikini --> nyebrang jalan gedenya Cikini dan Gondangdia --> Cut Mutia --> kehilangan arah bentar dan akhirnya ketemu plang arah Taman Suropati di Jl Teuku Umar --> Taman Suropati. Setelah dilalui sendiri ama yang namanya alat transportasi kaki, baru deh saya ngeh kalo Taman Suropati ini tinggal ngesot aja dari tempat saya (nggak ngesot juga sih, ini hanya perumpamaan ya, sekali lagi perumpamaan jadi jangan ditelan bulat-bulat ampe lu beneran ngelakuin dengan rute itu sambil ngesot *dibahass), yang intinya deket banget. *tepok jidat.

Jalanan yang kita lalui ke T. Suropati ini sangat asik buat joging. Pada intinya jalanan Teuku Umar itu isinya adalah rumah kedubes dari negara lain. Jadi bisa kebayanglah ya, asrinya jalan dan lebarnya jalan (mungkin liatnya pas pagi kali ya, kalo siang korban macet juga deh kayaknya). Kami joging disana dengan semangat, ketika mobil polisi hilir mudik melewati kami (daerah kedubes emang begini ya pengawasan keamanannya). Namun, off the record, kita banyak jalannya. Udah lama nggak latihan, ampe engsel kaki saya juga rada-rada keseleo di akhir perjalanan. Nenek-nenek banget dah.
Taman Suropati dan Lia

Pas sampai di sana, ada orang liatin kami. Bapak-bapak-yang-berhenti-bentar-di-dekat-plang-taman suropati-liatin-kami-dan-lanjut -lagi lari. Nggak tau karena apa, yang jelas saat itu kita lagi foto-foto di depan plang itu. Kemudian kita mulai berlari lagi. Kawasan Taman Suropati sangat asri karena dinaungi pohon-pohon tinggi di sekeliling taman. Tidak ada pagar yang membatasi. Ditengah-tengah taman, ada air mancur yang muncrat dengan indahnya, membentuk semburan bak ekor merak (lebaiii). Ada juga semacam (saya juga bingung mendeskripsikannya) kayu yang disusun-susun dan diberi atap. Nggak ngerti itu benda apa dan tujuannya dibuat. Seperti tidak ada fungsi bagi saya, well mungkin itu semacam tugu kali ya (ntar liat aja fotonya).
Bangunan di bagian kanan dari Taman Suropti (sampai sekarang belum ngerti ini apa??)

Kami lari di Taman Suropati hanya 1,5 keliling. Nah, disaat saya lari di setengah keliling terakhir, saya melewati bapak-bapak-yang-berhenti-bentar-di-dekat-plang-taman suropati-liatin-kami-dan-lanjut -lagi lari, tapi saya terus lari (ya iyalah). Tiba-tiba si Lia ngakak dibelakang.
Lia: Hadoooh, gw nggak bisa lari. Perut gw udah sakit.
Saya: (masih semangat lari, tapi ikut berhenti). Kenapa emang?
Lia: Gw ngakak liat tu bapak ngeliatin elu lamaaa banget cungki.
Saya: Oh ya??
Lia: Dia pasti mikir gini, hedeeh ni anak lari pagi malah pake jaket. Trus ini celana kok celana gunung yang dipake.
Saya: (mandangin baju yang dipake. Sebenarnya ya, jujur aja saya nyaman-nyaman aja pake ni perangkat perang. Yang dalam hal berpakaian yang penting sepengguna nyaman to. Hwahahha. Tapi kook baru nyadar ini perangkat mau naek gunung. Celana cargo + jaket). Lah diluar negeri juga gini kan perangkatnya?
Lia: Iya, tapi disana dingin.
Saya: Hedeeeh, ini sebenarnya pendapat lu kaaaan..kaan. Bwahhaha,, bahwa gw saltum *tepok jidat si Lia..

Jadi sekarang saya ngerti, terlepas itu benar atau nggak yang anggapan si Lia tentang alasan tu bapak mandangin saya atau cuma dia yang mengkolaborasikan dengan pikiran dia, bahwa tu bapak awal banget mandangin saya yang salah kostum (hedeeh ya iyalah ya, orang dia cuma pake celana pendek dan singlet begono dibandingin ama gw yang dari atas ampe bawah ketutup, alesan).

Setelah lelah berlari (read:berfoto), kita udah bosan di taman ini. Jadi mau ke taman laen, yang dikenal dengan Taman Menteng. Dulu sekali, waktu saya masih SMA/SMP saya pernah nonton di TV yang menceritakan bahwa Jakarta sedang giat-giatnya membangun Taman Kota, dan kebetulan saya melihat desain dari Taman Menteng ini. Jadi penasaran liat realisasinya. Apakah sama? jeng jeng jeng.
Taman Menteng dan saya

Berbekal ingatan Lia selama naik Kopaja P-20 buat pulang ke rumah, jadilah saya ikut lari ngekor dibelakang ni anak. Pas nyampe sedikit kecewa, kenapa cuma lapangan futsal aja yang ada. Ternyata eh ternyata, posisinya ada di sisi yang satu lagi. Lari-lari dikit, ketemu spot bagus, kita asik berfoto. Untuk desain Taman Menteng, bagus juga sih. Mirip dengan yang saya liat di TV. Tapi udaranya kurang segar dan pohonnya kurang rimbun seperti di Taman Suropati. Klo disini lebih agak gersang kurang pohon tinggi (bandinginnya ama Riau yang masih hutan siih). Kalau datang agak siangan, klub-klub sepeda akan banyak mangkal di tempat ini. Buat info aja, saat ini di Jakarta lagi nge-trend yang namanya olahraga bersepeda. Saya juga tertarik sih, tapi masalahnya rame bangeeet. Jadinya nggak asik, kata bos saya aja sepedaan di Minggu pagi udah pake macet saking banyaknya (sebenarnya alasan ini nyata dibalik alasan saya sebenarnya yang belum beli sepeda).
Kawasan tengah Taman Menteng (tanpa dan ada saya, hehe)

Pas kami datang, kebetulan ada yang main futsal, main basket, ama klub sepeda, ada yang lari, ada juga yang foto-foto (kami saking noraknya belum pernah kesana, semuaaa pengen diabadiin), ada juga yang duduk-duduk di dekat taman, dan adalagi yang sibuk bikin buletan-buletan lampion yang ditempelin di pohon-pohon, di liat-liat makin dekat, eh kayaknya ini desain buat nikahan. Hedeeh, ni taman buat lapangan pernikahan juga ternyata (nggak cuma futsal ama basket yang punya lapangan, kayanya negeriku, pray to Indonesia *apacobainipernyataan). Sepertinya tema pernikahan ini adalah Pesta Kebun (kenapa gw malah bahas ini).
TautanDesain Pesta Kebun di Taman Menteng

Saking penasarannya sama benda segitiga, maksudnya desain bangunan seperti bangunan limas yang ada di taman ini, saya ama Lia mendekat dan menempelkan wajah di kaca untuk melihat isi di dalamnya. Dan isinya K-O-S-O-N-G, awalnya saya kira ini adalah Green House (yang buat tempat nanam tanaman itu lho!). Jadi ya tinggal otak kami aja yang mikir, bangunan ini buat apa?? Desainnya unik sih, jadinya penasaran. Oh iya kalo foto disini, maksudnya foto disisi lain taman, akan terasa seperti di luar negeri. Banyak tanamannya (ingat bukan pohon tinggi) disekeliling bangunan yang kayak Green House.
Kawasan serasa di luar negeri

Setelah lelah melihat-lihat (kalo dipikir-pikir disini kita sama sekali nggak lari), dan istirahat sebentar sambil menyeruput susu kedelai kami kembali ke kosan dengan semangat baru. Tapi sayangnya setelah pulang, saya malah semangat buat rebahan di kasur dan tepar ampe jam setengah 12. Hadoooh *tepuk jidat lagi. (Lain kali harus cari kegiatan lain selain ngerjain kerjaan yang numpuk, sabar yaa kerjaan, biar nggak tepar di kasur mulu habis ajojing).

Demikian liputan sedikit tentang perjalanan di pusat kota jakarta. Bahwa sebenarnya Jakarta punya banyak Taman kota. Dua diantaranya adalah Taman Suropati dan Taman Menteng yang gampang banget dijangkau kalau pakai kaki. Kalo pake mobil, pake muter-muter dulu sih, jadinya ikutan pusing kayak komodi putar.

See you again, in the other trips.

Tuesday, July 12, 2011

Di Bawah Naungan Malam

Suara pendingin ruangan itu berderak-derak dengan keras mengisi keheningan yang menelusup di tengah malam 12 Juli 2011. Suara musik instrumental di belakang ruangan terdengar sayup-sayup. Detik jam terus bergerak pada porosnya membentuk sebuah lingkaran setiap 60 detik.

Aku hanya diam membisu menatap layar komputer yang perlahan-lahan membentuk sebuah kalimat tak bermakna. Mencoba membentuk kembali puing-puing memori yang sudah dilalui hingga malam ini dalam kata per kata hingga bermuara pada sebuah cerita. Tentu saja, yang kuharapkan adalah sebuah cerita yang bermakna. Berulang kali kuhapus kata yang kurasa tidak sesuai, tidak pantas, tidak layak. Mencabik-cabik kalimat yang telah terbentuk kembali menjadi kalimat tanpa makna.

Perlahan tapi pasti, jarum jam terus bergerak tanpa ragu. Mengarahkan waktu atau malah waktu yang mengarahkannya. Waktu yang terus berdetak meninggalkan potongan-potongan kisah di masa lalu. Dalam kebisuan ini, tidak ada yang bisa menghalangi waktu untuk bergerak. Memperlihatkan kekuasaannya bahwa dia tak dapat dikalahkan. Apa aku bisa mengejar waktu? Aaah, aku tak ingin kalah dengan waktu. Aku mau seperti waktu, tidak terpengaruh akan apapun. Tidak akan pernah mengalami fluktuatif. Apakau pernah melihat waktu tiba-tiba menjadi cepat, atau tiba-tiba menjadi lambat. Tidak!! Karena waktu memiliki ritmenya sendiri. Aku ingin seperti waktu yang terus berjalan meski ada rintangan.

Hahaha, apakah terlalu berlebihan? Kurasa tidak. Karena waktu terus berjalan, dan mengingatkanku bahwa umurku pun semakin berkurang. Oh Tuhan, jika aku teringat hal ini aku semakin takut. Tuhan, tolonglah kau ridhoi apa yang aku lakukan, karena aku tidak akan bisa menjadi lebih baik tanpa izin Engkau. Tuhan, waktu yang terus berlari ini terus mengingatkanku akan diri-Mu. Oh Tuhan, tolong ridhoi agar aku tidak lagi menyia-nyiakan waktuku mulai hari ini. Semua pasti bisa asal Engkau meridhoiku.

Dan suara sayup-sayup musik instrumental itu terdengar semakin jauh, derak mesin pendingin ruangan pun tidak lagi mengganggu. Dini hari telah menyambut, dan tanggal pun telah berganti. Waktu telah menunjukkan kekuasaannya di hening dini hari.

Wednesday, July 6, 2011

Cause and Effect


Hal yang paling menyenangkan adalah saat kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan. Kamu bisa membayangkan tahapannya. Jikalau saya sampai ke tahap seperti itu, saya yakin saya akan bahagia. Jadi Tuhan, tolong tuntun saya agar saya tahu saya sedang apa? dan mengapa saya melakukan itu? Agar saya tahu sebab dan akibatnya. Karena pada intinya dalam hidup ini kita hanya bergerak pada dua hal: apa sebabnya dan bagaimana akibatnya..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...