Ular raksasa besi yang saya naiki terus menerus menghembuskan napasnya dengan diiringi bunyi yang memekakkan. Getaran statis pergesekan tubuhnya dengan landasan dan pertukaran cepat pemandangan dari sisi kanan saya memperjelas bahwa saya akan sampai ke tujuan.
Hari itu adalah hari terakhir saya melakukan trip di Jawa karena saya harus kembali ke kampung halaman. Tetapi bukan itu yang akan saya bahas disini, sesuai janji, akan ada One Month One Direction tiap bulannya kan?
25 Februari 2015 adalah waktu perjalanan ketiga di tahun ini. Sesuai dengan target yang digadang-gadangkan di awal tahun, bersama dengan 2 penghuni sementara D.I Yogyakarta, Dino dan Lidia, saya mengunjungi salah satu lokasi wisata sejarah teshoro, Borobudur.
Berhubung dua bocah ini jago mengendarai motor dan saya tetap saja belum bisa, jadilah kami memutuskan untuk menyewa motor di KM 12 Kaliurang. Berbekal motor sewaan seharga 60.000 rupiah dan setangki pebuh bensin, maka kami mulailah petualangan kami ke Borobudur.
Karena saya buta arah, Dino yang pernah ke Merbabu tapi lupa-lupa ingat jalannya dan Lidia yang tahu "pokoknya Borobudur dekat dengan Yogyakarta cuma 1 jam dan pokoknya ke arah Magelang", maka kami sangat mengandalkan kekuatan modernisasi bernama GPS, lagi-lagi, untuk sampai ke target operasi. Ternyata benar, perjalanan hanya memakan waktu 1 jam dari titik awal. Tepuk tangan buat Iliiiid!!! Tidak sulit ternyata menuju ke Borobudur, yang jelas tetap saja saya ingatnya dengan GPS. Tanpa GPS, saya lagi-lagi lupa ingatan. Maklum disorientasi jalan, buahhahaha.
Setelah menemukan tempat parkiran motor yang hanya 3.000 rupiah, kami dengan semangat menuju Pintu Masuk Borobudur. Kami memasuki lokasi dengan tiket seharga 30.000 rupiah per orang. Cuaca yang terik menyambut kami dengan riangnya, memberikan efek tanning segera pada kulit kami yang sudah eksotis dari sononya. Meskipun banyak yang memberikan jasa penyewaan payung di depan gerbang, kami sama sekali tidak tergerak untuk menggunakannya. Wkwkwkw, ribet nenteng-nenteng payung. Cukuplah tas saya yang tidak memiliki zipper dan diikat dengan sistem ikat pinggang sajalah yang menyusahkan usaha kami untuk menjangkau air minum di dalam tas.
Perjalanan kali ini berdurasi 2.5 jam. Puas? Tentu saja, karena saya jalannya dengan 2 makhluk yang sangat-sangat suka melakukan hal-hal yang tidak wajar dan memancing keributan dimanapun kami berputar. Sejujurnya, tidak ada sama sekali yang bisa saya ceritakan tentang situs itu sendiri karena memang kami tidak menyewa tour guide dan saya dengan sebenar-benarnya lupa dengan pelajaran sejarah tentang Borobudur. Hehehe.
Bukannya kami berusaha mempelajari sejarah, kami malah sibuk berkodak ria di setiap spot yang disinari cahaya matahari dengan niat yang tulus agar terlihat lebih putih di kamera. Bukannya memperhatikan dengan baik gambar di badan candi, kami malah sibuk mengagumi para tour guide yang fasih berbahasa Jepang dan Inggris. Maafkanlah kami yang kurang paham sejarah dan kurang fokus ini, Tuhaaan.
Keluarga kami adalah keluarga yang suka berpose, ternyata. Ckckckck,
kebiasaan ini tidak pandang umur. Terbukti dengan berhentinya kami
setiap 5 menit berjalan dan mengambil pose yang sama berkali-kali. Adik saya memang benar-benar. Yang satu sibuk dengan betapa flawlessnya wajahnya di kamera, sementara yang satu sibuk agar diusahakan semaksimal mungkin diabadikan dengan wajah yang terlihat tirus.
Buah dari perjalanan ini adalah rencana kami untuk jangka panjang. Ide tahun 2015 yang awalnya hanya untuk pribadi juga diamini oleh kedua bocah ini. Ketika mereka sudah bekerja, mereka juga akan menyisihkan waktu untuk traveling bersama keluarga dengan tema "One Month One Direction" juga dan rencana besar berikutnya menjadi "One Year One Country". Cihuiii, senang rasanya kalau rencana saya sudah bisa terwujud hingga 2 bulan ini dan senang lagi kalau rencana ini jadi gayung bersambut.
Sejauh ini, perjalanan saya dengan kedua bocah ini tidak pernah berakhir dengan adu ngotot yang berakhir tidak menyenangkan. 100 persen hepi-hepi dan tidak ada deadair. Kami juga senang kalau isinya kami-kami saja. Bukan diskriminatif, tapiii kami bisa berkelakuan apa adanya. Hahahha.
The Best Journey is when you can enjoy it together with your companion. And my family is one of my best candidate.
(Bogowonto, 26 Februari 2015)
Ringkasan Pengeluaran Wajib untuk acuan Traveler ke Borobudur dari Yogyakarta:
- Sewa motor: 60.000 rupiah per motor untuk 24 jam. Motor tanpa bensin. Biaya untuk bensin setangki penuh adalah 20.000 rupiah.
- Biaya parkir motor di Borobudur: 3.000 rupiah per motor tanpa batas waktu a.k.a nggak nambah lagi saat diambil.
- Biaya masuk situs Borobudur: 30.000 rupiah per orang.
Lihat!! Tidak sampai 100.000 rupiah, kalian sudah bisa menikmati Lokasi wisata Borobudur. Asal dari Yogyakarta ya. Semoga Bermanfaat!!!