Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Tuesday, August 9, 2016

One Month One Direction (4): Manado

Tadi malam saya mendarat di Sam Ratulangi Airport. Cuaca menyambut pendaratan tidak terlalu bersahabat. Ini merupakan perjalanan saya kesekian kalinya untuk dinas kerja. Lumayan seru sebab saat ini saya dinasnya bareng senior-senior kuliah saya dulu. Senior yang sempat kerja di Belanda, senior waktu di tempat kerja yang lama, senior yang di instansi pemerintahan. Pas ngobrol dengan orang-orang sekitar, ternyata banyak alumni teknik kimia, bertebaran, rame juga.

(Pemandangan dari kamar hotel: Gunung, Laut dan Kota)

Tapi dasar cupu, saya memang tidak dilahirkan untuk bisa basa basi. Sering frustasi melihat tingkah  yang lebih sering menguap di antara riuhnya percakapan orang-orang di sekitar. Orang-orang terbahak-bahak, tapi ketika saya ikut-ikutan tertawa, rasanya tone nya kurang enak didengar, buahhaha. Fiuh, hidup di Divisi Business Development harusnya saya lebih pandai membawa diri. Heran, kenapa saya bisa berprofesi di bidang ini. Hahahah.

Sunday, January 31, 2016

One Month One Direction (2): Cilegon

Cilegon merupakan salah satu kota industri dengan hawa tipkal, panas menyengat. Kunjungan ke lokasi ini pun sebenarnya bukanlah kunjungan dengan tujuan wisata, melainkan kunjungan ke rumah sahabat sebelum saya beranjak dan kembali ke kampung halaman di Sumatera.

Pemandangan 3 jama silih berganti, dimulai dari hiruk pikuk terminal bus, jalan-jalan tak berpenghuni, perumahan padat hingga bumbungan asap bangunan-bangunan industri. Jalan yang dilalui adalah jalan-jalan gersang dengan tumbuhan merangas. Pepohonan hijau tetap menemani namun dedaunan telah berubah warna menjadi kelabu karena endapan udara kotor jalanan yang belum tersiram hujan.

Di akhir perjalanan, saya berhenti di sebuah persimpangan yang tak lagi saya ingat. Dari tempat berdiri, saya melihat mobil terios hitam berkecepatan sedang menghampiri dan disanalah teman cemen saya duduk di sisi kemudi dengan sendal jepit swallow yang dilepas sembarangan menjemput saya dengan gayanya. Aah, saya rindu dia, teman untuk bergosip dan bekerja.

Dia menjemput saya untuk singgah di rumahnya, yang notabenenya akan jadi tempat menginap saya selama 1 hari ini. Saya sangat senang bisa berkunjung dan dia dengan senang untuk dikunjungi. Jalur yang dilewati menuju rumahnya adalah jalur kota yang berpindah menjadi jalur perumahan. Suasana perumahannya sungguh asri, meskipun pada beberapa titik terlihat tumbuhan ilalang merambat dengan ganasnya. Rumahnya berada pada daerah dataran tinggi yang mendaki, bersisian dengan rumah-rumah lain yang menanjak hingga jalanan lain. Rumahnya asri dan tenang. Suasana paginya tak kalah dengan suasana pagi di daerah pegunungan, meskipun saya sama sekali tidak bangun pagi. Hahaha.

Pantai Anyer

Berkunjung ke Cilegon, sungguh sayang rasanya jika tak bertandang ke tempat lain. Jadilah kami memutuskan untuk ke Pantai Anyer di hari berikutnya. Pantai Anyer adalah salah satu pusat wisata yang banyak dikunjungi di daerah Cilegon, jadi tak heran ketika berada di sana, saya bertemu dengan banyak orang yang datang untuk sekedar berjalan-jalan di pasir pantai, bermain layang-layang atau sengaja datang berombongan sambil menghirup udara pantai. Karena saya hobi berburu spot bagus, jadi saya pun melakukan perburuan dalam beberapa kurun waktu. Obsesi mendapatkan objek artistik mulai merambat. Tetapi tetap saja, saya bukan orang yang fotogenik sehingga objek tanpa wajah saya lebih terlihat menarik dibandingkan adanya saya disana. Hahha.

"The most important trip you may take in life is meeting people halfway"
Henry Boye
(DY, February 2015)

Ringkasan Pengeluaran Wajib untuk acuan Traveler ke Cilegon dari Jakarta:
  1. Biaya Tiket Bus, Pulang Pergi Jakarta-Cilegon: 2 x 45.000 rupiah
  2. Biaya makan selama di Cilegon: 100.000 rupiah per orang per 2 hari 1 malam
  3. Biaya penginapan: 0 rupiah karena saya menumpang. Kalaupun menginap, mungkin sekitar 200.000 rupiah per malam.
Semoga Bermanfaat!!!



Monday, March 2, 2015

One Month One Direction (3): Magelang

Ular raksasa besi yang saya naiki terus menerus menghembuskan napasnya dengan diiringi bunyi yang memekakkan. Getaran statis pergesekan tubuhnya dengan landasan dan pertukaran cepat pemandangan dari sisi kanan saya memperjelas bahwa saya akan sampai ke tujuan.

Hari itu adalah hari terakhir saya melakukan trip di Jawa karena saya harus kembali ke kampung halaman. Tetapi bukan itu yang akan saya bahas disini, sesuai janji, akan ada One Month One Direction tiap bulannya kan?

25 Februari 2015 adalah waktu perjalanan ketiga di tahun ini. Sesuai dengan target yang digadang-gadangkan di awal tahun, bersama dengan 2 penghuni sementara D.I Yogyakarta, Dino dan Lidia, saya mengunjungi salah satu lokasi wisata sejarah teshoro, Borobudur.

Berhubung dua bocah ini jago mengendarai motor dan saya tetap saja belum bisa, jadilah kami memutuskan untuk menyewa motor di KM 12 Kaliurang. Berbekal motor sewaan seharga 60.000 rupiah dan setangki pebuh bensin, maka kami mulailah petualangan kami ke Borobudur.

Karena saya buta arah, Dino yang pernah ke Merbabu tapi lupa-lupa ingat jalannya dan Lidia yang tahu "pokoknya Borobudur dekat dengan Yogyakarta cuma 1 jam dan pokoknya ke arah Magelang", maka kami sangat mengandalkan kekuatan modernisasi bernama GPS, lagi-lagi, untuk sampai ke target operasi. Ternyata benar, perjalanan hanya memakan waktu 1 jam dari titik awal. Tepuk tangan buat Iliiiid!!! Tidak sulit ternyata menuju ke Borobudur, yang jelas tetap saja saya ingatnya dengan GPS. Tanpa GPS, saya lagi-lagi lupa ingatan. Maklum disorientasi jalan, buahhahaha.

Setelah menemukan tempat parkiran motor yang hanya 3.000 rupiah, kami dengan semangat menuju Pintu Masuk Borobudur. Kami memasuki lokasi dengan tiket seharga 30.000 rupiah per orang. Cuaca yang terik menyambut kami dengan riangnya, memberikan efek tanning segera pada kulit kami yang sudah eksotis dari sononya. Meskipun banyak yang memberikan jasa penyewaan payung di depan gerbang, kami sama sekali tidak tergerak untuk menggunakannya. Wkwkwkw, ribet nenteng-nenteng payung. Cukuplah tas saya yang tidak memiliki zipper dan diikat dengan sistem ikat pinggang sajalah yang menyusahkan usaha kami untuk menjangkau air minum di dalam tas.

Perjalanan kali ini berdurasi 2.5 jam. Puas? Tentu saja, karena saya jalannya dengan 2 makhluk yang sangat-sangat suka melakukan hal-hal yang tidak wajar dan memancing keributan dimanapun kami berputar. Sejujurnya, tidak ada sama sekali yang bisa saya ceritakan tentang situs itu sendiri karena memang kami tidak menyewa tour guide dan saya dengan sebenar-benarnya lupa dengan pelajaran sejarah tentang Borobudur. Hehehe.

Bukannya kami berusaha mempelajari sejarah, kami malah sibuk berkodak ria di setiap spot yang disinari cahaya matahari dengan niat yang tulus agar terlihat lebih putih di kamera. Bukannya memperhatikan dengan baik gambar di badan candi, kami malah sibuk mengagumi para tour guide yang fasih berbahasa Jepang dan Inggris. Maafkanlah kami yang kurang paham sejarah dan kurang fokus ini, Tuhaaan.

Keluarga kami adalah keluarga yang suka berpose, ternyata. Ckckckck, kebiasaan ini tidak pandang umur. Terbukti dengan berhentinya kami setiap 5 menit berjalan dan mengambil pose yang sama berkali-kali. Adik saya memang benar-benar. Yang satu sibuk dengan betapa flawlessnya wajahnya di kamera, sementara yang satu sibuk agar diusahakan semaksimal mungkin diabadikan dengan wajah yang terlihat tirus.

Buah dari perjalanan ini adalah rencana kami untuk jangka panjang. Ide tahun 2015 yang awalnya hanya untuk pribadi juga diamini oleh kedua bocah ini. Ketika mereka sudah bekerja, mereka juga akan menyisihkan waktu untuk traveling bersama keluarga dengan tema "One Month One Direction" juga dan rencana besar berikutnya menjadi "One Year One Country". Cihuiii, senang rasanya kalau rencana saya sudah bisa terwujud hingga 2 bulan ini dan senang lagi kalau rencana ini jadi gayung bersambut.

Sejauh ini, perjalanan saya dengan kedua bocah ini tidak pernah berakhir dengan adu ngotot yang berakhir tidak menyenangkan. 100 persen hepi-hepi dan tidak ada deadair. Kami juga senang kalau isinya kami-kami saja. Bukan diskriminatif, tapiii kami bisa berkelakuan apa adanya. Hahahha.

The Best Journey is when you can enjoy it together with your companion. And my family is one of my best candidate.
(Bogowonto, 26 Februari 2015)

Ringkasan Pengeluaran Wajib untuk acuan Traveler ke Borobudur dari Yogyakarta:
  1. Sewa motor: 60.000 rupiah per motor untuk 24 jam. Motor tanpa bensin. Biaya untuk bensin setangki penuh adalah 20.000 rupiah.
  2. Biaya parkir motor di Borobudur: 3.000 rupiah per motor tanpa batas waktu a.k.a nggak nambah lagi saat diambil.
  3. Biaya masuk situs Borobudur: 30.000 rupiah per orang.
Lihat!! Tidak sampai 100.000 rupiah, kalian sudah bisa menikmati Lokasi wisata Borobudur. Asal dari Yogyakarta ya. Semoga Bermanfaat!!!

Sunday, January 18, 2015

One Month One Direction (1): Malang and Batu - Remaining Day

DAY 2

Hari kedua di Batu, kami melakukan perjalanan ke Alun-Alun Batu dan Jatim Park II. Di dalam Jatim Park II terdapat 3 lokasi wisata, yaitu Ecogreen Park, Batu Secret Zoo dan Museum Satwa. Namun, karena kami baru berada di sana pukul 12 siang, jadilah tempat yang sempat kami kunjungi hanya 2 lokasi.

1. Alun Alun Batu
Menurut cerita, dulunya Alun Alun Batu merupakan taman yang didalamnya terdapat Bebatuan yang disusun sedemikian rupa. Namun, icon ini tidak dipertahankan kota Batu. Setiap pergantian walikota, maka juga dilakukan pergantian dekorasi Alun-Alun. Icon yang ada saat saya mengunjunginya kemarin adalah buah Apel dan Strawberi.

2. Jatim Park II
Harga tiket masuk Jatim Park II dibagi menjadi beberapa paket. Kami mengambil paket 3 seharga 120.000 rupiah per orang dan berhak untuk mengunjungi 3 lokasi. Meskipun hanya 3 lokasi, kami hanya mampu mengunjungi 2 lokasi karena luasnya.

a. Ecogreen Park
Spot utama yang ingin kami kunjungi pada lokasi ini adalah Rumah Terbalik. Menduplikasi konsep yang berasal dari Belanda, konsep ini merupaka konsep pertama di Indonesia. Antrian menuju wahana ini selalu panjang, atau memakan waktu 15-20 menit sampai tiba giliran kami masuk. Selain itu, juga terdapat miniatur beberapa candi yang ada di Indonesia yang didalamnya merupakan area simulasi berbagai macam peristiwa alam seperti gempa, angin atau salju.

b. Batu Secret Zoo
Ada banyak sekali binatang di kebun binatang ini. Sangat cocok untuk membawa anak-anak sebagai arena belajar. Berbeda dengan kebun binatang lain yang saya kunjungi pada umur segini, binatang-binatang yang ada di kebun binatang ini cukup terawat. Koleksi binatangnya mulai dari berbagai jenis primata sampai karnivora, mulai dari reptil sampai singa, bahkan binatang-binatang kecil lain yang sama sekali tidak pernah kita tahu. Secara garis besar, saya lebih puas berkunjung ke lokasi ini daripada ke Taman Safari.

DAY 3
Kami melakukan perjalanan dengan berjalan kaki ke lokasi wisata Paralayang dan Pemandian Air Panas Sanggoriti. Untuk ke lokasi Paralayang, kami hanya mampu menempuh setengah jalan karena ternyata lokasi berada 12 km dari tempat tinggal kami di Batu plus dengan medan yang menanjak dan berputar-putar.
Sementara untuk ke Pemandian Air Panas Sanggoriti, kami menaiki angkutan umum dan berakhir dengan membeli bakso dan sate kelinci di lokasi.

DAY 4
Perjalanan pada hari keempat adalah perjalanan terakhir saya dengan adik-adik pada kunjungan ke Malang ini karena mereka akan kembali ke Yogyakarta pada hari ke-5. Setelah diskusi yang cukup alot dan saran dari Om kami yang tinggal di Batu, jadilah kami memutuskan bersama-sama dengan kakak sepupu berkunjung ke Coban Rondo. Salah satu wisata air terjun terdekat dari Batu.

Kami menempuh perjalanan dengan bis sekitar 30 menit (harga: 4000 rupiah dari Batu) dan 15 menit dengan ojek (mereka mematok 45.000 rupiah per orang, sudah termasuk tiket masuk ke lokasi wisata ini).

Suasana Coban Rondo sangat padat pengunjung. Udaranya sangat sejuk dan airnya sangat dingin. Kalau berkunjung ke Batu, saya sarankan untuk berkunjung ke lokasi ini. Dalam keadaan ramai saja saya masih berminat untuk berkunjung, apalagi ketika bukan pada musim liburan dan sepi.

Dapat disimpulkan bahwa perjalana Series 1 dari One Month One Direction ini sangat menarik. Perjalanan dengan rekan yang sepaham juga membuat perjalanan ini semakin berkesan.

See you on the next trip, guys!!!

Thursday, January 15, 2015

One Month One Direction (1): Malang and Batu - DAY 1

One Month One Direction Series (1) dilakukan dengan daerah tujuan Malang dan Batu. Lebih tepatnya, eksekusi lebih banyak dilakukan di Batu, Malang. 1 jam perjalanan dari Kota Malang dengan menggunakan bus jurusan Malang - Jombang atau Malang - Kediri.

Informasi singkat terkait perjalanan ini, Series 1, adalah sebagai berikut:
  • Tim Pelaksana: 3 orang (Dina, Dino, dan Lidia)
  • Waktu Pelaksanaan: 30 Desember 2014 s.d 5 Januari 2015
  • Tujuan/Lokasi: Malang dan Batu
  • Total Pengeluaran: rata-rata 1 juta per orang, sudah termasuk tiket kereta api pulang balik. Akomodasi tidak termasuk karena kami menginap di rumah saudara. Hahaha.

Persiapan dan Perjalanan ke Stasiun Malang
Berhubung kami niatnya pelit dengan biaya transportasi dan akomodasi tapi hepi-hepi dengan wisata kuliner, maka kami putuskan secara musyawarah mufakat yang dipaksakan untuk naik kereta ekonomi dari daerah asal masing-masing. Saya dari Stasiun Pasar Senen pada tanggal 30 Desember 2014, pukul 17:20 WIB dan adik-adik saya dari Stasiun Tugu pada tanggal 31 Desember 2014, pukul 03:00 WIB.

Titik pertemuan kami putuskan di Stasiun Malang, saya datang 1 jam lebih cepat dari Tim Yogyakarta, sekitar pukul 10:00 WIB di tanggal 31 Desember 2014, sedangkan Tim Yogyakarta sampai di Malang pukul 11:00 WIB. Kegiatan tunggu menunggu tidak terlalu lama, saya habiskan waktu dengan searching lokasi yang akan dituju di kota Malang pada siang itu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kota Batu.

Ya, cerdas bukan, searchingnya pada hari H. Berhubung saya lah yang mengajak adik-adik saya ke Malang dan berhubung saya yang paling tua dan berhubung mereka juga belum pernah melakukan backpackeran kayak saya, maka saya tetiba menjadi kakak yang baik dan bertanggungjawab untuk membahagiakan adik-adik saya selama backpackeran ini, buahhahaha. Yaah, rasa tanggungjawab ini lebih karena situasi bukan karena hobi, pemirsa!!

Malang - Day 1
Setelah pertemuan dan semua tim lengkap, kami langsung menuju ke tempat yang dirasa perlu untuk dikunjungi pada hari itu. Berhubung lagi, adik saya ayuk-ayuk aja untuk diajak kemana aja jadilah kami ke beberapa tempat pada hari pertama. Tentunya dengan menggunakan petunjuk Google Map dan koneksi internet (thanks to technology), kami melenggang bak orang yang paham jalan, padahal mata saya selalu menuju smartphone. Empat

1. Tugu Malang
Stasiun Malang berada pada posisi strategis di Kota Malang ini, hanya membutuhkan waktu lebih kurang 10 menit dengan berjalan santai untuk sampai ke Tugu Malang. Area dari Tugu Malang ini lebih besar daripada Tugu Yogyakarta dan dikelilingi dengan taman-taman dan juga kolam yang ditumbuhi tanaman eceng gondok.
(Tugu Tani, Si Petualang Courtesy)


Monday, January 12, 2015

One Month One Direction Series

Kalau dipandang-pandang dan dihayati, blog saya akhir-akhir ini tidak terlalu merepresentasikan Judul dari blog saya "Si Petualang". Saya sedikit merasa berdosa dengan passion saya yang suka bepergian tetapi sama sekali tidak terwujud dengan baik 2 tahun terakhir ini. Kebanyakan perjalanan yang saya lakukan adalah perjalanan karena pekerjaan namun sering terlupakan untuk saya ceritakan. Oleh karena itu, di tahun yang baru ini, 2015, saya berniat untuk mewujudkan sebuah wacana yang sempat saya rencanakan bersama anak sekantor, kami beri tema "One Month One Direction".

(Source: here)
Lantas, apa maksudnya?
Naah, maksud dari tema yang kami angkat, namun akhirnya saya saja yang mewujudkan adalah bahwa kami akan berpergian secara backpackeran ke suatu tempat, baik di Indonesia maupun di dunia, sekali dalam sebulan. Terlalu optimis memang, tetapi sesuatu yang direncanakan dan dituliskan akan lebih cenderung diwujudkan daripada sesuatu yang direncanakan hanya dalam pikiran. Yaah, akhir tahun nanti saya mau lihat persentase perwujudannya. Apakah saya bisa pergi ke 12 tempat selama tahun 2015 ini. Hehehe.

Realisasinya?
Berhubung baru berjalan 12 hari pada bulan Januari ini, saya sudah mendatangi satu daerah di bulan ini. One Month One Direction Pertama saya ini dilakukan bersama dengan adik-adik saya. Apakah seru jalan bareng mereka? Seru banget!! Mereka juga tipenya sama dengan saya, nggak masalah backpackeran dan suka juga jalan kaki. Suatu hari nanti saya mau jalan bareng mereka ke Eropa, hahaha, impian kami kalau lagi ngumpul keluarga.

See you!!

Wednesday, June 25, 2014

Best Time on Yogyakarta

Pukul 3 sore lewat 45 menit. Rabu sore yang mendung.
Malam nanti akan berkunjung ke salah satu mall terbesar di Indonesia untuk menyaksikan penampilan salah satu sahabat sekaligus teman sekantor saya di konser sebuah musik. Siapkan diri untuk terbangun dan menikmati acara.

Sudah hampir 3 bulan tidak mencorat-coret dunia maya. Sayang sekali, blog ini ibarat rumah yang jarang dihuni, dibersihkan dan diberi perlengkapan baru. Perkembangan yang terjadi dalam hidup saya, well, murni tentang karir. Still didn't have some kind of romance story. Kenapa?? Hahahha, sedang tidak ada saja. Tuhan sedang meminta saya fokus dengan dunia karir, itu kilah saya selalu.

Seminggu yang lalu, saya menjadi Speaker di sebuah acara bergengsi di Indonesia bagi Industri Perpipaan. Target saya untuk menjadi seorang Key Note Speaker di tahun 2018, dapat diwujudkan pada tahun 2014. Lebih cepat 4 tahun dari target. Yeyeyye, loncat-loncat pakai trampolin. Mengutip dari kata bos saya menghadapi keadaan seperti ini adalah Ngeri-ngeri Sedap. 

Saturday, March 22, 2014

Korean Visit: between work and fun (DAY 1)

It has been a long time since I wrote my last blog. With the new story of traveling. And I just forgot to finish my writing about China and the last vacation I had, Thailand. And here I am now, sitting in front of my laptop in South Korea, alone in my journey. Never think to be like this, but it is, alone. So, I should find my way to have a great visit to this country. Not only about my work, but I should explore it. 7 days should be enough.

Switch to bahasa by the way.

DAY (-) 14 to DAY (-) 1| Preparing but not really preparing

Awalnya, saya ada rencana dengan teman kuliah untuk pergi ke Makassar dengan salah satu pesawat komersial, tapi karena suatu alasan kepailitan, kami gagal berangkat. Namun, Tuhan punya rencana lain, saya diikutseratakan dalam salah satu Konferensi Gas Dunia di Negeri Ginseng, Gastech 2014. Yuhuu.
In fact, saya bukanlah orang yang sangat-sangat preparing untuk melakukan perjalanan, kecuali itu adalah mandatori yang harus dipenuhi. Saya tak terlalu menyukai administrasi, tapi saya tahu itu harus dilalui. Jadi, apa yang saya persiapkan sebelum ke Negara Ginseng ini? Ya, khusus administrasi saja. Hehe.

Berikut hal-hal yang administrasi yang dipersiapkan jauh-jauh hari untuk berangkat ke Korea:

Monday, September 30, 2013

13th: Perjalalan ke Negeri Tirai Bambu (Part 1)

Helloo, woorrllldd!! Long time without any news about happy-happy. Berapa kali kalau saya kilas balik, yang sedih syahdu selalu. Malesin yak. Hehehe.

Memang sudah lamaaa sekali rasanya saya tidak menceritakan pengalaman traveling saya. Perjalanan terakhir dengan ongkos backpacker yang saya lakukan itu, lebih kurang tepat 2 tahun yang lalu. Sudah lama sekali yaa. Naah, sekarang saya mau pemanasan lagi aah, cerita ceriti mengenai pengalaman heng out ke Negeri Tirai Bambu.

Namanya juga anak-anak kampung yang tiba-tiba dapat kabar untuk ditugaskan untuk berkunjung ke Cina.  Jelas lah saya bahagia tralalala. Dapat kesempatan gratis-tis berkunjung ke sana dengan alibi melihat perkembangan kilang LNG Mini. Hehehe, saya beneran kerja kok disana, nyambi lihat-lihat dunia luar. Asoiii.

Ada banyak lokasi yang saya kunjungi saat itu, dimulai dari Timur nya Cina hingga ke Barat Lautnya. Dari Shanghai hingga ke Mongolia. Berbagai macam bangunan, kebudayaan, dan perbedaan sudut pandang saya lihat di sana. Mulai dari ketinggalan pasmina, koper dibongkar sampai kehilangan sekotak jarum pentul.

1. Hangzhou, Kota Paling Romantis di Cina
Perjalanan dengan lama penerbangan total 6 jam akhirnya berakhir juga. Dengan membawa satu tas punggung, saya bersama dengan penumpang lain berbaris di konter imigrasi yang panjang mengular. Namanya baru pertama keluar dari regional Asia Tenggara, saya masih nyambi celingak celinguk melihat manusia-manusia yang sibuk sendiri mengisi lembar kedatangan.

Sampai disana, saya bukannya berselonjor di kasur, tapi langsung berganti baju dengan pakaian formal demi melanjutkan kunjungan ke salah satu kontraktor yang ada di Cina, tanpa mandi tentunya pemirsa. Buahahha. Perjalanan tersebut ditujukan ke sebuah kota yang memakan waktu 3 jam dengan kendaraan darat. Yap, 6 jam di udara plus 3 jam di darat tidak menyurutkan niat kami untuk dinas. Luar biasaa. "Mau gimana lagi yaa?" hehe.

Setelah haha hihi dengan si kontraktor, plus makan siang, plus kunjungan ke sebuah workshop, akhirnya acara tersebut rampung jam 5 sore. Kita pun melakukan perjalanan selama 1.5 jam menuju pusat kota Hangzhou. Benar sekali, tepat di Pusat Kota itulah Hotel saya berada. Syukuuur deeh, saya jalannya atas nama kantor. Kalo nggak manalah kuat hidup dengan biaya mahal begitu. Huahahaha.

Tempatnya luar biasa. Sangat teratur dan tersusun rapi. Ada berbagai macam moda transportasi di sana. Karena saya dan teman menggunakan jilbab, jelaslah kadang-kadang kita menjadi center of attention. Beda sendiri dari orang-orang yang berpakaian minim. Masalah komunikasi, parah banget. Jaraaang banget penduduk setempat yang mau diajak berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, ujung-ujungnya kami berlaga menggunakan bahasa rimba.

Perasaan asing yang seru itu muncul saat saya dan teman saya berencana melakukan perjalanan singkat sore itu. Melihat-lihat danau yang katanya menjadi pusat wisata di daerah itu. Kata mereka, hanya memakan waktu 10 menit dari lokasi hotel yang kami tempati. Dasar oneng dan nggak tahu arah, plus sinyal tak punya, karena saya nggak langsung membeli nomor setempat, jadilah kita melakukan perjalanan dengan meraba-raba. Jalan saja kemana kaki melangkah. Walhasil, hari itu kami sama sekali tidak menemukan lokasi danau yang dicari, tetapi malah sampai ke sebuah lokasi lain yang juga dipenuhi penduduk setempat yang sedang bersantai.

Kiri kanan jalan disuguhi etalase mobil-mobil dengan merek terkenal. Mulai dari Porsche, Ferrari, BWM, sampai mobil lokal Cina yang tidak kalah mutakhirnya. Gedung-gedungnya juga tinggi dengan jalan setapak yang aman untuk pejalan kaki. Bahkan disediakan juga terowongan untuk melakukan penyebrangan dari bawah tanah. Tapi sayang sungguh disayang, kalau kalian berusaha bertanya, mereka akan menatap kalian aneh. Heloooo!!! Berasa jadi salah tingkah deeh. Kadang-kadang bertanya dalam hati, mereka nggak ngerti atau mereka nggak mau tahu, atau mereka merasa aneh dengan kain yang menutup kepala kami ini. Hahaha, whatever lah. Mengpa kami mencoba bertanya, karena melihat tanda dijalan tak membatu. "Waah ini ada Danaunya, tapi cara lihat petanya gimana ya? Ini posisi kita dimana sih? Trus arahnya mesti kemana?" begitulah percakapan bodoh dengan teman saya, sambil tertawa. Menertawakan kenyatan kocak ini.

Tapi tak masalah. Tempatnya oke punya kok. Tempat yang salah tuju tadi. Setengah jam saja kami habiskan dengan berpose di sana. Berhubung hari sudah mulai menghitam.


Esok harinya, barulah kami sempat berkunjung ke Danau West Lake ini. Malamnya juga ding. Berjalan-jalan sebentar setelah ditraktir makan malam di restoran Italia setempat. Begah lah perut pokoknya. Porsinya bejibun. Hoek dah buat perut orang Indonesia. Hahahha. Tempatnya memang luaaaar biasa indah kalau dilihat pada pagi hari. Udara di danau sangat segar, makin segar lagi, saat kami kunjungi sedang hujan deras nan lebat.

Waktu itu, saya dan teman saya jalan sama dua orang rekan seperjalanan lain. Heboh lah, heboh masing-masing maksudnya. Hehehe. Semua spot didatangi, karena memang bener-bener indah, bersih dan sejuk. Semua tempat disusun detail dan terlihat sekali perawatannnya. Katanya si pemandu kami, seenak jidat ngangkat orang jadi pemandu, Hangzhou merupakan kota paling romantis se Cina, banyak orang memilih lokasi ini untuk menghabiskan waktu berbulan madu. Beruntungnyaa sayaaa, nggak harus bulan madu dulu untuk bisa ke sini. Hahaha.

Bersambung...

Saturday, January 5, 2013

01. Monumen Pancasila Sakti

(Gerbang Masuk Monumen Pancasila Sakti)

Gerbang masuknya berdiri dengan gagahnya, pepohonan menemani perjalanan saya memasuki area tersebut. Berkat janji dengan teman, target tahun 2013 saya ini terlaksana untuk pertama kalinya. Doakan saya untuk ke depannya yaa *dadah-dadah ala Lady Di.

Sebelum lanjut, saya mau bilang kalau perjalanan yang saya lakukan saat ini cukup berat. Baik dari segi konten maupun dari apa yang saya lihat. Beruntungnya saya punya partner ke sana, yang pengennya disebut NN, prok prok prok, kalau nggak, bisa terkapar di tempat kayaknya. Hehhe.

Ya, yang namanya wisata sejarah, pastilah harus ada bekal yang kita miliki ke sana. Dengan semangat 45, saya mulai melakukan pencarian alamat untuk menuju ke sana, berhubung saya sudah lumayan kebayang ke tempat apa yang saya tuju. Sering membacanya di buku sejarah, tetapi belum benar-benar pernah ke sana. Berkat tanya sana tanya sini sehubungan dengan tanggung jawab sebagai orang yang ngajakin teman plus kami berdua sama-sama disorientasi, akhirnya kami menemukan rute murah untuk mencapainya dan nggak pake lama. Hehhe.

Tuesday, December 11, 2012

Lonely Traveler or Not?

If I have a chance, I would like to round the world. Hihihi.

Perlu modal yang cukup nekat buat jadi Lonely Traveler. Meski udah dilakukan sama banyak orang, tetapi modal nekat saya masih cemen men. Lihat orang jalan bawa buntelan segede gaban, mupeng pengen jalan. Lihat orang sibuk bikin catatan perjalanan, jantung ikut berdebar-debar. Lihat orang pasang foto jalan-jalan, penasaran juga pengen barengan. 

Dasar gila jalan, tapi dasar kere juga, gaji sekarang belum cukup ngelakukan perjalanan yang mencengangkan. Plus belum ada istilah dapat cuti pake sebulan, karena masa kerja belum bisa dikategorikan kelamaan. Sebenarnya  nggak boleh gini, misuh-misuh nggak jelas kayak orang susah.


(Source here: Lonely Robot)

Monday, December 10, 2012

Plan for Execution (2013)

(Source here: Lonely Traveler)

Dosa sebenarnya, menghabiskan waktu menatap PC jam-jam segini. Tetapi saya sedang terserang virus tak terelakkan, inspirasi tiba-tiba. Sambil memandang teman saya yang lagi mengunyah kerupuk dengan semangatnya, saya lihat kiri lihat kanan, jaga-jaga supaya nggak ada yang memandang saya curiga.

Kemaren, saya sempat rapat sama orang Jepang. Rapatnya itu sekitar pukul 15:00 WIB, di salah satu Hotel yang terkenal di kawasan Senayan sana, di ruang private meeting lantai paling atas. Lumayaaan, sambil hahahihi nyeruput "Es Jeruk" (yang sudah saya pakemkan sebagai minuman favorit saya setelah Citrus Squash, Lemon Squash, Lime Squash dan Orange Squash), saya jadi sangat ingin melakukan apa yang barusan disebut salah satu dari mereka.

Sunday, December 2, 2012

12th: Solo (Day 2 & 3)

Bag Tag I am Indonesia di tas yang naas..
Sedikit cerita tentang pengalaman saya dalam perjalanan, banyak hal bodoh yang terjadi dan jadi bahan tertawaan:
1. Berkelahi dengan conveyor barang di bandara, karena saya terus memegang barang dan conveyor terus berjalan.
2. Menenteng tas yang penuh dengan tusukan jarum karena putus tiba-tiba. Hadooooh.
3. Kembali berkelahi dengan conveyor dan mengembalikan barang-barang yang jatuh berantakan. Niat membantu malah dikira tersangka gara-gara papan surfing dan barang bawaan orang Jepang yang super duper gede, tapi tu orang cuma ngambil barang dia sendiri dan membiarkan kami sendiri. Bahkan petugas bandara pun tak datang membantu.
4. dan banyak lagi, namun lupa.. Kelamaan soalnya,, sigh.. 

Day 2 Jum'at 9 November 2012
Ternyata saya butuh waktu lama untuk melanjutkan. Hehe.
Singkat cerita, hari kedua berada di Solo dihabiskan dengan mencoba mengunjungi spot-spot penting yang ada di sana. Berbekal informasi yang dikumpulkan sahabat saya mengenai area yang cukup terkenal di Solo dan diakhiri dengan mencari jalan ke rumah sahabat saya untuk sekalian menghadiri acara lamarannya.

Tuesday, November 27, 2012

12th: Solo is not about Career because It is not Solo Career (Day 1)

Berbicara tentang bulan November yang saya lalui, tidaklah sepenuhnya membosankan dan dihabiskan di kamar. Catatan kemaren hanyalah catatan saya yang mati kebosanan dan ingin setengah mati hangout bareng teman buat mendaki gunung, namun tak kesampaian. *Dasar anak nakal, disebut-sebut terus. Kalau mama saya tahu, pasti kena jitak.

Sebut saja ini perjalanan saya yang ke-12 dan coba dokumentasikan. Tidak sepenuhnya direncanakan untuk vacation, tetapi untuk menghadiri peristiwa besar sahabat saya yang menikah di Karanganyar (see 11th). Perjalanan ini adalah salah satu perjalanan yang luar biasa yang saya lalui dengan seorang sahabat. Perjalanan bertualang berdua di kota kalem "Solo" hingga nyaris menghapal jalan yang ada di sana.

DAY 1 Kamis, 8 Nov 2012
Tiket yang jauh-jauh hari sudah dipesan dan perlengkapan bepergian yang sudah dipersiapkan adalah menu utama bawaan kami saat itu. Tepat pukul 12 siang, saya dan rekan mengambil izin cuti 1.5 hari untuk segera berangkat ke Solo. Salah satu menu transportasi yang kami pilih untuk menuju bandara adalah "Damri Gambir". Dengan hanya membayar 20.000 rupiah, kami sampai di Terminal 2 Bandara Soeta.

Teman saya terlelap dengan sempurna sementara saya yang duduk di sampinya, tepat di sebelah jendela bergerak dengan resah. Mengapa? Karena saya sedang berpikir keras untuk memulai pembicaraan dengan seorang Jepang di sebelah saya. Hahahha, saya memang sangat hiperaktif sekali. Tetapi karena telat memulai dan tidak menemukan momen yang tepat, kecuali kata "Excuse me" yang saya lancarkan ketika meminta jalan, akhirnya saya nggak jadi bertemaaaaan. Huhuhu.

Tuesday, November 13, 2012

11th: From Jakarta to Karanganyar (Wedding Session)

(Source: here)

Thursday, Hectic Day..
Pekerjaan menumpuk tidak menyurutkan tekad bulat kami (baca: saya dan teman sekantor yang juga sahabat saya sejak zaman batu, *menggenggamkan tangan dengan pandangan menyipit) untuk segera terbang ke Solo. Sebenarnya tujuan utama bukanlah kota Solo, tetapi Karanganyar. Tempat resminya sahabat saya "Ayu", mengakhiri masa lajangnya.

Memang persiapan yang kami lakukan tidaklah begitu matang, karena satu-satunya yang sempat kami pikirkan adalah tiket pesawat promo ke sana yang itu pun diinfokan Ayu dan menjahit baju seragam yang jahitnya pun mepet. Dengan meninggalkan pekerjaan dengan catatan sudah dihand-over dengan member yang lain, kami pun melenggang ke bandara, menenteng satu travel bag dan oh meen tas punggung saya yang entah bagaiman tiba-tiba putus saat saya akan terbang. Bagus-bagus, terpaksa saya melakukan jalan keluar dengan penusukan jarum pentul pada titik-titik yang diperlukan. Hahaha, ketawa ngakak dulu.

Friday, September 21, 2012

10th: Maen maen ke Puncak Antah Berantah..

Naik naik ke puncak ke gunung
Tinggi tinggi sekali

Kamis lalu saya mempraktekkan lagu ini, bedanya saya naik ke puncaknya pake angkot. Naaah, apa yang saya cari di puncak itu? Nggak ada tuh, hanya jalan aja. Niatannya muncul gara-gara semua anggota di kantor saya bukan orang asli Jakarta, akibatnya nggak ada yang ikut Pilkada Gubernur DKI Jakarta, efeknya kita coba cari pelarian daripada bengong jagain kosan yang mulai didominasi oleh nyamuk, hasilnya kita tahu rute angkot ke puncak. Taraaaaa.. Beri tepuk tangan meriaah buat saya dan teman-temaaan.

Tapi kalau kalian dengan cerdasnya nanya, bagian puncak Bogor yang mana yang kita datangi. Well, pertanyaan itu agak berat saya jawab. Sebab, hwhahhaha, kita juga nggak tahu turun di puncak bagian mana. Berhubung saya lagi bermurah hati, bagi-bagi info, bagaimana saya mencapai puncak yang antah berantah itu, maka saya jabarkan rutenya:
  • Kalo kalian orang Jakarta, naik Commuter aja ke Bogor, harga tiket 7.000 rupiah. Perjalanan memakan waktu 1 jam. Sampai di stasion, cari angkot 02 
  • Angkot 02 ini ngetemnya di depan stasion, bilang ke si supir buat diturunin di tempat angkot arah Cisarua berada. Jika beruntung, kalian diturunkan di tempat yang tepat. Harga 2.000 rupiah saja.
  • Naik angkot Cisarua sampai ke tempat dia berhenti terakhir. Memakan waktu 2 jam, sebab dibarengi dengan macet, jalannya super sempit, angkot ama kendaraan bejibun, ada yang parkir sembarangan, pokoknya kusuuut-kusuuuut banget tu jalur. Berantakan. Harganya 5.000 rupiah.
  • Dari sini naik angkot yang ngetem di sana, yaaah mereka teriak-teriak, mau kemana neng?? Teman saya bilang mau sholat, ada mesjid di atas. Jadi kita kesana. Perjalanan sekitar 30 menit. Karena si bapak pake prinsip ekonomi, Supply and Demand, kita bayar 4.000 rupiah dengan jarak segindang.
Sampai disana, kita langsung kelaparan dan memakan segala makanan yang ada di atas. Lalu main-main di kebun teh. Melakukan kegiatan tak berguna seperti berjejer di kebun teh memasang wajah ceria, memajang wajah narsis di depan kamera, dengan alasan ingin mengabadikan momen penting. Terus kelaparan lagi. Terus nunggu angkot lagi, tentunya buat turun dari puncak entah bagian mana itu, yang kata teman saya "yang penting nemu kebun teh". Terus akhirnya ada angkot yang muncul setelah sekian lama ngetem, sambil jaga iman teman saya supaya dia nggak kalap tiba-tiba pengen beli ubi cilembu yang dari tadi dipelototinnya di salah satu warung, atau hampir berniat ngarahin satu jempol ke mobil yang lewat sambil bilang: "Joki bang? Area six in one" (soalnya kita berenam, saking kahwatirnya angkot nggak ada.. bwhahaha).

Sesampai di bawah, turun buat naik angkot 09 untuk menuju suatu tempat makanan yang nggak recommended bgt, karena akhirnya kita marah-marah, sebab ni tempat rada susah dicari dan rasanya "biasaaa ajaaa". Dan setelah dari sana, si Bogor pamer air mata, ngasih tau kemampuannya sebagai kota hujan dan pulang lah kita kembali ke Jakarta. Saya masih kelaparan, jadinya beli mi lagi lah di Jakarta, ketika kereta tiba. Bwhahahah.

 Di Pucuk Teh..


Monday, September 17, 2012

Update Pertengahan Tahun Lebih Sedikit 2012

Matahari bulan September dengan nanarnya menyirami saya di ruangan ber-AC ini. Sengaja mengambil posisi di dekat jendela, posisi teman saya yang sedang terbang ke pojok Barat Indonesia, supaya tidak ketahuan sedang membuat blog oleh kolega saya. Hahaha. Tapi sebenarnya tak salah juga, kebetulan saya tidak punya jadwal mencekik. Yaaah, setidaknya semuanya sudah saya kerjakan kemaren. Alhamdulillaaah.

Sebenarnya tak ada yang spesifik dengan catatan saya pagi ini. Hanya catatan-catatan akumulasi yang redundan melompat-lompat di otak saya, mengenai hari-hari, yang tentunya tidak seintens dulu saya paparkan di blog ini. Urat menulis saya sedang kembang kempis, tertimbun lautan pekerjaan yang tak ada habisnya. #sedikit hiperbola (haha, saya sampai mencari kata yang tepat di google untuk mengungkapkan ini. Tumpul sekali kosakata saya dengan tidak menulis).

Saya
Kemaren, waktu hanya saya habiskan di kamar saja. Rasa malas mendera untuk bergerak. Tetapi saya tidak semalas itu, hanya untuk tidur-tiduran di hari yang senggang. Mata saya mencari-cari sesuatu yang rasa-rasanya bisa dibaca untuk membunuh waktu yang bergulir dengan sesuatu yang dinamis, sesuatu yang ada tambahan, tak statis.

99 Cahaya di Langit Eropa

Sunday, August 5, 2012

Sepenggal Kisah di Negeri Jiran

(Source: Trip to KL)

Ruangan itu cukup besar untuk didiami saya seorang. Cahaya emas temaram dari lampu-lampu menyinari ruangan, membentuk bayang-bayang memanjang di dinding kamar. Bunyi keriuahan kendaraan tidak terlalu terdengar dari lantai 31 itu. Ya, saya tenang di sana, memandangi lampu kendaraan yang menghiasi gelapnya jalan.

Malam itu, saya duduk sendiri memandangi tumpukan timeline dan schedule acara konferensi yang berserakan tak beraturan di meja panjang di depan saya. Sofa yang saya duduki cukup empuk, membuat posisi duduk saya merosok malas di sandaran. Duduk. Duduk dengan pikiran yang melayang-layang.

Tuesday, July 31, 2012

Gravitasi

(Source: here)

Tak berarah dan tak ada pegangan
Mengawang-awang dalam kegamangan
Menuju sebuah titik yang entah dimana akan berakhir
Berdiri tanpa ada yang mendasari

Dalam yang tak dapat dipahami
Waktu yang berdetak dengan kecepatan yang pasti
Meniti menembus batas yang tak bisa disisi-i

Gravitasi seolah hilang dalam sunyi
Karena kini aku bagai hidup dalam mimpi
Tak perlu banyak kata yang menemani
Hanya pikiran dan hati yang merangkai imajinasi
Membentuk bayang-bayang yang bahkan diriku pun tak mengerti


Je vis dans un rĂªve
(Aku hidup dalam mimpi)

Friday, June 8, 2012

9th Destination: KL - Walking around

Atasan saya pulang duluan dan saya terdampar sendiri di sini. Apa yang harus saya lakukan?? Saya kan berstatus accompanying person, dan hanya memiliki akses yang terbatas. Sangat terbatas. Saat saya berjalan dan melihat pameran, adrenalin sudah turun dan nggak terlalu semangat lagi. Lagian stand yang pengen banget saya kunjungi tidak ada orang teknisnya, jadi ya sudahlah saya ngetem dulu di musholla.

Berbekal peta asal comot, saya mencoba mencari cara untuk membawa oleh-oleh ke tanah air. Anak-anak pada berharap di kampung halaman sana. Saya menatap peta dengan seksama, mengestimasi waktu menuju ke tempat apa dan berpikir ulang. Melihat bawaan tas punggung saya yang cukup aduhai dan berukuran bombastis, sebab saya sudah check out dari Hotel. Akhirnya saya putuskan, saatnya berangkaaat. Lihat kemana kaki akan melangkah dan membawa saya. Hwahahaha.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...