Tuesday, November 25, 2014

Unreal Though..

Pikiran saya tak bisa lepas darinya. Dia terlalu sempurna untuk ada di dunia dan terkadang bertanya-tanya, akankah ada seseorang seperti itu tersedia di dunia. Beberapa hari setelah saya membaca tentangnya, gambaran tersebut menjadi begitu lengkap dan tidak bisa terelakkan terbawa menjadi sesuatu yang begitu nyata dalam pikiran saya.

(Source: here)

Sosok yang sempurna, begitu dingin namun penuh kasih sayang. Tidak terlalu banyak bicara dan selalu melakukan tindakan yang efektif dan efisien. Memimpin yang bisa didengar oleh pengikutnya. Perencana yang sangat detail dalam mengambil sebuah tindakan. Oh Tuhan, mungkinkan Engkau menciptakan satu untuk saya. What a ridicoulus though, pals!! Saya rasa sosok ini merupakan sosok-sosok ideal untuk semua wanita yang telah rampung membacanya. Apa ini sosok ideal yang saya harapkan? Entahlah. Tetapi rasanya sulit untuk menemukan sosok tersebut di tempat saya tinggal.

Membicarakan tentang semua ini membuat saya tersadar bahwa saya juga punya sebuah tulisan yang belum saya rampungkan selama hampir 8 tahun. 8 tahun bukanlah waktu yang singkat. Berkali-kali saya menuliskan bahwa saya akan segera menyelesaikannya, tetapi sampai sekarang belum juga menemukan titik terang.

Kondisi ini sungguh melelahkan. Stuck dalam tulisan yang diamini dengan rasa malas yang tinggi. Semoga saya segera semangat untuk menyelesaikannya. Hihihi.

For Jombloers. Please read this book, it is absolutely good story. Of course from my perspective. Hahaha
(Shatter Me, Destroy Me, Unravel Me, Fracture Me, Ignite Me)

Monday, November 24, 2014

Pagar-Pagaran


(Source: here)

Kerjaan sudah beres, jadinya saya curi mencuri waktu buka blog. Hehehe, hey hey kaleem. Kan saya sudah mendahulukan kewajiban sebelum hak untuk bersenang-senang. Anggap saja sekarang lagi istirahat makan siang, belum makan soalnya, haha.

Berbicara tentang makan siang, saya belum bisa makan siang. Kenapaa? Karena saya lagi ikut-ikutan anak muda zaman sekarang, memakai pagar di gigi. Sekarang saya menjadi sangat kagum dengan teman-teman yang sudah memakai pagar ini dari kapan tahun. Oh Em Ji, saya bingung mau ngunyah makanan di bagian mana di dalam mulut, kebentok pagar kemana-mana, dan itu sakit jendral!! Mampus!!

Keputusan ini sudah saya wacanakan setahun yang lalu dan Alhamdulillah terwujud. Berbekal kebulatan tekad karena sama sekali nggak punya target hidup yang jelas, beda banget dengan sahabat saya yang punya target, akhirnya saya putuskan untuk memulai suatu impian saya dan dapat saya kontrol, yaitu memagar gigi. Proses dari wacana serius sampai terealisasi hanya memakan waktu 1 minggu saja. Cepat bukan?

Jujur saja, saya tidak punya masalah gigi yang serius. Bahkan kata dokter, saya tidak punya masalah kesehatan pada gigi. Yes, yes. Jadinya, waktu ingin merapatkan barisan gigi, saya cukup deg-degan bloon. Karena saya grogi bakal diapakan. Setelah mengalami, ternyata saya selamat sampai tujuan.

Saat Pemasangan Kawat
Hal pertama yang dilakukan bu Dokter asik adalah membersihkan gigi saya sebelum dipasang semacam lem khusus untuk tempat menopangnya braket. Proses pemasangan memakan waktu 2 jam. Mulut saya disumpal pake kapas supaya air liurnya nggak mengganggu proses pemasangan. Dengan posisi tersebut, saya sibuk memperhatikan apa saja yang dilakukan bu Dokter asik.

Saya bersyukur bahwa saya bukan dokter gigi atau dokter lain (dulu waktu saya masih anak bocah yang lucu dan imut, kalau ditanya mau jadi apa, selalu bilang mau jadi dokter. Maaf ya, saya hanyalah anak kebanyakan. Nggak variatif, buahhaha). Tidak terbayang sama sekali saya harus sabar melakukan pekerjaan mengutak-atik organ tubuh manusia dengan sabar. Bukan berarti, dengan pekerjaan saya saat ini tidak butuh ketelitian. Tetapi, ya, you knowlah, ini orang lho. 

Saya sibuk menghayal kalau saya jadi si Dokter ini, saya bakal nempelin si braket suka-suka saya. Yaah, miring dikit nggak papalah. Anggap aja seni. Buakakkak.

Setelah Pemasangan Kawat
Sebelum menggunakan kawat ini dan memberanikan diri mengambil keputusan, saya sering membaca artikel dan juga blog orang yang menceritakan pengalaman mereka memasang kawat. Mereka bilang, sakitnya itu sakiiit bangeeet. Mulut terasa luar biasa sakit karena ditarik-tarik. Jadilah saya mempersiapkan mental luar biasa untuk mengantisipasi momen ini.

Friday, November 7, 2014

Blossom Note

Memandangi jarum detik pada jam dan tiba-tiba tercebur pada ribuan kata yang pernah saya lekatkan pada kumpulan kisah yang tersimpan secara rahasia. Hahaha, jujur sudah lama saya tidak merasakan perasaan itu, belum ada yang membuat perasaan saya tergerak merasakan getaran yang sama seperti dulu. Bukan tahun lalu tetapi tahun sebelumnya, dimana hingga sekarang pun saya tak benci. Saya dengar kabar kalau dia sudah pindah ke Eropa dan saya makin kagum saja kepadanya. Aneh.

Jarum usia pun terus berdetak tanpa perduli apakah sang tuan memiliki kisah yang bagus untuk dijalani. Sungguh saya tidak punya sesuatu apa pun untuk saya ceritakan dalam tulisan ini. Tak ada debaran melihat seseorang, tak ada juga percikan kejengahan karena didekati.

Saya sedikit rindu juga dengan sensasi itu karena jika ini berlangsung lebih lama dari yang saya sanggup tangani, mungkin saya berubah jadi robot pekerja. Oh Tuhan, saya tak mau jadi perawan tua (guling-guling di tanah). Tak punya kehidupan pribadi untuk dihabiskan pada Sabtu Minggu kecuali menemani teman untuk membeli keperluan kantor (see, I talked about work, again) Tak punya agenda untuk dilakukan ketika sore menjelang. Hanya bertandang ke kamar kawan atau membaca novel-novel dari berbagai gendre yang sangat diyakinkan adalah fatamorgana dan fiksi saja.

(Source: here)


Grey Area..

Sudah hampir 4 tahun saya berkutat di bidang ini. Ada sedikit ruang yang membuat saya berpikir ulang lagi dan lagi tentang tujuan hidup saya ke depan. Apakah tahun depan saya akan tetap disini? Apakah tahun depan saya akan tahan untuk melakukan hal yang sama lagi tanpa mengetahui jelas kemana arah hidup saya? Ya, jujur saja, saya mulai kehilangan arah.

Dalam diam saya sering mempertanyakan semua yang saya alami. Well, saya bukanlah orang yang dapat membagi-bagi waktu saya dengan baik. Saat ini, yang ada dipikiran saya, hanya kerja kerja kerja. Tetapi bukanlah sebuah kepuasan yang saya rasakan. Saya bekerja tanpa paham kemana karir saya akan mengarah. Tidak ada peningkatan karir yang jelas di sini. Dan saya sering bertanya-tanya, apakah dengan 4 tahun saya di sini, saya memberi manfaat bagi orang-orang di sini? Entahlah. Dari sekian banyak proyek yang saya tangani, tidak ada yang benar-benar jadi. Apakah itu karena rencana berubah atau karena dihentikan untuk sementara atau karena ketidakjelasan yang menyita waktu saya dengan melakukan pola berulang, melakukan hal itu lagi dan lagi.

Terlempar ingatan saya pada suatu sore yang muram, setelah saya memborbardir sebuah perusahaan asing mengenai sebuah perhitungan yang detail, setelah sedikit terbantu oleh pihak asing ini (yang saya yakin rasanya yang diminta sudah melebihi batas dari yang diperjanjikan) dan sedikit memberikan kejelasan pada apa yang kami butuhkan, klien saya berkata bahwa mereka tertarik menggunakan teknologi lain dari yang ditawarkan dan bisa jadi tak lagi berniat menggunakan teknologi dari pihak asing itu. D**n!! Again!! I have been through this path before, and still with the same client.

Wednesday, October 15, 2014

Random Note: Sad but Happy

Yeeaaayy, akhirnya balasan email dari Houston datang juga. Isinya bukanlah sesuatu yang menyenangkan tetapi sebuah penolakan. Tetapi saya tetap senang dengan kondisi ini. Karena akhirnya mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

PS: It is better to know what they feel rather than stay in quiet moment

Thursday, September 25, 2014

Cungkiii, See You Soon My Friend

"Cung, lu udah dengar?"
"Apaan?"
"Gue disuruh masuk tanggal 7 Oktober ini."
"Yaah cuungkii, Sumpah luuu? Cepet amat sih?"

Itu yang dikatakan sahabat seperjuangan saya di kantor. Oke, saya belum siap (inhale, exhale). Saya siapnya dia pindah bulan Februari tahun depan, bukan Oktober tahun ini, yang berarti satu minggu lagi (guling-guling di trotoar). Ikut senang tapi juga sedih. Mendoakan yang terbaik tetapi setengah tidak rela melepas. Hahaha, sindrom perpisahan yang tidak bisa terelakkan.

Hampir empat tahun  bersama-sama membuat dia jadi bagian penting dalam hidup saya yang tidak bisa saya pisahkan. Pokoknya kalau masuk kantor, saya pasti akan lihat dia duduk di mejanya sambil mengunyah (ya tempe, ya tahu, ya mie ayam, ya nasi kuning dan semua jenis makanan yang dia temui di jalan) atau memakai jilbab yang lagi-lagi berwarna sama dengan saya. Kalau bercerita sama sekali tidak bisa saya tertawakan karena kurang pandainya dia bercerita, tetapi rasa frustasi dan ekspresinya lah yang membuat saya terbahak-bahak. Atau niat dietnya yang hanya bertahan sehari dua hari namun terhapuskan  seketika dengan semua makanan yang tersedia di kantor.

Paling aktif kalau sudah membicarakan makanan, meskipun sedang diet. Paling cekatan menghabisi kepiting atau ceker. Sparing partner saya untuk makan semua makanan hingga habis tak bersisa, bahkan untuk menghabisi semangkok mie ayam basi karena tidak mau rugi.

Teman diskusi pekerjaan kalau saya sudah mencapai titik nadir. Sering satu tim pada masa-masa awal saya bekerja membuat semua percakapan kami lebih hidup karena sama-sama mengalami. Paling sering memberi masukan kalau saya sudah jalan di tempat atau sudah mulai jerawatan memikirkan pekerjaan. Sering sekali saya memaparkan isi hati saya, sampai dia bosan mendengarnya. Berkat sifatnya yang jarang mengeluh dan selalu ceria itulah yang terkadang memacu saya untuk pantang menyerah dan terus berusaha.

Pokoknya saya sama sekali belum bisa membayangkan kalau di kantor tidak ada dia. Saya tabah kok, sungguh, tapi nanti sepiii. Sekarang saya belum nangis, tetapi nanti saya akan nangis. Lihat aja. Pokoknya, kalau lu ada niat jalan, ajak gue yaaa. Terlepas dari saran lu untuk solo backpacker supaya segera mendapat tambatan hati.

Cungkii, gue pasti bakal kangen banget sama luuu, ditambah lagi, lu akan pindah ke pojok barat Jawa sana.

Monday, September 8, 2014

What am I working?

Learning from the draft or any published information. Compiling with my case and adjusting to the right term. Somehow, I don't know what I am doing right now. Is it right? I don't know. It is so frightening when you should draft about something that you are not an expert on it.

People say, you will learn by doing. It just puts me in uncomfortable area. Should learn about the Contract, should I become a Contract Engineer. Hellowww, I am an engineer. Fine, if I work in specific area, but what if I should put my shoes in every aspect. Lately, I act as a Cost Engineer as well as a Process Engineer as well as a Contract Engineer as well as an Environmental Engineer as well as a Project Engineer. Who am I? I am not focusing on one area. It is good but also bad. Maybe, I can call myself as the Project Manager. Hell yeah!! It seems to be like that.
 

Saturday, September 6, 2014

Catatan Hati Seorang Ibu

Wanita itu sudah sering menangis apabila dia menceritakan perihal yang dia rasakan akhir-akhir ini. Tak ayal hanya menguak luka yang sudah disimpannya sedemikian rapi. Setiap kali dia bercerita, sesering itu pula wajahnya merasakan segarnya luka itu merobek-robek perasaannya.

Ya, dia seorang nenek yang terpisah dari cucu-cucunya. Bukan terpisah oleh jarak fisik, tapi jarak magis yang tak dapat ditembus kecuali didekatkan oleh pemiliknya. Perasaan sedih juga ikut menjalari siapa pun yang mengetahui kendala yang dia hadapi, jika orang itu berada di sampingnya, berusaha melihat dari kacamatanya dan juga berdiri di sepatunya.

(Source: Crying for Sun)

Thursday, June 26, 2014

Ini Kamis

I had a bad day! Again!
Bukannya nyumpahin hari saya yang belum berakhir, tapi perasaan nyesek dan ngancurin ritme pernapasan ini mengganggu. Bagaikan ada sebuah lubang besar yang tiba-tiba menyempit, membuat saya bernapas dengan susah. Perasaan ini sudah lama tak muncul. Perasaan ini seperti indikator alami saya bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang tidak berjalan lancar, dan yah memang saya tidak puas dengan apa yang telah terjadi hingga saat ini, di hari ini. Saya tidak puas dengan diri saya.

Kata mama, kalau saya sakit hati, hati saya memang benar-benar sakit. Tapi bagaimana kalau saya merasa tidak beres dan tidak nyaman dengan suatu keadaan dan menimbulkan bahwa saya menjadi sulit bernapas. Apakah itu benar, bahwa saluran pernapasan saya memang sedang menyempit? Luar biasa memang keadaan mental ini.

Ngomong-ngomong ini adalah hari Kamis. Kamis yang harusnya berkah, malah sering menjadi hari yang menguji bagi diri saya. Dan sekarang hari Kamis, saya langsung menghubungkan perasaan tidak menyenangkan ini dengan hari dan mencoba menyendiri di ruang meeting kecil di kantor saya.

(Source: Siadventure Courtesy - Bilik Menyendiri)
Saya mau ketenangan dan melarikan dari ketakutan-ketakutan pribadi saya, yang sampai sekarang belum dapat saya kalahkan dengan tuntas. Saya mau menyendiri dari segala pikiran-pikiran yang terus menerus mempermainkan logika saya dan menyesakkan pernapasan. Saya mau ketidaksempurnaan yang akan memberikan saya pengecualian terhadap ketidaksempurnaan dari saya dan yang lain. Saya mau menenangkan diri dan bersikap lebih manusiawi. Saya mau lebih santai, lebih rileks, lebih longgar terhadap diri saya sendiri yang selalu menghukum diri secara tak sadar.

Tenangkan saya Tuhan.
Ya, ini Kamis.
Ya, itu bukan sesuatu yang berarti.
Ya, ini hanya salah satu hari dalam seminggu
Ya, saya tidak apa-apa
Ya, semua baik-baik saja

Ketakutan-ketakutan itu muncul atas nama permainan logika
(DY - 26 June 2014)

Wednesday, June 25, 2014

Best Time on Yogyakarta

Pukul 3 sore lewat 45 menit. Rabu sore yang mendung.
Malam nanti akan berkunjung ke salah satu mall terbesar di Indonesia untuk menyaksikan penampilan salah satu sahabat sekaligus teman sekantor saya di konser sebuah musik. Siapkan diri untuk terbangun dan menikmati acara.

Sudah hampir 3 bulan tidak mencorat-coret dunia maya. Sayang sekali, blog ini ibarat rumah yang jarang dihuni, dibersihkan dan diberi perlengkapan baru. Perkembangan yang terjadi dalam hidup saya, well, murni tentang karir. Still didn't have some kind of romance story. Kenapa?? Hahahha, sedang tidak ada saja. Tuhan sedang meminta saya fokus dengan dunia karir, itu kilah saya selalu.

Seminggu yang lalu, saya menjadi Speaker di sebuah acara bergengsi di Indonesia bagi Industri Perpipaan. Target saya untuk menjadi seorang Key Note Speaker di tahun 2018, dapat diwujudkan pada tahun 2014. Lebih cepat 4 tahun dari target. Yeyeyye, loncat-loncat pakai trampolin. Mengutip dari kata bos saya menghadapi keadaan seperti ini adalah Ngeri-ngeri Sedap. 

Saturday, March 22, 2014

Korean Visit: between work and fun (DAY 1)

It has been a long time since I wrote my last blog. With the new story of traveling. And I just forgot to finish my writing about China and the last vacation I had, Thailand. And here I am now, sitting in front of my laptop in South Korea, alone in my journey. Never think to be like this, but it is, alone. So, I should find my way to have a great visit to this country. Not only about my work, but I should explore it. 7 days should be enough.

Switch to bahasa by the way.

DAY (-) 14 to DAY (-) 1| Preparing but not really preparing

Awalnya, saya ada rencana dengan teman kuliah untuk pergi ke Makassar dengan salah satu pesawat komersial, tapi karena suatu alasan kepailitan, kami gagal berangkat. Namun, Tuhan punya rencana lain, saya diikutseratakan dalam salah satu Konferensi Gas Dunia di Negeri Ginseng, Gastech 2014. Yuhuu.
In fact, saya bukanlah orang yang sangat-sangat preparing untuk melakukan perjalanan, kecuali itu adalah mandatori yang harus dipenuhi. Saya tak terlalu menyukai administrasi, tapi saya tahu itu harus dilalui. Jadi, apa yang saya persiapkan sebelum ke Negara Ginseng ini? Ya, khusus administrasi saja. Hehe.

Berikut hal-hal yang administrasi yang dipersiapkan jauh-jauh hari untuk berangkat ke Korea:
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...