Cerita sebelumnya: Dari tempat ini, setiap hari, dia selalu menanti kedatangan sang sahabat yang telah bersedia menyisakan waktu untuk membantunya.
"Udah lama nggak liat kamu? Kemana aja?” tanya lelaki itu. Relia terpana sesaat. Tidak menyangka ada yang memperhatikannya, mengingat dia hanya masuk beberapa minggu selama kuliah berlangsung.”Kamu kenal aku?” ucapnya heran.
”Nggak”, jawab lelaki itu.”Aku cuma tahu bahwa kamu adalah orang yang namanya tepat berada di atas absenku. Dan nggak pernah muncul kalau dosen mulai mengabsen.”
”Ha?”
”Ya” ucap lelaki itu meyakinkan. ”Aku tidak pernah melihatmu. Tadi hanya basa basi.” sambungnya santai.
”Oo,” Relia mengangkat bahunya. Lalu berbalik dan menatap papan tulis dengan pandangan bingung.
Sebuah sentuhan menyentuh pundaknya lagi. ”Tapi sekarang aku kenal kamu kok. Jadi kita berteman?” ucap lelaki itu.
”Nggak tau. Aku malas menjalin pertemanan.” jawabnya.
Sebuah pandangan aneh menatapnya. Lelaki itu mengernyitkan kening.
”Ha ha ha aku bercanda. Tentu aja aku mau. Aku sangat senang kamu mau jadi temanku,” Relia menyodorkan tangan kanannya.
”He he. Aku kira kamu serius,” lelaki itu mengusap kepalanya lalu menyambut tangan Relia. ”Erlangga!” ucapnya mantap.