Showing posts with label CerBer. Show all posts
Showing posts with label CerBer. Show all posts

Thursday, March 8, 2012

Senja Telah Datang Menghampiri (Part 3)

Cerita sebelumnya: Guyuran hujan mengawali hari itu. Relia merasakan sakit yang amat sangat di ulu hatinya. Ada sesuatu yang salah di sana. Cepat-cepat dia bergerak ke meja yang ada di sudut ruangan dan mengambil obat-obatan di sana. Meminum dengan cepat. Setelah sedikit merasa lega, dia pun bergerak lagi ke arah tempat tidur sambil memegang bagian yang sakit itu. Sakit itu perlahan-lahan menghilang.


 (Source: here)

Gadis itu memandangi foto yang terletak di sudut mejanya. Fotonya bersama Kira dua bulan lalu. Dia tersenyum kecil. Gadis lincah itu sudah menemaninya selama ini. Rasa senang yang membuncah terasa menghiasi hatinya yang beberapa saat lalu terasa sakit.

                ”Rel, ada yang mencarimu di depan!” mamanya berdiri diambang pintu dan tersenyum ke arahnya. Lamunannya buyar seketika.

Monday, February 20, 2012

Senja Telah Datang Menghampiri (Part 2)

Cerita sebelumnya: Dari tempat ini, setiap hari, dia selalu menanti kedatangan sang sahabat yang telah bersedia menyisakan waktu untuk membantunya.
"Udah lama nggak liat kamu? Kemana aja?” tanya lelaki itu.
Relia terpana sesaat. Tidak menyangka ada yang memperhatikannya, mengingat dia hanya masuk beberapa minggu selama kuliah berlangsung.”Kamu kenal aku?” ucapnya heran.
(Source: here)
”Nggak”, jawab lelaki itu.”Aku cuma tahu bahwa kamu adalah orang yang namanya tepat berada di atas absenku. Dan nggak pernah muncul kalau dosen mulai mengabsen.”
”Ha?”
”Ya” ucap lelaki itu meyakinkan. ”Aku tidak pernah melihatmu. Tadi hanya basa basi.” sambungnya santai.
”Oo,” Relia mengangkat bahunya. Lalu berbalik dan menatap papan tulis dengan pandangan bingung.
Sebuah sentuhan menyentuh pundaknya lagi. ”Tapi sekarang aku kenal kamu kok. Jadi kita berteman?” ucap lelaki itu.
”Nggak tau. Aku malas menjalin pertemanan.” jawabnya.
Sebuah pandangan aneh menatapnya. Lelaki itu mengernyitkan kening.
”Ha ha ha aku bercanda. Tentu aja aku mau. Aku sangat senang kamu mau jadi temanku,” Relia menyodorkan tangan kanannya.
”He he. Aku kira kamu serius,” lelaki itu mengusap kepalanya lalu menyambut tangan Relia. ”Erlangga!” ucapnya mantap.

Friday, February 10, 2012

Senja Telah Datang Menghampiri (Part 1)

(Source: here)


Senja telah datang menghampiri. Sorak sorai mulai terdengar dari gerbang kampus. Mobilisasi mahasiswa mulai terasa dari segala arah, melepas lelah karena telah berkutat dengan diktat-diktat seharian. Relia hanya menatap jauh dari warung di depan gerbang sambil menyeruput segelas teh hangat. Bola matanya terus bergerak mengikuti hilir mudik mahasiswa yang mulai meninggalkan kampus.
Relia menghela napas panjang. Sudah dua minggu dia tidak mengikuti perkuliahan. Dari tempat ini, setiap hari, dia selalu menanti kedatangan sang sahabat yang telah bersedia menyisakan waktu untuk membantunya. Kira, nama gadis itu. Tidak sengaja Relia mengenalnya ketika baru menginjakkan kakinya di kampus tersebut. Gadis sebaya dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya itu datang menghampiri dirinya ketika terdiam di sudut ruangan. Memberikan beberapa lembar catatan kepadanya dan berlalu begitu saja. Relia menatap tangan gadis yang memberi catatan tersebut, lalu samar tapi pasti dia juga melihat senyuman kecil menghiasi bibir gadis itu ketika meninggalkanya. Sejak hari itu, entah kenapa gadis itu selalu saja memberinya catatan kuliah tanpa sepatah kata dan hanya sebatas senyuman. Tanpa suara pun Relia selalu menerimanya.
”Namaku Relia Elyaka. Aku senang kamu membantuku”. Itu adalah kata pertama yang Relia ucapkan kepadanya. Dengan penuh keberanian tentunya. Gadis itu lalu menyambutnya dengan sebuah senyumannya yang khas. ”Kira Flowerina, tapi panggil aku Kira saja. Senang juga bisa mengenal kamu”.
”Rel, ngapain melamun? Cepetan kita pergi! Ada banyak tugas yang harus kita kerjakan”, suara seseorang menyadarkannya dari lamunan.

Suatu Ketika

Bentuknya masih saja sama seperti dulu. Saya memegangnya juga baru beberapa hari, tapi rasanya bentuk itu tidak berubah. Masih sama. Tuts tuts yang terus menemani saya menorehkan tulisan ini.

Diluar topik yang ingin saya tuliskan, tiba-tiba saya teringat CERPEN yang dahulu pernah saya ikut sertakan dalam sebuah perlombaan. Tidak menang sih, pembahasannya masih dangkal. Saya belum terlalu bisa menghayati penulisannya. Saya publish sajalah. Mungkin ada yang tertarik membacanya.

Saya ubah saja menjadi sebuah CerBer.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...