Sunday, August 5, 2012

Sepenggal Kisah di Negeri Jiran

(Source: Trip to KL)

Ruangan itu cukup besar untuk didiami saya seorang. Cahaya emas temaram dari lampu-lampu menyinari ruangan, membentuk bayang-bayang memanjang di dinding kamar. Bunyi keriuahan kendaraan tidak terlalu terdengar dari lantai 31 itu. Ya, saya tenang di sana, memandangi lampu kendaraan yang menghiasi gelapnya jalan.

Malam itu, saya duduk sendiri memandangi tumpukan timeline dan schedule acara konferensi yang berserakan tak beraturan di meja panjang di depan saya. Sofa yang saya duduki cukup empuk, membuat posisi duduk saya merosok malas di sandaran. Duduk. Duduk dengan pikiran yang melayang-layang.

Hari itu hari kedua saya di negeri jiran. Setelah menyadari kebodohan yang saya lakukan seharian, di siang harinya (The Day is not really Delicious for Me). Tak ada yang menarik sebenarnya perjalanan yang saya lakukan ke sana, itulah yang saya renungi. Rencana matang yang saya jadwalkan akhirnya tak bisa dilaksanakan dengan sempurna karena keterbatasan aksesibilitas di sana. Dan itu membuat saya sangat tidak menikmati dibandingkan perjalanan dinas terdahulu ke Bali.

Pikiran saya terbelah-belah, dan tiba-tiba saja pikiran itu bergelendot nakal di benak saya. Sesuatu yang seharusnya tidak dipikirkan, tetapi terpikirkan. Seberapa besar saya ingin mendepaknya jauh-jauh, dia tetap saja kembali dengan tidak sopan. Potongan kenangan lama kembali bergerak bagai sinema dengan perlahan. Daaan saya sungguh ingin melupakan, tetapi dia tidak mau berhenti memutar. Semakin saya coba lupakan, semakin saja ada saja hal yang mengingatkan. Entah memang begitu kisah saya, entah saya saja yang menghubung-hubungkan.

Tetapi malam itu, dua bulan yang lalu, saya sudah bisa melepasnya. Saya rasa sudah tidak ada lagi cerita untuk saya. Karena saya tahu, bagaimanapun saya melihatnya, segala energi yang saya habiskan untuk pikiran ini, tidak ada jalan keluarnya. Saya sadar, rasa senang yang saya rasakan adalah rasa senang yang berbahaya. Saya harus berhati-hati mengendalikannya atau mengenyahkankan secepat mungkin. Tetapi tak bisa saya pungkiri, saya memang lemah, ada sedikit rindu di tempat yang tak berdasar ini. Hiks.

Dia menyapa lagi.
Padahal saya sudah lupa, dan dengan hebatnya dia mendeklarasikan bahwa saya bisa mengontaknya kapan saja.. Haaah, saya dilema.
(My Previous Note - 2012)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...