Sunday, August 5, 2012

Am I Coward?

(Source: here)

Hari ini sepi sekali. Teman-teman saya pada sibuk dengan kesibukan masing-masing. Membuat saya tak ada teman untuk tarawihan ke mesjid seperti malam-malam sebelumnya. Saya sedih luar biasa, plus kemaren saya sempat bercakap-cakap dengan salah seorang teman saya, bahwa Minggu malam adalah malam nuzulul qur'an. Namun, teman saya itu terkena program bulanan wanita.

Entahlah, apa saya sedang sok alim atau bagaimana, tetapi bulan ini entah kenapa saya ingin selalu saja pergi ke mesjid. Tak seperti bulan suci yang dulu, yang kadang saat teman saya berhalangan hadir, saya pun ikut-ikutan tak datang ke mesjid.

Jadi saya putuskan dengan berat hati untuk datang ke mesjid lain. Dan alasan memilih itu karena saya terlalu pengecut untuk menyebrang jalan. Alasan sepele bagi saya yang berumur sudah tidak bisa dibilang remaja ini. Hiks, sungguh saya memang takut untuk menyeberang. Meski saya bisa, tetapi selalu saja ada sikap dikejar setan yang menggelendot di hati saya kalau melakukannya. Berlari-lari tak tentu arah. Kalau biasanya saya pergi dengan teman saya, secara otomatis tangan saya akan bersemayan di lengan mereka, dan tentu saja berdiri berlawanan arah dengan arah datangnya kendaraan. Yaaaah, saya pengecut luar biasa.

Sesampai di mesjid yang lain itu, prok prok prok, saya wanita pertama. Mesjid masih sepi, belum ada tanda-tanda jamaah berkumpul. Dan tentu saja saya sendirian. Khusus untuk wanita, di mesjid ini, di tempatkan di luar ruangan. Kebayangkan bagaimana krik krik nya. Saya tidak membawa al-quran untuk dibaca, dan tanda-tanda kehidupan belum ada. Saya kirimkan pesan ke teman dan yaah dia cukup gembira bahwa saya tetap ke mesjid. Tetapi saya bilang ke dia, hati saya tidak di sini, hati saya di mesjid sana. Yang jam segini, saya harus berusaha mencari lokasi untuk sholat saking ramainya. Tetapi sifat pengecut saya masih bersemayam kuat.

Hanya dalam berkirim pesan singkat itu, saya lalu sadar sesuatu. Bahwa tidaklah bijaksana jika hal itu jadi hambatan saya untuk beribadah. Dua orang wanita sudah mendatangi mesjid, tetapi dengan kecepatan tinggi dan tanpa pikir panjang, saya kemasi barang-barang saya dan melesat ke mesjid yang biasa saya kunjungi. Dan tahukah teman, bahwa jalanan saat itu sepi, tak ada yang menghalangi saya untuk menyebrang, sesuatu yang saya takutkan.

Dan tak sampai 5 menit, saya sudah sampai di lokasi. Saat saya sudah mencuci kaki dan hendak memasuki mesjid, pandangan saya langsung menangkap pemandangan seorang nenek yang sedang menurun tangga. Nenek yang selalu saya lihat saat tarawihan dan selalu sendirian. Dan tahukah perasaan saya? Saya malu pada nenek itu. Nenek itu saja berani sendiri untuk ke mesjid meski tubuhnya sudah renta, sedang saya dengan fisik seperti ini hampir saja tidak ke mesjid hanya karena alasan menyeberang dan tak ada teman.

Yah, ibadah ini kan untuk saya sendiri dan karena Allah. Bukan karena ada teman yang menemani untuk menyeberang.. Maluuu.. Maluuuu

Hati gue di Cut Meutia, Cung.
Tapi gue terlalu pengecut untuk menyeberang
(Minggu, 18:48 WIB, Jakarta- Indonesia)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...