Hallo dunia!! Hallo Indonesia tercinta.
Sudah lama tak bersua.
Dua hari yang lalu, saya akhirnya memaksa untuk menyempatkan diri untuk baca buku yang membuat hati saya berdarah-darah sebagai bangsa Indonesia. Pernah dengar kan, istilah "Kita terjajah di negara sendiri". Banyak yang menyadarinya, banyak yang memakluminya, tetapi samasekali tak punya kekuatan untuk mengubah kenyataan itu. Seperti saya, setidaknya untuk saat ini.
(Source: here)
Kalau memang kita terjajah? Mana buktinya? Nggak ada perang kok?
Terjajah tidak melulu dalam artian perang terbuka dan penghancuran yang nyata. Kita terjajah secara tidak sadar, dihancurkan dari dalam. Apa ya istilahnya? Bangsa kita sudah mulai memiliki kepribadian konsumtif. Kita cenderung membeli daripada menghasilkan, lebih cenderung menyewa jasa daripada berusaha sendiri, lebih cenderung mempercayakan ekploitasi negeri ini ke bangsa lain hingga saat ini daripada mengambil risiko di awal. Dengan gagah akan berkata bahwa tetap ada share profit untuk pemerintah di sana dengan porsi yang lebih besar atau kita tidak punya kemampuan atau kita tidak punya modal, atau alasan apapun untuk melakukan pembenaran akan hal itu. Ya, kita akan berusaha untuk mencari-cari alasan yang akan menjustifikasi keputusan yang diambil.
Berbicara tentang eksploitasi negeri kita tercinta ini, terutama terkait minyak dan gas bumi, maka mari kita bahas satu-satu mengenai alasan yang sering diucapkan.
1. Tetap ada share profit untuk pemerintah disana dengan porsi lebih besar
Memang pemerintah mempunyai share lebih besar daripada PSC. Tapi, angka itu setelah dikurangi semua biaya operasional dari pelaksanaan ekplorasi dan produksi yang mereka lakukan, termasuk di dalamnya Cost Recovery dari proyek, keuntungan secara keekonomian pada proyek, dan lain-lain. Ketika kita membandingkan pemasukan yang kita peroleh dibandingkan pemasukan secara keseluruhan, mungkin angka tersebut akan lebih kecil daripada PSC tersebut. Bisa saja kan? Dan sama sekali tidak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi
2. Kita tidak punya kemampuan
Betapa rendahnya kita menilai bangsa kita. Kita adalah bangsa yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Sebut saja di bidang LNG, salah satu energi yang saya pelajari sekarang ini, ada ratusan bangsa kita yang bekerja sebagai operator kilang LNG. Di Qatar atau Abu Dhabi. Bangsa Angola saja datang ke negara kita untuk melakukan Training mengoperasikan LNG di Kalimantan sana.
Kemarin sore, perusahaan saya didatangi perusahaan EPC Contractor dari Jepang dan mereka secara terang-terangan mengatakan bahwa mereka berniat untuk memasuki bisnis tersebut, namun tidak punya kemampuan. Oleh karenanya, mereka meminta bantuan bangsa kita untuk mendukung mereka dalam mencapai target mereka.
Tak perlulah saya katakan bahwa banyak insinyur bangsa kita tersebar di seluruh dunia untuk mendukung kegiatan padat teknologi ini. Apa itu yang dikatakan tak berkemampuan? Jadi, coretlah alasan ini dari list alasan tindakan konsumtif kita.
3. Kita tidak punya modal
Sering dengarkan bahwa negara kita butuh investasi dari luar, uang kita tidak cukup. Kita tidak punya modal untuk melakukan kegiatan operasional berharga mahal dengan risiko tinggi. Nah, untuk hal ini, sungguh saya tidak punya ilmu. Tetapi suatu hari saya mencoba berpikir secara logika mengenai sumber pemasukan negara yang sama sekali tidak ada usaha.
- Pajak dan bea cukai (ada banyak pajak di negara kita. Company Tax saja 25% dari kegiatan usaha perusahaan. Kalaulah sebuah bisnis memiliki Net Revenue yang sudah dikurangi berbagai biaya operasional, pengembalian pinjaman beserta interest sebesar 100 juta US$, maka negara akan mendapatkan pemasukan dari Company Tax sebesar 25 juta US$. Sekarang, coba bayangkan, ada berapa jumlah perusahaan yang ada di Indonesia? Ribuan? Mungkin lebih. Walau semuanya bukan berarti memiliki pemasukan seperti yang saya asumsikan, tetapi percayalah, pendapatan negara sangat besar dari sektor pajak. Dan percayalah, untuk ukuran pertambangan minyak, gas dan batubara serta mineral lainnya, kita berbicara pada angka ratusan juta).
Setelah berandai-andai seperti tadi, apakah memang kita tidak punya uang ya? Apa segitu miskinnya kita? Kemana saja sih uang-uang itu perginya? Pembayaran operasional negara? Lantas, ke pembangunan bangsa ini seberapa persen larinya.
Dari apa yang saya amati, sebenarnya ada sebuah kesimpulan yang bercokol di kepala saya tentang mengapa kita terus terjajahs. Karena bangsa kita kurang percaya diri dengan kemampuan yang kita punya, kurang berani mengambil risiko, terlalu banyak konflik kepentingan, atau yang lebih ekstrim kita terlalu takut mengambil keputusan akan suatu hal yang strategis.
Kok gitu? Karena banyak orang yang takut berhadapan dengan KPK jika mereka mengambil sebuah keputusan dan berujung pada kegagalan dan memberikan kerugian jutaan dolar dan dituntut sudah melakukan kegiatan yang memberikan kerugian bagi negara. Bagaimana kalau kegiatan tersebut ditujukan sebagai sebuah keputusan strategis sebagai negara? Bagaimana kalau kegiatan tersebut merupakan sebuah kegiatan untuk pembelajaran dengan sebuah situasi bisa berhasil dan tidak? Yaah, saya juga tidak bisa menyalahkan, karena terlalu banyak yang melakukan penyimpangan terhadap berbagai macam dana di negara kita ini. Oooh, pelik sekali masalah negeri ini.
Seandainya saya jujur. Saya yakin banyak dari bangsa kita yang berkata, "Saya yang penting cukup makan, harga bahan pokok murah, harga bahan bakar murah dan saya bisa hidup dengan tenang". Saya pun juga kadang-kadang, jika muak dengan kemelut politik di negeri ini yang entah kenapa seperti sengaja dibahas berulang-ulang di media, akan berkata, "Saya nggak perlu semua itu, yang penting saya hidup tenang"
Hampir semua hal yang bersifat komoditas dikuasai oleh bangsa asing.
Bahkan untuk beberapa perusahaan yang labelnya dalam negeri, ketika kita
punya waktu yang banyak untuk iseng menilik pemilik sahamnya siapa,
maka akan kita temukan bahwa salah satu pemegang sahamnya adalah bangsa
asing. Bisa minoritas, bisa sebanding, bahkan ada yang mayoritas. Sedih?
Sangat.
Apa sih yang salah di negara kita? Kenapa kita masih tertinggal dari Singapura bahkan Malaysia? Padahal mereka merdeka setelah kita. Karena mereka menerapkan sistem yang baik dan diawasi dengan ketat. Dan rakyat mereka mendukung keputusan dari pemerintahannya. Akan ada yang bilang, jangan dibandingkan dengan mereka. Luas negara mereka lebih kecil dari kita dan jumlah penduduk mereka lebih sedikit dari kita. Lebih gampang mengatur negara mereka dibanding kita.
Oke, bagaimana kalau kita bandingkan dengan Amerika dan Cina. Jumlah mereka lebih banyak dan negaranya juga luas. Akan ada yang bilang, Amerika Serikat sudah merdeka tahun 1700-an, kita telat 200 tahun. Cina, mereka memakai sistem komunis dan tunduk kepada aturan negara. Negara adalah segala-galanya.
Selalu ada alasan untuk pembenaran. Saya akan bilang, negara kita sudah mempunyai kerangka sistem yang baik namun kurangnya pengawasan. Kita lebih sering memaklumi dan cenderung segan untuk menegur. Yaah, begitulah. Bahkan saya saja bingung dengan hasil yang saya tulis ini. Terlalu banyak pikiran kelam.
Sekarang saya sangat berharap Presiden kita dapat memberikan
gebrakan-gebrakan untuk bangsa ini. Dan tentu saja dukungan dari 250
juta jiwa rakyatnya. Kalau saja ada sebuah gerakan bawah tanah pemuda yang berusaha mengarahkan negara kita ini ke arah yang lebih baik melalui cara yang positif dan hasil dari gerakan tersebut didiskusikan dengan pemimpin bangsa ini, saya akan dengan semangat bilang "Ikutkan saya dalam perjuangan ini, teman!!"
Serius. Apakah masih ada pemuda yang perduli dengan bangsa ini dengan sebuah gerakan positif? Apakah masih ada yang menyampaikan pendapatnya tanpa menimbulkan kerugian bagi rakyat disekeliling mereka? Tanpa merusak? Tanpa membakar?
Dulu, dulu sekali, pada masa pemerintahan di bawah Presiden Pertama, beliau berkata
"Biarkan sumber daya alam kita tetap di dalamnya sampai insinyur-insinyur muda negara ini mampu mengolahnya"
(Jakarta, 3 Februari 2015)
No comments:
Post a Comment