Sunday, July 17, 2011

Dari Taman Suropati ke Taman Menteng

Siap lari tapi salah kostum (jaket + celana cargo)

Sabtu, 16 Juli 2011, akhirnya saya menggerakkan tubuh lebih pagi untuk menantang matahari. Setelah hampir vakum dari sebuah kegiatan yang dikenal dengan nama lari pagi, akhirnya saya punya keinginan dan juga teman untuk melakukannya. Lia, yang notabene anak jakarta mau menemani saya, sebenarnya nggak juga sih, si Lia juga mau menyehatkan tubuh katanya. Hosh hosh hosh.

Jadi perjalanan itu kami mulai sekitar jam 6 pagi, sebenarnya untuk ukuran jakarta, berangkat jam segini bisa dibilang telat kalau ingin menghirup udara segar (warning buat yang hobi udara segar). Tapi apa daya, karena saya baru terbangung jam setengah 6 habis curcol bareng mama tercinta di malam sebelumnya yang nggak terasa udah 4 jam telpon-telponan, ya berangkat agak kesiangan. Saat akan berangkat, tiba-tiba jiwa pengen searching kita muncul. Maklum hampir 7 bulan di daerah sini, spot olahraga yang nampol di otak kita ya hanya MONAS. Dan itu juga seluruh rakyat indonesia raya tercinta juga tau dimana posisinya. Hahahha. Jadi kita pengen cari mangsa baru buat dijadiin medan olahraga.

Saya sering dengar orang menyebut Taman Suropati. Jadi hasil runding tarik ulur, akhirnya kita mutusin buat ke sana. Dengan berbekal GPS di tangan, maka kita cari rute kesana. Heihei, zaman sekarang GPS sangat membantu sekali, apalagi buat kami yang kayak anak hilang. Tidak ngerti arah gini. Jadi karena posisi kosan kami berada di Jl. Kali Pasir maka rute lari kita adalah:
Kali pasir --> Cikini --> nyebrang jalan gedenya Cikini dan Gondangdia --> Cut Mutia --> kehilangan arah bentar dan akhirnya ketemu plang arah Taman Suropati di Jl Teuku Umar --> Taman Suropati. Setelah dilalui sendiri ama yang namanya alat transportasi kaki, baru deh saya ngeh kalo Taman Suropati ini tinggal ngesot aja dari tempat saya (nggak ngesot juga sih, ini hanya perumpamaan ya, sekali lagi perumpamaan jadi jangan ditelan bulat-bulat ampe lu beneran ngelakuin dengan rute itu sambil ngesot *dibahass), yang intinya deket banget. *tepok jidat.

Jalanan yang kita lalui ke T. Suropati ini sangat asik buat joging. Pada intinya jalanan Teuku Umar itu isinya adalah rumah kedubes dari negara lain. Jadi bisa kebayanglah ya, asrinya jalan dan lebarnya jalan (mungkin liatnya pas pagi kali ya, kalo siang korban macet juga deh kayaknya). Kami joging disana dengan semangat, ketika mobil polisi hilir mudik melewati kami (daerah kedubes emang begini ya pengawasan keamanannya). Namun, off the record, kita banyak jalannya. Udah lama nggak latihan, ampe engsel kaki saya juga rada-rada keseleo di akhir perjalanan. Nenek-nenek banget dah.
Taman Suropati dan Lia

Pas sampai di sana, ada orang liatin kami. Bapak-bapak-yang-berhenti-bentar-di-dekat-plang-taman suropati-liatin-kami-dan-lanjut -lagi lari. Nggak tau karena apa, yang jelas saat itu kita lagi foto-foto di depan plang itu. Kemudian kita mulai berlari lagi. Kawasan Taman Suropati sangat asri karena dinaungi pohon-pohon tinggi di sekeliling taman. Tidak ada pagar yang membatasi. Ditengah-tengah taman, ada air mancur yang muncrat dengan indahnya, membentuk semburan bak ekor merak (lebaiii). Ada juga semacam (saya juga bingung mendeskripsikannya) kayu yang disusun-susun dan diberi atap. Nggak ngerti itu benda apa dan tujuannya dibuat. Seperti tidak ada fungsi bagi saya, well mungkin itu semacam tugu kali ya (ntar liat aja fotonya).
Bangunan di bagian kanan dari Taman Suropti (sampai sekarang belum ngerti ini apa??)

Kami lari di Taman Suropati hanya 1,5 keliling. Nah, disaat saya lari di setengah keliling terakhir, saya melewati bapak-bapak-yang-berhenti-bentar-di-dekat-plang-taman suropati-liatin-kami-dan-lanjut -lagi lari, tapi saya terus lari (ya iyalah). Tiba-tiba si Lia ngakak dibelakang.
Lia: Hadoooh, gw nggak bisa lari. Perut gw udah sakit.
Saya: (masih semangat lari, tapi ikut berhenti). Kenapa emang?
Lia: Gw ngakak liat tu bapak ngeliatin elu lamaaa banget cungki.
Saya: Oh ya??
Lia: Dia pasti mikir gini, hedeeh ni anak lari pagi malah pake jaket. Trus ini celana kok celana gunung yang dipake.
Saya: (mandangin baju yang dipake. Sebenarnya ya, jujur aja saya nyaman-nyaman aja pake ni perangkat perang. Yang dalam hal berpakaian yang penting sepengguna nyaman to. Hwahahha. Tapi kook baru nyadar ini perangkat mau naek gunung. Celana cargo + jaket). Lah diluar negeri juga gini kan perangkatnya?
Lia: Iya, tapi disana dingin.
Saya: Hedeeeh, ini sebenarnya pendapat lu kaaaan..kaan. Bwahhaha,, bahwa gw saltum *tepok jidat si Lia..

Jadi sekarang saya ngerti, terlepas itu benar atau nggak yang anggapan si Lia tentang alasan tu bapak mandangin saya atau cuma dia yang mengkolaborasikan dengan pikiran dia, bahwa tu bapak awal banget mandangin saya yang salah kostum (hedeeh ya iyalah ya, orang dia cuma pake celana pendek dan singlet begono dibandingin ama gw yang dari atas ampe bawah ketutup, alesan).

Setelah lelah berlari (read:berfoto), kita udah bosan di taman ini. Jadi mau ke taman laen, yang dikenal dengan Taman Menteng. Dulu sekali, waktu saya masih SMA/SMP saya pernah nonton di TV yang menceritakan bahwa Jakarta sedang giat-giatnya membangun Taman Kota, dan kebetulan saya melihat desain dari Taman Menteng ini. Jadi penasaran liat realisasinya. Apakah sama? jeng jeng jeng.
Taman Menteng dan saya

Berbekal ingatan Lia selama naik Kopaja P-20 buat pulang ke rumah, jadilah saya ikut lari ngekor dibelakang ni anak. Pas nyampe sedikit kecewa, kenapa cuma lapangan futsal aja yang ada. Ternyata eh ternyata, posisinya ada di sisi yang satu lagi. Lari-lari dikit, ketemu spot bagus, kita asik berfoto. Untuk desain Taman Menteng, bagus juga sih. Mirip dengan yang saya liat di TV. Tapi udaranya kurang segar dan pohonnya kurang rimbun seperti di Taman Suropati. Klo disini lebih agak gersang kurang pohon tinggi (bandinginnya ama Riau yang masih hutan siih). Kalau datang agak siangan, klub-klub sepeda akan banyak mangkal di tempat ini. Buat info aja, saat ini di Jakarta lagi nge-trend yang namanya olahraga bersepeda. Saya juga tertarik sih, tapi masalahnya rame bangeeet. Jadinya nggak asik, kata bos saya aja sepedaan di Minggu pagi udah pake macet saking banyaknya (sebenarnya alasan ini nyata dibalik alasan saya sebenarnya yang belum beli sepeda).
Kawasan tengah Taman Menteng (tanpa dan ada saya, hehe)

Pas kami datang, kebetulan ada yang main futsal, main basket, ama klub sepeda, ada yang lari, ada juga yang foto-foto (kami saking noraknya belum pernah kesana, semuaaa pengen diabadiin), ada juga yang duduk-duduk di dekat taman, dan adalagi yang sibuk bikin buletan-buletan lampion yang ditempelin di pohon-pohon, di liat-liat makin dekat, eh kayaknya ini desain buat nikahan. Hedeeh, ni taman buat lapangan pernikahan juga ternyata (nggak cuma futsal ama basket yang punya lapangan, kayanya negeriku, pray to Indonesia *apacobainipernyataan). Sepertinya tema pernikahan ini adalah Pesta Kebun (kenapa gw malah bahas ini).
TautanDesain Pesta Kebun di Taman Menteng

Saking penasarannya sama benda segitiga, maksudnya desain bangunan seperti bangunan limas yang ada di taman ini, saya ama Lia mendekat dan menempelkan wajah di kaca untuk melihat isi di dalamnya. Dan isinya K-O-S-O-N-G, awalnya saya kira ini adalah Green House (yang buat tempat nanam tanaman itu lho!). Jadi ya tinggal otak kami aja yang mikir, bangunan ini buat apa?? Desainnya unik sih, jadinya penasaran. Oh iya kalo foto disini, maksudnya foto disisi lain taman, akan terasa seperti di luar negeri. Banyak tanamannya (ingat bukan pohon tinggi) disekeliling bangunan yang kayak Green House.
Kawasan serasa di luar negeri

Setelah lelah melihat-lihat (kalo dipikir-pikir disini kita sama sekali nggak lari), dan istirahat sebentar sambil menyeruput susu kedelai kami kembali ke kosan dengan semangat baru. Tapi sayangnya setelah pulang, saya malah semangat buat rebahan di kasur dan tepar ampe jam setengah 12. Hadoooh *tepuk jidat lagi. (Lain kali harus cari kegiatan lain selain ngerjain kerjaan yang numpuk, sabar yaa kerjaan, biar nggak tepar di kasur mulu habis ajojing).

Demikian liputan sedikit tentang perjalanan di pusat kota jakarta. Bahwa sebenarnya Jakarta punya banyak Taman kota. Dua diantaranya adalah Taman Suropati dan Taman Menteng yang gampang banget dijangkau kalau pakai kaki. Kalo pake mobil, pake muter-muter dulu sih, jadinya ikutan pusing kayak komodi putar.

See you again, in the other trips.

Tuesday, July 12, 2011

Di Bawah Naungan Malam

Suara pendingin ruangan itu berderak-derak dengan keras mengisi keheningan yang menelusup di tengah malam 12 Juli 2011. Suara musik instrumental di belakang ruangan terdengar sayup-sayup. Detik jam terus bergerak pada porosnya membentuk sebuah lingkaran setiap 60 detik.

Aku hanya diam membisu menatap layar komputer yang perlahan-lahan membentuk sebuah kalimat tak bermakna. Mencoba membentuk kembali puing-puing memori yang sudah dilalui hingga malam ini dalam kata per kata hingga bermuara pada sebuah cerita. Tentu saja, yang kuharapkan adalah sebuah cerita yang bermakna. Berulang kali kuhapus kata yang kurasa tidak sesuai, tidak pantas, tidak layak. Mencabik-cabik kalimat yang telah terbentuk kembali menjadi kalimat tanpa makna.

Perlahan tapi pasti, jarum jam terus bergerak tanpa ragu. Mengarahkan waktu atau malah waktu yang mengarahkannya. Waktu yang terus berdetak meninggalkan potongan-potongan kisah di masa lalu. Dalam kebisuan ini, tidak ada yang bisa menghalangi waktu untuk bergerak. Memperlihatkan kekuasaannya bahwa dia tak dapat dikalahkan. Apa aku bisa mengejar waktu? Aaah, aku tak ingin kalah dengan waktu. Aku mau seperti waktu, tidak terpengaruh akan apapun. Tidak akan pernah mengalami fluktuatif. Apakau pernah melihat waktu tiba-tiba menjadi cepat, atau tiba-tiba menjadi lambat. Tidak!! Karena waktu memiliki ritmenya sendiri. Aku ingin seperti waktu yang terus berjalan meski ada rintangan.

Hahaha, apakah terlalu berlebihan? Kurasa tidak. Karena waktu terus berjalan, dan mengingatkanku bahwa umurku pun semakin berkurang. Oh Tuhan, jika aku teringat hal ini aku semakin takut. Tuhan, tolonglah kau ridhoi apa yang aku lakukan, karena aku tidak akan bisa menjadi lebih baik tanpa izin Engkau. Tuhan, waktu yang terus berlari ini terus mengingatkanku akan diri-Mu. Oh Tuhan, tolong ridhoi agar aku tidak lagi menyia-nyiakan waktuku mulai hari ini. Semua pasti bisa asal Engkau meridhoiku.

Dan suara sayup-sayup musik instrumental itu terdengar semakin jauh, derak mesin pendingin ruangan pun tidak lagi mengganggu. Dini hari telah menyambut, dan tanggal pun telah berganti. Waktu telah menunjukkan kekuasaannya di hening dini hari.

Wednesday, July 6, 2011

Cause and Effect


Hal yang paling menyenangkan adalah saat kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan. Kamu bisa membayangkan tahapannya. Jikalau saya sampai ke tahap seperti itu, saya yakin saya akan bahagia. Jadi Tuhan, tolong tuntun saya agar saya tahu saya sedang apa? dan mengapa saya melakukan itu? Agar saya tahu sebab dan akibatnya. Karena pada intinya dalam hidup ini kita hanya bergerak pada dua hal: apa sebabnya dan bagaimana akibatnya..

Wednesday, June 29, 2011

Feeling Blue


Rasanya pengen nemplok di lantai kayak gini

Aaaaaarrrrrrrrrrrrrrrggggggggggggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.
..

Entah yang gw lakuin sekarang dikategorikan ngeluh, nggak bersyukur, lemah, cengeng, atau bagaimanapun. Tapi saat ini, saat gw nulis blog ini, gw sedang atau rasanya gw berada di titik nadir. Di titik puncak kejenuhan. Sebenarnya sudah beberapa hari gw begini. Seperti mayat hidup. Sedih rasanya liat raga gw begitu. Seperti orang yang g punya arah. Huhuhu.

Rasanya pengen tereeaaaak keras-keras. Tapi gimana mau teriak, gw hidup di daerah padat penduduk gini. Bisa-bisa gw dilempar ama panci karena teriak atau parahnya lagi diusir dari kosan karena disangka orang gila. Banyak yang bilang sedih atau senang tergantung kita sendiri, dan gw adalah salah satunya yang bilang gitu ke teman gw. Tapi saat ini gw berada di puncak kebosanan. Karena gw di kosan meluluuuuu saat libur. Dan kerjaan gw redundan melulu, hal yang sama diulang-ulang karena sumber yang nggak pasti. Iya, kalo langsung nge-run beres, ini gw mesti develop lagi dari awal karena most of that dirombak habis-habisan. Banyak yang nasihatin ke gw, itu sebagai ajang latihan buat gw. Awalnya gw kuat-kuatin hati gw bahwa ini emang tantangan. Tapi dengan semua ketidakpastian gini, gw jadi makin nggak jelas gini.

Aah, nggak tau juga ini bagian dari sebab gw jadi madesu gini. Atau ada hal lain karena dengan kerja gw sekarang adakalanya pergaulan gw ya itu-itu aja. Bisa dibilang bosan karena nggak juga ketemu sama hal baru. Huhuhu. Ya Allah, gw mesti ngadu kemana niiih. Mau nangis rasanya. Kayaknya kalo nangis bisa lega nggak yaa? Kalo habis nangis gw tetep begini-begini aja sih, buang-buang energi nangisnya. Kasian air mata gw. Hiks.

Bosan

Saking desperadonya, gw ampe cari artikel "Cara Mengatasi Rasa Malas." Dan setelah baca itu, kayaknya emang gw bisa dikategorikan rada jadi pemalas sekarang (Ya Allah, ampuni hambamu yang malas ini). Eh, kok sekarang hati gw jadi lega gini yaaa. Huaaah, agak plong abis dicurahkan. Aduuh, gw rinduuu...tapi gw rindu apaaa? Nonton bosan, jalan-jalan kalo langsung pulang juga yang ada capeknya, Aaarrrrrrggghhhhh, kayaknya otak gw lagi korslet. Hufhhh hufhhh hufhhh... Pokoknya gw harus SEMANGAT!!! SEMANGAT!!! SEMANGAT.. ~(^__^~)(-_-)(~^__^)~

Monday, June 27, 2011

Next To You

Guten Morgen, Ich heissen DY. Ich komme aus Minas.
Out of topic.. I just want to share one of the nice song that I already heard.
This call : "Next to You by Justin Bieber ft Chris Brown"



You've got that smile,
That only heaven can make.
I pray to God everyday,
That you keep that smile.

[Justin Bieber]
Yeah, you are my dream,
There's not a thing I won't do.
I'll give my life up for you,
Cos you are my dream.

[Bridge]
And baby, everything that I have is yours,
You will never go cold or hungry.
I'll be there when you're insecure,
Let you know that you're always lovely.
Girl, cos you are the only thing that I got right now

[Chorus]
One day when the sky is falling,
I'll be standing right next to you,
Right next to you.
Nothing will ever come between us,
I'll be standing right next to you,
Right next to you.

[Chris Brown]
You had my child,
You will make my life complete.

Thursday, June 23, 2011

Fifth Destination: East Kalimantan


Oleh-oleh dari Bontang (Mini Kalimantan) dan USB kantor

Semua yang ada di muka bumi ini memiliki jalan cerita masing-masing, memiliki porsi rezeki masing-masing. Jadi, idealnya kita jangan mempertanyakan apa yang kita dapat kepada Dia. Tapi disyukuri dan berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik lagi dengan cara yang makin baik lagi.

So, the real story which I want to tell you was about my trip to East Kalimantan. Maybe, I will call as my first trip to Kalimantan and I hope there will be the other trips to Kalimantan. Saya sangat senang sekali ketika atasan saya mengatakan tentang kesempatan buat dua orang engineer dari perusahaan saya untuk dapat ikut bergabung dengan kunjungan klien kita ke dua perusahaan LNG besar di Indonesia. Berhubung saya sama sekali belum pernah ke perusahaan pembuat LNG yang ada di Bontang, maka atasan saya mempercayakannya kesempatan itu kepada saya. Sementara, untuk perusahaan LNG yang ada di Aceh menjadi bagian dari teman saya.

Perjalanannya itu cukup memakan waktu. Karena posisinya yang cukup jauh dari Balikpapan. Pesawat dari Jakarta mendarat di Balikpapan. Sayangnya tidak ada penerbangan dari Balikpapan ke Bontang saat kami tiba. Jadilah perjalanan menuju Bontang dilakukan melalui jalan darat. Memakan waktu sekitar 6 - 7 jam. Tapi saya semangat dan sangat semangat. Karena saya bisa melihat perusahaan LNG raksasa itu.

Batu Bara yang dibawa melalui Sungai Mahakam, Samarinda

2 jam menuju Bontang

Pada dasarnya kunjungan ini sama saja dengan kunjungan saat saya masih kuliah dahulu. Melihat control room, equipment process, dan sedikit technical discussion dengan engineer di sana. Perbedaannya terletak pada beberapa hal, yang bagi saya cukup berpengaruh, yaitu dengan siapa saya pergi dan ilmu apa yang saya dapat.

Jujur saja, selama saya masih sekolah saya memang diberikan kenikmatan mendapatkan nilai yang baik untuk mata pelajaran bahasa inggris tapi sayangnya saya sangat jarang mempraktekkan kemampuan saya dalam kehidupan sehari-hari. Jarang mempergunakannya. Bertemu dengan native speaker juga sangat jarang. Ya, pada intinya jarang semua. Jikalau saya melakukan perjanjian dengan teman kuliah saya bahwa kita akan melakukan english day, maka saya akan berubah menjadi orang paling pendiam sedunia karena otak saya buntu mencari topik pembicaraan. My weakness!!.

Lantas, apa hubungan semua ini dengan perbedaan yang muncul pada trip saya ke Kalimantan. Karena saya ikut bergabung dengan klien yang berasal dari Jepang, Inggris, dan untungnya ada 1 orang berkebangsaan sama dengan saya, Indonesia. Inilah hubungannya, saya dapat kesempatan untuk menggunakan kemampuan saya berbahasa inggris. Trying to understand for all of their statements. Ya, pendapat saya. Wew, mereka sipit-sipit sekali, atau wew bapak bule ini gede sekali. Perasaan saya cukup ketar ketir berhubung saya hanya perempuan seorang. Namun, ternyata saya bisa bertahan hingga pulang dengan keadaan lengkap saat kembali ke Indonesia. Senangnya. Hahaha.

Apa yang bisa saya rangkum dengan perjalanan saya dengan Japanese itu:
1. Mereka sangat tertib. Meski jabatan mereka adalah GM, Topside Head Engineer, or anything nggak bakal menjadi constrain bagi mereka untuk melakukan kegiatan bersih-bersih. Ruang rapat yang awalnya sudah kayak kapal pecah karena kotak-kotak snack dalam sekejap bersih dan rapi kembali. Wew, they have a great culture!!
2. Mereka datang bukan hanya untuk jalan-jalan. Tapi mereka benar-benar belajar. Ada tujuan yang mereka kejar, ada sesuatu yang harus mereka tampung saat kembali ke Jakarta. Mungkin dahulu beginilah Jepang belajar kepada negara kita. Mereka sama sekali tidak malu bertanya dan benar-benar terstruktur. Ada polanya dan mereka tahu apa yang mereka cari. Kalau saya lihat sih, their head fill with full of theories. So, they came to this company to compare between their theories with the existing plant. Ada satu orang yang terus menghilang saat kunjungan lapangan dan ternyata si Bapak ada di sela-sela pipa proses melihat semua alat proses. Jujur aja, jam terbang saya masih bongkok kalau untuk proses, jadi masih di tahap melihat. Kalaupun naya masih teknis banget berapa tingginya, ini process line arahnya kemana. Jadi saya nggak ngerti juga apa yang si Bapak itu cari disana.

Suasana langit yang sedang mendung di dekat sea water inlet (saya lupa yang kayak jembatan itu apa)

Tangki paling gede di Bontang, diameternya sekitar 50-60 m

3. Mereka sangat ramah. Dua malam saya berada di sana, dua kali saya diajak makan malam dan nggak pernah menampakkan batang hidung. Saya lebih memilih untuk liat Bontang di malam hari. Daripada saya jadi orang bisu. Pokoknya saya sangat senang bisa gabung dengan mereka.

Saya mojok sendiri di belakang..

Untuk ilmu yang saya dapat. Banyak banget. Sebenarnya saya sudah pernah tahu tentang teknologi AGRU atau Liquefaction Process secara teoritikal. Cuma saya belum pernah melihat bentuk nyata yang ada di lapangan. Saya tinggal mengsinchronize ilmu yang saya punya dengan kenyataan di lapangan. Dan memang sesuai. Bagi saya pribadi, sebenarnya kunjungan lapangan satu hari itu sama sekali tidak cukup. Saya mau training juga, suatu hari. Mau belajar yang banyak disana, mau belajar pipeline flownya, process linenya, memahami dasar filosofi pembangunannya, mau paham proses nya sendiri.

Akhirnya saya berfoto juga dengan rombongan (-3 orang), ini adalah hasil cepretan ke-5 karena kameranya goyang terus. Jadi tertawa mereka semakin lebar karena ngetawain keadaan

Kalau mengenai hal lain, seperti kata pepatah, jangan takut pergi ke negeri yang jauh. Karena niscaya kamu akan bertemu dengan orang baru yang akan menjadi temanmu. Ya dan disana saya bertemu teman yang mengajak saya mencoba makanan di sana dan ditraktir pula. Hehehe. Bontang itu kota kecil seperti Minas, daerah dimana saya dibesarkan. Mirip sekali seperti Riau. Bedanya disini ada tempat oleh-olehnya nggak kayak Minas, hanya di situ saja. Kalau liat Bontang, jadi pengen ke Minas. (Sindrom pengen pulkam).

Well, ini adalah kisah saya dalam melangkahkan kaki ke negeri Kalimantan bersama orang-orang yang baru saya kenal. Saya sangat senang dengan kesempatan ini dan berharap ada kesempatan lain yang akan membawa saya bertemu dengan hal-hal baru, orang-orang baru, dan suasana baru. Auf Wiedersehen (mau belajar bahasa Deutsch)...

Wednesday, June 8, 2011

PRAY...

PRAY TO GOD. BERSYUKUR. ALHAMDULILLAHIRABBILALAMIN. :)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...