Ini kisah terbaru gw bersama Lia, Ayu, Mbak Hevvy, dan Kak Aziz. Bagi gw dan Lia, ini adalah kegiatan kedua kami melakukan Travelling. Singkat cerita, gw dapat kabar bahwa ALSI ITB ingin mengadakan sebuah Seminar sekaligus serah terima jabatan antara Kepengurusan lama dengan Kepengurusan Baru sambil berlayar dengan menggunakan sebuah kapal pesiar (mau banget gw ikut, dan gratis!!! Tanpa biaya apapun). Info ini gw dapat dari Kak Aziz. Akhirnya gw berusaha menghubungi CP-nya dan mendaftar. Alhamdulillah, gw dan Lia dapat tempat setelah perjuangan sms yang alot dan terimakasih buat Mbak Diah yang sudah mengakomodasi pendaftaran kami dengan baik (sampai sekarang gw belum tau yang mana yang mbak Diah itu)
Kami berangkat dari JakPus sekitar jam setengah 11 dalam suasana hujan. Awalnya gw rada sedikit sedih, bagaimana bisa menikmati Sunset (jadi menikmati pemandangan Sunset adalah bagian dari rundown acara, wiidiiih) kalau cuaca nggak bersahabat gini. Untungnya, ada mobil kantor (baca: pinjam) dan Kak Aziz yang nyopir buat kesana, jadi kita-kita nggak mesti mikirin Kopaja atau Busway atau apapun lah itu untuk mencapai TKP di Pelabuhan Tanjung Priok (ini kali pertama gw ke Tanjung Priok). Karena suasana yang mendung, walau ada beberapa kemacetan tapi nggak parah-parah amat, akhirnya gw dan teman-teman sampe ke tujuan pukul 12-an. Thanks to teknologi yang bernama GPS yang menunjukkan jalan yang benar (ini kerjaannya Mbak Hevvy, sementara gw, Cungki, dan Ayu sibuk mengunyah Kacang Kayaking di kursi belakang).
Waktu udah sampai, kita registrasi bentar dan nyerahin kartu nama (gaya deh gw punya kartu nama. Untung kantor gw keren banget, karena langsung menyediakan kartu nama buat karyawannya). Nah, di sanalah gw melihat kapal itu, berdiri dengan gagahnya sebuah kapal pesiar dan bertuliskan KM Dharma Kencana IX. Dan gw langsung berpikir, mimpi apa gw kemaren ampe bisa ikut kapal pesiar, jalan-jalan keliling Pulau Seribu dan ikut Seminar yang banyak orang kerennya (baca: Anis Baswedan, Anis Matta, dkk), gratis pula (mengapa gratis ini gw ulang-ulang mulu ya??). Sebelum kita menaiki kapal, seperti yang sebelumnya kita akan melakukan ritual yang sangat penting. Berfoto-foto dulu lah kita!!! Hahaha.
Persiapan sebelum naik kapal (baca:foto doong)
Saat pertama kali menginjakkan kaki di kapal. Kedodolan mulai menghinggapi kami. Di sana, di antara meja registrasi, berdirilah dua orang Kapten Kapal yang tinggi besar (padahal dari jauh gw liat kecil, kok jadi besar-besar gini sih si bapak-bapak ini). Ceritanya, kita sedang berada di lambung kapal. Di bagian kanan, terdapat keramaian yang sedang menghabiskan makan siang. Karena itulah gw, Mbak Hevvy, Ayu, dan Cungki tertarik ikut berfoto bareng, dan tiba-tiba ada yang ikut motoin kami. Gw dan teman-teman menyangka bapak itu adalah panitia jadi kami berpose sekali lagi. Lantas, dia tiba-tiba jadi bingung melihat kami masih berdiri di sana, gw pun memutar mata dan pandangan mencari sumber masalah. Hwahaha, ternyata oh ternyata si Bapak mau motoin istrinya tho, wanita yang lagi berdiri di samping kami. Karena nggak tau mesti ngapain si bapak bilang "Ya, udahlah!!" sambil pasrah memotoin kami, lalu baru istrinya (Gw dan teman-teman, bingung dan langsung terbahak-bahak, behave-behave girl!!!). Setelah itu, kami langsung registrasi dan MAKAN-MAKAN. Baru aja masuk, langsung makan siang kita. Gw masih kenyang, jadi cuma makan BBQ saja, nggak kuat yang lain.

"Bersama kami bisa" (KAPTEN KAPAL)
Habis itu, kita naik ke bagian atas kapal. Kita solat dulu di bagian paling atas, dan kembali ke bawah. Saat di bawah, anda kurang beruntung!!! Kursi di bagian dalam ruangan seminar sudah terisi semua dengan bapak-bapak dan ibuk-ibuk. Kami adalah anak non-Sipil yang termuda yang ikut acara ini. Jadilah kami duduk di luar ruangan. Tau apa yang terjadi?? Awalnya gw masih mendengarkan pembicaraan, tapi lama kelamaan karena di bagian luar ruangan nggak ada speakernya dan orang di depan kami berdiri = nggak lihat pembicara, akhirnya gw dan Cungki sibuk melakukan aktifitas lain, yaitu berfoto-foto (AGAIN!! wkwkw). Kedodolan kedua mulai terjadi, si Cungki yang udah putus urat malunya memotret orang yang nggak dikenal. Dan saat dia memotret, tettot ni orang melihat. Makan tu malu, makan!!! Hwahahha, gw cuma bisa tertawa ngeliat kelakuan ni makhluk. Ya kamera tegak lurus, cepret! Nice picture, sayang agak goyang, hwaaahaaa (behave lah!!).

Menghabiskan waktu (Terpaksa dilakukan karena nggak dengar dan nggak lihat)
Selanjutnya acara makan-makan lagi. Coffee break. Kue kejunya enaaak banget, kite-kite ngambil ampe dua trip (emang nggak ada matinya dah, bikin malu. Jiwa mahasiswa masih melekat di dada kami). Setelah coffee break berhasil ada tempat duduk kosong di depan kami, dan kami pun berpindah. Kami menduduki tempat itu dengan elegan.
Lain cerita dengan Kak Aziz dan Mbak Hevvy. Mereka dari awal udah hilang entah kemana. Menurut hemat "saya" sebagai pakar kelakuan mereka: mereka berjalan dengan gaya mengendap-endap, jalan pelan-pelan masuk ruangan, nyimak pembicaraan dengan serius (nggak tau beneran atau boongan), mandangin Pak Anis Baswedan dengan cermat sambil mengagumi cara bicaranya yang sangat bijaksana (ini muka Mbak Hevvy ni), dan pluk langsung menyikat tempat duduk yang lagi nganggur. Ckckckc, kelakuan-kelakuan mahasiswa belum sepenuhnya hilang dari darah kami, hwahaha.
Sebenarnya gw agak susah menangkap apa yang sedang dibicarakan. Karena suaranya kurang jelas dan gw nggak liat ekspresi dan wajah pembicara. Untung aja posisi gw pas banget sejajar Pak Anis (yang lainnya ketutupan penonton lain yang melihat sambil berdiri), hehehe. Ada satu pembicaraan yang sangat gw tangkap dengan baik. Saat Pak Anis Baswedan bertanya kepada Pak Taufiq Rahzen, seorang budayawan, mengenai pendapat dia tentang Indonesia dia langsung menjawab: " Indonesia ini berhubungan dengan Cabe (tettot, gw seneng. Gw banget ni, demen banget sama Cabe). Indonesia sangat berhubungan dengan rasa. Rasa yang begitu mudah berubah-ubah. Saat kejadian Merapi, semua orang merasa sedih. Saat Indonesia masuk ke babak final, semua gembira. Begitu mudah kita berubah-ubah. Tahun 2010 ini, perasaan yang dialami bangsa Indonesia begitu fluktuatif dan naik turunnya begitu signifikan. Dan hal inilah yang mesti dijadikan bahan pembelajaran kita untuk berusaha mengendalikannya." (Pak Taufiq melihat Indonesia dari sisi yang berbeda dan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, begitu komentar Pak Anis Baswedan).
Karena sudah lelah melihat dan Cungki belum solat, maka kita naik kembali ke atap kapal. Matahari sedang bagus banget, walau sedikit mendung. Sembari menunggu si Cungki beres solat, gw minjam kamera Cungki dan mengambil beberapa gambar matahari yang jauh di ufuk barat sana. Baguuus banget. (kita ke bawah lagi).
Pemandangan menuju Sunset dari atap kapal
Menatap sampan dan sinar yang mulai memudar
Sekitar jam setengah 6, kami naik lagi. Gw berfoto-foto sampe ke bagian kemudi kapal, yang ada kaptennya. Gw nggak ngerti apa si bapak terganggu atau enggak, dia ampe keluarin kepala saat gw berpose. Respon gw, "Paaak!!" sambil tersenyum malu-malu (secara, gw orangnya kan lemah lembut dan pemalu banget. Hehe). Dan kami menghabiskan waktu di atas, hingga datang seorang juru masak mengatakan "Ada Bajigur tu di sana." Gw malas ke bawah, tapi kata si Cungki makanannya ada di atap juga. Oke. Gw ikutan nyari dan dapat. Setelah menghabiskan semangkok bajigur yang dimakan dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara kk Aditia yang mirip Christian Sugiono (sok kenal banget gaya gw ngomong, hwahahah) belum habis juga, kami mulai mencari tempat meletakkan mangkok yang sudah kotor. Saat gw meletakkan mangkok kotor, di depa idung gw, sangat dekat Pak Anis lewat (widiiih dekat banget). Gw bengong bentar menunggu informasi berjalan ke otak gw, dan bilang "Cungki, itu pak Anis yang baru lewat." Ni anak bengong juga bentar dan tiba-tiba dia udah jalan aja ngekor (bwahaha, sumpah bener-bener ngekor) ngikutin Pak Anis. Gw malu banget liat gaya dia ngikutin tu Bapak, tapi gw ikut juga. Saat kami sudah berada di ekor kapal (ternyata ada Live Music juga), gw langsung belok kiri dan berdiri. Liat kiri kanan, kok si Cungki nggak ada. Ternyata dia lagi bersemedi di bagian kanan. Hadooh ni anak belok nggak bilang-bilang. Terpaksa lah, gw balik badan dan ke sana. (Gw kan mau foto, kamera punya si Cungki, jadi posisi gw lemah lagi kayak kemaren. Gw yang ngikutin. hwahahah).

Kami cuma bisa menatap jauh dari sini (Puisi buat Pak Anis)
Kami ngikutin karena mau foto-foto sama Pak Anis. Tapi tiba-tiba segerombolan anak muda sambil teriak-teriak berebut minta difoto sama Pak Anis. Kami yang kalem ni, nggak bisa mengimbangi mereka. Setelah kejadian itu, gw dan Cungki hanya bisa menatap dari jauh (baca: 2 m dari posisi pak Anis, terus memantau kesempatan yang datang). Secara terus menerus, dan silih berganti orang-orang minta difoto dengannya. Gw cuma bisa moto dari jauh. Setelah si wartawan yang nggak henti-hentinya memotret pak Anis, tiba-tiba situasi tenang. Gw dan Cungki nggak akan melewatkan kesempatan ini. Dan gw mendekati sambil megang kamera, sementara si Cungki gw posisikan mengarah ke Pak Anis dan terpaksa bilang "Pak boleh foto nggak?" wkwkkw, dan akhirnya kami berfoto. Tidak sia-sia perjuangan kami.
Yee, akhirnya bisa foto bareng juga,, hehehe
(kiri: Pak Anis-Cungki, kanan: Pak Anis-gw)
Setelah itu, kami terus memotret pemandangan alam dan tentu saja dengan wajah kami di depannya. Berfoto juga bareng ibu-ibu yang sering berpapasan dengan kami, daripada bengong marilah kita kukuhkan persaudaraan kita ibu Alfi dan ibu Dhanty.
Bersama Ibu Alfi dan Ibu Dhanty (mereka berdua dari perusahaan migas besar di Indonesia)
Tidak lupa dengan Pak Fajroel Rahman (calon alumni TK ternyata). Difotoin dengan Pak Taufik, kenal secara tidak sengaja (atau menyengajakan diri). Ketemu lagi sama Pak Anis di bawah, minta foto bareng lagi, kali ini ramean. Dan terus berfoto, hingga malam menjelang dan orang-orang sudah turun semua dari kapal. Setelah lelah berfoto, kami pun makan malam di WS, dan nyam nyam nyam kenyang. Pulang dengan wajah lelah dan urunan bayar bensin. Wkwkwk.
Foto dengan Pak Anis untuk kedua kalinya (manusia emang nggak pernah puas, ckckckc)
Overall, acara ini sangat menyenangkan. Sangat menghibur. Ada banyak pengalaman menarik, ketemu Pak Anis. Gw nggak terlalu kenal yang lain, kurang gaul sama TV, akhir-akhir ini. Jadi kurang kenal sama orang terkenal. Meski ada sedikit kekurangan, bahwa gw nggak bisa ******* sama ***** yang sering *********** hingga sedikit ******* di sepanjang perjalanan. Hwahaha (hidden ini dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan informasi).
Berfoto di Dharmanvaganza
Siluet kaca
TIM RE
Cungki, ayo kita menuju ke Next Trip (THIRD DESTINATION)