Tuesday, July 19, 2011

When the Sun come to me, cheer me up

Dalam siang yang tenang, disaat saya menghabiskan waktu dengan membaca materi pekerjaan, diselingi dengan membuka google translator di laptop, dan membuka komik Bride of Water God, tiba-tiba sebuah deringan telepon mengusik konsentrasi saya melakukan dua kegiatan itu sekaligus. Deringan yang mengharuskan saya untuk mengangkatnya karena saya hanya sedang membaca, sementara partner kerja saya sedang sibuk dengan laporannya. Bukan berarti kegiatan membaca saya kurang bermanfaat minus membaca komik, tapi urgensi pekerjaan saya dibandingkan teman saya mungkin lebih rendah.

Suara disana ternyata menanyakan keberadaan saya. Tentu saja, saya jawab bahwa pemegang telepon ini saya. Lantas orang diseberang telepon ini, yang tak lain adalah senior di kantor menyatakan bahwa saya akan ikut menghadiri sebuah rapat di salah satu kantor klien perusahaan saya.

Rapat tersebut dimulai sekitar pukul setengah tiga. Perjalanan yang cukup memakan waktu oleh karena kemacetan kota Jakarta menyebabkan kami terlambat dari jadwal yang direncanakan. Namun, ternyata rapat itu juga belum dimulai berhubung semua pihak terkait belum sepenuhnya hadir. Permbicaraan kali ini terkait sebuah proyek di dunia migas. Perlu perencanaan matang jika seseorang akan terjun ke dunia ini, baik dari segi pengetahuan maupun pendanaan. Karena bagi klien kami ini adalah hal baru (termasuk bagi saya juga baru karena memang masih seumur jagung terjun ke dunia ini. Selain itu, proyek ini lebih ke minyak bumi bukan gas seperti scope kerja saya di kantor selama ini), maka mereka membutuhkan advice secara teknikal mengenai proyek ini kepada perusahaan kami yang memang bergerak di bidang konsultasi migas (saya memang belum sepenuhnya bercerita mengenai dunia kerja saya, exclude beberapa keluhan dan motivasi yang hilang).

Kebetulan bos besar saya adalah seorang expertise di bidang ini, dan saya HARUS banyak belajar. Istilah mereka untuk kami para staf-nya, kalian harus sedot semua ilmu kami dalam lima tahun (SIAP pak!!). Banyak hal baru yang membuat saya sadar, bahwa ilmu yang saya pegang saat itu masih jauh dari cukup untuk mengimbangi pembicaraan mereka. Pembicaraan ini berlangsung lebih ke arah konseptual ke depannya akan sebuah proyek atau investasi diberikan diimbangi dengan fakta yang tersedia.

Dan saat pembicaraan itu terjadi, saya melihat seorang ibu muda memasuki ruang rapat. Sikapnya yang ayu dan cukup pendiam tidak terlalu menarik perhatian orang-orang yang sedang rapat. Karena selain dia datang terlambat (mungkin ada urusan lain), dia juga memposisikan dirinya duduk dibelakang, lapis kedua dari orang-orang yang dahulu menghadiri rapat. Secara teknis (a.k.a fisik), ibu ini cantik, berpenampilan menarik, serta bertata krama juga mengesankan. Mengapa saya bilang mengesankan? Saya simpulkan aja karena dia duduk dengan posisi bahu tegak, tidak seperti saya yang duduk menggelosok ke sandaran kursi. Pokoknya, jika dibandingkan dengan saya, saya bukan bermaksud merendahkan diri saya sendiri, tapi lebih ke arah perbandingan yang nyata, saya mungkin masih seper seper nya dari ni ibu.

Seperti yang sudah saya paparkan tadi, bahwa dia tidak terlalu menarik perhatian orang, karena memang saat dia datang semua pikiran termasuk pikiran saya yang hanya memandangnya dengan tingkat perhatian taraf rendah diakibatkan sedotan pembahasan yang masih di atas nalar saya yang baruuu saja gabung membicarakan topik ini ditambah dengan kecepatan pembicaraan orang yang satu frekuensi ini sangat tinggi menyebabkan ibu ini bak boneka manis yang juga duduk manis di belakang sana.
Namun, tiba-tiba boneka manis itu berbicara. Oh Tuhaaan, dia wanita yang sempurna dalam pandangan saya saat itu. Tidak saja punya wajah yang menarik, penampilan yang mendukung, etika yang bersahaja, tetapi dia juga dianugerahi otak yang bak berlian dan termanfaatkan dengan baik. Berlian itu tidak hanya jadi potensi tapi sudah jadi sumber daya. Tutur katanya sangat berwibawa dibarengi dengan intonasi yang mengena. Sehening dia datang, sehening itu juga dia membuat perhatian orang-orang tertuju padanya. Dia berbicara tidak dengan kecepatan tinggi, tapi dengan intonasi yang membuat orang bodoh pun akan bertekuk lutut mendengarkan pernyataannya (mungkin ini terlalu berlebihan tapi tidak dosa tho ngasih deskripsi yang menjual..). Semua yang dikatakannya begitu sederhana, namun saat itu juga memperlihatkan betapa berisinya dia. Saat itu saya jadi teringat tentang Nabi Muhammad, kalau Beliau juga berbicara dengan pelan dan tidak terburu-buru. Hei, tanpa disadarinya, ibu ini sudah mencontoh pribadi bersahaja Nabi Muhammad. Well, I adore her.

Sungguh luar biasa saat dia memulai untuk berbicara, dia bertindak seolah-olah tidak tahu. Dan, deziiing, apa yang dikatakannya make sense semua. Logic, rasional, excellent.. Semua terperdaya, termasuk saya yang selalu berharap agar si ibu ini akan berbicara lagi sepanjang rapat. Saya sampai memegang kartu nama saya, berharap dapat kesempatan untuk berganti kartu nama. Tapi sepertinya saat ini saya kurang beruntung, kartu nama itu sampai sekarang masih saya pegang. Hahaha.

Setidaknya hari ini saya ada sebuah motivasi menarik. Saya ingin menjadi pribadi menarik seperti itu. Ingiiiin sekali. Menjadi seorang wanita yang bersahaja baik dari tingkah laku dan pikiran. Jadi semangat nih, meski saya belum terlalu kenal tapi you inspired me, Maam. Let me think about it again. So many thing to be learned. Hiaaat hiat hiat. It's feel like when the sun come to me and cheer me up. Hei, I also can do that, so I must prepare my self to be better.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...