"I was surviving from my childhood. Lu nggak tau gimana gue. Ada banyak hal dalam kisah hidup gue yang nggak seindah apa yang dipikirkan orang," begitu tulisnya disms yang sampai ke hp saya.
Sms sederhana itu membawa saya lebih dalam dan mengetahui tentang kisah hidupnya. Terlalu banyak tangis yang terpendam mungkin, terlalu banyak rasa kasih sayang yang belum dirasakan, kisah yang mungkin akan saya dengar hanya dalam cerita melodrama telenovela atau sebuah sinetron yang mengiba-iba. Tapi itu nyata, itu yang keluar dari mulutnya. Dia bercerita diiringi dengan senyum, seolah-olah bisa menerima. Padahal saya tahu, mungkin dia ingin cerita, berteriak tentang hidupnya dan bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi padanya.
Entah pertemanan jenis apa yang muncul diantara kami, mungkin memiliki latar belakang hidup yang samalah yang membuat dia tiba-tiba menceritakan siapa dirinya kepada saya. Bagi saya, dia teman yang baik, teman tempat bertanya, teman untuk berdiskusi, teman yang sederhana.
"Gw DO," ucapnya sekali waktu, ketika saya sibuk dengan kaki saya yang sedang gatal. Saya jadi menghentikan kegiatan saya dan menatapnya tak percaya. For real?? Serius? Kok bisa? Nggak mungkin ah. Becanda kaliii, semua pertanyaan itu berseliweran di kepala saya. Tapi saya hanya mampu membelalakkan mata, sekali lagi tak percaya.
"Sekolah gw nggak selesai. Limit waktu gw kuliah sudah habis yang waktu itu hanya 5 tahun dan saat UAS terakhir tiba-tiba gw kena demam berdarah. Gw serasa nggak bisa gerak lagi waktu itu. Tapi ternyata nggak ada keringanan sama sekali dengan perihal itu. Gw didepak, dikeluarkan dari universitas."
Saya hanya bisa menghela napas, sebegitu kejamkah universitas itu? Ternyata kisah sedihnya tidak mulai dari situ. Ada rentetan kisah lain, jauuuh sekali, ketika dia masih menjadi seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Mungkin saya akan coba menceritakan ini dari sudut pandangnya. Anggap saja saya itu dia.
Ibu dan Ayah bercerai ketika gw masih kelas 2 SD. Rasanya dulu hidup gw sempurna, punya ayah dan ibu yang sayang sama gw, di sekolah juga gw selalu juara meskipun nggak belajar. Tiba-tiba mereka cerai. Hak asuh gw diperebutkan, hingga akhirnya pihak yang diputuskan menang adalah ibu gw.
Tapi itu bukan berarti karena gw bersama ibu gw bisa memperoleh kasih sayang ibu. Gw tinggal nggak sama ibu, gw tinggal sama keluarga ibu. Disana, ditempat itu, gw diarahkan supaya gw membenci ayah. Kalau yang salah adalah ayah. Gw yang masih kecil itu pun, karena diarahkan seperti itu terus jadi mulai membencinya. Ditambah lagi, gw nggak pernah sama sekali ketemu ayah sejak itu. Sementara Ibu, meskipun memenangkan has asuh gw, dia sibuk dengan bisnisnya, sibuk dengan segala urusan pribadinya dan melupakan gw anak semata wayangnya. Dan memang gw terlupakan, menjadi anak yang harus bertahan sendiri dan hidup bukan dengan orang-orang yang menyayangi gw.
Hingga ketika gw kuliah, gw diperkenalkan dengan seorang ayah baru, ayah tiri gw. Dia orang yang baik, meskipun keras. Dan orang yang bisa gw ajak diskusi dan nyambung. Awalnya gw senang ada ayah baru, berarti gw nggak lagi harus banting tulang cari uang untuk membiayai uang kuliah gw.
Saya menatapnya bingung. Membanting tulang cari uang untuk kuliah. Kok?
Bisa gw bilang, ibu gw diktator. Apa maunya harus dituruti, harus begini harus begitu sesuai keinginan dia. Gw pernah berselisih pendapat dengannya dan uang kiriman buat gw dihentikan. Sejak itulah gw mulai berupaya supaya gw nggak putus ditengah jalan, apa aja gw kerjain. Mengajar les, bertukang, apa aja asal gw bisa terus kuliah. Dan waktu ada ayah baru, jujur aja gw senang karena mungkiiin, mungkin saja gw bisa dapat kiriman uang. Dan gw bisa fokus kuliah. Tapi itu hanya sementara, lagi-lagi yang jadi penghambat gw adalah ibu gw sendiri. Dia memutus uang bulanan gw, lagi-lagi. Hingga akhirnya hidup gw lebih banyak di luar sibuk mencari uang untuk mempertahankan kuliah. Perjuangan gw itu mungkin terlalu berlebihan hingga suatu hari ketika masa ujian akhir akan berlangsung, tepat hari itu, ketika itu jadi penentuan buat gw bisa memperoleh gelar sarjana atau tidak, gw malah terbaring tidak bisa bergerak, tidak bisa mengikuti ujian dan divonis terkena demam berdarah. Saat itu, universitas sama sekali nggak memberikan keringanan kepada gw, hingga akhirnya gw DO dari sana.
Dulu, sebelum gw masuk universitas. Ibu pernah bernazar akan belajar membaca Al-Qur'an kalau gw bisa lulus. Namun, hingga jalan 4 tahun gw kuliah, gw coba mengingatkan Ibu mengenai nazarnya, Ibu malah berkilah kalau dia banyak urusan dan sebagainya. Mungkin ini peringatan dari Tuhan, hingga gw nggak bisa lulus.
Gw nggak berhenti disitu. Ayah tiri gw masih ngedukung gw dan menemani gw mendaftar ke universitas lain. Gw mulai lagi dari awal, ikut tes lagi. Dan Alhamdulillah gw lulus. Ibu bilang, mungkin karena gw jauh dari Ibu kemaren. Namun, sekarang meskipun gw kuliah di kota yang sama dengan dia, sama sekali gw jarang bertemu muka dengannya. Gw hanya diberi rumah, pembantu, dan hanya itu. Hidup gw kosong, bulak balik kampus dan rumah dan sama sekali nggak ada orang. Hanya gw dan rumah. Meskipun lebaran datang, gw tetap nggak bertemu muka dengannya. Gw hanya tinggal di rumah yang diberikan. Saat gw ingin ke tempatnya menghabiskan waktu lebaran, dia bilang dia banyak urusan. Selalu begitu. Gw sendiri, gw kesepian.
Dalam masa kuliah gw di tempat baru, hal yang sama lagi terulang. Lagi-lagi Ibu menghentikan uang bulanan gw selang beberapa bulan gw menginjakkan kaki di kampus yang kedua itu. Dan lagi-lagi gw di DO, dan kali ini karena masalah biaya. Kalau saja gw hal ini nggak terjadi, mungkin gw udah lulus ya. Dan sekarang, jika gw pulang ke rumah, gw nggak tenang. Bahkan gw sering diusir berkali-kali. Gw harus pergi saja darisana, mungkin dalam waktu yang lama.
Meskipun ternyata, gw baru tahu bahwa ayah gw sering datang dan berusaha menemui gw ketika gw masih kecil. Selama itu juga, keluarga Ibu gw berusaha menyembunyikan gw, hingga gw nggak pernah ketemu dengannya. Waktu gw sudah dewasalah gw baru bertemu dan tahu betapa sayangnya dia dengan gw. Sekarang gw tahu, bahwa kasih sayang ayah gw jauh juga besar dan sama seperti seorang Ibu, bahkan mungkin jauh dari Ibu gw.
Tapi gw tetap nggak benci sama dia. Kita nggak boleh durhaka dengan orang tua.
Dia bertutur tentang hidupnya ke saya. Tak pernah saya bayangkan hidup dia seruet itu. Ibu yang seharusnya jadi tempat berkeluh kesah, ibu sebagai tempat memperoleh kasih sayang, malah sesuatu yang berkebalikan.
Dia selalu bilang ke saya, harus sayang orang tua. Bilang ke saya supaya banyak-banyak doa buat orang tua saya dan terutama buat papa saya yang sudah tiada. Dan saya disini akan bilang ke dia: I have two ears to listen your story and two thumbs to write a message, my friend.
"Find a Good Life, Good Career, and Good Man" dia bilang begitu ke saya. Dan akan saya simpan baik-baik ceritanya ini dengan segala nasehatnya.
Buat teman saya, saya cerita ini sesuai perjanjian kita "No Name", hanya sepenggal kisah untuk yang lain, yang nantinya bisa jadi pelajaran. Supaya bisa menjadi lebih baik lagi. Saya ubah sedikit ceritanya yaa, tapi tetap pada jalurnya kook. Semoga apa yang saya tulis tidak berlebihan.
"So Long, my friend. Hopefully, we meet again. And Find a Good Life!!!"
Sms sederhana itu membawa saya lebih dalam dan mengetahui tentang kisah hidupnya. Terlalu banyak tangis yang terpendam mungkin, terlalu banyak rasa kasih sayang yang belum dirasakan, kisah yang mungkin akan saya dengar hanya dalam cerita melodrama telenovela atau sebuah sinetron yang mengiba-iba. Tapi itu nyata, itu yang keluar dari mulutnya. Dia bercerita diiringi dengan senyum, seolah-olah bisa menerima. Padahal saya tahu, mungkin dia ingin cerita, berteriak tentang hidupnya dan bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi padanya.
Entah pertemanan jenis apa yang muncul diantara kami, mungkin memiliki latar belakang hidup yang samalah yang membuat dia tiba-tiba menceritakan siapa dirinya kepada saya. Bagi saya, dia teman yang baik, teman tempat bertanya, teman untuk berdiskusi, teman yang sederhana.
"Gw DO," ucapnya sekali waktu, ketika saya sibuk dengan kaki saya yang sedang gatal. Saya jadi menghentikan kegiatan saya dan menatapnya tak percaya. For real?? Serius? Kok bisa? Nggak mungkin ah. Becanda kaliii, semua pertanyaan itu berseliweran di kepala saya. Tapi saya hanya mampu membelalakkan mata, sekali lagi tak percaya.
"Sekolah gw nggak selesai. Limit waktu gw kuliah sudah habis yang waktu itu hanya 5 tahun dan saat UAS terakhir tiba-tiba gw kena demam berdarah. Gw serasa nggak bisa gerak lagi waktu itu. Tapi ternyata nggak ada keringanan sama sekali dengan perihal itu. Gw didepak, dikeluarkan dari universitas."
Saya hanya bisa menghela napas, sebegitu kejamkah universitas itu? Ternyata kisah sedihnya tidak mulai dari situ. Ada rentetan kisah lain, jauuuh sekali, ketika dia masih menjadi seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Mungkin saya akan coba menceritakan ini dari sudut pandangnya. Anggap saja saya itu dia.
Ibu dan Ayah bercerai ketika gw masih kelas 2 SD. Rasanya dulu hidup gw sempurna, punya ayah dan ibu yang sayang sama gw, di sekolah juga gw selalu juara meskipun nggak belajar. Tiba-tiba mereka cerai. Hak asuh gw diperebutkan, hingga akhirnya pihak yang diputuskan menang adalah ibu gw.
Tapi itu bukan berarti karena gw bersama ibu gw bisa memperoleh kasih sayang ibu. Gw tinggal nggak sama ibu, gw tinggal sama keluarga ibu. Disana, ditempat itu, gw diarahkan supaya gw membenci ayah. Kalau yang salah adalah ayah. Gw yang masih kecil itu pun, karena diarahkan seperti itu terus jadi mulai membencinya. Ditambah lagi, gw nggak pernah sama sekali ketemu ayah sejak itu. Sementara Ibu, meskipun memenangkan has asuh gw, dia sibuk dengan bisnisnya, sibuk dengan segala urusan pribadinya dan melupakan gw anak semata wayangnya. Dan memang gw terlupakan, menjadi anak yang harus bertahan sendiri dan hidup bukan dengan orang-orang yang menyayangi gw.
Hingga ketika gw kuliah, gw diperkenalkan dengan seorang ayah baru, ayah tiri gw. Dia orang yang baik, meskipun keras. Dan orang yang bisa gw ajak diskusi dan nyambung. Awalnya gw senang ada ayah baru, berarti gw nggak lagi harus banting tulang cari uang untuk membiayai uang kuliah gw.
Saya menatapnya bingung. Membanting tulang cari uang untuk kuliah. Kok?
Bisa gw bilang, ibu gw diktator. Apa maunya harus dituruti, harus begini harus begitu sesuai keinginan dia. Gw pernah berselisih pendapat dengannya dan uang kiriman buat gw dihentikan. Sejak itulah gw mulai berupaya supaya gw nggak putus ditengah jalan, apa aja gw kerjain. Mengajar les, bertukang, apa aja asal gw bisa terus kuliah. Dan waktu ada ayah baru, jujur aja gw senang karena mungkiiin, mungkin saja gw bisa dapat kiriman uang. Dan gw bisa fokus kuliah. Tapi itu hanya sementara, lagi-lagi yang jadi penghambat gw adalah ibu gw sendiri. Dia memutus uang bulanan gw, lagi-lagi. Hingga akhirnya hidup gw lebih banyak di luar sibuk mencari uang untuk mempertahankan kuliah. Perjuangan gw itu mungkin terlalu berlebihan hingga suatu hari ketika masa ujian akhir akan berlangsung, tepat hari itu, ketika itu jadi penentuan buat gw bisa memperoleh gelar sarjana atau tidak, gw malah terbaring tidak bisa bergerak, tidak bisa mengikuti ujian dan divonis terkena demam berdarah. Saat itu, universitas sama sekali nggak memberikan keringanan kepada gw, hingga akhirnya gw DO dari sana.
Dulu, sebelum gw masuk universitas. Ibu pernah bernazar akan belajar membaca Al-Qur'an kalau gw bisa lulus. Namun, hingga jalan 4 tahun gw kuliah, gw coba mengingatkan Ibu mengenai nazarnya, Ibu malah berkilah kalau dia banyak urusan dan sebagainya. Mungkin ini peringatan dari Tuhan, hingga gw nggak bisa lulus.
Gw nggak berhenti disitu. Ayah tiri gw masih ngedukung gw dan menemani gw mendaftar ke universitas lain. Gw mulai lagi dari awal, ikut tes lagi. Dan Alhamdulillah gw lulus. Ibu bilang, mungkin karena gw jauh dari Ibu kemaren. Namun, sekarang meskipun gw kuliah di kota yang sama dengan dia, sama sekali gw jarang bertemu muka dengannya. Gw hanya diberi rumah, pembantu, dan hanya itu. Hidup gw kosong, bulak balik kampus dan rumah dan sama sekali nggak ada orang. Hanya gw dan rumah. Meskipun lebaran datang, gw tetap nggak bertemu muka dengannya. Gw hanya tinggal di rumah yang diberikan. Saat gw ingin ke tempatnya menghabiskan waktu lebaran, dia bilang dia banyak urusan. Selalu begitu. Gw sendiri, gw kesepian.
Dalam masa kuliah gw di tempat baru, hal yang sama lagi terulang. Lagi-lagi Ibu menghentikan uang bulanan gw selang beberapa bulan gw menginjakkan kaki di kampus yang kedua itu. Dan lagi-lagi gw di DO, dan kali ini karena masalah biaya. Kalau saja gw hal ini nggak terjadi, mungkin gw udah lulus ya. Dan sekarang, jika gw pulang ke rumah, gw nggak tenang. Bahkan gw sering diusir berkali-kali. Gw harus pergi saja darisana, mungkin dalam waktu yang lama.
Meskipun ternyata, gw baru tahu bahwa ayah gw sering datang dan berusaha menemui gw ketika gw masih kecil. Selama itu juga, keluarga Ibu gw berusaha menyembunyikan gw, hingga gw nggak pernah ketemu dengannya. Waktu gw sudah dewasalah gw baru bertemu dan tahu betapa sayangnya dia dengan gw. Sekarang gw tahu, bahwa kasih sayang ayah gw jauh juga besar dan sama seperti seorang Ibu, bahkan mungkin jauh dari Ibu gw.
Tapi gw tetap nggak benci sama dia. Kita nggak boleh durhaka dengan orang tua.
Dia bertutur tentang hidupnya ke saya. Tak pernah saya bayangkan hidup dia seruet itu. Ibu yang seharusnya jadi tempat berkeluh kesah, ibu sebagai tempat memperoleh kasih sayang, malah sesuatu yang berkebalikan.
Dia selalu bilang ke saya, harus sayang orang tua. Bilang ke saya supaya banyak-banyak doa buat orang tua saya dan terutama buat papa saya yang sudah tiada. Dan saya disini akan bilang ke dia: I have two ears to listen your story and two thumbs to write a message, my friend.
"Find a Good Life, Good Career, and Good Man" dia bilang begitu ke saya. Dan akan saya simpan baik-baik ceritanya ini dengan segala nasehatnya.
Buat teman saya, saya cerita ini sesuai perjanjian kita "No Name", hanya sepenggal kisah untuk yang lain, yang nantinya bisa jadi pelajaran. Supaya bisa menjadi lebih baik lagi. Saya ubah sedikit ceritanya yaa, tapi tetap pada jalurnya kook. Semoga apa yang saya tulis tidak berlebihan.
"So Long, my friend. Hopefully, we meet again. And Find a Good Life!!!"
No comments:
Post a Comment