Thursday, September 25, 2014

Cungkiii, See You Soon My Friend

"Cung, lu udah dengar?"
"Apaan?"
"Gue disuruh masuk tanggal 7 Oktober ini."
"Yaah cuungkii, Sumpah luuu? Cepet amat sih?"

Itu yang dikatakan sahabat seperjuangan saya di kantor. Oke, saya belum siap (inhale, exhale). Saya siapnya dia pindah bulan Februari tahun depan, bukan Oktober tahun ini, yang berarti satu minggu lagi (guling-guling di trotoar). Ikut senang tapi juga sedih. Mendoakan yang terbaik tetapi setengah tidak rela melepas. Hahaha, sindrom perpisahan yang tidak bisa terelakkan.

Hampir empat tahun  bersama-sama membuat dia jadi bagian penting dalam hidup saya yang tidak bisa saya pisahkan. Pokoknya kalau masuk kantor, saya pasti akan lihat dia duduk di mejanya sambil mengunyah (ya tempe, ya tahu, ya mie ayam, ya nasi kuning dan semua jenis makanan yang dia temui di jalan) atau memakai jilbab yang lagi-lagi berwarna sama dengan saya. Kalau bercerita sama sekali tidak bisa saya tertawakan karena kurang pandainya dia bercerita, tetapi rasa frustasi dan ekspresinya lah yang membuat saya terbahak-bahak. Atau niat dietnya yang hanya bertahan sehari dua hari namun terhapuskan  seketika dengan semua makanan yang tersedia di kantor.

Paling aktif kalau sudah membicarakan makanan, meskipun sedang diet. Paling cekatan menghabisi kepiting atau ceker. Sparing partner saya untuk makan semua makanan hingga habis tak bersisa, bahkan untuk menghabisi semangkok mie ayam basi karena tidak mau rugi.

Teman diskusi pekerjaan kalau saya sudah mencapai titik nadir. Sering satu tim pada masa-masa awal saya bekerja membuat semua percakapan kami lebih hidup karena sama-sama mengalami. Paling sering memberi masukan kalau saya sudah jalan di tempat atau sudah mulai jerawatan memikirkan pekerjaan. Sering sekali saya memaparkan isi hati saya, sampai dia bosan mendengarnya. Berkat sifatnya yang jarang mengeluh dan selalu ceria itulah yang terkadang memacu saya untuk pantang menyerah dan terus berusaha.

Pokoknya saya sama sekali belum bisa membayangkan kalau di kantor tidak ada dia. Saya tabah kok, sungguh, tapi nanti sepiii. Sekarang saya belum nangis, tetapi nanti saya akan nangis. Lihat aja. Pokoknya, kalau lu ada niat jalan, ajak gue yaaa. Terlepas dari saran lu untuk solo backpacker supaya segera mendapat tambatan hati.

Cungkii, gue pasti bakal kangen banget sama luuu, ditambah lagi, lu akan pindah ke pojok barat Jawa sana.

1 comment:

Pricil said...

Heeeiiii cungkiiiii..
ahahahahha..
Aku juga berkaca-kaca ko bacanya.. hiks hiks.. sedih jg siy cung ternyata.. padahal dari kemaren gw udh berniat ga pengen nangis lhoooh.. berusaha tegar.. wkwkwk...

Maafkan aku ya cungki meninggalkanmu.. tapi kita masih bisa ketemu ko.. nanti main-main aja ke cilegon, biar kamu sekalian jalan-jalan.. hooho...

Okee.. nanti kalo mau jalan-jalan ala backpackeran gw kabarin.. tapi kayanya target taun depan ke luar negeri.. *ngayal aja dulu.. sapa tau malaikat lewat di-Amiiiiin-in.

Oke.. good luck ya cungki...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...