Saturday, September 6, 2014

Catatan Hati Seorang Ibu

Wanita itu sudah sering menangis apabila dia menceritakan perihal yang dia rasakan akhir-akhir ini. Tak ayal hanya menguak luka yang sudah disimpannya sedemikian rapi. Setiap kali dia bercerita, sesering itu pula wajahnya merasakan segarnya luka itu merobek-robek perasaannya.

Ya, dia seorang nenek yang terpisah dari cucu-cucunya. Bukan terpisah oleh jarak fisik, tapi jarak magis yang tak dapat ditembus kecuali didekatkan oleh pemiliknya. Perasaan sedih juga ikut menjalari siapa pun yang mengetahui kendala yang dia hadapi, jika orang itu berada di sampingnya, berusaha melihat dari kacamatanya dan juga berdiri di sepatunya.

(Source: Crying for Sun)


Matahari yang terpaksa menjadi saksi bisu di kala siang dan bulan di kala malam ikut merasakan perih. Mereka tahu ada beberapa keputusan yang memang sempat diambil secara tak matang yang mendasari luka itu. Namun, keputusan-keputusan tak matang itu disebabkan adanya sikap yang tak mengenakkan hati dari seseorang yang dirawatnya dari kecil.

Entah apa masalah yang dihadapi. Entah apa yang ada dalam pikiran putrinya itu. Mungkin buah kekesalannya pada sang ibu dengan beberapa keputusan tanpa menyadari bahwa keputusan yang diambil ibunya disebabkan oleh beberapa kelakukannya. Sang putri malah memperkeruh suasana dengan menambahkan tinta hitam dalam hubungan mereka yang telah tercoreng. Wanita itu merasa dia dipisahkan dari cucu-cucunya, buah dari keangkuhan dan perasaan superior dari sang ibu.

Matahari dan bulan tak mau menentukan siapa yang salah di antara keduanya. Tapi pepohonan tahu bahwa sang ibu juga telah memisahkan anak-anaknya dari adik-adiknya. Lebih memilih meninggalkan anaknya di tempat orang lain daripada membawanya ke rumah neneknya, wanita itu, dan memilih berbohong dengan keberadaan mereka.

Yah, wanita itu hanya bisa menangis dan memohon kepada Allah akan pintu hati putrinya dibukakan. Hal ini menyakitkan. Harapan yang dia inginkan agar keluarganya tetap utuh sudah tak ada lagi. Dia hanya berharap semoga anak-anaknya yang lain tak berulah seperti itu.

Seperti itukah engkau membalas orang tuamu?
Dengan menghiraukannya atau membohonginya?
Apakah kau juga berusaha memisahkan sang nenek dengan cucunya karena keangkuhanmu?
Apakah itu buah dari kekayaan yang engkau miliki sekarang?
Apa yang engkau buktikan? Engkau lebih memilih terlihat baik di depan orang lain, padahal tanpa sadar kau telah menyayat hati orangtuamu dengan tak pantas.
 (Catana Hati Seorang Ibu)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...