Monday, January 24, 2011

Klik

Klik. Sebuah cepretan kamera ibarat sebuah cara mempertahankan kisah. Kisah dapat diperoleh darimana saja. Kisah bisa dalam bentuk apa saja. Kisah bisa senang, bisa sedih, bisa mendebarkan, bisa mengesalkan, bisa menjemukan, bisa menantang, dan bisa memuakkan. Namun, semua itu berhubungan dengan perasaan makhluk yang paling mulia, bernama manusia.

Seorang manusia bisa membolak balik perasaan manusia yang lain. Seorang manusia bisa mempengaruhi apa yang dirasakan yang lain. Seorang manusia dapat membuat masalah bagi yang lain sebesar kemungkinan membuat bahagia yang lain. Seperti layaknya sebuah kalimat kolosal, dan terinspirasi dari berbagai hal yang pernah dibaca, bahwa semua yang ada di depan mata harus dihadapi. Hadapi hingga akhir, hadapi meski itu pahit, hadapi dan jangan lari. Karena masalah itu ibarat sebuah soal yang harus kamu jawab di lembar ujian. Mau lulus? Jadi selesaikan soal itu.

Kenapa saya jadi rajin nulis gini ya? Apa karena saya tiba-tiba jadi pujangga yang berakar pada logika. Itu kata teman saya. Karena saya mulai berpola pikir seperti pria.

Obsesi

Obsesi saya saat ini. Ketika mobil berjalan di aspal, ketika jarum berdetak di dalam bingkai jam, ketika teman saya sibuk dengan dirinya dan saya sibuk dengan diri saya sendiri. Ketika saya tersenyum dengan apa yang dia katakan, tapi sama sekali tidak mengerti. Ketika TV berkoar-koar menceritakan sebuah kabar dan perdebatan antara DPR dan Kapolri mengenai perpajakan yang sama sekali tidak saya mengerti. Ketika matahari mulai bergerak ke peraduannya yang tertinggi, ketika panas yang mulai menyengat. Saya ingat kembali dengan obsesi saya. Bahwa suatu saat nanti saya menjadi seorang penulis yang tulisannya dapat dinikmati orang-orang. Tulisan yang bisa menghibur orang-orang. Tulisan yang bisa dimengerti orang-orang. Karena saya tahu, bahwa sebuah tulisan dapat membuat sebuah perubahan dan saya mau menjadi bagian dari itu.

This is life

Sekarang ini gw lagi duduk bareng partner kerja gw di sebuah cafe yang ada di Gedung Patra Jasa Jakarta, La Coffee. Gw sedang membunuh waktu sambil menunggu bos dan dua orang rekan kerja gw yang sedang mengikuti sebuah rapat. Baiknya bos gw yang ngajakin kami kemari. Semoga rapatnya lancar!!!
Lain sisi, gw mulai merasa seperti orang sibuk yang gw lihat di TV, mendekam di Cafe sambil mengerjakan sesuatu (dimana gw membuat blog ini). Hehehe. Kalau gw melayangkan pandangan gw ke luar jendela, pemandangan yang gw lihat dari luar jendela cafe adalah lalu lintas yang macet (khas Jakarta) dan gedung-gedung tinggi lainnya. Duduk di sisi jendela sambil menyeruput es coklat dan didampingi laptop. Suara hiruk pikuk dentingan gelas dan piring meramaikan suasana cafe. Sayup-sayup terdengar suara pengumuman di ruang seberang. It totally awesome and I love this life.



Monday, January 10, 2011

Harus Banyak Belajar Lagi


Ada banyak hal yang tidak bisa saya penuhi
Ada banyak hal yang tidak saya ketahui
Karena itu ada banyak hal yang harus saya pelajari
Karena saya nggak mau jadi orang nggak berguna di muka bumi ini
Karena saya nggak mau jadi orang nggak bermanfaat di dunia ini
Karena saya mau, hidup saya lebih berarti
Oleh karena itu, ada banyak hal yang harus saya pelajari lagi.
Harus dan benar-benar harus. HARUS!!!!
Dan bukan omong DOANG..
Arghhhhhhhhhhhhh
Saya nggak mau ketinggalan dari orang-orang
NGGAK MAU!!!!

Happy Card


Sunday, January 9, 2011

Second Destination: Sailing in Java Sea, Surrounding The Thousand Islands

Ini kisah terbaru gw bersama Lia, Ayu, Mbak Hevvy, dan Kak Aziz. Bagi gw dan Lia, ini adalah kegiatan kedua kami melakukan Travelling. Singkat cerita, gw dapat kabar bahwa ALSI ITB ingin mengadakan sebuah Seminar sekaligus serah terima jabatan antara Kepengurusan lama dengan Kepengurusan Baru sambil berlayar dengan menggunakan sebuah kapal pesiar (mau banget gw ikut, dan gratis!!! Tanpa biaya apapun). Info ini gw dapat dari Kak Aziz. Akhirnya gw berusaha menghubungi CP-nya dan mendaftar. Alhamdulillah, gw dan Lia dapat tempat setelah perjuangan sms yang alot dan terimakasih buat Mbak Diah yang sudah mengakomodasi pendaftaran kami dengan baik (sampai sekarang gw belum tau yang mana yang mbak Diah itu)

Kami berangkat dari JakPus sekitar jam setengah 11 dalam suasana hujan. Awalnya gw rada sedikit sedih, bagaimana bisa menikmati Sunset (jadi menikmati pemandangan Sunset adalah bagian dari rundown acara, wiidiiih) kalau cuaca nggak bersahabat gini. Untungnya, ada mobil kantor (baca: pinjam) dan Kak Aziz yang nyopir buat kesana, jadi kita-kita nggak mesti mikirin Kopaja atau Busway atau apapun lah itu untuk mencapai TKP di Pelabuhan Tanjung Priok (ini kali pertama gw ke Tanjung Priok). Karena suasana yang mendung, walau ada beberapa kemacetan tapi nggak parah-parah amat, akhirnya gw dan teman-teman sampe ke tujuan pukul 12-an. Thanks to teknologi yang bernama GPS yang menunjukkan jalan yang benar (ini kerjaannya Mbak Hevvy, sementara gw, Cungki, dan Ayu sibuk mengunyah Kacang Kayaking di kursi belakang).

Waktu udah sampai, kita registrasi bentar dan nyerahin kartu nama (gaya deh gw punya kartu nama. Untung kantor gw keren banget, karena langsung menyediakan kartu nama buat karyawannya). Nah, di sanalah gw melihat kapal itu, berdiri dengan gagahnya sebuah kapal pesiar dan bertuliskan KM Dharma Kencana IX. Dan gw langsung berpikir, mimpi apa gw kemaren ampe bisa ikut kapal pesiar, jalan-jalan keliling Pulau Seribu dan ikut Seminar yang banyak orang kerennya (baca: Anis Baswedan, Anis Matta, dkk), gratis pula (mengapa gratis ini gw ulang-ulang mulu ya??). Sebelum kita menaiki kapal, seperti yang sebelumnya kita akan melakukan ritual yang sangat penting. Berfoto-foto dulu lah kita!!! Hahaha.

Persiapan sebelum naik kapal (baca:foto doong)

Saat pertama kali menginjakkan kaki di kapal. Kedodolan mulai menghinggapi kami. Di sana, di antara meja registrasi, berdirilah dua orang Kapten Kapal yang tinggi besar (padahal dari jauh gw liat kecil, kok jadi besar-besar gini sih si bapak-bapak ini). Ceritanya, kita sedang berada di lambung kapal. Di bagian kanan, terdapat keramaian yang sedang menghabiskan makan siang. Karena itulah gw, Mbak Hevvy, Ayu, dan Cungki tertarik ikut berfoto bareng, dan tiba-tiba ada yang ikut motoin kami. Gw dan teman-teman menyangka bapak itu adalah panitia jadi kami berpose sekali lagi. Lantas, dia tiba-tiba jadi bingung melihat kami masih berdiri di sana, gw pun memutar mata dan pandangan mencari sumber masalah. Hwahaha, ternyata oh ternyata si Bapak mau motoin istrinya tho, wanita yang lagi berdiri di samping kami. Karena nggak tau mesti ngapain si bapak bilang "Ya, udahlah!!" sambil pasrah memotoin kami, lalu baru istrinya (Gw dan teman-teman, bingung dan langsung terbahak-bahak, behave-behave girl!!!). Setelah itu, kami langsung registrasi dan MAKAN-MAKAN. Baru aja masuk, langsung makan siang kita. Gw masih kenyang, jadi cuma makan BBQ saja, nggak kuat yang lain.

"Bersama kami bisa" (KAPTEN KAPAL)

Habis itu, kita naik ke bagian atas kapal. Kita solat dulu di bagian paling atas, dan kembali ke bawah. Saat di bawah, anda kurang beruntung!!! Kursi di bagian dalam ruangan seminar sudah terisi semua dengan bapak-bapak dan ibuk-ibuk. Kami adalah anak non-Sipil yang termuda yang ikut acara ini. Jadilah kami duduk di luar ruangan. Tau apa yang terjadi?? Awalnya gw masih mendengarkan pembicaraan, tapi lama kelamaan karena di bagian luar ruangan nggak ada speakernya dan orang di depan kami berdiri = nggak lihat pembicara, akhirnya gw dan Cungki sibuk melakukan aktifitas lain, yaitu berfoto-foto (AGAIN!! wkwkw). Kedodolan kedua mulai terjadi, si Cungki yang udah putus urat malunya memotret orang yang nggak dikenal. Dan saat dia memotret, tettot ni orang melihat. Makan tu malu, makan!!! Hwahahha, gw cuma bisa tertawa ngeliat kelakuan ni makhluk. Ya kamera tegak lurus, cepret! Nice picture, sayang agak goyang, hwaaahaaa (behave lah!!).

Menghabiskan waktu (Terpaksa dilakukan karena nggak dengar dan nggak lihat)

Selanjutnya acara makan-makan lagi. Coffee break. Kue kejunya enaaak banget, kite-kite ngambil ampe dua trip (emang nggak ada matinya dah, bikin malu. Jiwa mahasiswa masih melekat di dada kami). Setelah coffee break berhasil ada tempat duduk kosong di depan kami, dan kami pun berpindah. Kami menduduki tempat itu dengan elegan.

Lain cerita dengan Kak Aziz dan Mbak Hevvy. Mereka dari awal udah hilang entah kemana. Menurut hemat "saya" sebagai pakar kelakuan mereka: mereka berjalan dengan gaya mengendap-endap, jalan pelan-pelan masuk ruangan, nyimak pembicaraan dengan serius (nggak tau beneran atau boongan), mandangin Pak Anis Baswedan dengan cermat sambil mengagumi cara bicaranya yang sangat bijaksana (ini muka Mbak Hevvy ni), dan pluk langsung menyikat tempat duduk yang lagi nganggur. Ckckckc, kelakuan-kelakuan mahasiswa belum sepenuhnya hilang dari darah kami, hwahaha.

Sebenarnya gw agak susah menangkap apa yang sedang dibicarakan. Karena suaranya kurang jelas dan gw nggak liat ekspresi dan wajah pembicara. Untung aja posisi gw pas banget sejajar Pak Anis (yang lainnya ketutupan penonton lain yang melihat sambil berdiri), hehehe. Ada satu pembicaraan yang sangat gw tangkap dengan baik. Saat Pak Anis Baswedan bertanya kepada Pak Taufiq Rahzen, seorang budayawan, mengenai pendapat dia tentang Indonesia dia langsung menjawab: " Indonesia ini berhubungan dengan Cabe (tettot, gw seneng. Gw banget ni, demen banget sama Cabe). Indonesia sangat berhubungan dengan rasa. Rasa yang begitu mudah berubah-ubah. Saat kejadian Merapi, semua orang merasa sedih. Saat Indonesia masuk ke babak final, semua gembira. Begitu mudah kita berubah-ubah. Tahun 2010 ini, perasaan yang dialami bangsa Indonesia begitu fluktuatif dan naik turunnya begitu signifikan. Dan hal inilah yang mesti dijadikan bahan pembelajaran kita untuk berusaha mengendalikannya." (Pak Taufiq melihat Indonesia dari sisi yang berbeda dan tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, begitu komentar Pak Anis Baswedan).

Karena sudah lelah melihat dan Cungki belum solat, maka kita naik kembali ke atap kapal. Matahari sedang bagus banget, walau sedikit mendung. Sembari menunggu si Cungki beres solat, gw minjam kamera Cungki dan mengambil beberapa gambar matahari yang jauh di ufuk barat sana. Baguuus banget. (kita ke bawah lagi).

Pemandangan menuju Sunset dari atap kapal

Menatap sampan dan sinar yang mulai memudar

Sekitar jam setengah 6, kami naik lagi. Gw berfoto-foto sampe ke bagian kemudi kapal, yang ada kaptennya. Gw nggak ngerti apa si bapak terganggu atau enggak, dia ampe keluarin kepala saat gw berpose. Respon gw, "Paaak!!" sambil tersenyum malu-malu (secara, gw orangnya kan lemah lembut dan pemalu banget. Hehe). Dan kami menghabiskan waktu di atas, hingga datang seorang juru masak mengatakan "Ada Bajigur tu di sana." Gw malas ke bawah, tapi kata si Cungki makanannya ada di atap juga. Oke. Gw ikutan nyari dan dapat. Setelah menghabiskan semangkok bajigur yang dimakan dengan kecepatan yang sangat tinggi, sementara kk Aditia yang mirip Christian Sugiono (sok kenal banget gaya gw ngomong, hwahahah) belum habis juga, kami mulai mencari tempat meletakkan mangkok yang sudah kotor. Saat gw meletakkan mangkok kotor, di depa idung gw, sangat dekat Pak Anis lewat (widiiih dekat banget). Gw bengong bentar menunggu informasi berjalan ke otak gw, dan bilang "Cungki, itu pak Anis yang baru lewat." Ni anak bengong juga bentar dan tiba-tiba dia udah jalan aja ngekor (bwahaha, sumpah bener-bener ngekor) ngikutin Pak Anis. Gw malu banget liat gaya dia ngikutin tu Bapak, tapi gw ikut juga. Saat kami sudah berada di ekor kapal (ternyata ada Live Music juga), gw langsung belok kiri dan berdiri. Liat kiri kanan, kok si Cungki nggak ada. Ternyata dia lagi bersemedi di bagian kanan. Hadooh ni anak belok nggak bilang-bilang. Terpaksa lah, gw balik badan dan ke sana. (Gw kan mau foto, kamera punya si Cungki, jadi posisi gw lemah lagi kayak kemaren. Gw yang ngikutin. hwahahah).

Kami cuma bisa menatap jauh dari sini (Puisi buat Pak Anis)

Kami ngikutin karena mau foto-foto sama Pak Anis. Tapi tiba-tiba segerombolan anak muda sambil teriak-teriak berebut minta difoto sama Pak Anis. Kami yang kalem ni, nggak bisa mengimbangi mereka. Setelah kejadian itu, gw dan Cungki hanya bisa menatap dari jauh (baca: 2 m dari posisi pak Anis, terus memantau kesempatan yang datang). Secara terus menerus, dan silih berganti orang-orang minta difoto dengannya. Gw cuma bisa moto dari jauh. Setelah si wartawan yang nggak henti-hentinya memotret pak Anis, tiba-tiba situasi tenang. Gw dan Cungki nggak akan melewatkan kesempatan ini. Dan gw mendekati sambil megang kamera, sementara si Cungki gw posisikan mengarah ke Pak Anis dan terpaksa bilang "Pak boleh foto nggak?" wkwkkw, dan akhirnya kami berfoto. Tidak sia-sia perjuangan kami.

Yee, akhirnya bisa foto bareng juga,, hehehe
(kiri: Pak Anis-Cungki, kanan: Pak Anis-gw)

Setelah itu, kami terus memotret pemandangan alam dan tentu saja dengan wajah kami di depannya. Berfoto juga bareng ibu-ibu yang sering berpapasan dengan kami, daripada bengong marilah kita kukuhkan persaudaraan kita ibu Alfi dan ibu Dhanty.
Bersama Ibu Alfi dan Ibu Dhanty (mereka berdua dari perusahaan migas besar di Indonesia)

Tidak lupa dengan Pak Fajroel Rahman (calon alumni TK ternyata). Difotoin dengan Pak Taufik, kenal secara tidak sengaja (atau menyengajakan diri). Ketemu lagi sama Pak Anis di bawah, minta foto bareng lagi, kali ini ramean. Dan terus berfoto, hingga malam menjelang dan orang-orang sudah turun semua dari kapal. Setelah lelah berfoto, kami pun makan malam di WS, dan nyam nyam nyam kenyang. Pulang dengan wajah lelah dan urunan bayar bensin. Wkwkwk.
Foto dengan Pak Anis untuk kedua kalinya (manusia emang nggak pernah puas, ckckckc)

Overall, acara ini sangat menyenangkan. Sangat menghibur. Ada banyak pengalaman menarik, ketemu Pak Anis. Gw nggak terlalu kenal yang lain, kurang gaul sama TV, akhir-akhir ini. Jadi kurang kenal sama orang terkenal. Meski ada sedikit kekurangan, bahwa gw nggak bisa ******* sama ***** yang sering *********** hingga sedikit ******* di sepanjang perjalanan. Hwahaha (hidden ini dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan informasi).

Berfoto di Dharmanvaganza
Siluet kaca
TIM RE

Cungki, ayo kita menuju ke Next Trip (THIRD DESTINATION)

Thursday, January 6, 2011

Hasrat dan Kalap

Gw (biru) sedang sangat semangat menghadapi pagi dan Pecal (merah) masih dengan tampang ngantuknya

Pagi hari yang cerah, burung berkicau dengan merdu. Semilir angin terasa dengan leluasa memainkan tirai jendelaku. Menggerakkannya dengan lembut, ke kiri dan ke kanan. Eiits, yang kalian bayangin adalah rumah idaman gw. Harapan gw suatu saat nanti. Beda dengan sekarang, gw terbangun karena kaget. Kaget karena gw telat bangun. Dan singkat cerita, gw merasa hari ini adalah hari kedodolan gw yang kesekian kalinya.

Pernah nggak lu merasa, saat lu memulai hari "starting point" dengan salah, maka hal tersebut akan berlanjut sampai lu mengakhiri hari tersebut? Hwahaha, gw merasa banget dan entah kenapa, teman gw Pecal juga jadi ikutan ERROR dan bikin kami tertawa-tawa nggak berhenti-berhenti sepanjang hari menertawakan ketololan kami. Perjalanan kedodolan kami berjalan terus menerus dimulai dari pagi hingga malam hari. Berikut ini gw list beberapa kecerdasan gw yang berbeda dari orang-orang:

1. Berangkat ke Kantor lebih pagi dari biasanya.

Gw dan teman gw ceria banget berangkat ke kantor pagi hari

Hmmm, gw tahu lu pada bakal merasa aneh saat baca headline ini. Apa yang salah? Yang salah adalah niat gw berangkat pagi. Gw dengan semangat menginformasikan Pecal untuk segera ke kantor dan ini di luar kebiasaan, karena pada umumnya dia yang selalu membangunkan gw. Apa sebab? Karena gw ingat cerita dari senior kantor gw, bakal ada makan-makan di kantor hari Kamis ini dari jam 09:00 sampai 11:00. Itu berarti "Makan Gratis". Seperti kisah hidup gw sebelumnya, dimana gw hampir aja ketipu gara-gara jw sosial "gretongan" yang tinggi ini hampiiir aja jadi akar kaki gw (???), hal inilah yang agak-agak sedikit mendasari gw untuk berangkat lebih pagi dan menghiraukan teriakan perut gw saat melewati "Warteg Syifa" langganan sarapan pagi favorit "sarapan pagi: nasi+sayur jamur+perkedel+ikan teri+sambal" gw. Gw meyakinkan diri dan menyarankan teman gw Pecal untuk tidak membeli sarapan pagi karena toh acara makan-makannya jam 9. Aseeek.

Ternyata takdir berkata lain, gw salah menyesuaikan waktu. Makan-makannya tanggal 7, bukan Kamis yang masih tanggal 6. Habislah gw, kelaparan ampe jam 3 sore. Perut gw udah berontak nggak karuan.

2. Kalap berakhir kemiskinan. Jam 3 sore, gw dan teman sekantor demi membunuh hasrat yang tak kepalang ditanggung perut gw dengan ukuran lingkar perut mulai menipis berencana mencari makan. Gw dengan semangat, merapikan peralatan kerja gw di atas meja dan membawa tas ransel gw lengkap dengan dompet merah hadiah pemberian kakak gw Yosi. Tapi apa coba yang terjadi? Temen gw nitip dompetnya di tas ransel itu. Ya, gw izininlah! Masak nggak boleh, secara dia mohon-mohon ampe berlutut gitu berharap gw memasukkan dompet dia ke sang mulia ransel gw yang selalu menemani hidup gw akhir-akhir ini. *sumpah nggak penting

Waktu gw udah duduk manis di mobil kantor gw, jantung gw tiba-tiba berdebar dan teringat uang gw tinggal selembar sepuluh ribu. Gw harus cari jalan keluarnya, harus! Kalau nggak, gw bisa mati dijalanan, terkapar nggak berdaya demi sesuap nasi. Dan mata gw langsung tertuju ke Pecal "Cungki, gw pinjam uang lu ye. Uang gw habis. Hiks hiks hiks". Dengan anggukan yang mantap dia bilang "Iyee, uang gw kan ada seratus ribu. Yang gw ambil kemaren". Gw angguk-angguk semangat. Setelah berdebatan alot antara memilih soto atau ampera, maka diputuskan pemenangnya adalah Ampera 2 Tak. Gw termakan promosinya mbak Hevvy, senior kerja gw mengenai makanannya yang muantaaap dan sambalnya yang hot buanget (emang gini cara si mbak ngomong, sambil mengecap-ngecap). Gw yang tangguh ini akan langsung lemah kalo dah bicara tentang sambel. One of my favorit food!!! (kalo bisa dikategorikan food).


Ampera 2 Tak, Jakarta Pusat

Gw dan Pecal, karena belum makan dari pagi, dapat dipastikan amat sangat kelaparan. Saat telapak kaki gw menjejak di depan Ampera 2 Tak, mata kami langsung disambut dengan pemandangan es doger. Gw mandangin gerobak itu lama, dan saat gw menatap Pecal dia juga sedang memikirkan hal yang sama. Dan tetot, dia tertarik dan kami melangkahkan kaki kami dengan ringan ke gerobak tuk memesan. Secara gw dapat pinjaman dan agak-agak tertarik, gw hayuuk aja diajak nyoba. Si abangnya lagi ngelayanin pembeli, tapi si Pecal kayaknya udah mesan, nggak tau gw. Gw mulai nggak konsen karena liat tumpukan makanan yang disajikan di depan hidung gw (jangan lu bayangin beneran!!). Semua makanan yang dipromosikan mbak Hevvy, gw pengen coba. Gw ikutin mbak Hevvy, dan ternyata Pecal udah dibelakang gw dan es doger terlupakan dan digantikan dengan makanan lainnya. Kini di piring gw ada nasi sepiring gede+ayam goreng + dua perkedel jagung + pepes jamur (semua dalam porsi bombastis). Saat gw mau duduk, gw liat ada jus dan di sana ada wortel, jadi gw pesan Jus Wortel. Pesanan si Pecal nggak jauh beda ama gw, cuma dia mesen 1 perkedel dan cumi goreng (ingat, porsi bombastis).

Ayam goreng

+

2 perkedel jagung

+

Pepes jamur

+

Jus Wortel

+

Es Doger

Saat makan, lama kelamaan kekalapan kami membuat kagum mbak Hevvy dan Kak Aziz. Dan kami dengan santai bilang "Ini karena belum makan pagi, jadi agak kalap-kalap dikitlah". Pecal udah ngos-ngosan. Gw cuma diam dan udah kembung, karena harus juga menghabiskan jus wortel yang dibuat di gelas GEDE. Saat gw akan mengakhiri jus wortel gw, tiba-tiba dia datang. Aaaah, mana gw lupa udah mesan lagi. "Mbak, ini es dogernya". Gw dan Pecal pandang-pandangan, nggak mampu lagi menelan benda itu. "Tadi mesannya dua kan?" tanya si abang. Gw bilang,"Satu aja bang!!", sumpah gw nggak kuat lagi. "Tadi mesannya dua kan mbak? Udah dibuatin nih!!". Pecal akhirnya bilang "Ya udah deh bang!!". Gw dan Pecal pasrah dan cuma bisa berdoa, semoga masih diberi kekuatan untuk mengunyah benda itu.

Episode makan udah beres dan gw mesti kembali ke kenyataan, membayar makan. Pecal bilang "Gw masih makan ni Din, lu tau kan pesenan gw?". Berhubung karena posisi gw lemah a.k.a gw udah beres makan dan gw minjem uang Pecal, jadi gw nggak protes dan pergi ke counter. Gw dengan percaya diri berdiri di dekat yang lagi bayar dan mencari dompet Pecal di tas gw. Haa? Mbak Hevvy yang makannya dikit ngabisin ampe Rp23.000. Mati gw!! Gw berapa duit?? Dan OMG, pas gw liat dompet Pecal, gw nggak nemuin uang Rp 100.000, cuma ada Rp.50.000 dan receh-receh pelengkap. Makin matilah gw. Mana makan gw ama Pecal lagi baskom-baskom nya lagi. Dengan hati deg-degan, gw tanyain harganya punya gw Rp 36.000 dan Pecal Rp 35.500. Gw dan Pecal udah nggak bisa lgi berhenti ngakak dan memikirkan nasib kami jika uangnya kurang. Ini akibat ni anak PD banget bilang uangnya ada Rp 100.000. Gw korek tu uang ni anak, ampe keliatan ampasnya. Beneran jadi kosong. Saat keluar area warung, pemandangan gerobak es doger menyambut dan baru ingat belum bayar juga. Alamaaak!!! Aduh, semoga harganya nggak mahal. Dan ternyata 14.000. Haduuh uang si Pecal udah tinggal receh, syukurnya gw ada uang 10.000. Untung bisa Lunas semua. Dan saat menaiki mobil kembali, status gw dan Lia menjadi orang miskin. Tak ada uang sepeser pun di dompet. Arrrrrgh!!

3. Oke lupakan, gw mau ke Grand Sahid Jaya Hotel. Pak Bos gw masih di kantor, jadi kami izin ke Hotel dulu baru ke kantor lagi. Perjalanan cukup lama dan tangan gw pegal banget karena mesti megang es doger yang udah nggak muat lagi di perut gw ditambah si Cungki dengan santainya menyerahkan es doger dia ke gw, dan gw terima (gw ingat posisi gw lemah a.k.a sedang berhutang). Mau ditaro, tutupnya nggak ada, mau dibuang nggak bisa, natap si Cungki dia lagi memandangi pemandangan jalan yang terhampar luas di kiri kanan mobil dan saat gw bilang "Hadoooh, pegal banget ni tangan gw" dan dia hanya menatap gw dan tersenyum dengan lebar-sekali lagi dengan lebar sekalii-tanpa ada beban dan sedikit sensitif menawarkan bantuan- awas lu ye Cungki (sekali lagi, gw sadar posisi gw lemah). Terpaksa gw pegang selama perjalanan yang ditambah kemacetan + salah jalan + muter-muter (Thanks to Kak Aziz, hadooh pake salah jalan pula, hwahaha). Capeek capeek, nasib nasib jadi penumpang (gw belum pande nyupir soalnye, coba gw bisa!! Pasti dah, makin tersesat lagi, hwahhaha).

Hadooh pake tersesat.. hwahaha (lengkap sudah tangan gw makin pegal)

4. Tersesat di Jalan balik ke kantor. Gw dan Lia a.k.a Pecal kembali ke kantor hanya berdua. Berhubung pak Bos gw masih di kantor dan si Bapak nggak ada kunci, kami harus kembali. Dalam perjalanan, gw mesti tersesat dan bau taksi serasa bikin isi perut gw mau keluar. Jadi Pecal bilang "Pak, nggak usah pake AC. Buka jendela aja". Gw senang sekali. Saat gw sudah bisa menghirup udara yang nggak terlalu bau, dan PATAS sebanyak 3 biji mengapit taksi yang gw tumpangi. Alamaaak, asapnya amboi. Bikin perut gw makin parah. Lia dengan pedenya ngasih jalur yang mau kami lewati dan SALAH. OMG, Cungki!!! Hwahaha, gw udah nggak bisa mikir lagi. Perut gw udah hiperaktif. Akhirnya kami sampai ke kantor sejam kemudian. Grrrr!!!

Taksi yang gw tumpangi diapit 3 Patas (kembung gw ngisap CO)

5.Sampe dengan selamat, tappiiii!!! Lia dan gw ke FedEx buat ngirim barang dan naik taksi lagi. Gw bercanda dengan ceria bersama pak supir taksi. Perut gw masih nggak bersahabat, jadi gw agak-agak nggak konsen. Gw minta pak taksi masuk ke dalam gerbang supaya nggak dimintai KTP dan jiaaaah, taksi gw disetop sama satpam dan teteeep identitas kami diminta. Capee deeh, sama aja diminta juga. Grrr. Saat gw sampe di TKP, argo menunjukkan ongkos 30300. Berikut percakapan singkat gw dengan pas sopir:

G (Gw) yang sedang nggak jelas bilang: "Waaah, pas banget pak. Uang kantor saya ada 300. Jadi saya bayar aja Pak"

S (Sopir): "Nggak usah aja mbak"

G: Waah, jangan dong Pak. Ni uang 50.000 dan 300.

S: (Menolak pemberian gw)

G: (Tetep maksa ngasih dan terus di tolak. Kok si Bapak kekeh banget nolaknya. Gw udah nggak konsen, perut gw udah kembung naik kendaraan dari tadi)

S: Kalo di Jakarta mana ada gitu mbak dan bla bla bla (Mengembalikan 20000)

G:Makasih Pak (memasukkan uang 20000 dan uang 300 yang tertolak. Memandangin Lia yang keluar dengan cepat.

S: Masih ngoceh "kalau di Jakarta nggak ada gitu mbak. Kalo ngasih ya 1000" Nadanya udah jutek

G: (Nggak ngerti kenapa si Bapak yang tadi ramah jadi jutek gini. Perut gw udah sakit banget, gw jadi makin nggak sensitif lalu keluar taksi)

Gw sama sekali nggak ngerti kenapa si bapak dari ramah jadi jutek gini ????

Dan engingeng, gw tau kenapa dia jutek. Karena gw milih ngasih uang pas dan bukan uang yang ada lebihnya. Wkwkwkkw, gw jadi bengong bentar dan baru nyadar kalo sejak tadi nada marahnya itu ditujukan ke gw yang sedang nggak sensitif ini. Jadi, gimana dong? Bodo ah, ini kan uang kantor, jadi gw nggak salah-salah amat. Hwaahaha.

6. ”Kayaknya gw error deh” adalah kata yang diucapin Lia saat mengisi alamat di form FedEx. Gw cuek aja, karena masih pusing dan mual dan bengong baru nyadar disemprot supir taksi. Dan saat Lia sudah menyelesaikan apa yang dia tulis dia bilang ”Apa gw bilang, gw memang Error. Alamat pengirim kok diisi Alamat penerima? Hadooh” sambil mundur. Dan gw melanjutkan dan sempat-sempatnya menertawakan Pecal dan dia juga tertawa karena mengingat kedodolan kami yang terus-terusan. Gw yang antara pusing dan enggak berusaha untuk mengurangi kedodolan. Dan kegiatan berkhir dengan ceria, alamat nggak ada yang salah, uang udah pas, struk udah dikasih ke Pecal. Beres semua, nggak ada kedodolan lagi.

7. Teteeep masih ada. Gw udah memasukkan uang kantor kembali ke amplop. Gw mandangin aja kerjaan si petugas counter FedEx. Mereka sibuk sekali dan mandangin struk yang ada di meja di dekat tangan mereka. Mereka terlihat berdebat dan gw masih mandangin terus dengan blak blakan tanpa menjaga pandangan. Mereka menyadari tatapan gw dan mereka menatap balik, gw turunin pandangan. Gw balik mandangin lagi dan melihat mereka berdiskusi. Si petugas liat gw lagi, merasa jengah dipelototin terus dan melemparkan kata yang membuat gw malu, maluuu sejadi-jadinya.

Petugas: ”Udah kan mbak?”

Gw:”Udah mas, tapi struknya mana?” (Muka innocent)

Pecal: ”Udah kok ama gw”

Gw: (Mandangi Cungki, kaget, menatap mas petugas, gw tersadar dari amnesia dan ingat bahwa diri gw sendirilah yang memberikan struk kepada si Cungki). Ehhhhmmm, kayaknya hari ini saya lagi Error deh mas. Hahahah, maaf ya mas.

Dan gw ditertawakan sekelompok petugas counter. Arrgggggh, pantas aja gw bengong. Pecal bilang, dia ngira gw diam aja kayak orang bego nungguin kembalian, ternyata gw diam kayak orang begok nggak nungguin apa-apa. Malu-maluuuuu. Arrgggh, dan untung saja semua kedodolan itu berakhir di sini.

Note: Sebenarnya gw ngantuk banget, Tapi kalo gw bikin besok, ntar feel gw g dapat. Gw tidur dulu yeee.

Cungki = Pecal = Lia

Aku = gw = Sayur = Cungki

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...