Percakapan singkat ini terjadi baru-baru ini antara saya dan Lepi saya yang baru berumur 3,5 tahun.
Saya: Lepi, kamu ngambek ya? Kok dari tadi nggak mau bangun??
Lepi: *diam seribu bahasa.
Saya: Lepi, kok gini sama aku. Udah lama lo kita barengan, masak tiba-tiba diamin gini.
Lepi: *mengeluarkan bunyi, ngek-ngek.
Saya: Lepi, aku tahu kamu yang paling dekat sama aku selama ini. Menemani masa-masa kuliahku yang banyak tugasnya. Kamu sabar banget. Ngasih aku suara-suara merdu sampe nemenin aku bobo. Aku sayaaang banget sama kamu. (sambil mengelus-elus benda flat itu)
Lepi: *tetep diam seribu bahasa
Saya: Lepi, aku masih mau punya hubungan sama kamu. Jangan bilang, gara-gara ada benda ketiga. Jangan bilang gara-gara aku jarang main sama kamu lagi. Kan, kemaren aku sibuuk banget.
Lepi: *tetep diam, sekarang ngeliatin wajah biru dan banyak kata-kata
Saya: Aku bingung ni, kamu maunya apa? Jangan tinggalin aku gitu aja. Selesain dulu baik-baik, sampe aku bisa menetralisir semuanya.
Lepi:*tetep menampilkan wajah biru
Saya: Aku akan berjuang terus, sampe kamu mau baikan lagi sama aku. Walau aku mesti begadang, nemenin kamu. Aku rela kok.
Lepi: *tetep nggak memperlihatkan wajah antusias, seperti My Computer, atau My Document.
Saya: Lepi, kamu janji ya mau berjuang sama aku. Melewati masa-masa tua ini dengan bahagia.. *menatap jauh ke depan.
Percakapan ini nggak bisa juga dibilang singkat, dan percakapan ini masih tetap berlangsung hingga blog ini dibuat. Asal tau Lepi, aku sedih banget kamu tinggalin, jadi jangan tinggalin aku.


No comments:
Post a Comment