Sunday, November 3, 2013

Un-essential things for un-essential thought

Saya baru saja menyelesaikan kerjaan saya beberapa menit yang lalu
Dengan mengerjakannya seefektif mungkin dengan pikiran hampa
Tak disangka lebih cepat dari yang saya targetkan meskipun dengan pikiran melayang

Perlu tekad yang kuat untuk membuka benda itu
Menimbang dengan janji yang saya lontarkan pada atasan,
"Saya akan kirim proposal hari Minggu", demikian saya berkata
Dan pikiran itu mengikat saya. Meskipun saya dalam keadaan jenuh dan malas luar biasa, saya bersyukur karena masih bisa menepati apa yang saya janjikan

Acara televisi tak juga menyelesaikan kebosanan yang saya rasakan
Entah karena umur yang semakin bertambah, entah karena memang keadaannya demikian
Saya benar-benar kesal dengan acara-acara yang ditayangkan semua stasiun televisi di Indonesia saat ini, pada jam utama
Kalau bukan sinetron yang sudah hilang intinya, ya acara tarian yang tak jelas maksudnya
Tetapi sepertinya memang itulah yang disukai orang Indonesia saat ini. Berbondong-bondong datang menggunakan kostum dan menari dengan latah terhadap gerakan para pengisi acara.
Dan itu diputar setiap 7 hari dalam seminggu, yang artinya bahwa selain hidup saya yang akan berputar dengan ritme yang konstan dalam kehidupan nyata, saya juga akan dihadapkan dengan acara televisi yang sama pada jam yang sama setiap harinya
Saya hanya sedih, jika memang hal itu yang disukai masyarakat kita saat ini, alangkah mengkhawatirkannya. Kita terlalu terlena dengan sesuatu yang samasekali tidak ada esensinya
Bagaimana menurut kalian? Apa saya salah tentang ini? Acara televisi bukannya memberikan relaksasi, tetapi gejolak emosi yang timbul karena kebosanan yang ditimbulkan
Saya cukup tidak menontonnya, itu lebih baik daripada menggerutu

Saya melemperkan mata saya ke salah satu acara tari masal tanpa minat
3 jam dihabiskan untuk porsi acara ini
Wow, luar biasa sekali penempatannya, pada jam utama
Ketika diyakinkan semua orang di rumah pada saat itu
Apa sih yang terbayang oleh badan sensor negara kita dengan acara ini?
Pendidikan apa?

Saya kembali lagi ke topik ini. Miris.
Ada apa dengan dunia akhir-akhir ini?
Muram sekali
Mungkin saya perlu memakai kacamata berbeda memandangi dunia
Bukan dengan kacamata minus 4 yang selalu setia bertengger di mata saya
Mungkin pandangan saya memang sudah kabur
Sehingga sulit melihat dunia yang sebenarnya
Mungkin acara tersebut-tarian masal- dimaksudkan untuk bersenang-senang saja
Mungkin memang tak ada inti disana
Seperti layaknya saya, belum punya inti, belum punya jati diri


Bahkan ibuk-ibuk diminta menari sambil ngutip sampah. Tapi mau aja ya? 
Ya ampuuun, ampun deh ni acara. Mendidik banget. Tapi mereka senang sepertiny
Sudahlah, saya harus berhenti menjadi penasihat siaran.
Nanti saja, kalau saya punya kekuatan dan itu bukan sekarang
(3 November 2013)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...