Selagi mood, saya nulis lagi untuk kesekian kalinya di hari ini dan membayar hutang yang saya janjiin beberapa minggu yang lalu. Ini menyambung kisah saya waktu ke kota tua. Sekarang udah ada fotonya readers. Sebagian besar adalah foto saya, jadi kalo mau menikmati viewnya, kalian musti menembus tubuh saya dengan ajian mumpung kelipung uing-uing. Hehehe. Saya awalnya dibonceng Lia menuju first step dari kunjungan sambil dengerin lagi "Hey, Soul Sister-nya Train", pas banget ama angin sepoi-sepoi yang niup jilbab saya selama perjalanan. Berikut ringkasan cerita saya mengenai traveling yang kami lalui di sana.
Saya-Ayu-Lia
1. Perjalanan pertama di mulai ke sebuah pelabuhan yang sangat terkenal di zamannya, yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa. Ditempuh dengan sepeda onthel berkecepatan ngos-ngosan dari Lia a.k.a Pecal. Kawasannya sangat berbahaya, karena kita musti nyebrang di jalan raya yang sangat padat, bahkan ada mobil FUSO (mobil yang gede itu lho, kadang-kadang bawa pohon gede yang udah ditebang). Disini ada banyak banget kapal penisi yang gede-gede sedang parkir-berlabuh ding, dan membawa berbagai macam keperluan mulai dari semen ampe beras ke seluruh penjuru Indonesia. Warna warni boo, kapalnya. Salah satu awak kapal memberi izin kepada kami buat naik ke salah satu kapal yang yang nampang di depan idung kami. Sombong banget dah si kapal, mau naek aja kami mesti lewat sebuah potongan kayu yang sangat rawan untuk menjeblos ke dalam air laut yang udah nggak jelas warnanya (eee, kok gw jadi mumbling gini, sori yee, habit-habit dari gw orok).
Pemandangan awal Pelabuhan Sunda Kelapa
Kapal Penisi yang berlabuh dengan gagahnya
Foto dulu lah kita sambil pake topi zaman Belanda. Hadohm berasa bule aje (bule item, he2x)
Posisi 1 di atas kapal Penisi yang akan membawa semen ke daerah Timur Indonesia
Posisi 2 di atas kapal yang sama
2. Museum Bahari. Disini kita sedikit agak ngesot dari posisi Pelabuhan Sunda Kelapa. Di dalamnya ada macam-macam kapal penisi, mulai dari Kapal Penisi Lancang Kuningnya Riau ampe Kapal Penisinya Irian Jaya. Yang paling bikin gw terkesima adalah desainnya Kapal dari masa Syailendra, yang masa Borobudur entu-gw lupa, history gw rada blee dikitlah-Bener-bener bagus deh pokoknya. Bikin kita-kita terkesima. It's really wonderfull architect.
Miniatur dari berbagai macam Kapal Penisi di Indonesia dan Dunia
Berusaha mendayung salah satu perahu yang berlabuh. Yiaaach
Miniatur beberapa Mercusuar
Ada juga berbagai macam binatang laut yang diawetkan, berbagai macam mercusuar dari berbagai belahan dunia, dan di sini juga ada Jembatan yang buat shooting Si Manis Jembatan Ancol itu lhooo!! Saya ampe foto-foto di sana bersama teman-teman. Rasanya deg-degan gitu deeh. Ciamik gilaaa!!!
Berpose di Jembatan si Manis
Berpose di Museum Bahari
Di sini saya juga liat ada Putri Duyung yang sudah diawetkan. Waktu Pak Iip (guider kami) bilang ada Putri Duyung, di otak saya langsung kebayang wanita berambut panjang setengah manusia setengah ikan. Dan waktu saya liat lagi, saya bingung. Waduuuh, begini tho bentuknya Putri Duyung, kok kayak anjing laut ya. Saya kejap-kejap kan mata saya untuk kesekian kalinya dan bentuknya tetap kayak anjing laut, bukan seperti yang saya bayangkan. "Pak, beneran ini Putri Duyung, kok kayak Anjing Laut ya??", saya sampe nanya begok gitu sama si Pak Iip.
Perbandingan bentuk Putri Duyung dalam otak gw dan Putri Duyung sebenarnya
(It's totally different)
Sementara keadaan Pecal sudah ngos-ngosan. Suntuk banget mukanya kayak orang mau mampus. Hwaaahha, ini akibat dia memboncengin saya. Wkwkwkw.
3. Travelling berikutnya menuju ke Jembatan Kota Intan. Berdasarkan cerita yang saya dapatkan, jembatan ini dulunya merupakan lalu lintas kapal-kapal besar zaman VOC dulu. Desainnya kayak jembatan Broklyn, yang bagian tengahnya bakal naik kalo ada kapal yang lewat. Di sini, kami ngesoot beberapa foto. Biasalah ibu-ibu arisan. Tiada hari tanpa berfoto.
Ini dia Jembatan Kota Intan (tapi kok gw nggak ada liat intan ya?)
Sedikit disayangkan, adalah sungainya udah bau banget. Jorok abis, bedalah sama sungai di kampung saya, yang masih jernih dan bersih.
Ingat muka ngos-ngosan si Pecal. Nah, akhirnya muka tu anak berubah ceria setelah dia membonceng Ayu dan saya dibonceng Pak Iip. Kenapa karena berat badan ayu setengahnya berat badan saya (Hadooh, g tau badan saya yang kebesaran atau badan Ayu yang kekecilan) ditambah jalan yang ditempuh merupakan jalan penurunan, bukan pendakian kayak saat dia membonceng saya (ampe sumringah tu muka).
4. Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Toko Merah. Awalnya saya kira, di sebut Toko Merah karena dia warna merah tokonya, ternyata tempat ini merupakan tempat pembantaian seribu orang tionghoa di zaman Belanda. Mereka dibantai karena pihak Belanda merasa terancam kedudukannya di bidang perdagangan. Tapi sayang sekali, saya dan teman-teman nggak bisa masuk ke dalamnya, karena tempat tersebut sedang disegel. Nggak tau juga kenapa? (ssst, sebenarnya gw tau, tapi malas aja bilangnya. Berasa nggak bijaksana).
Toko Meraj on the Spot
Demikian empat spot yang saya kunjungi bersama teman-teman. Lumayan mampet juga dibonceng 2 jam. Ampe pegal ni pantat. Tapi karena saya cuma bermodal duduk doang a.k.a nggak bawa sepeda, jadi saya nggak capek-capek amat. Setelah itu, kami kembali lagi ke lapangan sepeda onthel. Dan saya kembali lagi berusaha mengadu kemampuan saya untuk mengendarai sepeda. Selain rem bekerja, mulut saya berteriak mulu selama bersepeda. Ribut banget deh pokoknya.
Tampang gw sangat serius membawa sepeda
Angin bertiup amat kencang, menyebabkan topi gw ikut terbang
Dasar gw nggak ahli bawa sepeda. Di lapangan segede itu, gw tetap nabrak si Lia
Jadi demikian kisah singkat saya selama perjalan ke Kota Tua. Sebenarnya ada banyak spot lagi yang bisa dikunjungi, speerti Museum Fatahillah, Museum BI, dll. Buat biayanya, ni saya jabarkan sebagai referensi bagi yang mau coba berkunjung ke Kota Tua ini:
- Biaya transportasi dengan Busway sebesar Rp.7000 pulang pergi
- Nyewa sepeda onthel: Rp. 25000 (bisa nego sama bapaknya)
- Makanan ada banyak, tersedia pilihan mulai dari bakso ampe nasi, berkisar antara Rp.8000-tidak terbatas.
Note: Cukup murah buat kantong kita-kita. Nggak nyedot uang terlalu banyak dan lumayan cuapek. 2 jam bersepeda, gitu. See you in the Next Destination.









