Monday, November 21, 2011

Satu Pintaku

Ya Allah Pemilik Segala Hati, Berikan aku ketenangan hingga Kau tunjukkan saat yang tepat itu..Ya Allah Pemilik Segala Kebahagiaan, Berikan aku kesabaran untuk menanti hingga saat itu tiba..Ya Allah Pemilik Segala Rasa, Berikan aku kekuatan untuk mengendalikan rasa yang kadang tak bisa lagi kutahan..Ya Allah Pemilik Segala Cinta, Pertemukan aku dengan dia, belahan jiwa yang Kau janjikan untukku..

Satukan kami di jalan keridhoan-Mu..

Jauhkan kami dari rasa ingkar atas ketentuan-Mu

Jauhkan kami dari hal-hal yang tak Kau Ridhoi


Dan teruntuk “belahan jiwaku” yang ku tak tahu kau ada di mana,

Saat ini..

Kuyakin bahwa kita sedang bersama-sama membangun kualitas diri kita di tempat yang berbeda..

Kuyakin bahwa kita sedang sibuk dengan aktivitas kita, demi masa depan kita berdua kelak..

Kuyakin bahwa kita sedang mempersiapkan diri hingga Allah memantaskan diri kita..

Kuyakin bahwa kita berdua berkeinginan untuk segera bertemu.. dan bersatu..

Dan kuyakin pula bahwa kita berdua sama-sama menantikan saat yang tepat itu, saat kita bertemu..


Ya Rabb, di manapun dia berada..

Jagalah dia agar selalu berada di jalan-Mu..

Tegurlah dia jika dia berbuat kesalahan..

Ingatkan dia ketika dia melenceng dari jalan-Mu..

Berikan keyakinan padanya saat dia mengambil keputusan..

Limpahkan selalu rahmat-Mu untuknya..


Teruntuk “belahan jiwaku” yang kehadiranmu sangat kunantikan..

Saat kita bertemu kelak,

Kuingin agar kau tak menunda..

Kuingin agar kau tak berbelit kata-kata..

Kuingin agar kau tak menghindar..

Kuingin agar kau memperlihatkan kesungguhan dan keseriusanmu padaku..

Kuingin agar kau memperjuangkan aku dan tak melepasku..

Perlihatkan padaku bahwa kau yakin padaku..


Teruntuk “belahan jiwaku” yang bersamamu akan kuhabiskan sisa waktu,

Ingatlah Allah selalu..

Ingatlah Allah dalam setiap nafasmu..

Ingatlah Allah dalam setiap langkahmu..

Ingatlah Allah dalam setiap niatmu..

I’ll wait for you ‘til we meet..


Di-recopy dari blog teman saya, fira..

Episodea - "Find a Good Life My Friend"

"I was surviving from my childhood. Lu nggak tau gimana gue. Ada banyak hal dalam kisah hidup gue yang nggak seindah apa yang dipikirkan orang," begitu tulisnya disms yang sampai ke hp saya.
Sms sederhana itu membawa saya lebih dalam dan mengetahui tentang kisah hidupnya. Terlalu banyak tangis yang terpendam mungkin, terlalu banyak rasa kasih sayang yang belum dirasakan, kisah yang mungkin akan saya dengar hanya dalam cerita melodrama telenovela atau sebuah sinetron yang mengiba-iba. Tapi itu nyata, itu yang keluar dari mulutnya. Dia bercerita diiringi dengan senyum, seolah-olah bisa menerima. Padahal saya tahu, mungkin dia ingin cerita, berteriak tentang hidupnya dan bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi padanya.

Entah pertemanan jenis apa yang muncul diantara kami, mungkin memiliki latar belakang hidup yang samalah yang membuat dia tiba-tiba menceritakan siapa dirinya kepada saya. Bagi saya, dia teman yang baik, teman tempat bertanya, teman untuk berdiskusi, teman yang sederhana.

"Gw DO," ucapnya sekali waktu, ketika saya sibuk dengan kaki saya yang sedang gatal. Saya jadi menghentikan kegiatan saya dan menatapnya tak percaya. For real?? Serius? Kok bisa? Nggak mungkin ah. Becanda kaliii, semua pertanyaan itu berseliweran di kepala saya. Tapi saya hanya mampu membelalakkan mata, sekali lagi tak percaya.
"Sekolah gw nggak selesai. Limit waktu gw kuliah sudah habis yang waktu itu hanya 5 tahun dan saat UAS terakhir tiba-tiba gw kena demam berdarah. Gw serasa nggak bisa gerak lagi waktu itu. Tapi ternyata nggak ada keringanan sama sekali dengan perihal itu. Gw didepak, dikeluarkan dari universitas."

Saya hanya bisa menghela napas, sebegitu kejamkah universitas itu? Ternyata kisah sedihnya tidak mulai dari situ. Ada rentetan kisah lain, jauuuh sekali, ketika dia masih menjadi seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Mungkin saya akan coba menceritakan ini dari sudut pandangnya. Anggap saja saya itu dia.

Ibu dan Ayah bercerai ketika gw masih kelas 2 SD. Rasanya dulu hidup gw sempurna, punya ayah dan ibu yang sayang sama gw, di sekolah juga gw selalu juara meskipun nggak belajar. Tiba-tiba mereka cerai. Hak asuh gw diperebutkan, hingga akhirnya pihak yang diputuskan menang adalah ibu gw.

Tapi itu bukan berarti karena gw bersama ibu gw bisa memperoleh kasih sayang ibu. Gw tinggal nggak sama ibu, gw tinggal sama keluarga ibu. Disana, ditempat itu, gw diarahkan supaya gw membenci ayah. Kalau yang salah adalah ayah. Gw yang masih kecil itu pun, karena diarahkan seperti itu terus jadi mulai membencinya. Ditambah lagi, gw nggak pernah sama sekali ketemu ayah sejak itu. Sementara Ibu, meskipun memenangkan has asuh gw, dia sibuk dengan bisnisnya, sibuk dengan segala urusan pribadinya dan melupakan gw anak semata wayangnya. Dan memang gw terlupakan, menjadi anak yang harus bertahan sendiri dan hidup bukan dengan orang-orang yang menyayangi gw.

Hingga ketika gw kuliah, gw diperkenalkan dengan seorang ayah baru, ayah tiri gw. Dia orang yang baik, meskipun keras. Dan orang yang bisa gw ajak diskusi dan nyambung. Awalnya gw senang ada ayah baru, berarti gw nggak lagi harus banting tulang cari uang untuk membiayai uang kuliah gw.

Saya menatapnya bingung. Membanting tulang cari uang untuk kuliah. Kok?

Bisa gw bilang, ibu gw diktator. Apa maunya harus dituruti, harus begini harus begitu sesuai keinginan dia. Gw pernah berselisih pendapat dengannya dan uang kiriman buat gw dihentikan. Sejak itulah gw mulai berupaya supaya gw nggak putus ditengah jalan, apa aja gw kerjain. Mengajar les, bertukang, apa aja asal gw bisa terus kuliah. Dan waktu ada ayah baru, jujur aja gw senang karena mungkiiin, mungkin saja gw bisa dapat kiriman uang. Dan gw bisa fokus kuliah. Tapi itu hanya sementara, lagi-lagi yang jadi penghambat gw adalah ibu gw sendiri. Dia memutus uang bulanan gw, lagi-lagi. Hingga akhirnya hidup gw lebih banyak di luar sibuk mencari uang untuk mempertahankan kuliah. Perjuangan gw itu mungkin terlalu berlebihan hingga suatu hari ketika masa ujian akhir akan berlangsung, tepat hari itu, ketika itu jadi penentuan buat gw bisa memperoleh gelar sarjana atau tidak, gw malah terbaring tidak bisa bergerak, tidak bisa mengikuti ujian dan divonis terkena demam berdarah. Saat itu, universitas sama sekali nggak memberikan keringanan kepada gw, hingga akhirnya gw DO dari sana.

Dulu, sebelum gw masuk universitas. Ibu pernah bernazar akan belajar membaca Al-Qur'an kalau gw bisa lulus. Namun, hingga jalan 4 tahun gw kuliah, gw coba mengingatkan Ibu mengenai nazarnya, Ibu malah berkilah kalau dia banyak urusan dan sebagainya. Mungkin ini peringatan dari Tuhan, hingga gw nggak bisa lulus.

Gw nggak berhenti disitu. Ayah tiri gw masih ngedukung gw dan menemani gw mendaftar ke universitas lain. Gw mulai lagi dari awal, ikut tes lagi. Dan Alhamdulillah gw lulus. Ibu bilang, mungkin karena gw jauh dari Ibu kemaren. Namun, sekarang meskipun gw kuliah di kota yang sama dengan dia, sama sekali gw jarang bertemu muka dengannya. Gw hanya diberi rumah, pembantu, dan hanya itu. Hidup gw kosong, bulak balik kampus dan rumah dan sama sekali nggak ada orang. Hanya gw dan rumah. Meskipun lebaran datang, gw tetap nggak bertemu muka dengannya. Gw hanya tinggal di rumah yang diberikan. Saat gw ingin ke tempatnya menghabiskan waktu lebaran, dia bilang dia banyak urusan. Selalu begitu. Gw sendiri, gw kesepian.

Dalam masa kuliah gw di tempat baru, hal yang sama lagi terulang. Lagi-lagi Ibu menghentikan uang bulanan gw selang beberapa bulan gw menginjakkan kaki di kampus yang kedua itu. Dan lagi-lagi gw di DO, dan kali ini karena masalah biaya. Kalau saja gw hal ini nggak terjadi, mungkin gw udah lulus ya. Dan sekarang, jika gw pulang ke rumah, gw nggak tenang. Bahkan gw sering diusir berkali-kali. Gw harus pergi saja darisana, mungkin dalam waktu yang lama.

Meskipun ternyata, gw baru tahu bahwa ayah gw sering datang dan berusaha menemui gw ketika gw masih kecil. Selama itu juga, keluarga Ibu gw berusaha menyembunyikan gw, hingga gw nggak pernah ketemu dengannya. Waktu gw sudah dewasalah gw baru bertemu dan tahu betapa sayangnya dia dengan gw. Sekarang gw tahu, bahwa kasih sayang ayah gw jauh juga besar dan sama seperti seorang Ibu, bahkan mungkin jauh dari Ibu gw.
Tapi gw tetap nggak benci sama dia. Kita nggak boleh durhaka dengan orang tua.

Dia bertutur tentang hidupnya ke saya. Tak pernah saya bayangkan hidup dia seruet itu. Ibu yang seharusnya jadi tempat berkeluh kesah, ibu sebagai tempat memperoleh kasih sayang, malah sesuatu yang berkebalikan.

Dia selalu bilang ke saya, harus sayang orang tua. Bilang ke saya supaya banyak-banyak doa buat orang tua saya dan terutama buat papa saya yang sudah tiada. Dan saya disini akan bilang ke dia: I have two ears to listen your story and two thumbs to write a message, my friend.

"Find a Good Life, Good Career, and Good Man" dia bilang begitu ke saya. Dan akan saya simpan baik-baik ceritanya ini dengan segala nasehatnya.

Buat teman saya, saya cerita ini sesuai perjanjian kita "No Name", hanya sepenggal kisah untuk yang lain, yang nantinya bisa jadi pelajaran. Supaya bisa menjadi lebih baik lagi. Saya ubah sedikit ceritanya yaa, tapi tetap pada jalurnya kook. Semoga apa yang saya tulis tidak berlebihan.

"So Long, my friend. Hopefully, we meet again. And Find a Good Life!!!"



Monday, November 7, 2011

My baibi - Balada Bibi

"Tanteee, tante nanti tidurnya sama adek ya?"
"Tante, nanti tante tidurnya di sini ya!"
"Lah memang nanti adek tidur dimana?", sahut saya
"Adek tidur di sini," sambil mempersiapkan bantal di lantai. Aduuh ni anak, peka dan sangat melayani sekali.
Ini percakapan singkat saya dengan ponakan, saat Hari Raya Idul Adha kemaren. Ponakan nakal saya,kakak serta suaminya datang ke Jakarta, mengunjungi saya *ngarap* lebih tepatnya berlibur kemari. Kata Papanya, pengen bawa anak-anak naik pesawat.

Saya mau nge-zoom ke cerita Bibi, ponakan saya. Nama lengkapnya Nabila Balqis, biasa dipanggil Bibi, anak item manis kelahiran 2005, mata sipit tapi bulat, rambut cepak (kemaren pas saya tinggal, rambutnya dipotong. Pas kemaren saya singgung tentang rambutnya kok pendek juga, mamanya bilang, "seperti biasa dia guntingin lagi rambutnya sendiri"), dan rada gemukan ( ini juga, perasaan saya tinggal masih ceking, kok sekarang gemukan? cepet banget).

Bibi ini anak cerdas versi zaman sekarang. Anak yang mengungkapkan apa yang dia mau dengan caranya sendiri. Mandiri banget dan amat sangat pantang menyerah, meskipun umurnya baru 6 tahun. (Sebenarnya saya sudah cerita tentang dia di blog saya yang lain, blog versi melambai. Hehehe). Banyak cerita lucu dan menggelikan yang sering dibuatnya, berbagai versi drama untuk mendapatkan kemauanya sering dia lakoni. Mendengarnya saja saya sudah terpingkal-pingkal, apalagi saat saya jadi korban aksinya. Dalam dua hari keberadaannya di Jakarta saja, sudah ada banyak cerita.

Saat lagi menginap di sebuah Hotel di dekat Kota Tua

Bibi suka banget berenang. Nggak juga sih sebenarnya. Kata Papanya, kakaknya Gigin lebih jago berenang dan rajin latihan. Sampe 20 kali bolak balik dijabanin (OMG, saya bahkan 1 kali bolak balik aja nggak bisa, kecipak-kecipak dikit langsung tenggelam kalo nggak pake pelampung). Si Bibi malah bisa dibilang kayak ikan, nampak kolam ya pengennya nyebur. Nggak perduli apa kata orang, pokoknya nyampe-nyampe buka baju tinggal singlet dan celana dalam, lompat.

Ini reka ulang cerita dari kakak saya, yang notabene-nya mamanya Bibi. Dengan lemah gemulainya dia memencet angka nol di telepon hotel yang menghubungkannya ke meja resepsionis.

Bibi: Halo..
Resepsionis: Halo, selamat siang. Ada yang bisa dibantu?
Bibi: Oooom (ingat bacanya versi anak kecil ya!!), adek boleh mandi di kolam renang nggak?
Resepsionis: (ternyata resepsionisnya pria) Boleh
Bibi: Adek boleh berenang sama Papa adek, nggak?
Resepsionis: Boleeeh
Bibi: Tapi adek nggak bawa baju renang. Di sana ada nggak om?
Resepsionis: Ada. Tapi belinya di luar.
Bibi: Yaaah
Resepsionis: Mamanya adek ada nggak?
Bibi: Maaa, kata om-nya dia mau ngomong sama mama!!
Mama Bibi: Mama malas ngomongnya, adek aja yang ngomong (kata kakak, dia malas nerima. Paling tu resepsionis marah-marah karena diisengin si Bibi).
Bibi: Oooom, kata mama adek, mama nggak mau ngomong sama om.
Resepsionis: (DOENG!!.. kesannya dia ngejar-ngejar emaknya ni anak. Padahal niat ngomelin)..

Saat naik sepeda onthel.

Dia diboncengin Papanya, dan saya diboncengin mamanya (saya nggak biasa berkendara. Saya sih jagonya jalan kaki, kalo yang lain masih amatir). Kita naik sepeda onthel yang ada dua kayuhan. Bibi semangat banget ngayuhnya, saya yang duduk di belakang yang setara ama dia, juga semangat banget ngayuhnya. Nggak mau kalah. Sampai pada suatu titik, tiba-tiba Bibi ngomel-ngomel.

Bibi: Papa ni, Papa nggak ada ngayuh haa. Adek aja yang ngayuh sendiri.
Papanya: Eh, siapa bilang Papa nggak ngayuh. papa ngayuh kok (padahal sebelumnya papanya bilang, enak ni ada yang ngayuhin).

Tiba-tiba saat saya memacu sepeda mereka, dia langsung nangis.
bibi: Papaaaaa, ayo Pa cepat Pa. Papaaa, kayuhlah Pa. Capek adeek nii.

Bwakakak, kebiasaan di depan siih. Giliran kita pacu, jadi nggak tenang. Saat sampai di tempat peminjaman sepeda onthel, ternyata energinya belum habis juga. Dengan melobi si mas-mas penjaga sepeda (oke, Bibi nggak melobi harga, hanya melobi sepeda apa yang mau dia pakai buat main lagi di pelataran Kota Tua. Urusan bayar siih dia serahin ke mama papanya. wkwkwk). Saya ngikutin dia main. Ya ampuun, dia gigih banget belajarnya. Dari nggak bisa jadi bisa. Terus berputar bersama sepeda pinjaman sampe saya "yang baik ini" ngos-ngosan ngikutin dia bergerak ke sana kemari.

Saat sampai di Hotel di pusat kota

Ceritanya mereka pindah hotel. Berhubung si Mama pengen belanja ke Mangga Dua. Emak-emak banget lah kakak saya ini. Saat saya tanya rencana dia akan kemana kalau ke Jakarta, dia langsung me-list semua daftar tempat belanja yang akan dia kunjungi, seperti Tanah Abang, Blok M, dan Mangga Dua.

Balik lagi ke Bibi, awalnya dia masih tenang-tenang saja menyelonjorkan kaki ketika baru sampai di lobi Hotel. Namun, ketika papanya memanggil kami untuk bergabung bersama di dekat kolam renang. Tiba-tiba saja Bibi semangat banget melesat ke arah Papanya, lebih tepatnya ke kolam renang dan lupa kalau baruu saja dia terlihat kelelahan. Waktu baru saja badan saya dihempaskan ke kursi, semua perlengkapan perangnya sudah siap, yaitu singlet dan celana dalam, dan langsung melompat ke kolam renang. Sesaat dia terdiam dan terlihat kaget. Bwakakak, ternyata eh ternyata kakinya langsung terhempas ke dasar kolam yang hanya berketinggian 40 cm. Fyuuh, tu anak melompatnya berlebihan siih.

Sebenarnya kalo saya putar balik, Bibi lagi balas dendam sama papanya. Soalnya, pagi-pagi papanya cerita ke saya kalau Bibi ini malas latihan renang dibanding kakaknya. Saat itu saya lihat, dia sih cuek-cuek saja. Ternyata sekarang dia bagai kesetanan. Kecipak ke sana kemari di kolam renang yang hanya 40 cm dan juga nggak begitu lebar. Aksiennya udah luar biasa bak perenang profesional, tapi hanya sekali nyelam. Soalnya belum-belum dia sudah ada di sisi kolam yang lain.

Baruu aja beres berenang dan mandi. Saat melewati kamar mandi di lantai dasar, dia melihat arena bermain ping-pong. Dan pengen main. Weleh-weleh, tu anak energinya nggak ada habis-habisnya deeh.

Bibi: Paaa, main ping pong yok Pa.
Papa bibi: Ya udah, Bibi yang bilang yaa (si Papa udah kelihatan lelah menemani ni anak)
Dan nggak disangka-sangka, Bibi langsung aja ngeloyor ke meja resepsionis. Saya yang dalam keadaan leye-leye di kursi malas, ya cuma nelan ludah dan bernapas. Nggak lama kemudian dia datang.
Bibi: Papa, ayo cepetan ke lantai 2.
Papa: Lah, katanya berani sendirii??
Bibi: Cepatlah temenin adek. Kata om-nya ambil bolanya di atas.

Dan begitu seterusnya kegiatan kami. Melihat Bibi yang berjalan ke sana kemari cari posisi, ambil tisu, basahin pake air dan nempelin ke wajah saya. Saya minta dipijitin kepala, eh dia malah nge-facial wajah saya pake aer. heleh-heleh.

Bibiii, I will miss youu soon. Muach. Kiss kiss.

Thursday, November 3, 2011

Oh Meeen..

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang hal yang cukup berat yang harus saya lakukan ketika berangkat ke kantor, maka saya akan dengan lantang menjawab:

"Saya menghabiskan waktu yang sangat lama ketika menyebrang jalan"

Saya benar-benar lemah disana. Sering nebeng sama orang kalo mau nyberang, bahkan nebeng sama bapak-bapak pemulung, bersembunyi di balik gerobaknya. OMG!! Poor me.. Wkwkwkwk


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...