Monday, November 21, 2011

Episodea - "Find a Good Life My Friend"

"I was surviving from my childhood. Lu nggak tau gimana gue. Ada banyak hal dalam kisah hidup gue yang nggak seindah apa yang dipikirkan orang," begitu tulisnya disms yang sampai ke hp saya.
Sms sederhana itu membawa saya lebih dalam dan mengetahui tentang kisah hidupnya. Terlalu banyak tangis yang terpendam mungkin, terlalu banyak rasa kasih sayang yang belum dirasakan, kisah yang mungkin akan saya dengar hanya dalam cerita melodrama telenovela atau sebuah sinetron yang mengiba-iba. Tapi itu nyata, itu yang keluar dari mulutnya. Dia bercerita diiringi dengan senyum, seolah-olah bisa menerima. Padahal saya tahu, mungkin dia ingin cerita, berteriak tentang hidupnya dan bertanya-tanya mengapa hal ini terjadi padanya.

Entah pertemanan jenis apa yang muncul diantara kami, mungkin memiliki latar belakang hidup yang samalah yang membuat dia tiba-tiba menceritakan siapa dirinya kepada saya. Bagi saya, dia teman yang baik, teman tempat bertanya, teman untuk berdiskusi, teman yang sederhana.

"Gw DO," ucapnya sekali waktu, ketika saya sibuk dengan kaki saya yang sedang gatal. Saya jadi menghentikan kegiatan saya dan menatapnya tak percaya. For real?? Serius? Kok bisa? Nggak mungkin ah. Becanda kaliii, semua pertanyaan itu berseliweran di kepala saya. Tapi saya hanya mampu membelalakkan mata, sekali lagi tak percaya.
"Sekolah gw nggak selesai. Limit waktu gw kuliah sudah habis yang waktu itu hanya 5 tahun dan saat UAS terakhir tiba-tiba gw kena demam berdarah. Gw serasa nggak bisa gerak lagi waktu itu. Tapi ternyata nggak ada keringanan sama sekali dengan perihal itu. Gw didepak, dikeluarkan dari universitas."

Saya hanya bisa menghela napas, sebegitu kejamkah universitas itu? Ternyata kisah sedihnya tidak mulai dari situ. Ada rentetan kisah lain, jauuuh sekali, ketika dia masih menjadi seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Mungkin saya akan coba menceritakan ini dari sudut pandangnya. Anggap saja saya itu dia.

Ibu dan Ayah bercerai ketika gw masih kelas 2 SD. Rasanya dulu hidup gw sempurna, punya ayah dan ibu yang sayang sama gw, di sekolah juga gw selalu juara meskipun nggak belajar. Tiba-tiba mereka cerai. Hak asuh gw diperebutkan, hingga akhirnya pihak yang diputuskan menang adalah ibu gw.

Tapi itu bukan berarti karena gw bersama ibu gw bisa memperoleh kasih sayang ibu. Gw tinggal nggak sama ibu, gw tinggal sama keluarga ibu. Disana, ditempat itu, gw diarahkan supaya gw membenci ayah. Kalau yang salah adalah ayah. Gw yang masih kecil itu pun, karena diarahkan seperti itu terus jadi mulai membencinya. Ditambah lagi, gw nggak pernah sama sekali ketemu ayah sejak itu. Sementara Ibu, meskipun memenangkan has asuh gw, dia sibuk dengan bisnisnya, sibuk dengan segala urusan pribadinya dan melupakan gw anak semata wayangnya. Dan memang gw terlupakan, menjadi anak yang harus bertahan sendiri dan hidup bukan dengan orang-orang yang menyayangi gw.

Hingga ketika gw kuliah, gw diperkenalkan dengan seorang ayah baru, ayah tiri gw. Dia orang yang baik, meskipun keras. Dan orang yang bisa gw ajak diskusi dan nyambung. Awalnya gw senang ada ayah baru, berarti gw nggak lagi harus banting tulang cari uang untuk membiayai uang kuliah gw.

Saya menatapnya bingung. Membanting tulang cari uang untuk kuliah. Kok?

Bisa gw bilang, ibu gw diktator. Apa maunya harus dituruti, harus begini harus begitu sesuai keinginan dia. Gw pernah berselisih pendapat dengannya dan uang kiriman buat gw dihentikan. Sejak itulah gw mulai berupaya supaya gw nggak putus ditengah jalan, apa aja gw kerjain. Mengajar les, bertukang, apa aja asal gw bisa terus kuliah. Dan waktu ada ayah baru, jujur aja gw senang karena mungkiiin, mungkin saja gw bisa dapat kiriman uang. Dan gw bisa fokus kuliah. Tapi itu hanya sementara, lagi-lagi yang jadi penghambat gw adalah ibu gw sendiri. Dia memutus uang bulanan gw, lagi-lagi. Hingga akhirnya hidup gw lebih banyak di luar sibuk mencari uang untuk mempertahankan kuliah. Perjuangan gw itu mungkin terlalu berlebihan hingga suatu hari ketika masa ujian akhir akan berlangsung, tepat hari itu, ketika itu jadi penentuan buat gw bisa memperoleh gelar sarjana atau tidak, gw malah terbaring tidak bisa bergerak, tidak bisa mengikuti ujian dan divonis terkena demam berdarah. Saat itu, universitas sama sekali nggak memberikan keringanan kepada gw, hingga akhirnya gw DO dari sana.

Dulu, sebelum gw masuk universitas. Ibu pernah bernazar akan belajar membaca Al-Qur'an kalau gw bisa lulus. Namun, hingga jalan 4 tahun gw kuliah, gw coba mengingatkan Ibu mengenai nazarnya, Ibu malah berkilah kalau dia banyak urusan dan sebagainya. Mungkin ini peringatan dari Tuhan, hingga gw nggak bisa lulus.

Gw nggak berhenti disitu. Ayah tiri gw masih ngedukung gw dan menemani gw mendaftar ke universitas lain. Gw mulai lagi dari awal, ikut tes lagi. Dan Alhamdulillah gw lulus. Ibu bilang, mungkin karena gw jauh dari Ibu kemaren. Namun, sekarang meskipun gw kuliah di kota yang sama dengan dia, sama sekali gw jarang bertemu muka dengannya. Gw hanya diberi rumah, pembantu, dan hanya itu. Hidup gw kosong, bulak balik kampus dan rumah dan sama sekali nggak ada orang. Hanya gw dan rumah. Meskipun lebaran datang, gw tetap nggak bertemu muka dengannya. Gw hanya tinggal di rumah yang diberikan. Saat gw ingin ke tempatnya menghabiskan waktu lebaran, dia bilang dia banyak urusan. Selalu begitu. Gw sendiri, gw kesepian.

Dalam masa kuliah gw di tempat baru, hal yang sama lagi terulang. Lagi-lagi Ibu menghentikan uang bulanan gw selang beberapa bulan gw menginjakkan kaki di kampus yang kedua itu. Dan lagi-lagi gw di DO, dan kali ini karena masalah biaya. Kalau saja gw hal ini nggak terjadi, mungkin gw udah lulus ya. Dan sekarang, jika gw pulang ke rumah, gw nggak tenang. Bahkan gw sering diusir berkali-kali. Gw harus pergi saja darisana, mungkin dalam waktu yang lama.

Meskipun ternyata, gw baru tahu bahwa ayah gw sering datang dan berusaha menemui gw ketika gw masih kecil. Selama itu juga, keluarga Ibu gw berusaha menyembunyikan gw, hingga gw nggak pernah ketemu dengannya. Waktu gw sudah dewasalah gw baru bertemu dan tahu betapa sayangnya dia dengan gw. Sekarang gw tahu, bahwa kasih sayang ayah gw jauh juga besar dan sama seperti seorang Ibu, bahkan mungkin jauh dari Ibu gw.
Tapi gw tetap nggak benci sama dia. Kita nggak boleh durhaka dengan orang tua.

Dia bertutur tentang hidupnya ke saya. Tak pernah saya bayangkan hidup dia seruet itu. Ibu yang seharusnya jadi tempat berkeluh kesah, ibu sebagai tempat memperoleh kasih sayang, malah sesuatu yang berkebalikan.

Dia selalu bilang ke saya, harus sayang orang tua. Bilang ke saya supaya banyak-banyak doa buat orang tua saya dan terutama buat papa saya yang sudah tiada. Dan saya disini akan bilang ke dia: I have two ears to listen your story and two thumbs to write a message, my friend.

"Find a Good Life, Good Career, and Good Man" dia bilang begitu ke saya. Dan akan saya simpan baik-baik ceritanya ini dengan segala nasehatnya.

Buat teman saya, saya cerita ini sesuai perjanjian kita "No Name", hanya sepenggal kisah untuk yang lain, yang nantinya bisa jadi pelajaran. Supaya bisa menjadi lebih baik lagi. Saya ubah sedikit ceritanya yaa, tapi tetap pada jalurnya kook. Semoga apa yang saya tulis tidak berlebihan.

"So Long, my friend. Hopefully, we meet again. And Find a Good Life!!!"



Monday, November 7, 2011

My baibi - Balada Bibi

"Tanteee, tante nanti tidurnya sama adek ya?"
"Tante, nanti tante tidurnya di sini ya!"
"Lah memang nanti adek tidur dimana?", sahut saya
"Adek tidur di sini," sambil mempersiapkan bantal di lantai. Aduuh ni anak, peka dan sangat melayani sekali.
Ini percakapan singkat saya dengan ponakan, saat Hari Raya Idul Adha kemaren. Ponakan nakal saya,kakak serta suaminya datang ke Jakarta, mengunjungi saya *ngarap* lebih tepatnya berlibur kemari. Kata Papanya, pengen bawa anak-anak naik pesawat.

Saya mau nge-zoom ke cerita Bibi, ponakan saya. Nama lengkapnya Nabila Balqis, biasa dipanggil Bibi, anak item manis kelahiran 2005, mata sipit tapi bulat, rambut cepak (kemaren pas saya tinggal, rambutnya dipotong. Pas kemaren saya singgung tentang rambutnya kok pendek juga, mamanya bilang, "seperti biasa dia guntingin lagi rambutnya sendiri"), dan rada gemukan ( ini juga, perasaan saya tinggal masih ceking, kok sekarang gemukan? cepet banget).

Bibi ini anak cerdas versi zaman sekarang. Anak yang mengungkapkan apa yang dia mau dengan caranya sendiri. Mandiri banget dan amat sangat pantang menyerah, meskipun umurnya baru 6 tahun. (Sebenarnya saya sudah cerita tentang dia di blog saya yang lain, blog versi melambai. Hehehe). Banyak cerita lucu dan menggelikan yang sering dibuatnya, berbagai versi drama untuk mendapatkan kemauanya sering dia lakoni. Mendengarnya saja saya sudah terpingkal-pingkal, apalagi saat saya jadi korban aksinya. Dalam dua hari keberadaannya di Jakarta saja, sudah ada banyak cerita.

Saat lagi menginap di sebuah Hotel di dekat Kota Tua

Bibi suka banget berenang. Nggak juga sih sebenarnya. Kata Papanya, kakaknya Gigin lebih jago berenang dan rajin latihan. Sampe 20 kali bolak balik dijabanin (OMG, saya bahkan 1 kali bolak balik aja nggak bisa, kecipak-kecipak dikit langsung tenggelam kalo nggak pake pelampung). Si Bibi malah bisa dibilang kayak ikan, nampak kolam ya pengennya nyebur. Nggak perduli apa kata orang, pokoknya nyampe-nyampe buka baju tinggal singlet dan celana dalam, lompat.

Ini reka ulang cerita dari kakak saya, yang notabene-nya mamanya Bibi. Dengan lemah gemulainya dia memencet angka nol di telepon hotel yang menghubungkannya ke meja resepsionis.

Bibi: Halo..
Resepsionis: Halo, selamat siang. Ada yang bisa dibantu?
Bibi: Oooom (ingat bacanya versi anak kecil ya!!), adek boleh mandi di kolam renang nggak?
Resepsionis: (ternyata resepsionisnya pria) Boleh
Bibi: Adek boleh berenang sama Papa adek, nggak?
Resepsionis: Boleeeh
Bibi: Tapi adek nggak bawa baju renang. Di sana ada nggak om?
Resepsionis: Ada. Tapi belinya di luar.
Bibi: Yaaah
Resepsionis: Mamanya adek ada nggak?
Bibi: Maaa, kata om-nya dia mau ngomong sama mama!!
Mama Bibi: Mama malas ngomongnya, adek aja yang ngomong (kata kakak, dia malas nerima. Paling tu resepsionis marah-marah karena diisengin si Bibi).
Bibi: Oooom, kata mama adek, mama nggak mau ngomong sama om.
Resepsionis: (DOENG!!.. kesannya dia ngejar-ngejar emaknya ni anak. Padahal niat ngomelin)..

Saat naik sepeda onthel.

Dia diboncengin Papanya, dan saya diboncengin mamanya (saya nggak biasa berkendara. Saya sih jagonya jalan kaki, kalo yang lain masih amatir). Kita naik sepeda onthel yang ada dua kayuhan. Bibi semangat banget ngayuhnya, saya yang duduk di belakang yang setara ama dia, juga semangat banget ngayuhnya. Nggak mau kalah. Sampai pada suatu titik, tiba-tiba Bibi ngomel-ngomel.

Bibi: Papa ni, Papa nggak ada ngayuh haa. Adek aja yang ngayuh sendiri.
Papanya: Eh, siapa bilang Papa nggak ngayuh. papa ngayuh kok (padahal sebelumnya papanya bilang, enak ni ada yang ngayuhin).

Tiba-tiba saat saya memacu sepeda mereka, dia langsung nangis.
bibi: Papaaaaa, ayo Pa cepat Pa. Papaaa, kayuhlah Pa. Capek adeek nii.

Bwakakak, kebiasaan di depan siih. Giliran kita pacu, jadi nggak tenang. Saat sampai di tempat peminjaman sepeda onthel, ternyata energinya belum habis juga. Dengan melobi si mas-mas penjaga sepeda (oke, Bibi nggak melobi harga, hanya melobi sepeda apa yang mau dia pakai buat main lagi di pelataran Kota Tua. Urusan bayar siih dia serahin ke mama papanya. wkwkwk). Saya ngikutin dia main. Ya ampuun, dia gigih banget belajarnya. Dari nggak bisa jadi bisa. Terus berputar bersama sepeda pinjaman sampe saya "yang baik ini" ngos-ngosan ngikutin dia bergerak ke sana kemari.

Saat sampai di Hotel di pusat kota

Ceritanya mereka pindah hotel. Berhubung si Mama pengen belanja ke Mangga Dua. Emak-emak banget lah kakak saya ini. Saat saya tanya rencana dia akan kemana kalau ke Jakarta, dia langsung me-list semua daftar tempat belanja yang akan dia kunjungi, seperti Tanah Abang, Blok M, dan Mangga Dua.

Balik lagi ke Bibi, awalnya dia masih tenang-tenang saja menyelonjorkan kaki ketika baru sampai di lobi Hotel. Namun, ketika papanya memanggil kami untuk bergabung bersama di dekat kolam renang. Tiba-tiba saja Bibi semangat banget melesat ke arah Papanya, lebih tepatnya ke kolam renang dan lupa kalau baruu saja dia terlihat kelelahan. Waktu baru saja badan saya dihempaskan ke kursi, semua perlengkapan perangnya sudah siap, yaitu singlet dan celana dalam, dan langsung melompat ke kolam renang. Sesaat dia terdiam dan terlihat kaget. Bwakakak, ternyata eh ternyata kakinya langsung terhempas ke dasar kolam yang hanya berketinggian 40 cm. Fyuuh, tu anak melompatnya berlebihan siih.

Sebenarnya kalo saya putar balik, Bibi lagi balas dendam sama papanya. Soalnya, pagi-pagi papanya cerita ke saya kalau Bibi ini malas latihan renang dibanding kakaknya. Saat itu saya lihat, dia sih cuek-cuek saja. Ternyata sekarang dia bagai kesetanan. Kecipak ke sana kemari di kolam renang yang hanya 40 cm dan juga nggak begitu lebar. Aksiennya udah luar biasa bak perenang profesional, tapi hanya sekali nyelam. Soalnya belum-belum dia sudah ada di sisi kolam yang lain.

Baruu aja beres berenang dan mandi. Saat melewati kamar mandi di lantai dasar, dia melihat arena bermain ping-pong. Dan pengen main. Weleh-weleh, tu anak energinya nggak ada habis-habisnya deeh.

Bibi: Paaa, main ping pong yok Pa.
Papa bibi: Ya udah, Bibi yang bilang yaa (si Papa udah kelihatan lelah menemani ni anak)
Dan nggak disangka-sangka, Bibi langsung aja ngeloyor ke meja resepsionis. Saya yang dalam keadaan leye-leye di kursi malas, ya cuma nelan ludah dan bernapas. Nggak lama kemudian dia datang.
Bibi: Papa, ayo cepetan ke lantai 2.
Papa: Lah, katanya berani sendirii??
Bibi: Cepatlah temenin adek. Kata om-nya ambil bolanya di atas.

Dan begitu seterusnya kegiatan kami. Melihat Bibi yang berjalan ke sana kemari cari posisi, ambil tisu, basahin pake air dan nempelin ke wajah saya. Saya minta dipijitin kepala, eh dia malah nge-facial wajah saya pake aer. heleh-heleh.

Bibiii, I will miss youu soon. Muach. Kiss kiss.

Thursday, November 3, 2011

Oh Meeen..

Jika ada yang bertanya kepada saya tentang hal yang cukup berat yang harus saya lakukan ketika berangkat ke kantor, maka saya akan dengan lantang menjawab:

"Saya menghabiskan waktu yang sangat lama ketika menyebrang jalan"

Saya benar-benar lemah disana. Sering nebeng sama orang kalo mau nyberang, bahkan nebeng sama bapak-bapak pemulung, bersembunyi di balik gerobaknya. OMG!! Poor me.. Wkwkwkwk


Saturday, October 22, 2011

Next Target

Pengen belajar:
a. buat jadi technical writer
b. pake adobe photoshop dan ahli
c. pake corel draw dan ahli juga (dasar kemaruk)

poin a dalam progress
poin b dan c: bisa nggak yaa.. akhir-akhir ini kalo pulang kerja suka kecapean.. hiks
(Source gambar: http://bisnisukm.com/wp-content/uploads/2011/04/Target.jpg)

Friday, October 7, 2011

Love Travelling Very Much

Like travelling so much. Jika ada yang nanya pada saya, apa hobi saya? Dulu, saya akan menjawab saya suka baca (novel,komik), suka nulis (cerpen,novel..in progress), dan suka tidur. Tapi sekarang hobi saya sudah nambah: saya suka travelling, sangat suka. Tapi sesuka-sukanya saya untuk bepergian, sama sekali nggak ada dalam kamus hidup saya untuk datang lagi ke tempat sama. Mungkin pengertian saya ke suatu tempat, ya sedikit dangkal. Cukup kesana, nikmati sepenuhnya. Kalau ada keluhan, ya boleh aja. Namun, jangan jadikan hal itu bagian dari merusak kesenangan kita dalam travelling dan bla bla bla.

Saya mulai rajin travelling itu, baru akhir-akhir ini loh (siapa juga yang nanya..ahiakahiak). Saat saya sudah bisa menghasilkan uang sendiri, a.k.a nggak mau ngerepotin orang tua hanya untuk kesenangan pribadi (ceritanya lagi jadi anak berbakti kepada kedua orang tua). Hobi ini muncul awalnya karena saya bosan banget dengan rutinitas kerja saya akhir-akhir itu. Hanya duduk di depan laptop, mengerjakan kerjaan yang sama, daan orang-orang yang sama, daan dalam jangka waktu yang lama. Kalaupun kosong saya hanya mendekam di kamar, jagain kosan supaya nggak hilang ketiup angin, tapi Alhamdulillah nggak ada angin yang berniat menerbangkan kosan. Jadilah saya memulai perjalanan ke Kota Tua. Jalan-jalan pertama saya pakai uang gaji. Dan sejak hari itu, saya sudah melakukan travelling ke 6 lokasi loh. Sebut saja, Kota Tua, Berlayar di Kepulauan Seribu, Green Canyon, Pantai Batu Hiu, Pulau Tidung, dan yang baru-baru ini ke Ujung Kulon (saya belum lengkap ni review ni daerah, entar pas ada mood tak tulis deeh).

Lumayan banyak juga ya, dalam 1 tahun ini. Menurut saya, perjalanan ini sudah banyak banget dibanding saat saya masih sekolah dulu (Dulu lebih sering jaga gawang sekaligus malas jalan karena nggak punya penghasilan, serta terpaksa demen nonton dorama korea atau jepang. Hahahaha) Belum lagi, kalau Tuhan mengijinkan pada akhir Oktober ini, saya akan ikut bisnis trip ke Bali, Lombok, dan Kupang (dulu juga jadi bisa menginjakkan kaki ke Bontang, Kaltim berkat kerjaan). Syudududu. Senang sekali, pergi ke tempat yang saya targetkan mau dituju di akhir tahun (tapi saya nggak jadi berangkat mengingat hal-hal lain yang lebih penting), dibiayai kantor pula. Kurang apa coba. Nginapnya kemungkinan di Hotel pula (saya udah browsing hotel yang ciamik punya dah. Paling ngos-ngosan browsing hotel di Kupang, sedikit mengerikan deskrispsi dari para turis. Entar baca bismillah ajalah pas kesana). Yeyeyeye.


(Sumber Gambar: http://paulstoutonghi.files.wordpress.com/2007/08/traveling.jpg)

Sebenarnya inti jalan-jalan saat ini bagi saya untuk menghilangkan kebosanan, berusaha mengenal dan berdialog dengan diri sendiri untuk mencapai ketenangan sembari melihat keindahan alam. Mengapa? Karena ketika kalian berusaha mengenal alam sekitar, melihat kegiatan apa saja yang ada di alam kalian pasti akan menyadari bahwa pada hakikatnya manusia juga hidup seperti alam. Menyesuaikan diri atau beradaptasi. Tetapi jalan-jalan bagi saya belum sampai ke tahap sengaja mengejar situs wisata untuk mengenal nilai sejarah. Sekarang juga saya masih belum se-suhunya temen-temen travelling saya yang di T-backpacker, secara umur travelling saya masih seumur toge. Gila deh mereka, organize banget. Pergi ke suatu tempat, otak mereka langsung kalkulasiin harga, tanya para pekerja yang ada di lokasi wisata buat men-survei harga, dan langsung merunut itenari kalau-kalau berniat lagi kesana. Saya masih cuek-cuek aja, masih mengekor sama mereka (untung ada mereka). Hahaha. Tetapi saya rada heran juga ya, kenapa kalau kerjaan saya bisa mengorganize, giliran backpackeran saya malah seperti nggak ngerti apa-apa. Hmm, kalau dipikir-pikir backpackeran saya baru dua kali ya, jadi masih dikitlah ilmu saya dibanding mereka, mesti banyak belajar lagi nih. Ajari saya ya mbak-mbak, mas-mas, kakak-kakak, dan teman-teman. (>.<) mohon tunjuk ajarnya.

Saya baru terpikir quote hari ini:
-Belajar backpackeran itu adalah belajar untuk mengenal dunia dengan harga yang sederhana-
DY

Pesan: Please banget ya teman-teman, kalau yang suka backpackeran jangan buang sampah sembarangan ya. Kalau mau mengenal alam, belajar juga untuk menjaganya. Kasian anak cucu kita entar, mau jalan-jalan ke pantai bukan pasir pantai yang dilihat, malah sampah yang menumpuk. Ironis sekali ya.

Wednesday, October 5, 2011

Ujung Penantian

Deburan air yang menabrak karang terdengar jauh dipesisir pantai, menyisakan buih-buih ombak yang mengalir lambat di sela-sela batu. Gemerisik dedaunan yang terbang dipermainkan angin bergerak menelusup di antara pepohonan yang berbaris rapat di dalam hutan. Jalan setapak yang melintasi hutan ditumbuhi rumput dan semak belukar, beberapa pohon tumbang menghalangi jalan, mempersempit jarak yang ada.

Bunyi langkah yang bergerak perlahan menelusuri jalan setapak itu tak henti-hentinya terdengar. Seolah-olah ada belasan manusia yang berusaha berpindah dari satu titik menuju ujung yang tidak sabar mereka lihat. Belasan manusia yang membawa segenggam harapan mengenai sesuatu yang akan mereka temui di ujung sana. Sesuatu yang mereka rasa adalah sesuatu yang berharga. Sesuatu yang sengaja mereka cari hingga menyisihkan waktu, tenaga, bahkan uang untuk mencapai tempat itu. Manusia-manusia itu adalah manusia yang haus akan perjalanan, haus akan petualangan, dan juga haus akan pertemanan. Bergabung dalam sebuah rombongan yang tidak terlalu mereka kenal, namun sama sekali tidak menjadi masalah karena toh mereka memiliki satu tujuan. Tujuan sederhana untuk mengenal alam.

Perjalanan yang cukup memakan waktu. 45 menit di bawah naungan pepohonan yang menelusupkan cahaya keemasan matahari yang mulai menenggelamkan diri. Rasa lelah itu terlupakan saja ketika mereka sampai di ujung penantian sana. Pepohonan yang rimbun dan rapat tergantikan dengan padang rumput yang dikelilingi tebing dan batu karang. Cahaya matahari tak lagi bersinar malu-malu, namun dengan lantang menyinari rumput yang menghampar. Deburan ombak tak lagi terdengar jauh dan dengan berani menghantam karang yang berdiri kokoh melindungi daratan. Manusia-manusia itu bergerak menyebar. Mencari tempat menarik bagi mereka masing-masing. Berkumpul di sana sambil melihat pemandangan yang disuguhkan alam, menikmati dengan cara mereka masing-masing, mungkin hanya dengan berdiam diri, berlari kesana kemari, atau mengambil gambar sebagai kenang-kenangan....

-dibuat setelah trip ke Tanjung Layar, Ujung Kulon, 30 Sept s/d 2 Okt 2011-

Sunday, September 25, 2011

Food like Hell

Beberapa makanan pembunuh yang harus saya jauhi jika berbuka puasa:
1) Makanan yang terlalu manis
2) Makanan yang berbau ikan dan amis
Dijamin keluar beberapa menit kemudian.

Kalau kebanyakan makan donut, meski saya suka coklat. Ternyata ditemukan fenomena pembalikan isi perut
Makanan di atas nggak cocok buat perut saya. No Bread in my lunch and my dinner + no fish

Sekarang saya sadar sesadar-sadarnya bahwa saya orang Indonesia yang asli. Makanan pedas adalah favorit saya.


Derita di Minggu Sore
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...