Saturday, October 13, 2012

Life Travelling


(Suatu saat ingin ke sana. Menikmati kedamaian dalam ketenangan. Rasa-rasanya saya melihat gambaran tempat di novel yang saya tulis. Kasian sudah terkubur hingga 2 tahun belum saya lanjutkan)

Sudah lama sekali rasanya saya tak mencoba mengaitkan kata tanpa aturan
Bidang yang saya geluti mewajibkan saya menulis mengikuti grammar dan semua antah berantah yang terkadang membutuhkan tanggapan orang, kritikan, dan hal-hal membangun yang sedikit banyak membuat saya juga terluka, meski saya tahu ada ilmu di sana
Saya sedang tidak mencoba menjadi buta, tuli atau keras kepala
Hanya saja, akan ada kan rasa kecewa dengan buah karya yang tak dirasa sempurna, baik bagi mereka dan tentu saja bagi saya selaku subjeknya

Saya teringat tulisan saya yang sudah terkubur dalam folder folder komputer yang tak lagi sempat saya jamah
Rencana-rencana dan jadwal pembunuh waktu yang saya siapkan sebelumnya sebagai amunisi saya menghabiskan malam sepi sudah tergantikan dengan lembur tak berujung dan sikap tepar sempurna
Entah saya saja yang malas, entah sudah bosan menatap layar selama bekerja, entah inspirasi saya yang sudah terbenam jauh ke dasar sana, yang jelas, tulisan yang sudah saya rangkai masih menanti untuk dilanjutkan.

Friday, September 28, 2012

Breath..

I feel afraid to start it
I encourage my self, say to my self, "Yes, you can do that, Dina!!
Going extra miles
Fall in the mud
Don't know what to do
Track what can I do
Learn and absorb in one time

Yeah, You should learn!!
Remember this statement from friend of mine.
I say to my self, there is the first step in every journey
Learn more! Learn more!

Bismillahirrahmanirrahiiiiim..
Positive Positive Positive Thinking..


Monday, September 24, 2012

Lintas Peristiwa - Kekuatan Si Jago Merah

Berperan sebagai pelita dan berubah menjadi sumber mara bahaya. Begitulah tepatnya analogi yang sering menggambarkan si Jago Merah. Kekuatannya tak pelak meluluh lantakkan 10 rumah warga di kawasan Kali Pasir, Cikini Menteng. Lokasi kebakaran yang sangat dekat dengan kosan tempat saya berteduh.

(Pemantauan Kebakaran Jarak Jauh)

Pagi ini, Senin (24 Desember 2012), tepatnya pukul 09:30 WIB, salah seorang rekan kerja melihat asap hitam membumbung tinggi dari arah perumahan, tempat kami bermukim. Asap hitam dan tebal itu memenuhi angkasa dan melatar belakangi langit pagi yang terlihat mendung.

Karena posisi kebakaran yang tidak jelas dari arah mana, maka saya dan beberapa rekan kerja langsung menuju TKP untuk memastikan  posisi titik api dan tentu saja menuju kediaman masing-masing untuk mematikan saluran listrik yang mungkin saja masih terpasang. Berharap dalam keadaan was-was bahwa sumber api itu tidaklah berasal dari kosan kami. Alhamdulillah, posisinya cukup jauh dari tempat tinggal kami, namun hanya berjarak 100 m dari posisi kediaman rekan kerja saya yang melihat pertama kali asap tersebut.

Friday, September 21, 2012

10th: Maen maen ke Puncak Antah Berantah..

Naik naik ke puncak ke gunung
Tinggi tinggi sekali

Kamis lalu saya mempraktekkan lagu ini, bedanya saya naik ke puncaknya pake angkot. Naaah, apa yang saya cari di puncak itu? Nggak ada tuh, hanya jalan aja. Niatannya muncul gara-gara semua anggota di kantor saya bukan orang asli Jakarta, akibatnya nggak ada yang ikut Pilkada Gubernur DKI Jakarta, efeknya kita coba cari pelarian daripada bengong jagain kosan yang mulai didominasi oleh nyamuk, hasilnya kita tahu rute angkot ke puncak. Taraaaaa.. Beri tepuk tangan meriaah buat saya dan teman-temaaan.

Tapi kalau kalian dengan cerdasnya nanya, bagian puncak Bogor yang mana yang kita datangi. Well, pertanyaan itu agak berat saya jawab. Sebab, hwhahhaha, kita juga nggak tahu turun di puncak bagian mana. Berhubung saya lagi bermurah hati, bagi-bagi info, bagaimana saya mencapai puncak yang antah berantah itu, maka saya jabarkan rutenya:
  • Kalo kalian orang Jakarta, naik Commuter aja ke Bogor, harga tiket 7.000 rupiah. Perjalanan memakan waktu 1 jam. Sampai di stasion, cari angkot 02 
  • Angkot 02 ini ngetemnya di depan stasion, bilang ke si supir buat diturunin di tempat angkot arah Cisarua berada. Jika beruntung, kalian diturunkan di tempat yang tepat. Harga 2.000 rupiah saja.
  • Naik angkot Cisarua sampai ke tempat dia berhenti terakhir. Memakan waktu 2 jam, sebab dibarengi dengan macet, jalannya super sempit, angkot ama kendaraan bejibun, ada yang parkir sembarangan, pokoknya kusuuut-kusuuuut banget tu jalur. Berantakan. Harganya 5.000 rupiah.
  • Dari sini naik angkot yang ngetem di sana, yaaah mereka teriak-teriak, mau kemana neng?? Teman saya bilang mau sholat, ada mesjid di atas. Jadi kita kesana. Perjalanan sekitar 30 menit. Karena si bapak pake prinsip ekonomi, Supply and Demand, kita bayar 4.000 rupiah dengan jarak segindang.
Sampai disana, kita langsung kelaparan dan memakan segala makanan yang ada di atas. Lalu main-main di kebun teh. Melakukan kegiatan tak berguna seperti berjejer di kebun teh memasang wajah ceria, memajang wajah narsis di depan kamera, dengan alasan ingin mengabadikan momen penting. Terus kelaparan lagi. Terus nunggu angkot lagi, tentunya buat turun dari puncak entah bagian mana itu, yang kata teman saya "yang penting nemu kebun teh". Terus akhirnya ada angkot yang muncul setelah sekian lama ngetem, sambil jaga iman teman saya supaya dia nggak kalap tiba-tiba pengen beli ubi cilembu yang dari tadi dipelototinnya di salah satu warung, atau hampir berniat ngarahin satu jempol ke mobil yang lewat sambil bilang: "Joki bang? Area six in one" (soalnya kita berenam, saking kahwatirnya angkot nggak ada.. bwhahaha).

Sesampai di bawah, turun buat naik angkot 09 untuk menuju suatu tempat makanan yang nggak recommended bgt, karena akhirnya kita marah-marah, sebab ni tempat rada susah dicari dan rasanya "biasaaa ajaaa". Dan setelah dari sana, si Bogor pamer air mata, ngasih tau kemampuannya sebagai kota hujan dan pulang lah kita kembali ke Jakarta. Saya masih kelaparan, jadinya beli mi lagi lah di Jakarta, ketika kereta tiba. Bwhahahah.

 Di Pucuk Teh..


Monday, September 17, 2012

Update Pertengahan Tahun Lebih Sedikit 2012

Matahari bulan September dengan nanarnya menyirami saya di ruangan ber-AC ini. Sengaja mengambil posisi di dekat jendela, posisi teman saya yang sedang terbang ke pojok Barat Indonesia, supaya tidak ketahuan sedang membuat blog oleh kolega saya. Hahaha. Tapi sebenarnya tak salah juga, kebetulan saya tidak punya jadwal mencekik. Yaaah, setidaknya semuanya sudah saya kerjakan kemaren. Alhamdulillaaah.

Sebenarnya tak ada yang spesifik dengan catatan saya pagi ini. Hanya catatan-catatan akumulasi yang redundan melompat-lompat di otak saya, mengenai hari-hari, yang tentunya tidak seintens dulu saya paparkan di blog ini. Urat menulis saya sedang kembang kempis, tertimbun lautan pekerjaan yang tak ada habisnya. #sedikit hiperbola (haha, saya sampai mencari kata yang tepat di google untuk mengungkapkan ini. Tumpul sekali kosakata saya dengan tidak menulis).

Saya
Kemaren, waktu hanya saya habiskan di kamar saja. Rasa malas mendera untuk bergerak. Tetapi saya tidak semalas itu, hanya untuk tidur-tiduran di hari yang senggang. Mata saya mencari-cari sesuatu yang rasa-rasanya bisa dibaca untuk membunuh waktu yang bergulir dengan sesuatu yang dinamis, sesuatu yang ada tambahan, tak statis.

99 Cahaya di Langit Eropa

Thursday, September 6, 2012

My Rule


Rule No.1
Never try, then never know
Whether you success or fail

Rule No.2
Clear your mind..
Take a breath, inhale.. exhale.. inhale.. exhale..
Be patient and control your self

One Day..

(Source: here)

One day (x3)

[Charice - Verse 1]

They're not gonna keep me down
They're not gonna shut me out
They're gonna do what they do, I'll do me
I'm going against the crowd
I'm drowning out the doubt
They're gonna do what they do, I'll do
Something original, be unforgettable
They're gonna know my name
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...