Friday, June 8, 2012

9th Destination: KL - Walking around

Atasan saya pulang duluan dan saya terdampar sendiri di sini. Apa yang harus saya lakukan?? Saya kan berstatus accompanying person, dan hanya memiliki akses yang terbatas. Sangat terbatas. Saat saya berjalan dan melihat pameran, adrenalin sudah turun dan nggak terlalu semangat lagi. Lagian stand yang pengen banget saya kunjungi tidak ada orang teknisnya, jadi ya sudahlah saya ngetem dulu di musholla.

Berbekal peta asal comot, saya mencoba mencari cara untuk membawa oleh-oleh ke tanah air. Anak-anak pada berharap di kampung halaman sana. Saya menatap peta dengan seksama, mengestimasi waktu menuju ke tempat apa dan berpikir ulang. Melihat bawaan tas punggung saya yang cukup aduhai dan berukuran bombastis, sebab saya sudah check out dari Hotel. Akhirnya saya putuskan, saatnya berangkaaat. Lihat kemana kaki akan melangkah dan membawa saya. Hwahahaha.

Ini Pengalaman di 8 June 2012

Pengalaman ke Stesen LRT
Orang di KL menyebut Commuter itu LRT. Karena saya berada di kawasan KLCC, maka saya coba naik Kelana Jaya LRT. Berkali-kali saya menanyakan kepada orang bagaimana mencapai stasiun kereta api tersebut. FYI, ini stasiun bawah tanah ya. So cool di sini, jauh banget dari negara saya.

Saat sampai, saya bingung, tidak ada orang yang melayani pembelian tiket, semuanya mesin. Maklum, baru pertama ke luar negeri, yang cukup maju dari kampung halaman. Saya excited dan deg-degan, memandang mesin penjual karcis dan bingung. Laaaamaaa sekali saya berdiri di depan sana. Hingga akhirnya ada saya bertanya pada seorang perempuan muda. "How can I operate this machine? Hehe, I don't understand."

Trus dia nanya, "Mau kemana kah?" Saya bingung, "Sebenanrnya saya mau beli souvenir. Dimana ya? Hmmm, saya pikir saya mau ke Central Market." Kemaren entah bagaimana saya mencomot sembarang  brosur yang menceritakan tempat itu. "Oooh, Pasar Seni?" ucapnya. "Dekatkah Central Market dari sana?, tanya saya. Saya kan lihat petas, posisinya seperti jauh. "Ya, dekat." Then, she helped me. Bingung masukin uang kemana, jadi si orang baik itu memberi penjelasan lagi, "Ini buat koin, Ini buat uang kertas."

Daan, taraaa, saya berhasil mendapatkan token (semacam koin plastik = tiket itu). Saat mau ke antrian, saya dihadapkan dengan mesin entrance, dan saya bingung. Lihat intruksi, saya malah meletakkannya di layar instruksi. Oooh, tidak berhasil. Ada sesuatu yang bergambar koin, saya coba sentuh, daaan pintunya terbuka. Lallala, ini yang namanya coba-coba dan trial and error. Girang sekali hati saya tadi. Bwakakakak.

Central Market
(Central Market - Near Pasar Seni Stesen)
 
Saya sendirian, berjalan tanpa arah. Memasuki tempat yang ternyata tinggal sekali menyebrang dari posisi stasiun LRT Pasar Seni tadi. Biasalah, ngekor aja kemana orang yang keluar melangkah, bwahahaha, kalau tidak, saya bisa tersesat. Hohoho. Kalau nggak ngerti lagi, tinggal tanya orang. Sudahlah, lepaskan malu-malu itu. Berbekal bahasa inggris haha hihi dan Indonesia saya sampai juga. Yuhuhuuu.

Pada intinya Central Market itu pusat penjualan aneka macam buah tangan. Ada macam-macam buah tangan yang bisa dibawa. Mulai dari kerajinan tangan khas melayu, india dan China. Memang di sini mengindikasikan serumpun bangsa yang tinggal di negara ini.

Saya jalan dan terus berjalan. Oh mameeen, harga di sini mahal-mahal. Sebab saya mengkonversikan semua yang tertera ke rupiah, di kali tiga ribu saja. Lumayaan. Seru juga berjalan di lokasi seperti ini. Tempatnya tidak terlalu ramai, hanya ada sedikit pengunjung. Mungkin karena bukan holiday. Ada banyak pilihan, dan saya berjalan naik turun tangga mencari apa yang rasanya seru bagi saya. Yang sedap dipandang mata dan sesuai bayangan saya.
(Sometime it was excited to track the place without thinking too much)
 
Ujung-ujungnya, bwahahha, saya beli benda yang umumnya dibeli oleh orang yang membawa oleh-oleh. Yang sewajarnya saja dan cucok di kantong. Saat saya berbelanja makanan, ibu yang berjualan itu bertanya, "Sendirian saja." "Iya, Bu" "Kuliah atau jalan-jalan?" "Ikut konferensi, Bu" "Biasanya ramean yang datang ke mari" "Oh gitu, banyak ya orang Indonesia kemari, Bu?" "Iya. Tetapi mereka sering bilang mahal di sini. Memang, nilai mata uang Indonesia kan lebih rendah ya"

Bwahahha, bener aja ni Ibu. Udah kenal tipikal bangsa kita. Bwahha, negara saya masih ekonomi rendah. Dan itu juga terjadi sama saya, setiap makan, konversi ke rupiah, setiap naik angkutan, konversi ke rupiah. Memang perlu membedakan negara ini. Di sini biaya hidup mahal betool. Pantas saja banyak orang Malay berbelanja ke Indonesia. Karena murah tooo.
(Salah satu sudut kota KL, near Pasar Seni Stesen)
 
Dan perjalanan itu berakhir dengan kembalinya saya ke hotel. Nanti saya cerita, hal apa saja yang perlu diperhatikan selama di Malaysia. Meski baru sekali berjalan, saya bisa sedikit paham, bahwa di sini lebih teratur. So, wait My Next Story in respect of this Topic. Jangan khawatir, selama kita di negeri orang. Jangan takut bertanya. Karena dalam setiap perjalanan, kita akan menemui orang baik yang akan menuntun kita ke tempat tujuan. Always believe!!

Kereta api itu meliuk-liuk dalam terowongan. Dan hanya dalam beberapa menit, saya sudah sampai saja ke tempat tujuan.
(Jumat Pagi di Tanah Malay)







No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...