(Source: here)
#Scene 1
Gambar di layar petak itu memperlihatkan bayangan bergerak dengan kecepatan yang tak wajar. Suara teriakan ketakutan mengalun, mengiringi gerakan dengan lengkingan tajam yang semakin tinggi dan tinggi. Dia yang merasa pemberani dan mampu melahap semua tayangan yang ditampilkan di sana, bergerak mundur dan bersembunyi di punggung ayahnya.
"Aku nanti tidur dekat Papa, yaaa!" rengeknya lebih kearah perintah.
#Scene 2
Matanya menatap nanar ke arah bahan masakan yang akan dia buat bersama ayahnya. Dia sangat bersemangat sekali hari itu, ikut dalam kegiatan eksperimen memasak. Dapur kecil yang terbuat dari kayu, tempat dia dan ayahnya berada sekarang, berderak-derak ketika dia dan ayahnya sibuk menyiapkan bumbu masak. Tidak jelas juga dia sedang menyiapkan apa, yang penting bergerak. Begitu pikirnya. Hal ini terpaksa mereka lakukan sebab ibunya sedang bersama kedua adiknya di kampung halaman.
Ayahnya dengan semangat mencoba menggiling cabe. Hal yang tak pernah dia lakukan jika ibunya ada di rumah. Dia, gadis itu, hanya duduk bersimpuh disamping ayahnya dengan mata sipit yang semakin menyipit, saat ayahnya menambahkan bumbu tak biasa saat menggiling. Inovasi, begitu kata ayahnya.
Saat dia duduk bersimpuh lagi di depan nasi dan lauk yang sudah masak, dia tetap makan dengan lahapnya. Makanan itu tetap terasa nikmat dengan perut yang lapar.
#Scene 3
Ayahnya marah besar hari itu. Dia tak ingat mengapa. Yang jelas, saat yang dia ingat adalah saat dengan semangatnya dia mengemasi pakaiannya di kamar dengan berurai air mata. Dia merasa sangat sedih saat itu, merasa sangaaat tidak berdaya dan tidak disayangi.
Bertanya-tanya mengapa nasibnya begini, padahal dia baru kelas 3 SD. Dia sudah siap, siap untuk lari dari rumah. Buat apa dia tetap berada di sana, jika dia tidak disayangi. Namun, tindakan itu tidak jadi dia lakukan, saat ayahnya menyapa dia lagi dengan hangat. Dia lupa dan dia senang.
#Scene 4
Hari itu hari besar. Setidaknya buat dia. Dengan semangat dia pergi bersama ayah dan ibunya ke acara khitanan kakaknya. Dia lupa dia menggunakan baju apa, yang dia ingat adalah saat dia dibelikan es krim dengan berbagai rasa oleh ayahnya. Dan itu terasaa lezaaaat sekali.
#Scene 5
Umurnya sudah berkepala dua sekarang. Duduk di depan laptop dan mencoba mengurai kembali kisah-kisah yang dilaluinya bersama sang ayah. Waktu yang dia habiskan bersama ayahnya tidak terlalu panjang. Mungkin kalau dia mencoba mentotalkan masa bersama ayahnya, hanya 15 tahun saja.
Sampai kini, sifatnya masih sama. Tidak mau memasak, kalau tidak terpaksa. Tidak mengingat jalan, kalau tidak terpaksa. Memilih mendekam di rumah, kalau tidak terpaksa atau tidak tertarik keluar.
Sampai kini, sifatnya masih sama. Tidak mau memasak, kalau tidak terpaksa. Tidak mengingat jalan, kalau tidak terpaksa. Memilih mendekam di rumah, kalau tidak terpaksa atau tidak tertarik keluar.
Kini ayahnya sudah berada di alam yang berbeda dengannya. Dan dia hanya bisa menghitung waktu yang dia lalui dengan kenangan yang dia coba rangkai dalam sebuah tulisan bermakna baginya.
"Papa, Ika memang nakal dan keras kepala. Meski tingkah laku ika seperti datar-datar saja, Papa harus tahu bahwa Ika sayang dan menghormati Papa"
(22 June 2012)

No comments:
Post a Comment