Sunday, December 2, 2012

12th: Solo (Day 2 & 3)

Bag Tag I am Indonesia di tas yang naas..
Sedikit cerita tentang pengalaman saya dalam perjalanan, banyak hal bodoh yang terjadi dan jadi bahan tertawaan:
1. Berkelahi dengan conveyor barang di bandara, karena saya terus memegang barang dan conveyor terus berjalan.
2. Menenteng tas yang penuh dengan tusukan jarum karena putus tiba-tiba. Hadooooh.
3. Kembali berkelahi dengan conveyor dan mengembalikan barang-barang yang jatuh berantakan. Niat membantu malah dikira tersangka gara-gara papan surfing dan barang bawaan orang Jepang yang super duper gede, tapi tu orang cuma ngambil barang dia sendiri dan membiarkan kami sendiri. Bahkan petugas bandara pun tak datang membantu.
4. dan banyak lagi, namun lupa.. Kelamaan soalnya,, sigh.. 

Day 2 Jum'at 9 November 2012
Ternyata saya butuh waktu lama untuk melanjutkan. Hehe.
Singkat cerita, hari kedua berada di Solo dihabiskan dengan mencoba mengunjungi spot-spot penting yang ada di sana. Berbekal informasi yang dikumpulkan sahabat saya mengenai area yang cukup terkenal di Solo dan diakhiri dengan mencari jalan ke rumah sahabat saya untuk sekalian menghadiri acara lamarannya.
1. Alun Alun Surakarta
Alun-alun Surakarta ini berada di ujung Jalan Slamet Riyadi, berdekatan dengan posisi Keraton Surakarta yang terkenal itu. Untuk mencapainya, kami harus muter-muter dulu sampai puyeng karena sama sekali nggak ngerti arah yang benar. Awalnya ingin berusaha sendiri menemukan jalan, berbekal instruksi dari tiga bersaudara nan baik hati itu. Akhirnya bertanya dengan orang yang ada di jalan dan dibarengi dengan GPS BB yang mulai ngos-ngosan.
(Patung Slamet Riyadi)

Apa yang menarik di sini? Apa ya? Biar saya deskripsikan, dan kalian yang menentukan sendiri. Tidak berbeda dengan alun-alun yang ada di tempat lain, alun-alun surakarta adalah sebuah lapangan yang cukup luas dan di tengahnya ditumbuhi dua buang beringin yang besar. Saat sampai di sana, cuaca cukup terik dan hanya ada kendaraan yang parkir di sekitar alun-alun. Tak jauh dari posisi kami memarkirkan mobil, di sanalah berdiri salah satu spot pasar yang terkenal, Pasar Klewer.

 (Gapura memasuki area keraton)
 (Alun-alun Surakarta dan Beringin)

2. Pasar Klewer
Sebenarnya saya adalah tipe yang tidak terlalu tertarik ke pasar, karena saya bukan shopaholic dan tidak berniat membeli apa-apa. Well, seperti yang sudah saya ceritakan pada beberapa tulisan saya, bahwa pola pikir saya seperti lelaki. Hehe. Jadi pada awalnya saya hanya menemani teman saya yang mencari souvenir buat adiknya berakhir dengan saya membeli sepotong batik. Jiaaah, terperosok dan khilaf.
(Pasar Klewer dan Gerbangnya)

Cukup tentang saya. Mari kita bahas tentang pasarnya. Pasarnya seperti pasar-pasar biasa (haha, lagi-lagi tulisan berintonasi datar) yang dipenuhi dengan para pernjual baju bercorak batik. Kalau kita tidak pandai menawar, maka harga yang ditawarkan akan lebih tidak kantongawi.

3. Keraton Surakarta (No photo is available)
Tidak berhasil memasuki Keraton karena hari Jumat tidak melayani kunjungan. Si bapak becak yang mengantarkan kami tidak mengatakan hal itu. Sebenarnya pas di sana saya lempeng-lempeng aja nggak masuk, eh pas nulis ini saya merasa dikerjain. Masa si bapak yang sudah lama mangkal di sini nggak tahu, hari Jumat tutup.  Capee deeh. Jadi nggak ada cerita menarik di sini, selain menemukan gerbang tertutup sempurna.

4. Mengunjungi Kebo Bule
 Karena tidak berhasil memasuki Keraton Surakarta, maka kami ditawari mengunjungi Kebo Bule, yang sering dibawa pada acara Malam 1 Muharram. Oke, saya sempat menontonnya dan penasaran bagaimana perawatannya. Daaan, hwahaha, para kebo berada di kubangan dan hanya muncul kepalanya saja. Hadeeeh, luar biasa sekali ya perjalanan ini.
 (Kebo Bule yang pemalu)

5. Mesjid Agung
Mesjid itu dalam masa pemugaran. Ada beberapa tiang-tiang penyangga berdiri tegak di tengah-tengah pelataran. Bangunannya cukup besar, ketika kami berkunjung ke sana, ada beberapa wanita yang sedang membaca Al-quran.
(Gerbang Masjid Agung di malam hari)

Day 3 Sabtu 10 November 2012
6. Werkudara
Ini adalah double decker nya Solo. Dengan membayar 20.000 rupiah, maka kita akan bisa mengitari kota Solo.  Saat setengah perjalanan pertama, saya memilih untuk duduk di bagian atas dan setengah perjalanan berikutnya saya harus rela duduk di bagian bawah. Perjalanan ini dihabiskan selama lebih kurang dua jam dan saya sempat tidur, karena angin sepoi-sepoi yang bertiup.
(Salah satu pemandangan dari atas Werkudara)
 (Double Decker versi Solo dan pelancong dadakan mati gaya)

7. Ngarsopuro
Salah informasi, begitulah tepatnya. Kelaparan yang amat sangat membawa kami ke spot ini. Mengira bahwa tempat ini adalah pasar yang membuka jajanan makanan. Ternyata, bwahhahha, salah besar. Ini adalah semacam pasar yang dibuka menjual berbagai pernak pernik dan aksesoris bagi pecinta benda benda unik.
(Ngarsopuro)
 
Tulisan yang bagus akan menarik orang lain untuk berbagi pengalaman yang sama dengan apa yang kamu tuliskan
(Efek nggak mood nulis tapi dipaksa, 2 Des 2012)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...