Monday, December 10, 2012

Plan for Execution (2013)

(Source here: Lonely Traveler)

Dosa sebenarnya, menghabiskan waktu menatap PC jam-jam segini. Tetapi saya sedang terserang virus tak terelakkan, inspirasi tiba-tiba. Sambil memandang teman saya yang lagi mengunyah kerupuk dengan semangatnya, saya lihat kiri lihat kanan, jaga-jaga supaya nggak ada yang memandang saya curiga.

Kemaren, saya sempat rapat sama orang Jepang. Rapatnya itu sekitar pukul 15:00 WIB, di salah satu Hotel yang terkenal di kawasan Senayan sana, di ruang private meeting lantai paling atas. Lumayaaan, sambil hahahihi nyeruput "Es Jeruk" (yang sudah saya pakemkan sebagai minuman favorit saya setelah Citrus Squash, Lemon Squash, Lime Squash dan Orange Squash), saya jadi sangat ingin melakukan apa yang barusan disebut salah satu dari mereka.

Dia bilang dia baru berkunjung ke "Museum Nasional". Saya yang sibuk ngulem-ngulem kertas menatapnya dengan wajah menghargai pembicaraan. Lalu bos saya menerka-nerka posisinya. Saya juga ikutan menerka-nerka dan merasa pernah dengar. Dimana yaa?? Kayak pernah dengar dan pernah lihat plangnya.

Ini sebenarnya yang bikin saya malu diri. Si bapak Jepang ini sudah ke sana aja, tempat yang tinggal ngesot dari posisi saya tinggal sekarang. Coba bayangkan? Dimana rasa cinta saya ke bangsa dan negara ini? Memang sih selalu ada pembenaran nggak punya waktu, nggak punya teman dan nggak punya uang, tetapi kan nggak gitu juga. Hehehe. Saya ngakunya suka mati gaya di kosan, padahal tempat oke banyak yang dekat dengan kosan saya.

Alasan utama saya yang bikin saya malaaaas semalas-malasnya adalah kalau saya nggak paham-paham amat mau ngapain ke lokasi itu dan nggak punya tujuan. Jarang punya ide cerdas ke tempat yang nggak bikin saya merasa penting (dasar jiwa ngartis) dan ada yang mau dicari. Jadinya saya lempeng aja kayak lemper dan malah misuh-misuh kecapean. Idealnya kan kalo ke situs-situs yang butuh pengetahuan semacam itu saya harus paham gimana ceritanya atau ada guide. Cuma dasar masih ngebudget semua-mua biar irit tapi nggak irit juga, ujung-ujungnya saya suka deg-degan kalau mau bayar guider. Takut diminta bayaran yang kantong saya nggak kuat. Otak saya masih mahasiswa abiiiis sepertinya, nggak mau rugi. Hehehe.

Tapi akan saya putuskan bahwa tahun depan (tarik napas dalam-dalam sambil doa supaya diberkati sama Tuhan), saya akan mulai melakukan perjalanan budaya dan ilmu apa saja ke museum, sebagai salah satu resolusi saya di tahun 2013. Yes, setelah dengan gemilangnya Resolusi Tahun 2012 saya yang cuma satu biji (Pergi ke Luar Negeri) tercapai, meskipun cuma di Malaysia, maka saya akan mengorganisir buat tahun depan. Jalan sendiri nggak apa-apa, asal nanti saya cari guide yang bakal bisa bantu saya gaya-gayaan.

Banyak hal inspiratif yang buat saya gerak, motivasi dari teman saya yang hobi jalan, hobi ngedaki gunung (pengeeen banget, tapi belum dibolehin. Kalau saya masukin ini sebagai resolusi, entar dikutuk sama mama), atau dari buku-buku traveler yang saya punya, atau dari irinya saya sama orang yang ngerti lokasi dan hapal jalan-jalan Jakarta atau malunya saya sama bapak Jepang yang memicu semua ini. Moga-moga dengan jalan sendiri ini, saya jadi hapal jurusan kopaja, hwahahah (ketawa dikit). Namun, kalau ada yang mau ikutan saya, nggak masalah.

Note: kalau mau jalan, carilah teman yang sevisi. Karena suka malas juga kan ngabisin waktu dengan teman perjalanan yang nggak ada cocok-cocoknya sama kita. Kalau kita pengen jalan versi kere, temennya harus kere juga. Kalau mau jalan kemana kaki melangkah, temennya harus orang yang nyantai kalau tersesat. Lebih seru lagi kalau pas jalan ke sebuah situs sejarah, temennya yang paham sejarah. Hahaha

Perjalanan itu bersifat pribadi. Ketika aku berjalan denganmu.
Perjalananmu bukanlah Perjalananku
(Somebody, forgot the name)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...