Friday, May 4, 2012

Memori tentang Noni

 Tiba-tiba saja pemikiran ini melompat ke otak saya. Teringat kembali masa kecil yang suka saya habiskan dengan membaca. Mungkin itulah salah satu penyebab mengapa kacamata selalu bertengger di wajah saya (berasa burung saja, bertengger). Saya tipe pembaca yang membaca dengan konsentrasi tinggi dan tidak bisa ada gangguan. Penganut paham ketenangan. (Bwakakkaa, ketawa dulu).

Kalau membaca sesuatu membutuhkan waktu yang sangaaaat lama, karena ketika membaca otak saya ikut menggambarkan apa yang saya baca dan hati saya menghayati apa saja yang saya baca. Jadi seringnya,  saya sangat ingat semua ceritanya, bahkan sangat detail sekali. Bahkan saya bisa sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi di sekeliling saya kalau membaca, pikiran saya terpusat saja ke sana. Tapi,, hwhahaha (makin banyak ketawanya) konsentrasi yang menakjubkan ini hanya terjadi saat saya membaca novel dan komik, jarang sekali terjadi pada pelajaran. Karena kalau pelajaran, selalu sering munculnya tanda tanya, mengapa-mengapa. Mengapa rumusnya begitu atau kok gitu sih dasar pemikirannya, dasarnya apa? Jadinya saya malah sibuk mencari yang saya mau cari, terjebak di dunia maya dan akhirnya tercebur karena malah melihat yang lain, jadi lihat ini- itu. Hwahaha, kok jadi menjelaskan ini ya??

Jadi ingat lagi, mengenai pikiran yang pop-up ke otak saya tadi pagi. Dulu, duluuuu sekali, sebut saja 12 tahun yang laku (oh meeen, udah tua ya saya??) waktu saya kecil, saya sukaaaa sekali membaca cerita Noni. Meski ada banyak serial yang diterbitkan oleh si pengarang "Bung Smas" mengenai Noni (pengetahuan ini baru saya tahu setelah search di mesin pencari), satu-satunya cerita Noni yang saya baca ya seperti gambar yang tercantum pada blog ini, "Noni, Nyanyian Ibu". Buku itu sudah saya baca berkali-kali. Mungkin puluhan kali, saya membacanya ketika saya masih SD. Dari bentuk buku itu masih baru, hingga tak berbentuk lagi.

Bapak pengarang ini menceritakannya sangat deskriptif sekali. Ketika saya membacanya saya langsung membayangkan tempatnya dan itu sangat dalam sekali, bahkan sekarang, setelah waktu sudah berputar 12 tahun lamanya, saya masih bisa mengingat putaran-putaran imajinasi yang dimainkan otak saya ketika saya membacanya (hwhahaha, jadi rindu membacanya lagi). Ketika saya memejamkan mata dan mencoba mengingatnya, rasanya saya kembali ke masa lalu. Alasan lebih menghayati karena seringnya ketika membaca, saya tidak membayangkan bahwa saya adalah orang ketiga yang membaca cerita, tetapi saya lah tokoh utama dari cerita yang saya baca. Hehehe, memang punya kebiasaan ngartis, jadinya begini deh.

Sepenggal memori, Noni Nyanyian Ibu.
Perlu dicatat bahwa saya sudah tidak membacanya lebih dari 10 tahun. Jadi kisah yang masih membekas ini adalah flash back ingatan. 

Noni adalah anak yang tomboi berpotongan rambut pendek ala Lady Di. Dia mempunyai sahabat bernama Eli. Noni sangat menyayangi Eli, sangat senang ketika Eli datang ke rumahnya dan menginap di sana. (Saya masih ingat deskripsi kamar Noni, cara Noni memandangi Eli yang sedang tertidur dengan duduk pada posisi kursi terbalik, rambutnya ditiup angin, wayang yang tergantung di kamarnya).

Eli sangat lemah lembut dan rapuh membuat Noni ingin selalu menjaganya. Apalagi saat Eli disakiti oleh kakak angkatnya, membuat Noni mengamuk sejadi-jadinya. Sebagai penopang ketika Eli mengetahui bahwa dia adalah anak angkat Tante Dokter (Panggilan Noni kepada ibu angkat Eli), dan menemani Eli mencari orang tua kandungnya. Tameng Noni ketika dikejar-kejar Bun, yang ternyata kakak kandung Eli. Pertemuannya dengan Godek, orang yang dianggap penjahat kelas kakap di Semarang.  

- END-

Hoaaaam,, menarik sekali. Wuiss, daya ingat saya masih baik. Perlu dicatet, jika saya menghayati saat membacanya. Kebayangkan bagaimana ingatan saya mengenai hal-hal yang terjadi pada saya. Saya InsyaAllah sangat ingat sekali bagaimana semua-muanya. Hingga detail-detailnya. Bwakakakak (memandangi pemandangan di luar jendela, menyipitkan mata, dan mengingat masa lalu).  

Btw: Katanya Serial Noni diterbitkan lagi. Namun yang jadi masalah, gambar covernya kurang menarik bagi saya. Terlalu kartun, apalagi matanya, kurang nyata. Khayalan saya bisa kebentok gambarnya, jadi ikutan petak-petak. Hwhahaha, hal yang agak-agak nggak penting. Tapiiiiii, penting.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...