(Source: here)
Yah, beberapa jam menuju long weekend. Pertanyaan yang sama akan sering berseliweran di sekitar dan ditujukan kepada saya, sebagai tersangka utama. Menjadi satu-satunya pegawai yang jelas banget berasal dari luar Jawa, membuat saya menjadi satu-satunya target untuk ditanya: "Din, kamu mau kemana weekend ini? atau "Kamu nggak kemana-mana kan? Aku nitip kunci ya sama kamu".
Saya yang notabenenya, selalu lempeng dengan pertanyaan itu, akan selalu menjawab: "Hmmm, kemana kaki melangkah aja" atau "Lihat entar aja. Paling spontan aja pergi kemana" atau bilang "Mau ngukur lantai aja" atau "Mau jagain semut di kosan, kasihan nggak ada yang rawat" (ini baru saya gunakan tadi malam). But most of my day is in my room and of course, sometimes I feel bored with that.
Cuma yang menjadi masalah dan sepertinya membuat saya menjadi berpikir bahwa sangat tidak capable-nya saya untuk meng-guide orang-orang yang berniat berjalan-jalan di Jakarta, setelah pertemuan saya dengan seorang teman dari Perancis sana yang sempat menetap di Bali dan menjadi free tour guide buat temannya di Bali. Saya jadi berpikir, dalam 3 bulan dia bisa menjadi guide, lah saya udah mau 2 tahun di Jakarta, jangan harap saya jadi guide orang, bahkan dalam mimpi pun tidak, bahkan lagi menyebrang jalan pun, bisa karena terpaksa nggak ada teman, masih juga berlindung di sebelah teman.
Saya menyukai petualangan, saya menyukai travelling. Tapi saya jarang berpikir dalam perjalanan tersebut. Selalu memanfaatkan resource yang ada. Jika saya tak tahu jalan, maka saya akan bertanya kepada orang. Saya sangat percaya dengan supir taksi, tukang ojek, tukang bajaj, dan petugas busway. Jadi, sampai detik ini, saya sungguh tak hapal jalan Jakarta, kecuali jalan ke kantor dan ke Atrium Senen (naas memang). Saya sangat-sangat mengagumi kemampuan seseorang dalam mengingat jalan, selalu berdecak kagum dan terpana. "How can they do that?" "Is that possible to remind all of the path?" (ya, itulah semua kalimat kekaguman akan orang-orang). Teman saya selalu menertawakan saya, apalagi sejak tersesatnya mobil kami (catat: kantor) ketika saya tidak lengkap menyampaikan alamat yang dituju. Dan itu parah sekali, kita ke Barat, padahal tujuan ke arah Timur. "Good Luck for me!!"
Sejak hari naas itu, saya berjanji dalam hati akan mencoba mengingat jalan. Adaaa saja yang terjadi jika saya sedang berusaha mengingat. Salah satunya adalah saya gagal mengingat jalan karena hp saya jatuh dari kantong saya yang bolong. Salah duanya adalah mudahnya saya terdistorsi akan sesuatu, dalam konsentrasi yang amat sangat mengingat jalur yang dilewati, tiba-tiba saya diajak bicara, maka saya akan antusias menjawabnya daaaan itu berlangsung cukup lamaaa hingga saya menyadarinya dan berkata "Loh, loh, loh, ini dimana ya? Hadooooh, tadi itu lewat mana ya?" Dan itu adalah pertanyaan bodoh, sebab jalur itu selalu saya lewati setiap saya akan rapat, tapi saya masih saja lupa.
(Source: here)
Ada banyak faktor yang membuat saya bukanlah orang yang tepat dijadikan tumpuan dalam perjalanan. Maksudnya berharap banyak untuk menjelaskan, menunjukkan jalan, dan memperlihatkan tempat-tempat menarik. Dan malam ini saya mengumpulkan renungan saya selama ini. Saya sedih, namun saya rasa I am not Good in this matter. Here we come, the following reason why I am not good to become guide:
- To the Point. Yang saya tahu jika akan melakukan perjalanan adalah saya akan kemana? dan mau apa? Hal yang selalu saya ingat adalah rute dan angkot yang harus saya tumpangi menuju tempat tujuan, dimana saya harus turun, dan jika saya lupa, cukup bertanya and then Case Close. Saya selalu menemukan orang baik tempat bertanya (Thaaanks God). Dan jika apa yang saya mau sudah ditemukan, maka saya akan kembali pulang (umumnya saya lakukan ketika berbelanja atau mengunjungi teman).
- Difficult to Impress. Saya sangat sulit untuk merasa kagum, sangaaat sulit sekali. Jika saja ada sesuatu yang melenceng dalam bayangan saya akan suatu tempat, hal itu akan membuat saya tidak akan tertarik untuk ke sana lagi (saat saya travelling ke suatu tempat). Saya jadi ingat cerita teman saya tadi, ketika dia melihat tarian tradisional di suatu wilayah di Indonesia, dia hanya bilang "Saya biasa aja. Selepas tarian itu berakhir saya hanya berpikir "Well, itu sebuah tarian tradisional. That's it. Dan saya tak tertarik menarikannya"" (He also hard to impress, I think. Dan itu membuat saya tertawa, tertawa karena saya bukan alien-alien amat). Hal yang membuat saya kagum dan ingin mengulang lagi hal yang sama akhir-akhir ini adalah ketika saya menghadiri sebuah konferensi atau selepas menonton Hunger Games (dan tentu saja hal ini tak ada hubungannya dengan ingat mengingat jalan atau menjadi tour guide yang baik). Ya, menurut saya, sesuatu dikatakan mengagumkan ketika saat kamu mengalaminya dan masa itu terlewati, kamu rasanya ingin memutar waktu dan merewind semuanya mulai dari awal.
- Easy to Bored. Pembosan. Saya tidak tertarik untuk ke tempat travelling yang sama untuk kedua kalinya, cukup sekali saja. Bagaimana bisa jadi guide jika tabiat saya seperti ini? Seorang guide harus berulang kali ke tempat yang sama. Teman saya pernah merengek-rengek dan meminta diantarkan ke Kota Tua. Tapi hati saya tetap batu dan lempeng. Karena saya sudah pernah ke sana, saya tak tertarik jadi tour guidenya, ditambah apa yang saya lihat di sana kurang membuat saya merasa dan berkata "Wow". Satu-satunya yang membuat tempat itu menarik adalah sepeda onthelnya, namun menjadi kurang menarik karena saya sudah lama tak bermain sepeda (sejak kelas 2 SD), plus mana ada di umur segitu saya main sepeda di jalan yang ada truk, bus, kontainer yang berjalan dengan kecepatan Tanjung Priok. Ditambah lagi saya terpaksa dibonceng teman saya, yang akhirnya berwajah kusut di penutup hari. Membuat saya menjadi satu-satunya tersangka yang rasanya dicap "Tak Tahu Diri" menempel di jidat saya.
- Realistic. Selalu menyatakan sesuatu apa adanya. Well, saya tidak akan melebih-lebihkan sesuatu jika memang sesuatu itu tidak ada kelebihan. Meskipun orang-orang berkata dan berpositif thinking akan suatu tempat, dan bagi saya tak sesuai, maka saya akan bilang, "Well, tempat itu tidak menarik". (seringnya saya tidak tertarik akan suatu lokasi adalah kurangnya perawatan, seperti sampah yang menumpuuk, jalan yang macet, udara yang tidak bersih, dsb. Bukannya menularkan sifat pengeluh, tetapi jika niat kita untuk refreshing dinodai dengan hal-hal seperti itu, apa gunanya kita berlelah-lelahan ke tempat tersebut?)
- Got Nothing. Tak mendapat esensi apa-apa dalam perjalanan. Inilah rasanya sesuatu yang sering hilang saat saya melakukan perjalanan. Apa yang saya cari? Apa esensi yang ingin saya temukan? Sering dengarkan, seseorang berubah setelah melakukan perjalanan? Itu mungkin yang ingin saya peroleh, namun belum tercapai. Saya sering merenung dan berpikir, selalu merasa ada ruang kosong yang membuat dada saya terasa berat. Saya melakukan perjalanan ke suatu tempat, ber-haha hihi dengan teman-teman, melihat spot menarik, berjalan ke sana, berpose, ambil gambar, merasa puas dengan foto tersebut, mengulang jika hasil kurang menarik, begitu terus hingga puas, lalu pergi dan melanjutkan perjalanan. And I definitely say" I got nothing with those trip. NOTHING. Just a number of picture with me in there. NOTHING ELSE. EMPTY!!".
- No Preparation. Preparation di sini tidak ada hubungannya dengan barang yang ingin saya bawa, tapi lebih ke wawasan yang kurang saya persiapkan. Jika kamu ingin mengagumi sebuah tempat, PLEASE TRY TO LEARN THE HISTORY OF THE PLACE. Cobalah kenali tempat itu sebelum kamu kesana dan coba cocokkan apa yang kamu baca dengan apa yang ada di sana. Kamu akan lebih bisa mencintainya. Menyenangkan bukan ketika kita tahu, dinasti apa yang membangun Borobudur dan bisa mengetahu kisah apa yang dipahat di Borobudur tersebut (agak berlebihan memang cita-cita ini). Apalagi jika kamu adalah tipe pejalan backpackeran yang rasanya sulit membayar guide di spot tersebut ditambah jarangnya guide memberikan penjelasan sepenuh hati dan rasa cinta, karena sometime they just value you based on your money in your pocket. Kasar memang istilah yang saya gunakan, tetapi begitulah kenyataannya.
- Hard to Receive. Saya orang yang selalu berpikir logika, seringnya begitu. Padahal saya wanita. Jadi terkadang saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari apa yang terjadi karena mengaitkannya pada berbagai fakta atau memang saat itu saya lagi bengong (jadi tak ada hubungannya dengan logika). Ketika saya mengikuti sebuah trip dengan sekelompok orang yang schedulenya sudah ditentukan, semuanya terasa diburu. Buru-buru pergi ke sana lah, eeeh baru mau mendalami apa yang terjadi, tiba-tiba ada teriakan "Yaaak, bentar lagi kita pulang ya." So, every our movement has the restriction and we called it "Lack of time". Jadi ujung-ujungnya kembali ke Poin 5, saya tak menemukan esensi dari perjalanan itu.
- Hard to adapt. I need a time to get use to in some place and become myself. Intinya, saya bukanlah teman seperjalanan yang baik jika orang itu tak ada cocok-cocoknya sama saya. Saya orangnya kalau tersesat, ya dibawa ketawa aja, tinggal nanya ini sama orang. Saya nggak akan sesuai dengan orang yang saat tersesat akan mengeluh-ngeluh. Saya juga tipe orang yang kalau memang pelayanan yang diberikan tidak sesuai, ya sudahlah, udah terjadi juga, jadi nikmati saja apa yang ada, berhentilah komentar. SUNGGUH KELUHAN KALIAN AKAN MERUSAK PERJALANAN INI. KARENA HEY, NIAT SAYA MAU REFRESHING BUKAN DENGAR KELUHAN!! (Hwahha, ini harusnya saya bisa mengontrol diri ya. Ya, saya bisa aja kan pura-pura nggak dengar). Jujur saja saya memang sangat sulit mengagumi sesuatu, dalam hal ini lokasi yang benar-benar saya tuju. Tetapi bagi saya, toh kalau memang keadaannya seperti itu dan tidak bisa diubah lagi, hanya ada satu cara untuk melewatinya, "NIKMATI DAN SETELAH ITU JIKA TIDAK TERTARIK KESANA, YA JANGAN KESANA". (Saya kapok jalan dengan orang yang proteeees mulu, soalnya itu bisa aja mengarahkan pribadi saya menjadi seorang pengeluh yang lebih dahsyat dari mereka. Dan saya tak mau itu. Sekarang aja suka ngeluh. Damn!!).
Itulah mengapa saya tak cocok menjadi guide. Saya tipe pejalan spontan. Berjalan dengan benar-benar berniat melakukan petualangan. Teman seperjalanan yang menarik hanya bagi dia yang senang menikmati perjalanan. Sangat benci pengeluh dalam perjalanan yang akan merusak mood. Tak bisa diharapkan sebagai penunjuk jalan, karena sering hanya duduk manis di mobil dan tak pernah berusaha mengingat jalan. Saya bisa makan apa saja dan sangat sulit untuk kagum akan lezatnya makanan (karena persepsi enak saya di sini adalah pedas. Jadi saya sulit untuk menjawab secara objektif jika makanan tersebut tidak pedas). Jadi jika ada yang bertanya "Makanan yang enak dimana ya?" Saya akan sulit untuk menjawab, karena saya ya makan-makan aja selama itu halal dan bersih.
Yah begitulah saya. Terinspirasi dari blog teman yang bercerita keinginannya ke luar negeri. Saya juga ingin kesana, tetapi jika memang tipe perjalanan saya seperti yang di atas, mungkin lebih baik perjalanan ini adalah perjalanan dinas. Jadi ada esensi di sana, tidak hanya jalan-jalan saja yang terikat dengan schedule yang padat mengetat.
Trying to enjoy the life. But still in progress to find the way.
(Me, 16 May 2012)


No comments:
Post a Comment