#1 Tingkat 8
Ponsel saya berbunyi melantunkan lagu Desperado-nya Antonio Banderas. Membuyarkan sedikit konsentrasi yang dicoba untuk dikumpulkan di tengah suasana dingin seperti ini. Ketika saya mengangkatnya, "Dinaaaaaaaaaaaaa, aku dimarahin Bapak lagi nii. Susah ya jadi aku". Teriakan dari wanita Tingkat 8.
Memang dalam pengadaan rapat hari ini, si wanita selalu kena sana kena sini. Biasalah, sebagai bawahan terkadang ada guyonan bahwa salah satu job description yang tak tertulis adalah sebagai target omelan atasan. Omelan disaat standar yang kita jadikan patokan masih berada di bawah si atasan atau di saat mind set kita tak sama dengan mereka. Tapi tak apalah, jika itu mengarah kepada kebaikan kan?
Saat rapat berlangsung, wajahnya yang keruh setelah terkena gempur di sana sini terlihat berubah menuju kepada kebaikan. Tersenyum-senyum sambil memandang ke display hp. Terang saja saya lihat ekspresi kenesnya itu, saya duduk pas di depannya. Mata saya melotot menatapnya. mengkode dan bertanya "ada apa gerangan dibalik ekspresi itu?" Tentunya itu adalah sesuatu yang baik, melihat mendung itu terangkat dari wajah tembemnya.
Pria-nya menyapa lagi. Dan sepertinya percakapan terus berlanjut hingga kini. Instead of anything that they talked about. Main point-nya: ada komunikasi yang mengubah arah sedihnya kepada senyuman. Saya pandangi dia, dan terlintas lagu itu. Lagu yang baru saya sadari artinya dan rasanya sangat merepresentasikan perasaan si wanita Tingkat 8 ini. Wanita yang terlihat kuat, tapi langsung lemah jika ini ada hubungannya dengan si pria.
"I can be tough, I can be strong. But with you, its not like that at all"
(Wish You Were Here, Avril Lavigne)
(Wish You Were Here, Avril Lavigne)
(Source: here)
#2 Undangan Tak TerdugaPandangan matanya yang bulat membuat saya juga ikut mengarah ke objek yang dipandanginya. Begitulah saya, gampang terpengaruh. Bukan tentang apa yang dia pandangi yang saya ingin ceritakan atau bagaimana saya gampang terdistorsi akan suatu hal. Tetapi tentang kisah seorang teman yang terus mencari sesuatu yang sesuai dengan hati nuraninya.
Dia yang saya kenal beberapa tahun lalu. Pertemanan yang kami jalin juga cukup lama. Perkenalan yang saya ingat bagaimana dimulainya dan tak disangka terus berlanjut hingga sekarang. Dulu, kita sering bercerita tentang banyak hal. Tetapi apa yang sekarang dia ceritakan kepada saya sudah berbeda. Sekarang dia bercerita tentang rasa. Sesuatu yang tak pernah diungkapkannya di orde lama persahabatan kami.
Dulu
Dia pernah bercerita tentang seseorang yang dekat dengannya. Seseorang yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Seseorang yang mendekatinya. Pertemuan pun hanya sekali dua kali, karena pertemuan ini lebih banyak di dunia maya. Percakapan yang hanya direpresentasikan dengan ketikan-ketikan kata. Mencoba menginterpretasikan bahasa yang terkadang tertulis ambigu dan tidak dimengerti apa maksudnya. Hingga sampai pada suatu titik, dimana dia mengharapkan sebuah kepastian.
Suatu kali, dia bilang pada saya yang bau kencur ini, "Pada akhirnya seorang wanita membutuhkan sebuah kepastian akan hubungan yang mereka jalani. Tetapi terkadang susahnya jadi wanita adalah dia susah mengerti apa maunya si pria. Bertanya-tanya dalam skala apa si pria menghubungi si wanita, temankah atau lebih. Kamu nggak akan pernah tahu kapan pertanyaan itu muncul. Yang jelas, karena kita adalah pihak yang menanti, kita juga akan lelah menanti kapan kepastian itu datang. Susahnya itu akan mengarahkan pada pandangan masyarakat bahwa si wanita adalah seorang agresif."
Saya memandanginya dengan serius dalam posisi tengkurap di kasur. Melihat ekspresi beban di matanya, ekspresi lelah akan ketidakpastian. Saya dengar darinya, dalam kurun waktu tertentu intensitas si pria menyapa sangat tinggi hingga tiba-tiba si pria menghilang. Tentu saja si wanita akan bertanya, ada apa gerangan? Dan dia bilang, rasa itu menyakitkan, bertanya-tanya akan ketidakpastian. Bertanya-tanya apa maksud semua ini?
Tetapi itu dulu. Dia sudah melepas pria itu. Memutus hubungan dengan terbuka dan katanya itu melegakan. Untuk apa hidup di dalam perasaan yang malah menjadi beban, karena sebaiknya hubungan antara manusia itu adalah hubungan yang saling memahami dan saling mengerti. Apalagi, yang sedang dia cari pada umurnya yang sekarang adalah seseorang yang bisa dijadikannya imam untuk dia dan anaknya kelak. Jika si pria tak mengerti apa yang dia rasakan, bagaimana dia memimpin perasaan orang yang lain kelak. Masih ada yang lebih baik dari itu, dan Allah sudah menyiapkannya buat kita. Yang penting selalu percaya. Begitu ucapnya panjang lebar saat itu dan saya ingat itu. Membuat deskripsi sendiri mengenai imam yang ingin saya temukan atau nantinya dia yang menemukan makmumnya ini. Hohoho.
Sekarang
Ada seorang yang mendekatinya. Pria yang dikenalnya dalam perjalanan ke Jakarta. Pertemuan singkat yang diisi dengan berbagai topik pembicaraan. Hingga hal tak terduga itu muncul. Pria itu melamarnya. Dia menanyakan alasannya, mengapa si pria ini bisa sampai ke tahap itu berpikirnya, hanya dalam sekali pertemuan. Si pria bilang: "kamu adalah wanita sholeh dan bla bla bla. Aku yakin kamu adalah wanita yang cocok buat saya."
Ajakan untuk ta'aruf yang disampaikan dalam tulisan. Dan itu mengarahkannya kepada kebingungan. Meski ini adalah salah satu hal yang dia cari, sebuah kepastian. Tetapi kepastian yang terlalu singkat dan didasari dengan alasan yang hanya terlihat saja. Dalam kebingungan ini, dia bertanya pada si pemilik hati. Pemilik rasa. Dan di sana dia mendapatkan kata tidak. Tidak, untuk melanjutkan hubungan ini ke tahap yang lebih serius. Tidak, karena ini bukan waktu yang tepat. Tidak, karena baik pria itu maupun dia akan menemukan yang lebih baik.
Pendapat pribadi: lihatkan? Si Pria mengungkapkan dan Si Wanita menjawab. Problem solve. Ketidakpastian langsung ada jawaban. Andai semua orang berpikir terbuka seperti ini dalam masalah ini, maka semuanya bisa jelas. Tidak akan ada yang tersiksa. Jangan memberikan perhatian berlebihan jika nantinya si wanita ditinggalkan. Just Don't. Itu ME-NYE-BAL-KAN. Seenaknya masuk dan menghilang. Serasa jadi barang tak berharga saja jadinya, kalau hal itu muncul.
Her
Dia menatap note-note balok yang ada di depannya. Memahami satu-satu nada yang akan muncul di sana. Lalu, memainkan biolanya. Ada banyak hal yang perlu dia kejar dan salah satunya adalah ini. Dia ingin keluar dari zona amannya. Dia ingin mencapai apa yang dia targetkan, bukan hanya perasaan merah jingga ini saja yang perlu dikhawatirkan. Bersamaan dengan itu dia akan terus menanti sang imam yang akan membimbingnya.
Dia perkenalkan lagu ini kepada saya. Saya rasa ini juga hal yang merepresentasikan rasanya saat ini.
#3 I Won't Give Up
Perkenalan mereka setahun yang lalu. Saya pengamat yang sangat baik. Baik untuk mengingat maupun mendetailkannya ke dalam cerita. Hehehe. Sudah lama ingin saya ceritakan, tapi baru sekarang ada kesempatan.
Sang wanita tak pernah menotice pria di awal pertemuan. Sama sekali tak sadar. Dia sibuk dengan dunianya. Dan saya, bwakakakak, saya lihat ekspresi si pria dan mulai mengetahui ada rasa yang dia punya buat wanita. Jadilah saya menjadi penonton kisah mereka dan kadang jadi obat nyamuk. Iseng, saya sengaja berjalan di antara mereka berdua mengukur perilaku si pria. Dan, hwahahha, memang benar ada rasa darinya. Kalau sang pria bertanya, pasti ngarahnya ke si wanita. Untuk menghargai keberadaan saya, dia bertanya sambil lalu. Demikian berita analisis saya di awal pertemuan mereka.
Keseriusan si pria benar-benar terlihat. Jarak 3 jam dia tempuh untuk menemui sang wanita. Dan itu setiap minggu. Sejauh ini saya lihat kecocokan mereka. Gampang saja melihatnya. Lihat saja bagaimana si wanita bersikap jika berbicara dengan si pria. Apakah dia menjadi diri sendiri atau berubah jadi orang lain? Dengar saja nada bicaranya, apakah intonasinya berubah menjadi melembut atau sama saja dengan cara dia berbicara denganmu? Jika ada perubahan, maka itu bukanlah kenyamanan dan kecocokan. Tapi berusaha mencocokkan, dan itu melelahkan.
Katanya mereka akan lanjut ke jenjang yang lebih serius. Saya ikut senang mendengarnya. Secara tidak langsung, saya kenal kedua belah pihak dan mengetahui kisah mereka dari awal. Tentu saja tidak semuanya, hanya dibeberapa hal yang layak untuk saya ketahui dan saya amati.
Overall, dari semua kisah yang saya dengar. Ini salah satu kisah fairy tale. Prosesi cepat, kedua belah pihak cocok, baik dari mereka pribadi maupun keluarga. Langsung ada kejelasan dan yang menggelikan, sang pria mengirimkan lagunya Maher Zain - For The Rest of My Life. Apa yang sahabat saya rasakan, dia menangis mendengar lagu itu. Lagu yang dikirim khusus untuknya. Saya memandanginya, ikut berkaca-kaca. Terharu dan ikut senang, sambil tak dapat dipungkiri bertanya-tanya kapan yaa kisah ini saya yang jadi bintangnya. Hahaha.
Setiap perpisahan yang merentangkan jarak di antara mereka hingga ratusan kilometer. Sang wanita akan memutarkan lagu ini di laptopnya. "Kalau gw pisah sama mamas (panggilan sayang dia pada pria-nya), gw bakal mutar lagu ini buat nenangin jiwa gw," ucapnya dengan dibarengi kekekan tawa tak jelas.
1. Bahwa setiap kehidupan yang kita jalani ada theme song-nya seperti di film-film. Tinggal cari lagu yang sesuai saja. Wkwkwkwk
2. Jangan ragukan kemampuan-Nya mengatur kisah kita
3. Temukan seseorang yang membuat kamu nyaman untuk menghabiskan sisa hidupmu.
4. Pria itu mencari dan mengungkapkan, wanita itu menanti dan memutuskan menerima atau menolak
5. Bahwa Pria jangan main-main dengan perasaan wanita. Jangan seenaknya, jangan main-main. Seriuslah!! Disambut baik-baik, maka pamitlah dengan baik. Wanita itu bersifat demanding.
6. Bahwa wanita itu butuh kepastian dan sering bertanya "Mau dibawa kemana hubungan kita?" (seperti lagu Armada saja ini). Pasti akan muncul pertanyaan itu.
7. Jangan menjaminkan rasa pada waktu. Ia ada masa kadaluwarsanya. (Jangan sekali-kali mengatakan, biar waktu yang menjawab. Yang ada rasa itu akan hilang dengan sendirinya). Jangan salahkan saat pria menyadari perasaannya, sang wanita telah mati rasa. Jarum waktu terus berputar.
8. Kejar hal lain yang ingin dijadikan target. Biar orang bilang apa, as long as that satisfied you and meet your requirement. Feel free to do that!!
Dia yang saya kenal beberapa tahun lalu. Pertemanan yang kami jalin juga cukup lama. Perkenalan yang saya ingat bagaimana dimulainya dan tak disangka terus berlanjut hingga sekarang. Dulu, kita sering bercerita tentang banyak hal. Tetapi apa yang sekarang dia ceritakan kepada saya sudah berbeda. Sekarang dia bercerita tentang rasa. Sesuatu yang tak pernah diungkapkannya di orde lama persahabatan kami.
Dulu
Dia pernah bercerita tentang seseorang yang dekat dengannya. Seseorang yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Seseorang yang mendekatinya. Pertemuan pun hanya sekali dua kali, karena pertemuan ini lebih banyak di dunia maya. Percakapan yang hanya direpresentasikan dengan ketikan-ketikan kata. Mencoba menginterpretasikan bahasa yang terkadang tertulis ambigu dan tidak dimengerti apa maksudnya. Hingga sampai pada suatu titik, dimana dia mengharapkan sebuah kepastian.
Suatu kali, dia bilang pada saya yang bau kencur ini, "Pada akhirnya seorang wanita membutuhkan sebuah kepastian akan hubungan yang mereka jalani. Tetapi terkadang susahnya jadi wanita adalah dia susah mengerti apa maunya si pria. Bertanya-tanya dalam skala apa si pria menghubungi si wanita, temankah atau lebih. Kamu nggak akan pernah tahu kapan pertanyaan itu muncul. Yang jelas, karena kita adalah pihak yang menanti, kita juga akan lelah menanti kapan kepastian itu datang. Susahnya itu akan mengarahkan pada pandangan masyarakat bahwa si wanita adalah seorang agresif."
Saya memandanginya dengan serius dalam posisi tengkurap di kasur. Melihat ekspresi beban di matanya, ekspresi lelah akan ketidakpastian. Saya dengar darinya, dalam kurun waktu tertentu intensitas si pria menyapa sangat tinggi hingga tiba-tiba si pria menghilang. Tentu saja si wanita akan bertanya, ada apa gerangan? Dan dia bilang, rasa itu menyakitkan, bertanya-tanya akan ketidakpastian. Bertanya-tanya apa maksud semua ini?
Tetapi itu dulu. Dia sudah melepas pria itu. Memutus hubungan dengan terbuka dan katanya itu melegakan. Untuk apa hidup di dalam perasaan yang malah menjadi beban, karena sebaiknya hubungan antara manusia itu adalah hubungan yang saling memahami dan saling mengerti. Apalagi, yang sedang dia cari pada umurnya yang sekarang adalah seseorang yang bisa dijadikannya imam untuk dia dan anaknya kelak. Jika si pria tak mengerti apa yang dia rasakan, bagaimana dia memimpin perasaan orang yang lain kelak. Masih ada yang lebih baik dari itu, dan Allah sudah menyiapkannya buat kita. Yang penting selalu percaya. Begitu ucapnya panjang lebar saat itu dan saya ingat itu. Membuat deskripsi sendiri mengenai imam yang ingin saya temukan atau nantinya dia yang menemukan makmumnya ini. Hohoho.
Sekarang
Ada seorang yang mendekatinya. Pria yang dikenalnya dalam perjalanan ke Jakarta. Pertemuan singkat yang diisi dengan berbagai topik pembicaraan. Hingga hal tak terduga itu muncul. Pria itu melamarnya. Dia menanyakan alasannya, mengapa si pria ini bisa sampai ke tahap itu berpikirnya, hanya dalam sekali pertemuan. Si pria bilang: "kamu adalah wanita sholeh dan bla bla bla. Aku yakin kamu adalah wanita yang cocok buat saya."
Ajakan untuk ta'aruf yang disampaikan dalam tulisan. Dan itu mengarahkannya kepada kebingungan. Meski ini adalah salah satu hal yang dia cari, sebuah kepastian. Tetapi kepastian yang terlalu singkat dan didasari dengan alasan yang hanya terlihat saja. Dalam kebingungan ini, dia bertanya pada si pemilik hati. Pemilik rasa. Dan di sana dia mendapatkan kata tidak. Tidak, untuk melanjutkan hubungan ini ke tahap yang lebih serius. Tidak, karena ini bukan waktu yang tepat. Tidak, karena baik pria itu maupun dia akan menemukan yang lebih baik.
Pendapat pribadi: lihatkan? Si Pria mengungkapkan dan Si Wanita menjawab. Problem solve. Ketidakpastian langsung ada jawaban. Andai semua orang berpikir terbuka seperti ini dalam masalah ini, maka semuanya bisa jelas. Tidak akan ada yang tersiksa. Jangan memberikan perhatian berlebihan jika nantinya si wanita ditinggalkan. Just Don't. Itu ME-NYE-BAL-KAN. Seenaknya masuk dan menghilang. Serasa jadi barang tak berharga saja jadinya, kalau hal itu muncul.
Her
Dia menatap note-note balok yang ada di depannya. Memahami satu-satu nada yang akan muncul di sana. Lalu, memainkan biolanya. Ada banyak hal yang perlu dia kejar dan salah satunya adalah ini. Dia ingin keluar dari zona amannya. Dia ingin mencapai apa yang dia targetkan, bukan hanya perasaan merah jingga ini saja yang perlu dikhawatirkan. Bersamaan dengan itu dia akan terus menanti sang imam yang akan membimbingnya.
Dia perkenalkan lagu ini kepada saya. Saya rasa ini juga hal yang merepresentasikan rasanya saat ini.
"You never enjoy your life. Living inside the box"
(Waiting Outside The Lines, Greyson Chance)
(Source: here)
(Waiting Outside The Lines, Greyson Chance)
(Source: here)#3 I Won't Give Up
Perkenalan mereka setahun yang lalu. Saya pengamat yang sangat baik. Baik untuk mengingat maupun mendetailkannya ke dalam cerita. Hehehe. Sudah lama ingin saya ceritakan, tapi baru sekarang ada kesempatan.
Sang wanita tak pernah menotice pria di awal pertemuan. Sama sekali tak sadar. Dia sibuk dengan dunianya. Dan saya, bwakakakak, saya lihat ekspresi si pria dan mulai mengetahui ada rasa yang dia punya buat wanita. Jadilah saya menjadi penonton kisah mereka dan kadang jadi obat nyamuk. Iseng, saya sengaja berjalan di antara mereka berdua mengukur perilaku si pria. Dan, hwahahha, memang benar ada rasa darinya. Kalau sang pria bertanya, pasti ngarahnya ke si wanita. Untuk menghargai keberadaan saya, dia bertanya sambil lalu. Demikian berita analisis saya di awal pertemuan mereka.
Keseriusan si pria benar-benar terlihat. Jarak 3 jam dia tempuh untuk menemui sang wanita. Dan itu setiap minggu. Sejauh ini saya lihat kecocokan mereka. Gampang saja melihatnya. Lihat saja bagaimana si wanita bersikap jika berbicara dengan si pria. Apakah dia menjadi diri sendiri atau berubah jadi orang lain? Dengar saja nada bicaranya, apakah intonasinya berubah menjadi melembut atau sama saja dengan cara dia berbicara denganmu? Jika ada perubahan, maka itu bukanlah kenyamanan dan kecocokan. Tapi berusaha mencocokkan, dan itu melelahkan.
Katanya mereka akan lanjut ke jenjang yang lebih serius. Saya ikut senang mendengarnya. Secara tidak langsung, saya kenal kedua belah pihak dan mengetahui kisah mereka dari awal. Tentu saja tidak semuanya, hanya dibeberapa hal yang layak untuk saya ketahui dan saya amati.
Overall, dari semua kisah yang saya dengar. Ini salah satu kisah fairy tale. Prosesi cepat, kedua belah pihak cocok, baik dari mereka pribadi maupun keluarga. Langsung ada kejelasan dan yang menggelikan, sang pria mengirimkan lagunya Maher Zain - For The Rest of My Life. Apa yang sahabat saya rasakan, dia menangis mendengar lagu itu. Lagu yang dikirim khusus untuknya. Saya memandanginya, ikut berkaca-kaca. Terharu dan ikut senang, sambil tak dapat dipungkiri bertanya-tanya kapan yaa kisah ini saya yang jadi bintangnya. Hahaha.
Setiap perpisahan yang merentangkan jarak di antara mereka hingga ratusan kilometer. Sang wanita akan memutarkan lagu ini di laptopnya. "Kalau gw pisah sama mamas (panggilan sayang dia pada pria-nya), gw bakal mutar lagu ini buat nenangin jiwa gw," ucapnya dengan dibarengi kekekan tawa tak jelas.
I won't give up on us. Even if the skies get rough
(I Won't Give Up - Jason Mraz)
(I Won't Give Up - Jason Mraz)
(Source: here)
Apa yang saya dapat dari kisah mereka:1. Bahwa setiap kehidupan yang kita jalani ada theme song-nya seperti di film-film. Tinggal cari lagu yang sesuai saja. Wkwkwkwk
2. Jangan ragukan kemampuan-Nya mengatur kisah kita
3. Temukan seseorang yang membuat kamu nyaman untuk menghabiskan sisa hidupmu.
4. Pria itu mencari dan mengungkapkan, wanita itu menanti dan memutuskan menerima atau menolak
5. Bahwa Pria jangan main-main dengan perasaan wanita. Jangan seenaknya, jangan main-main. Seriuslah!! Disambut baik-baik, maka pamitlah dengan baik. Wanita itu bersifat demanding.
6. Bahwa wanita itu butuh kepastian dan sering bertanya "Mau dibawa kemana hubungan kita?" (seperti lagu Armada saja ini). Pasti akan muncul pertanyaan itu.
7. Jangan menjaminkan rasa pada waktu. Ia ada masa kadaluwarsanya. (Jangan sekali-kali mengatakan, biar waktu yang menjawab. Yang ada rasa itu akan hilang dengan sendirinya). Jangan salahkan saat pria menyadari perasaannya, sang wanita telah mati rasa. Jarum waktu terus berputar.
8. Kejar hal lain yang ingin dijadikan target. Biar orang bilang apa, as long as that satisfied you and meet your requirement. Feel free to do that!!
Okey then. That's all the story about the poeple surrounding me. Hopefully, you enjoy it..
"I let it fall. My heart. It was dark and I was over"
(Set the fire to the rain. Adele)
"I let it fall. My heart. It was dark and I was over"
(Set the fire to the rain. Adele)


4 comments:
oww..oww..oww.. speechless.. :D :D :D nice story dinaaa... bagus juga tuh dibikin kumpulan cerita pendek, hehehe.. asyik buat nemenin hari minggu ini sambil ditemani secangkir kopi hangat, suasana mentari sore yang indah,,aahhh, jadi berimajinasi nih, hehe
dan bagian terakhir itu wajib banget dibaca kaum pria di mana pun mereka berada, hahaha.. :D
Anyway, I like the stories ;)
Thanks ya fiiir.
Gimana? Udah ada bakat jadi Asma Nadia nggak aku fiir?
Hwahahha.
Iya, bagian terakhir emang perlu dibaca. Bukan niat hubungan instan, tapi hubungan yang jelas. Wkwkwk
hwahaha.. someday you will ;) terus diasah ya bu kemampuan menulisnya, hwehehehe..
yup, bener banget, hubungan yang jelas dan serius tentunya, hohoho ;)
ahhaahahaha... cikikiiiww...
Doakan aku ya cungki.. smoga bisa diberikan kemudahan..
tingkat 8.. ayo.. naik tingkat ya..jangan disitu2 aja.. belajar yang baik..
Post a Comment