Gelisah, tidak bisa tidur, deg-degan. Pikiran melayang-layang memikirkan besok. Selalu seperti itu, jika ada hal-hal yang menurut saya penting. Dan besok adalah momen saya untuk membuktikan saya juga bisa presentasi, nggak hanya pemain belakang saja.
Pagi
Latihan presentasi. Menyetrika baju dengan semangat. Ketemu kata-kata bahwa "manusia tidak boleh takut kepada selain Allah." Menjadi semakin bersemangat dan siap untuk presentasi. Sudah merasa berpakaian rapi.
Daaaan.."Damn, I hate to receive that stare".
Saya sedang tidak mood menerima kritik fashion. Dan teman saya menatap saya dari atas sampai ke bawah, "Dina mau presentasi pakai ini?" Miris hati saya melihat tatapan teman saya itu. Dan langsung berkaca-kaca.
Makanya sewaktu dia berkata seperti itu saya cuma bisa bilang, "Sudahlaaah, jangan menatapku seperti itu. Memang beginilah gayaku." Lalu mengarah dan menatap benda mati saja, daripada meleber ni mata. Yaah, saya sedang sangat tidak mau mendengar komentar seperti itu, dan sering memilih diam.
Siangnya, kami sudah baikan, soalnya setelah saya reda marah dan sedihnya, saya sampaikanlah ketidak senangan saya ke teman saya ini. Dan jadi tahulah kita pendapat kedua belah pihak. Alhamdulillah masalah beres. Hahaha, saya nggak demen juga kelamaan. Bahkan teman saya membantu saya menyelesaikan suatu hal. >.< I Love Peace Very Much.
Siang
Mesin pembuat kopi itu berdiri dengan gagahnya. Saya suka sekali membuat coklat panas menggunakan mesin ini jika rapat ke TKP. Nitip dibuatin dengan teman (teman berbeda dengan yang tadi) yang ikutan bareng saya.
Damn!! Judulnya Milo ternyata yang diperoleh air putih. Ngences deh ngencess.. Milonya habis. Hiks. Tapi ini kenapa juga teman saya tetep kekeh bawa dua buah gelas, kalo yang pertama aja udah jelas yang muncul air putih. Mungkin jiwa optimisnya lagi muncul saat membuatnya tadi. Bwahahahhaha.
Sore
Saya sudah selesai presentasiii. Hahahhaa. Legaaaa. Bagaimana ini, sikap saya masih seperti ababil saja? Mana pekerjaan saya mengharuskan presentasi, masa selalu begini sikap saya kalau disuruh presentasi. Yayaya, yang pertama gitu looh. Wkwkwkw.
Kata teman
Gaya saya saat presentasi berbicara dengan kecepatan yang cukup tinggi, terkadang mencapai nada suara yang tinggi hingga nyaris tercekik, ada beberapa kata yang tidak mengerti apa maksudnya disebutkan, dan sebagainya. Tapi lumayanlah buat awal.
Pembelaan saya
Ya cepet-cepet soalnya bahan banyak tapi waktu mepet, suara meninggi memang sering terjadi kalau saya grogi, ada beberapa kata yang tidak dimengerti "kayaknya saya juga nggak sadar apa yang saya katakan saking groginya". Ahhahaha..
Dengar Recorder
Ngomong suka kelilipan deh lidah. Banyak ngomong kemudian, eh, jika seandainya, untuk, sehingga, namun (bahkan kalimat positif pun saya beri kata namun). Saya mendengar saja pusing.
Pembelajaran
Mau belajar teknik presentasi yang baik. Pengontrolan suara tercekik. Kecepatan terbaik dalam presentasi. Menjaga agar lidah tidak terpelintir dalam presentasi. Daan, ooh meeeen logat Riau kental bangeeet meen. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan bercakap-cakap pake bahasa sehari-hari.
HARUS BELAJAR INI. INI MODAL MU NAAK!!!
The other story:
Hari begitu cerah rasanya sore itu. Presentasi sudah berakhir dengan lancar (catet: lancar di sini adalah lancar versi saya) dan saatnya berpamitaaaan, memasang wajah seramah mungkiiiin. Dua orang sudah saya pamiti. Selanjutnya menuju orang di seberang meja. Dengan lincahnya kaki saya menabrak tali ituuuuuu yang dibarengi suara debam yang keraaas (saya sampai mengira mesin pembuat kopi yang besar itu yang jatuh saking kerasnya bunyi) dan dengan indahnya terjerembab dan menabrak dinding. Memukul dinding dengan wajah frustasi dan mencoba mengingat jumlah kepala yang ada di sana. Ooooh meeen, ada ENAM, pemirsa. Dan salah satunya adalah yang dituakan, atau project manager-nya. Damn!!!
Why Why Why ending cerita saya kalau ke depan seringnya begini. Hwahahha, udah gaya-gaya, eee terjerembab pula. Wwkwkwkwk.
Makanya sewaktu dia berkata seperti itu saya cuma bisa bilang, "Sudahlaaah, jangan menatapku seperti itu. Memang beginilah gayaku." Lalu mengarah dan menatap benda mati saja, daripada meleber ni mata. Yaah, saya sedang sangat tidak mau mendengar komentar seperti itu, dan sering memilih diam.
Siangnya, kami sudah baikan, soalnya setelah saya reda marah dan sedihnya, saya sampaikanlah ketidak senangan saya ke teman saya ini. Dan jadi tahulah kita pendapat kedua belah pihak. Alhamdulillah masalah beres. Hahaha, saya nggak demen juga kelamaan. Bahkan teman saya membantu saya menyelesaikan suatu hal. >.< I Love Peace Very Much.
Siang
Mesin pembuat kopi itu berdiri dengan gagahnya. Saya suka sekali membuat coklat panas menggunakan mesin ini jika rapat ke TKP. Nitip dibuatin dengan teman (teman berbeda dengan yang tadi) yang ikutan bareng saya.
Damn!! Judulnya Milo ternyata yang diperoleh air putih. Ngences deh ngencess.. Milonya habis. Hiks. Tapi ini kenapa juga teman saya tetep kekeh bawa dua buah gelas, kalo yang pertama aja udah jelas yang muncul air putih. Mungkin jiwa optimisnya lagi muncul saat membuatnya tadi. Bwahahahhaha.
Sore
Saya sudah selesai presentasiii. Hahahhaa. Legaaaa. Bagaimana ini, sikap saya masih seperti ababil saja? Mana pekerjaan saya mengharuskan presentasi, masa selalu begini sikap saya kalau disuruh presentasi. Yayaya, yang pertama gitu looh. Wkwkwkw.
Kata teman
Gaya saya saat presentasi berbicara dengan kecepatan yang cukup tinggi, terkadang mencapai nada suara yang tinggi hingga nyaris tercekik, ada beberapa kata yang tidak mengerti apa maksudnya disebutkan, dan sebagainya. Tapi lumayanlah buat awal.
Pembelaan saya
Ya cepet-cepet soalnya bahan banyak tapi waktu mepet, suara meninggi memang sering terjadi kalau saya grogi, ada beberapa kata yang tidak dimengerti "kayaknya saya juga nggak sadar apa yang saya katakan saking groginya". Ahhahaha..
Dengar Recorder
Ngomong suka kelilipan deh lidah. Banyak ngomong kemudian, eh, jika seandainya, untuk, sehingga, namun (bahkan kalimat positif pun saya beri kata namun). Saya mendengar saja pusing.
Pembelajaran
Mau belajar teknik presentasi yang baik. Pengontrolan suara tercekik. Kecepatan terbaik dalam presentasi. Menjaga agar lidah tidak terpelintir dalam presentasi. Daan, ooh meeeen logat Riau kental bangeeet meen. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan bercakap-cakap pake bahasa sehari-hari.
HARUS BELAJAR INI. INI MODAL MU NAAK!!!
The other story:
Hari begitu cerah rasanya sore itu. Presentasi sudah berakhir dengan lancar (catet: lancar di sini adalah lancar versi saya) dan saatnya berpamitaaaan, memasang wajah seramah mungkiiiin. Dua orang sudah saya pamiti. Selanjutnya menuju orang di seberang meja. Dengan lincahnya kaki saya menabrak tali ituuuuuu yang dibarengi suara debam yang keraaas (saya sampai mengira mesin pembuat kopi yang besar itu yang jatuh saking kerasnya bunyi) dan dengan indahnya terjerembab dan menabrak dinding. Memukul dinding dengan wajah frustasi dan mencoba mengingat jumlah kepala yang ada di sana. Ooooh meeen, ada ENAM, pemirsa. Dan salah satunya adalah yang dituakan, atau project manager-nya. Damn!!!
Why Why Why ending cerita saya kalau ke depan seringnya begini. Hwahahha, udah gaya-gaya, eee terjerembab pula. Wwkwkwkwk.
Practice Make Perfect

No comments:
Post a Comment