(Source: here)
Bos saya nyepet-nyepet aja ni gara-gara saya pernah debat sama dia. Sebab saya keras kepala.
"Saya debat sama si Dina sampai 1 harian. Kalau saya lihat wajahnya, dia bilangnya setuju tapi wajahnya tidak ikhlas." Saya menatapnya lesu dan berpikir "Hedeeeh, si bapak ini masih saja membahas masa lalu.. Capee deeh."
Saya rada malas mengungkit-ungkit itu, bisa-bisa banjir lagi ni bendungan. #Eaaaa,, lemper ama kerupuk banget mental gue.
Lain waktu si bapak akan bilang:
"Gimana Dina? Setuju nggak kamu?" (saya sedang sibuk melakukan perubahan akan pekerjaan yang sedang asyik dikerjakan dan tak terlalu mendengarkan). "Kamu jangan asyik sendiri saja, ini waktu buat kamu belajar loh anak-anak."
Hahhaha,, memang bener sih Pak. Cuma kita sudah jenuh saja kadang-kadang..
Suasana kaku kemaren sepertinya sudah mencair (ayeeey). Bwahahhaaa... Kalau dipikir-pikir sih sayanya saja yang reaktif banget kayak bom molotov. Padahal waktu saya disuruh mendeskripsikan bagaimana sifat saya jika dibandingkan dengan unsur-unsur kimia, maka saya memilih Argon. Memilihnya entah maksa dengan nim saya yang 18, entah karena memang itu sifat saya.
Itu sudah masa lalu. Yang penting dari kejadian itu saya bisa belajar banyak. Banyak sabar dan mau membuka pikiran. Berhenti membanting pendapat orang dulu sebelum dicerna dengan benar. Ahiakahiak..being stubborn and reactive for anything can influence my social life..
Tapi sekarang saya kalem-kalem aja dibilang pengecut tuh.. #Aiiih, maunya dunia ini apa ya?? Banyak banget pendapat yang overlap. Itu orang kenapa juga teteeep kekeh ngajak-ngajak saya dalam melodrama cinta dia sama saya punya temen. Orang udah bilang nggak mau ikut campur juga. Fyuuh..

No comments:
Post a Comment