Monday, March 5, 2012

Aku Lebih Baik Tahan, Kak

(Source: here)

Percakapan panjang yang saya habiskan dengan adik lelaki saya, Dino, malam tadi. 2 jam bertukar cerita, atau lebih tepatnya saya mendengarkan keluh kesahnya dan hanya mencoba memberi nasehat-nasehat sederhana. Nasehat yang saya dapat dalam perjalanan hidup saya.

"Kak, aku sudah belajar mengenai ikhlas" begitulah kalimat awal percakapan kami dimulai.
"Ada apa sekarang, No?" pancing saya. Saya menceritakan ini dari sudut pandang saya sebagai pendengar.

Dia berkisah mengenai persahabatannya dengan seorang teman. Temannya dari masa kecil. Hubungannya tidaklah terlalu baik saat itu, dalam artian bukan dalam skala habis bertengkar, tetapi skala karena perbedaan sudut pandang. Mereka memiliki teman main yang berbeda dan sama-sama nyaman di sana.

Suatu ketika, teman kecilnya mengalami kecelakaan dan menyebabkan kakinya patah. Tak bisa berjalan normal dan harus selalu ditopang. Teman sepermainan dari temannya menghilang dan tak ada yang membantu.

Dan itu berbeda dengan apa yang dilakukan Dino. Tak ada yang meminta kepadanya, dengan kesadaran sesama manusia, Dino menawarkan diri untuk membantunya. Pagi dia menjemput temannya ini, saat di sekolah dia memapah kemana saja, sore dia mengantarkan temannya lagi ke rumahnya. Begitu setiap hari, hingga kini.

Tahu respon apa yang dia dapat dari orang-orang? Karena keikhlasannya memberi bantuan? Sebuah komentar singkat yang diucapkan oleh teman Ilid "Abang kau kayak pembantu aja, Lid."
Atau respon tidak enak dari teman yang dia bantu. Dan Dino mengakui bahwa rasanya dia diperlakukan memang seperti seorang pembantu oleh temannya ini. Merasa lebih dan meremehkan.

"Aku nggak bisa ketawa lepas di dekat dia, kak. Seolah-olah ada yang tertahan. Dia terlalu superior. Ada ajaa aku memiliki kelebihan sedikit dari dia, dia langsung memandangku dengan pandangan yang membuatku tak nyaman."

Sungguh, dari sudut pandang saya, temannya ini tidak ada rasa terimakasih. Saat orang-orang tidak ada di dekatnya, saat teman dekatnya menjauh perlahan, Dino ada di sana. Apa dia tidak bisa melihat keikhlasan di sana? Dino sama sekali tidak mengharapkan balasan apa-apa yang berlebihan. Hanya seulas senyuman dan rasa nyaman karena kesetaraan. Itu saja.

Dia sangat sungkan akan semua tawaran. Ketika dia diajak naik ke mobil jemputan temannya, "G usahlah." Dan dia berlalu begitu saja.
"Mungkin orang-orang berpikir aku dekat dia karena suatu hal. Ya ampuuun kaaak. Kalau dia traktir aku, aku akan balas kak. Tapi nggak dalam bentuk uang. Aku traktir balik dia."

Saya sarankan kepadanya bahwa ada saatnya kita berhenti untuk membantu seseorang. Jika rasa nyaman dan sebuah penghargaan tidak kita dapatkan. Atau ada dua hal yang harus dilakukan: Katakan padanya bahwa kamu tidak nyaman atau tinggalkan dia perlahan.

Dan adik saya bilang, "Aku lebih baik tahan, kak. Kasihan dia kak. Dia teman aku dari kecil, kalau nggak ada aku. Nanti dia sama siapa. Nggak apa-apalah sekarang aku diperlakukan kayak gini. Aku ikhlas."

Teruntuk buat Dino:
Kakak nggak tahu hati kamu terbuat dari apa, No.
Tapi kakak bangga dengan yang kamu lakukan dan kakak perlu belajar itu dari kamu.
Begitu perduli dengan orang di dekatmu.
Tak perduli respon orang itu bagaimana kepadamu. Kamu redam saja dan memilih ikhlas.
Semoga teman kamu sadar ya, No. Betapa berharganya menemukan sahabat seperti kamu.
Yang sabaaar yaaa... Selalu ada buah dari kesabaran dan keikhlasan.
Kakak jadi ingat saat lebaran lalu,
kamu langsung marah karena kakak keluar malam-malam. Makasiiih Nenooo. ^^
Alhamdulillah kakak dikaruniai adik seperti kamu dan Ilid.
Kalian baik sekaliii.

"Kadang-kadang, kalau perasaan nggak nyaman muncul.
Aku jadi rindu teman mainku, kak"
(Kehampaan persahabatan - Dino)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...