Thursday, March 1, 2012

Sensitive lah.. Terkadang Itu Perlu

(Source: here)
Selesai dengan permasalahan saya. Saya harus anggap masalah kemaren itu sudah berakhir. Harus!! Life Must Go On!!

Saya mulai memandangi orang-orang di sekitar saya. Mencoba mengamati tingkah laku mereka, kebiasaan mereka, atau kesibukan mereka. Duduk di ruangan yang berukuran 3.6 m x 5.4 m membuat interaksi saya dengan yang lain lebih gampang. Dan saya lebih mudah mengamati ekspresi mereka, sedih kah, bete kah, senang kah, atau mesem-mesem malu malu di sudut meja mereka, mudah saya lihat.

Menyelonjorkan kaki dan menyandarkan punggung ke kursi, berusaha dalam kondisi serileks mungkin, sambil memandangi layar. Tiba-tiba, Mas itu datang. Saya mengatakan dia pria, karena dia sudah menikah sekarang. Selamat ya Maas, semoga langgeng. Ahiakahiak.

Dia menanyakan kepada saya, mengenai kerjaan yang saya minta bantuannya untuk dikerjakan (eits, ini masih pekerjaan ya. No private thing). Sedikit senang, mumpung si Mas ini lagi ada di sini. Biasanya, setiap saya mengerjakan itu, selalu selalu saja Mas ini lagi pergi ke suatu tempat. Jadilah saya mengojek menuju ke tempat tujuan. Oke, cukup tentang saya. (Saya memang suka jadi pusat perhatian.. Bwahahaha).

Kalau ada orang yang memandanginya, sekali dua kali, akan menganggap dia masih muda. Pertama kali mengenalnya, setahun yang lalu. Saya mengira umurnya baru 24, 25, atau 26-an. Ya, sekitar segitu lah. Bertubuh kecil, bergerak gesit, dan senang sekali tersenyum. Lipatan-lipatan di sekitar matanya yang memperlihatkan bahwa mata itu sering menyipit akibat senyuman. Orangnya ramaaah sekali, dimintai tolong apaaa aja, dia mau. Saya sampai nggak tega.

Tapi bagi saya dia terlalu baik. Terlalu susah menolak. Terlalu sering merasa tidak enak. Jadinya ya begini, dia terlihat sangat kelelahan. Saya bisa merasakan itu. Terasa lelaaah sekali, tapi tidak mau mengakui. Kalau saya tanya ke dia: "Gpp kan, Mas?" atau "Mas, yakin bisa hari ini?" atau "Mas, nggak capek? Baru balik dari sana kan ya? Udah makan siang?"

Dia akan bilang: "Ah, Mbak. Gpp kok. Ini saya udah makan kok mbak."
Begitu selalu, selalu begitu.
Selalu bilang saya tidak apa-apa.
Selalu bilang bisa kok
Kepada siapa saja, jika dimintai tolong. Mulai dari yang paling tinggi sampai kami yang cecunguk-cecunguk ini meminta, dia selalu bilang: "Bisa.. bisa.."

Tapi menurut saya semua ada limitnya
Seperti saya yang berakhir meledak dengan tangisan
Seperti teman saya yang akhirnya terdiam
Seperti teman saya yang lain yang akhirnya tertawa dalam ringisan tertahan

Sedikit sensitive untuk orang-orang di sekitar kita itu terkadang perlu
Meskipun dia tidak mengungkapkan dan selalu mengiyakan
Dan selalu terlihat ikhlas
Coba posisikan diri kita di sepatu dia
Apakah kita mau disuruh mengerjakan pekerjaan yang bukan scope kerja kita?
Apakah kita mau dimintai tolong yang terkadang bingung, ini masalah kerjaan atau masalah pribadi?

Intinya, saya hanya ingin bilang "Janganlah mencampur adukkan urusan pribadi dengan kerjaan, Janganlah memintanya untuk urusan yang bukan urusan dari yang seharusnya dia lakukan."
Tidak apa-apa, jika itu sekali-sekali
Tapi kalau berkali-kali. Rasanyaaa sudah sedikit keterlaluan.
Coba lihat gurat-gurat kelelahan di mata nya itu
Kelelahan yang teredam dengan rasa tak enak untuk mengungkapkan

Jika kita berada di posisi yang bawah, ungkapkanlah keengganan akan sesuatu hal kepada atasan kamu. Itu lah yang saya pelajari dari kejadian yang lalu.
Tapi jika posisi kita berada di atas, maka lebih sensitiflah, lebih mencoba mengamati bagaimana orang itu bertingkah. Terkadang mereka lelah, namun merasa sungkan untuk mengungkapkan. Dan itu tugas kita untuk mencoba paham.

Teruntuk buat yang merasa.
Please, jangan campur adukkan kepentingan kita dengan kepentingan pekerjaan
Ada saat-saat dimana kita harus lebih pengertian dengan teriakan batin orang-orang yang teredam
Karena manusia adalah makhluk sosial dan terapkanlah pelajaran PPKN yang sering kita cerna di bangku sekolah dulu, yang bernama TENGGANG RASA
Semoga bermanfaat dan membuat kita menjadi lebih baik lagi, temaan

"Mas, mau kemana?" "Mau ke sana mbak?"
"Urusan apa emang?" "Itu, dimintai tolong buat nganterin itu mbak?"
"Mas. Mas nggak capek? Kan itu kayak di luar kerjaan mas lo mas. Kalau mas merasa itu sudah kelewat batas. Ngomong. Biar nggak keterlaluan."
"Saya nggak enak, Mbak. Sungkaan."
"Yaah, mas. Diungkapkan laah, biar nggak semena-mena. hehehe. Ya udah, biar saya saja yang bilang, ya. Semoga lebih teredam."
(Percakapan Tadi Pagi yang Miris Rasanya. Ini namanya Tenggang Rasa)

2 comments:

Unknown said...

Yeah yeah... Makasih masukannya.. Good job..

Si Petualang said...

Hahaha.. Nggak tersinggung kan kak?
Daripada aku ngomong langsung..
Have a Nice Day.. ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...