(Source: here)
Present Mereka duduk di meja oval. Ada sekitar delapan orang yang mengelilingi meja tersebut.
Di depan masing-masing peserta, di atas meja, tersusun dua buah dokumen yang sudah tertata rapi untuk nantinya dibaca selama presentasi. Jikalau ada yang ingin melihat lebih jelas apa yang tertera di layar atau memastikan lagi lingkup pekerjaan yang nantinya dipaparkan.
Mereka membahas sebuah proyek penting selama dua jam. Penting bagi perusahaannya dan juga penting bagi negaranya. Kebutuhan akan produk yang mereka rencanakan akan dibuat ini sangat tinggi akhir-akhir ini. Bahkan mungkin 50 tahun ke depan, jika adanya pergeseran konsumsi energi sesuai ketetapan pemerintah tempat mereka bernaung.
Di sana, di ruang duduk itu, dimana ada delapan pasang mata yang saling menatap, menyipit kala tersenyum, atau melotot karena terkejut, mereka membahas rencana itu. Rencana yang sedikit tak masuk akal untuk direalisasikan di negara mereka tercinta.
Ada banyak hal yang mengarahkan pada ketidakpastian akan rencana ini. Bukanlah yang menjadi masalah itu adalah kondisi teknis, pasti ada tentunya, namun tidaklah terlalu besar dampaknya dibandingkan masalah yang satu ini. Yang membuat delapan pasang mata ini mengernyit dan menghela napas berkali-kali. Semacam hantu-hantu tak jelas dengan suasana yang mendinginkan. Gayung bersambut membentuk sebuah gelombang kepenatan dalam otak ataupun kesempitan dalam dada yang akhirnya berakhir dengan mengelus dada dan helaan napas. Canda dan tawa selama membahas masalah itu tetap memghiasi bibir-bibir mereka. Adu pengetahuan dan pengalaman menjadi ajang paling menarik selama di sana. Semua menuju ke sebuah harapan, harapan agar rencana mereka ini bisa terealisasikan nantinya. Atas nama perusahaan dan negara. Begitulah katanya.
Saat ini, yang mereka miliki adalah tekad. Tekad untuk mencoba akan sesuatu yang sedikit tabu di bumi yang mereka pijak itu. Berharap ada angin segar yang menjajari langkah mereka menuju pencapaian prestasi yang ingin mereka raih. Mereka memulainya dengan cara paling aman dulu. Dimulai dari tahap paling awal dalam memulai sebuah bisnis.
Walaupun mereka sangat ingin ide ini tercapai, mereka tetaplah orang-orang yang realistis. Meminimalisir terjadinya resiko dari ketidakpastian akan rencana yang masih tinggi. Mereka ingin meyakinkan bahwa bisnis atau rencana atau pun proyek yang akan mereka jalankan ini bisa memberikan solusi akan realita yang dihadapi akhir-akhir ini, bukannya menambah derita. Mereka ingin memulainya dengan cara yang benar dan dengan harapan rencana ini pun akan berjalan pada jalur yang benar. Sebuah usaha yang mengatas namakan bangsa dan tanah air tercinta mereka.
Semoga saja, benar-benar ada angin segar di sana. Semoga saja pekerjaan yang mereka rencanakan berjalan lancar. Dari awal hingga akhir.
Past
Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Saya menatap layar laptop yang sudah mengeluarkan bunyi deru yang keras karena sudah cukup lama dihidupkan. Tak ada deadline hari ini, tapi ada deadline untuk minggu depan. Sedikit santai dibandingkan minggu yang lalu. Ah, tapi tak juga. Senior saya akan keluar kota, jadilah saya dan seorang rekan menjadi PJ sementara pekerjaannya.
Namun tugas dadakan itu datang. Persiapan untuk meeting hari esok. Segera membuat presentasi. Tentu saja saya jadi tersangka untuk pelaksanaan, karena memang kebetulan sayalah yang di assign untuk mengurusi tetek bengek pekerjaan ini. Entah bagaimana ceritanya saya menjadi penanggungjawab. Mungkin ada sedikit potensi bagi saya bekerja di proyek atau potensi bagi saya untuk mengembangkan bakat cuap-cuap di bidang ini.
2 jam saya habiskan untuk mempersiapkan presentasi dan dikirim kepada atasan saat itu juga. Review langsung dilakukan, dan saat saya pulang dari sana saya senang. Pekerjaan itu sudah selesai dan siap dicetak. Semuanya saya persiapkan dengan sebaik-baiknya (walau masih standar saya) karena saya suka sebuah perencanaan yang matang dengan harapan meeting besok dapat berjalan lancar, tanpa cacat, tanpa kesalahan. Perfection.
Terselip gurauan bahwa sebenarnya saya pun mengerjakan pekerjaan itu sebisa saya saja dan kadang-kadang melayang-layang. Maklum baru pertama saya diassign sebagai penanggungjawab tunggal langsung dibawah atasan saya. Diterjunkan mulai dari awal. Menarik-menarik. Ada beban di sana, sedikit miss di otak saya, tak ada yang tahu. Salah saja penyampaian yang saya ucapkan, tak ada juga yang tahu. Jadi saya harus benar-benar mencurahkan jiwa raga saya. Selagi ada momen pembelajaran yang baik ini.
Saya sudah berjanji dalam hati untuk melaksanakan pekerjaan ini sebaik-baiknya. Membangun sistem tepatnya. Dengan harapan pekerjaan ini bisa mendekati sempurna. Saya paksakan untuk belajar mengurusi segalanya, mulai dari berusaha mengenal orang terkait (siapa saja mereka, saya harus tahu), mentrack jalan pikirannya, memahami jalan cerita yang ingin mereka torehkan, dan berusaha membangun sistem bekerja yang baik seperti apa. Ya, meniti dari bawah. Merangkum cerita dan merealisasikannya dalam tulisan. Begitulah inti pekerjaan saya.
Diskusi dengan atasan pun sudah mulai menyenangkan bagi saya. Apa yang ingin saya tanyakan, langsung dipaparkan. Tak ada lagi ragu seperti biasa. Tentunya sekarang saya belajar untuk memaparkannya dengan cara yang baik dan belajar lebih untuk menyajikannya dengan cara yang terbaik. Service Excellence, Good is not enough. Begitulah jargon yang dipaparkan atasan saya. Saya harus berusaha memenuhinya sebaik mungkin. Semoga saja.
Dan hari ini, semua berjalan lancar. Tak pernah selega ini perasaan yang saya rasakan sepulang meeting. Saya sekarang yakin, memang selalu ada kelegaan di setiap kesempitan. Cheers..
Hari ini berjalan lancar. Tidak telat, presentasi lancar, dan pulang meeting dengan hati lapang. No deg-degan. Saya senang perasaan ini. Semoga bisa bertahan
(Perfection, Try to achieve it)
(Source: here)

No comments:
Post a Comment