Pengantar tawa bagi orang-orang sekelilingnya
Tapi tak urung juga dia selalu menimbulkan geraman kecil karena tingkahnya yang terkadang kuakui menyebalkan
Kecil, lincah, hitam manis, dan penuh gaya
Bergerak ceria kesana kemari untuk menorehkan warnanya di setiap sudut hari
Terkadang aku ikut tersedot dengan keceriaannya
Menjadi patner dalam percakapan dengannya
Tentang salah satu mimpinya suatu hari nanti membuka salon
"Jadi, kalau besar nanti Bibi mau ngapain?", tanyaku padanya suatu hari, saat tangan kecilnya sibuk mempermainkan anak rambutku yang dijadikannya sarana bermain.
"Adek nanti kalo udah besar, pengen buka salon!!" jawabnya semangat empat lima
Kadang aku tertawa, mengapa gadis kecil ini ingin membuka salon?
Bukan impian yang umumnya diucapkan dengan semangat empat lima oleh seorang anak dalam umurnya yang baru 4,5 tahun
Ingin selalu kutanyakan, apakah ini impian kecilnya, yang jikalau besar nanti akan terlupakan begitu saja atau benar-benar akan terjadi?
Kalau saja dia berniat membuka salon, nantinya
Aku, sebagai tantenya, tidak akan segan-segan menjadi seseorang yang akan mendukungnya
Tangannya benar-benar runut memijat wajahku, kalau-kalau aku bermain "creambath-creambath-an" dengannya. Bergerak bak ahli perawatan kecantikan. Ini pun membuatku heran, darimana anak ini belajar. Seingatku, kakakku yang juga mamanya tidak atau jarang mengajak si kecil ini ke salon. Mungkin ini yang disebut bakat alam ya?
Matanya yang bulat penuh terkadang membuatku jadi urung untuk memarahinya
Jawabannya yang cerdas membuatku malah tertawa terpingkal-pingkal dan lupa bahwa barusaja aku ingin menjewernya
Sifatnya yang peka terhadap yang lebih tua juga tak ketinggalan, lebih memilih menegur mamanya yang sedang masak ketika melihat neneknya mencuci piring
"Ma, kok nenek dibiarin nyuci piring sih ma. Biar adek aja!!", itu ucapnya ketika mamaku menceritakan ulang percakapan Bibi dengan mamanya.
Tidak bisa aku bayangkan, tangan yang hanya setengah ukuran tanganku berusaha keras memegang piring untuk dicuci. Sebagai pembuktian bahwa dia juga seorang anak yang berbakti. Seringkali malah mamaku melarangnya menyapu dapur ketika dia sedang dalam taraf menjadi anak yang berbakti, karena kami yang besar ini ada disana. Mama lebih memilih kami, para tante dan om nya, yang bekerja dibanding di bawel kecil itu yang tersengal-sengal menyapu dapur.
Bibi, bibi. Ini ingin selalu kutanyakan. Di hati kecilmu itu, apakah akan ingat semua kejadian lucu dan cerdas yang kamu lakukan? Karena hati itu kecil tapi susah untuk dimengerti.
Jakarta, 19:41 WIB
Teruntuk Bibi diseberang pulau sana
Jika kamu besar nanti dan sudah bisa membaca, mungkin kamu bisa tertawa
Membaca secarik catatan ini, sebagai kenanganmu di masa depan sana
Teruntuk Bibi diseberang pulau sana
Jika kamu besar nanti dan sudah bisa membaca, mungkin kamu bisa tertawa
Membaca secarik catatan ini, sebagai kenanganmu di masa depan sana
No comments:
Post a Comment