(Source: here)
Umurnya belum sampai sepuluh tahun waktu itu. Dia adalah anak pindahan dari sebuah kota di Sumatera Barat. Kota dingin seperti Bandung, yang dikelilingi pegunungan membentuk sebuah celukan. Pindah kembali ke kota kecil yang panas itu tidak membuatnya jengah, karena, akhirnya, setelah setahun lamanya dia kembali berkumpul bersama orang tuanya.
Anak manja yang dipaksa mandiri. Pernah suatu kali, dia berkata dengan tegasnya di balik lengan ibunya, lebih memilih berkorban untuk menetap bersama orang tuanya daripada jalan-jalan ke Jakarta. Tentu yang lain menjadi tertawa geli karena bentuk pengorbanannya yang aneh. Toh dia tetap harus pergi, karena keluarganya sudah membeli tiket untuk keberangkatan tersebut. Harapan semu.
Ukuran tubuhnya cukup jangkung di antara teman-teman seumurannya. Berambut cepak karena merasa tidak bisa mengurus rambutnya. Hanya akan memakai rok untuk ke sekolah atau ke madrasah. Mendeklarasikan tobatnya untuk berhenti menggunakan rok sejak kelas 3 SD, semenjak kejadian bodoh di RRI sewaktu TK. Bukti nyata yang hingga kini membuat pipinya memerah karena malu. Lebih gemar menghabiskan waktu bermain gundu atau layangan daripada bermain boneka yang matanya melotot itu. Boneka anak kecil atau barbie yang selalu membuatnya bergidik ngeri menatap matanya.
Bergaya slengek-an ke madrasah. Memakai jilbab seadanya, tak perduli posisinya yang cenderung miring ke kiri atau ke kanan. Yang penting terpakai dengan sempurna, versi pikirannya. Sangat rajin pergi sebuah toko di dekat madrasahnya dan membeli sebungkus cemilan coklat yang sangat disukainya. Sayang cemilan itu sudah tidak seenak yang dulu. Dia rindu coklat itu.
Sekolah pengajian yang diikuti sewaktu di kota dingin Sumbar itu, membuatnya sedikit lebih cepat menangkap tulisan arab meliuk-liuk itu dibanding teman-temannya di madrasah yang baru. Dalam setahun dia sudah langsung naik ke tingkat yang lebih tinggi. Karena dia anak baru di madrasah itu, ditambah lagi dia anak yang semakin baru lagi di kelas barunya, membuatnya benar-benar menjadi pendatang baru. Dia hanya cuek saja. Berbekal ingatan sewaktu kelas 1 SD dengan sahabat kecilnya dulu, jadilah dia ada beberapa teman.
Di sanalah dia bertemu dengan seorang anak yang menyebalkan versinya. Sok-sokan dan sok kuasa. Mentang-mentang anak itu lebih besar darinya (dia yang baru kelas 3 SD dan anak itu sudah kelas 4 SD, ah ukuran kelas memang menjadi masalah sewaktu masih kecil), mentang-mentang dia anak baru di kelas itu, dan mentang-mentang anak itu lebih punya banyak teman darinya. Bukan berarti dia bisa seenaknya. Begitu menurutnya. Dia membenci kontroversi, apalagi keangkuhan itu ditujukan kepadanya yang akan melakukan apa saja untuk mempertahankan prinsipnya.
Awalnya dia hanya mengamati saja.Yah, cuek saja dan tak terlalu ambil pusing. Cukup mengamati sampai mana kehebatan anak ini mempengaruhi emosinya. Karena tubuhnya yang sedikit jangkung itu, tak membuat guru madrasahnya kasihan dan menempatkannya di posisi terdepan. Dengan kondisi fisik itu, dia ditempatkan di meja paling belakang. Dan saat itu tepat di belakang sang anak yang menyebalkan. Tentu saja dampaknya cukup besar bagi efek perkembangan jiwanya yang meredam ke dalam dan meledak pada satu titik.
Hingga akhirnya dia melihat itu. Yah, mereka menyontek pas ujian. Makhluk-makhluk kecil di depannya berkoalisi dalam mengerjakan soal ujian yang diberikan. Ckckckc, bagaimana dunia ini pikirnya saat itu. Di sekolah mengaji pun mereka berbuat curang. Dan yang semakin membuatnya kesal, anak itu belagu di depannya. Entahlah, apa ada terlompat saat itu kata-kata protesnya supaya tak menyontek sehingga anak itu semakin sok memperlihatkan kekuasaannya. Kekuasaan akan apa?? Tak jelas juga jika dia mengingat-ngingat sekarang ini.
Dia muak. Dia kesal dan ledakan itu terjadi. Tak berpikir panjang, saat jam madrasah usai dia berlari sekencang-kencangnya ke gerbang depan sekolah yang hanya mempunyai halaman kecil itu. Berdiri dengan gagahnya, dengan kerudung yang sedikit miring di kepala dan tas yang berisi Al-Quran dan catatan. Dalam pikirannya saat itu, dia hanya ingin memberi pelajaran kepada anak itu. Dan satu-satunya adalah kekerasan, ckckckck.
Ketika anak itu datang, seorang guru mengaji sedang melongokkan kepala dari kelasnya. Dia bekas gurunya sewaktu tingkat awal yang sudah ditinggalkannya dalam kurun waktu kurang dari setahun itu. Tetapi sudah terlambat, kaki kurusnya sudah melayang tepat di perut sang anak angkuh itu, yang langsung menjerit kesakitan. Apa yang bisa dilakukannya sekarang setelah tertangkap basah melakukan kriminal itu? Dia berlari tunggang langgang dan melepas kerudung ala kadarnya sambil memutar-mutarnya di udara. Berlari dengan secepat kilat ke arah rumahnya dengan membawa euforia kemenangan kecil itu. Kepuasan yang amat sangat, karena telah memberi pelajaran penting untuk sang anak angkuh.
"Ya Allaaaaah, Dinaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.. Heiiiii, kemari kamuuuuuuuuuuuu," sayup-sayup didengarnya teriakan sang guru yang memarahinya.
Mungkin gurunya terkejut, dia bisa sejahat itu, setelah sekian lama terlihat tak perduli. Ah sudahlah, yang penting saat ini dia bahagia dan puas. Puaaaaaaaaaaaas sekali dalam deru napas yang terus berpacu dengan langkah kakinya yang terus berlari dengan kecepatan penuh.
Anak itu berjalan di depannya. Dia tak lagi bersifat pongah seperti dulu.
Dunianya sekarang damai di kelas itu. Anak itu lebih menghormatinya, namun lebih menjurus kepada takut. Tapi tak apalah.
Dunianya sekarang damai di kelas itu. Anak itu lebih menghormatinya, namun lebih menjurus kepada takut. Tapi tak apalah.
Saat anak itu mulai bersikap tak menyenangkan, dia akan memperbesar bola matanya dan berkata:
"Hei, mau aku tendang lagi ya?"
(Memori 14 tahun yang lalu)

No comments:
Post a Comment