Thursday, April 26, 2012

8th: Menginjakkan Kaki di Tanah Dewata (Part 2)

Ini adalah Part 2 dari perjalanan singkat saya ke Bali. Reli panjang saya ke Tanah Dewata tersebut akhirnya berakhir juga dengan keinginan ingin balik ke sana. Bukan karena tempatnya yang membuat saya ingin kembali, seperti yang banyak dikatakan orang-orang, bahwa Bali itu begitu indah dan tempat yang sangat cocok buat berwisata, bukan juga karena makanannya, tetapi karena saya mendapat banyak teman di sana. Saya suka suka sukaaaaa. Ternyata memang benar saya cinta berteman, dan pastinya dengan orang yang nyambung dengan saya. Hahaha. Btw, ini cerita sepertinya akan panjaaaaaang sekali.

Persiapan yang Dadakan (11,12, 20 April 2012)
Entah bagaimana ceritanya, saya dan partner kerja saya, Lia a.k.a Cungki, yang dijatahkan hanya mengikuti satu konferensi saja selama setahun, mendapat jack pot untuk mengikut satu konferensi lainnya, dan lucky-nya berdua. Jadilah kita melakukan persiapan dadakan. Pembagian tugas pun dilakukan dengan tak sadar. Lia mengatur untuk pendaftaran dan tiket pesawat, saya mengatur hotel dan segala budget untuk kegiatan selama di Bali.

Persiapan dadakan juga dilakukan dengan diri, seperti membeli blazer (wkwkwk, ngakak guling-guling). Memang lah wanita yaa, kalau berhubungan sama acara, mikirnya "sebaiknya saya memakai apa yaa?"  Selain itu, bwahhahaha, selama ini kami berpakaian masih layaknya anak kuliah. Belum terlihat profesional. Berhubung (ngakak lagi berkali-kali karena ini memang bodoh banget) selama ini, kami hanya berpakaian sangat santai, bahkan pas rapat pernah disangka anak KP. Doeng, tepok jidat.

Ulang Tahun Bos Besar (22 April 2012 yang dirayakan 23 April 2012 siang)
Bos saya ulang tahun  ke-58. Sebelum capcus ke Bali, kita beli kue dulu buat si Bapak dan merayakannya bersama-sama. Si bapak malah lupa ulang tahunnya, fyuuh.


 "Selamat ulang tahun bapak. Semoga berkah segala urusannya dan terimakasih banyak atas ilmu dan pengalaman yang sudah dibagi ke kami.
Dan terimakasih juga atas kesempatan untuk mengenal dunia lebih luas dengan mengikut sertakan kami pada konferensi-konferensi. Terimakasih juga atas kepercayaannya mengirim kami menjadi delegasi ke Bali. Sebab momen ini adalah salah satu momen terbaik dalam hidup saya dan belum pernah saya merasa puas seperti yang saya rasakan ketika kembali dari sebuah kegiatan.
 Terimakasih juga untuk kue ulang tahunnya dengan sepotong stroberi di atasnya, membuat kue saya jadi lebih berwarna. Terimakasih Pak"

Hormat saya,
Anak Buah Anda

Terbang ke Tanah Dewata (23 April 2012)
Keberangkatan kami ke Bali adalah jam 5 sore. Karena diperkirakan jalur lalu lintas akan macet ke Bandara, jadi kami capcus dari kantor sekitar jam setengah 2, setelah makan kue ulang tahun bos doong. Saya tidak akan pernah melewatkan momen memakan kue COKLAT. Slurrrpp. Enek sih kalo kebanyakan. 

Bagian paling bodoh sudah dimulai dari masa-masa awal penerbangan. Saya dan Cungki memesan tiket pesawat melalui call center dan dihold dengan kartu kredit. Dengan berbekal sticky note yang berisi kode penerbangan, kami memasuki bagian departure. Bwakakkakak, memang sedikit tidak meyakinkan. Sticky note itu sudah lecek dan kumal. Tapi Alhamdulillah kita pass. Yey..

Mengantri, Cungki yang punya cerita
Dengan anggapan bahwa itu sticky note berlaku, jadilah kita berdiri di antrian tanpa bagasi. Dan ternyata, bwahhaha, disuruh melakukan validasi. Keadaan sticky note yang dibawa Cungki sudah semakin lusuh dan tidak terkendali. Menenteng barang yang nggak bisa juga dikatakan sedikit (memanglah wanita, membawa barang sesuai wadah, fyuuh). Saat diantrian, si mbak pelaku validasi heboh sendiri. Cungki menyerahkan sticky note tersebut dan ditaruh si mbak di samping beberapa tumpukan kertas.

Kejadian selanjutnya yang dilihat Cungki yang sedang mengantri karena saya sibuk juga memandangi orang di depan saya (ini nanti saya cerita). Si mbaknya beberes dulu, karena mungkin stress dengan tumpukan kertas tersebut. Lihat sana lihat sini. Mencoba mencocokkan kertas-kertas yang ada. Merasa tidak cocok, buang ke tong sampah. Bingung, lihat kiri bawah dan lihat kanan bawah. Kais-kais lagi tong sampah. Lega karena kertasnya cocok. Daaaan sticky note kami hilang. "Waduh mbak, dimana ya kertasnya?" Tepok jidat. Benda berharga itu hilang, tapi untung Cungki meminta saya memback-up. Jadi tahap awal, oke. Si mbak nya mesem-mesem karena kami ketawain habis-habisan.

Ada yang heboh
Saya menatap seorang wanita kaukasia di depan saya. Sebelumnya saya sempat menatap pria arab berjalan ke arah antrian dan ikut mengantri. Hanya kebetulan saja saya melihatnya. Alasan saya menatap wanita itu, karena dia cantik dan berpakaian menarik. Lalu selepas saya kembali dari toilet, karena saya kebeletlah, saya kembali menatapnya.
(Semoga berbahagia)
Wanita itu terlihat bosan mengantri. Di belakangnya tidak ada orang, dia juga berdiri di sana tidak melakukan apa-apa. Seperti menunggu sesuatu. Karena bosannya dia pun bergerak dengan membawa barang yang super heboh. 1. Tas besar yang digeret terbalik (awalnya saya melakukan analisa, ini memang style-nya yang gitu, apa terbalik?). 2. Tas yang ditenggerkan di atas tas besar. 3. Tas kecil yang diselempangkan di tas besar. 4. Tangan kanannya memegang tas tenteng khas wanita. 5. Tangan kirinya memegang seikat bunga mawar. 

Satu kata, RIBET BANGET. Saya nggak betahan kalau ada di posisi dia. Dan ternyata pria arab tadi seperti mengirim isyarat ke wanita. Saya melototin mereka (kebiasaan ni saya suka ngamatin orang, bwahahha). Begini percakapan hati yang saya tangkap.
P: Kamu ngapain kemari? Saya sudah mau beres.
W: Lama di sana. Nggak jelas ah. (wajahnya manyun dan bosan)
P: Sebentar saja, ini sudah mau beres (sambil menunjuk tumpukan kertas yang dia pegang). Kamu antri saja di sana, nanti diambil orang antriannya.
W: Ya udah deh. (berbalik lesu dengan menggeret bawaannya. Tas laptop terjatuh. Semakin heboh)
Dan sang pria berlari ke sana. Membantu sang wanita. Saya memandang ke arah lain dan mereka sudah menghilang.

Setelah urusan haha-hihi keruwetan administrasi beres, saya dan cungki pun melenggang ke waiting room. Daan di sana ada merekaa. Berdua. Saya sempat memotret mereka #Dasar saya paparazzi luar biasa. Mereka menatap lapangan landasan bandara, seperti bercerita. Asumsi yang melompat dari kepala saya dan Cungki, "Hmm, sepertinya mereka akan berbulan madu ke Bali."

Lantas apa yang menarik. Kenapa saya cerita tentang mereka terus? Karena di pesawat, kami duduk lagi di belakang mereka. Oalaaah, saya dan Cungki jadi ngakak terus menerus. Hadoooh-hadoooh, susah duduk di belakang orang yang lagi bulan madu (mereka nggak aneh-aneh kok. Cuma terasa suasana pengantin barunya. Penuh dengan ketulusan, hihiww). Jadilah kami menyibukkan diri dengan kegiatan lain namun dengan beberapa keapesan, sebab:
1. Duduk di kursi paliiiiing belakang dan di belakang orang yang bulan madu pula. #Ngelap keringat.
2. Posisi dekat dengan pantry dan bau tuna mengambang. Sungguh perut saya bergolak, tak menyukai baunya.
3. Mau nonton, headset saya patah. Pas minta ganti, eeee patah juga. Lelah deeh. 
4. Nggak kebagian tempat duduk, karena partner duduk kegedeaan (kalau ini bukan kami, tapi orang yang duduk 2 bangku di depan kami).
5. Btw, kita naik AirBus. Yang gede itu loh. 2,3,2.

 (Air Bus)
Sampai di Tanah Dewata (23 April 2012, 09:00 PM, Tanah Dewata)
Saya sampai di Tanah Dewata Pukul 9 malam waktu setempat. Tempat kami menginap berada di posisi padat pelancong, Legian. Suasananya beda sekali. Bir bintang diperjual belikan dengan bebas. Jalanan dilewati banyak orang asing dengan pakaian seadanya. Ada beberapa bar yang kami lewati saat menuju ke hotel tempat kami menginap. 

Saat mencoba mengenal daerah itu dan mengestimasi jarak yang harus kami tempuh dari hotel ke tempat kami mengikuti konferensi, kami sibuk disalamin. Memang karena pakaian kami memang berbeda dengan yang lain, memakai jilbab. Dan anehnya ini malah menstimulus mereka untuk memanggil-manggil di sepanjang jalan. Mereka memang mengucapkan salam, karena kami wanita jadilah kami hanya menjawab dengan senyum dan menjawab dalam hati. Kalau kami senyumin digodain, kalau kami menunduk dikatain. Lelah..lelah. Bahkan ketika kami sudah berpakaian formal, masiiiiih juga digituin. Apa yang salah?? Apa?? Apa??

Kultur di setiap daerah memang beda. Untuk itu kita harus mencoba untuk beradaptasi dengannya.
(Bali itu beda, 23 April 2012)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...