Friday, April 6, 2012

Known Your Surrounding

 (Source: here)

Pernah dengarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial? Bahwa pada dasarnya, seberapa kuatnya kita menyangkal bahwa kita bisa hidup sendiri, kita tak akan bisa hidup tanpa orang lain. Saya sudah menyadarinya sedari dulu, namun terkadang bersifat acuh dan tak perduli dengan keadaan sekeliling saya.

Saya sudah menempati kosan saya yang sekarang, hampir mencapai 5 bulan. Tapi kalau ada yang bertanya kepada saya, siapa saja yang saya kenal di tempat ini, yang jumlah kamarnya hingga 25 kamar, maka saya hanya bisa bilang tak lebih dari seperlimanya saya kenal penghuni kosan ini. Ironis sekali.

Beberapa waktu yang lalu, ada seseorang yang menanyakan saya pada RT setempat, dan beliau tidak mengenal saya (Ketua RT-nya). Jelas saja beliau tak mengenal saya, sebab saya tidak menerapkan sistem administrasi yang baik dalam penerapan kehidupan sosial saya yaitu MELAPOR KEPADA KETUA RT Setempat, dan baru ingat sekarang.

Sebenarnya hal yang memboosting saya untuk mulai lebih berpikir panjang adalah saat saya terdampar di sebuah blog yang saya baca kemaren (See: Travel "X"). Dia seorang petualang, lebih dari 30 negara dia jelajahi, dan bukan petualang yang manja, dia bilang bahwa dia adalah "Hardcore Traveller". Mendapatkan visa tidak dengan fasilitas agen, berkunjung ke daerah konflik dan berbahaya, istilah yang dia pakai adalah: Tidak menarik melakukan suatu perjalanan, jika adrenalinnya tidak bekerja". Yah, begitulah kira-kira yang dia tuliskan.

Cerita Singkat saya mengenal penulis Travel "X"

Saya mengenal penulis blog tersebut di sebuah acara di kampus saya dulu. Saya ikut bersemangat mendengar cerita beliau ketika saya celingak celinguk menatap sebuah miniatur Surface Facilities di atas Platform di tengah lautan. Beliau mendatangi kami (saya dan seorang teman) yang memang terlihat hanya memandang tanpa ada dasar pijakan ilmu yang jelas. Awalnya saya takut sebab si bapak berwajah sangar, namun setelah mulai mengobrol, beliau orang yang seru. Apa ya? Orang yang senang berbagi ilmu. Saya selalu senang juga duduk lama dengan orang yang berbagi ilmu, secara tak langsung ada ikatan di sana.

Jujur saya orang yang senang berbicara banyak mengenai pekerjaan saya, namun saya belum bertemu dengan orang yang benar-benar bertanya kepada saya mengenai kerjaan saya di luar partner kerja saja. Jika saja ada yang bertanya dan memulai kalimat yang tepat dan tentunya memang ingin mendapatkan ilmu dengan pertanyaan tersebut, tidak hanya sekedar bertanya sambil lalu dan melupakannya (saya punya insting mana orang yang bersungguh-sungguh jika berdiskusi dengan saya, mana yang hanya kosong), maka saya akan senang sekali bercerita. Try me!! (ini saya kok jadi curhat,, hehehe. Penantian bertemu teman diskusi yang tepat ini sungguh lama. Saya harus sabar saja).

Percakapan yang dibicarakan merembet ke banyak topik. Ya, lebih ke topik seorang mahasiswa yang tertarik untuk bergabung di dunia migas tapi tak cukup cakap untuk mulai berkompetisi. Salah satunya curhat tentang kendala bahasa yang jadi penyebab tak percaya diri hingga saya tahu bahwa dia adalah seorang Traveller dan sudah menjejakkan kaki di banyak negara. Banyak memotret lokasi menarik yang ada di seluruh dunia. 

Kemaren saya sempat melihat beliau di salah satu seminar di Jakarta. Saya berkunjung ke stand-nya dan duduk lama di sana. Bodohnya, saya lupa-lupa ingat yang mana wajah si bapak itu, dan saya menanyakan nama panggilan yang berbeda dengan yang dikenal oleh mbak-mbak yang kami ajak bercerita. Akhir cerita, saya tidak sempat ber"Say Hello" dengan bapak tersebut. Saya sedikit senewen dengan tak bisanya berhello-hello ria, sebodo amat si bapak tidak lagi mengingat saya, yang jelas nanti saya akan sapa lagi dia. Jika bertemu. Siapa tahu dapat tips bepergian ke luar negeri, atau kecipratan kemampuan bepergian baik dari fisik atau finansial. Hwhehehe.

Masa Kini

Nah, ini lah yang ingin saya sampaikan sebenarnya. Dalam blog-nya dia khusus menceritakan mengenai kehidupan petualangannya. Saya baru berkunjung kemaren dan sudah membaca banyak cerita. Salah satu hal yang dia ceritakan adalah mengenai beberapa hal-hal unik yang ditanyakan saat di kantor imigrasi negara yang dia kunjungi. Salah satu dari hal unik itu, yang menyebabkan saya jadi teringat sesuatu, adalah saat dia sedang diwawancara. Hal yang ditanyakan adalah pertanyaan yang tidak biasa.
"What is you father's name?" (Tahulah yaaa..)
"What is your grand father's name? (Mulai grogi, ingat samar-samar dan mencoba menebak)
"What is your great grand father's name?" (mulai keringat dingin dan sumpah saya tdk tahu)
Pertanyaan sederhana itu mem-boosting saya untuk menyadari keadaan diri. Bukan karena pertanyaan ini yang saya khawatirkan jika saya ke luar negeri, tetapi seberapa tak tahunya saya mengenai keluarga saya. Seberapa tidak tahunya saya mengenai silsilah keluarga saya. Yang saya tahu, ooh itu Tante saya, yang itu Om saya, yang itu Kakek saya, tanpa tahu dengan pasti, siapa nama aslinya. Siapa? Saya hanya cengok dan bengong saja, dan akan mengatakan nama panggilan yang saya dengar. Dan itu tidaklah mempunyai kekuatan hukum. 

Jadi tercetuslah ide itu. Ide itu bukanlah ide baru, sudah diterapkan banyak orang. Hanya saja belum maksimal di keluarga saya. Semoga saja bisa saya realisasikan sehubungan dengan adanya milis keluarga. Saya akan memulai proses pembuatan itu, pembuatan POHON SILSILAH KELUARGA. Hwahhaha, sepertinya dahulu pernah ada. Hanya saja kurang didistribusikan dengan baik. Akibatnya: saya sering bingung ketika dikenalkan dengan orang yang katanya adalah keluarga jauh saya. Tetapi ini sejauh mana ya?? Saya tidak tahu.
(Source: here)

Jadi, sederhana saja. Mulailah mengenal lingkungan sekitar. Mungkin rasanya ini buang-buang waktu saja. Tetapi yang akan saya usahakan sekarang adalah agar anak-anak saya mengenal siapa saja keluarga mereka, nanti. Kalau perlu saya berikan print-out buat mereka nantinya, dan ketika bertemu, berusaha mencocokkan data dengan orang yang mereka temui. Agar anak-anak saya nanti mengenal generasi sebelum mereka. Hwehehehe.

Maybe, it is simple, but it will construct the nice relationship later. I wish I could actualize this dream.
Pin the Dream. Start the Adventure
(DY - Jakarta, Indonesia) 

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...