(Peucang Trip)
30 September 2011, Malam
Perjalanan ini dimulai pada Jum'at malam, saat kegiatan kantor berakhir. Umumnya atau malah semua orang yang tergabung dengan backpackeran ini adalah orang-orang yang sudah bekerja a.k.a no mahasiswa. Jadi, mau nggak mau harus ditetapkan jadwal yang nggak tumpang tindih dengan jadwal kerja. Meeting poin untuk peserta yang berasal dari Jakarta ditetapkan di Terminal Kp. Rambutan sekitar pukul 9:00 PM.
Update lagi..
Dari sana, kita memulai perjalanan darat dengan menggunakan bus (kalo nggak salah bayarnya 20.000-an lah. Sumpah lupa) ke daerah Serang (bwakkakaka, udah lama banget baru saya cerita lagi. E buseet lupa beneran deh). Pokoknya di sana, kita gabung lagi sama anak-anak backpackeran yang ada di daerah Cilegon. Lalu naek elf dan saya dapat tempat duduk yang oke punya.
(First Point sebelum perjalanan perahu)
Nyampe di daerah yang bernama Sumur (beneran ini namanya) sekitar jam 04:00 AM keesokan harinya. Jalan yang dilalui berbatu-batu, naik turun, dan cukup membuat heboh kami yang duduk di dalam elf. Terlempar sana terlempar sini plus kecepatan gila dari Pak Supir. Tareeek Paaak.
(Awal perjalanan di perahu menuju P. Handeleum)
1 Oktober 2011, Jam 07:00 WIB
Naik perahu untuk mencapai Pulau Handeulum. Sekitar 4 jam perjalanan laut. Sampai di sana sekitar jam 13:00 WIB. Di sana kami naik kano untuk menyusuri Sungai Cigenter. Tujuannya adalah untuk melihat Badak, kalau beruntung. Sayang, waktu di sana kami tidak melihatnya. Sekilas pemandangan saya melihat anak buaya di sana. Mistis, hanya saya yang lihat.
(Pemandangan indah dari perahu)
(Sungai Cigenter)
(Berkano di Sungai yang katanya ber-Buaya dan ber-Ular itu)
Ada yang membuat saya sedikit merinding di sini. Sewaktu akan naik perahu, kami diwanti-wanti agar tidak memasukkan tangan ke air. Katanya pernah ada yang diterkam buaya (yuuuuk mareee) nggak berapa lama. Dan dari pohon-pohon yang ada di sekitar sungai, bisa saja ada ular yang jatuh (meeeen, jantung ayee merinding. Gimana coba itu??). Dan alhamdulillah semua berjalan lancar, tak ada buaya tak ada ular bahkan tak adda badak. Jadi objek yang dilihat adalah sungai beserta vegetasinya, baik dari darat maupun yang berserakan di sungai. Overall, airnya tenang sekali.
Waktu kembali lagi ke muara, kita berhenti sejenak di sebuah lapangan. Katanya ada banteng di sana. Sayang sekali, lagi-lagi tak ada banteng di sana. Hehhee. Selanjutnya kita kembali lagi ke Pulau Handeulum buat melaksanakan sholat Dzuhur, makan siang, berfoto-foto, dan Shalat Ashar.
(Spot: Handeleum)
1 Oktober 2011, Sore
Sore kita melakukan perjalanan ke Tanjung Layar. Treking sekitar 2 jam. Cukup lama. Vegetasinya di sana, ya seperti hutan tropis pada umumnya. Rute yang dilalui pas ke sana baik-baik saja, alhamdulillah. Dari cara ngomong tim backpackeran yang pernah ke sana, ada yang tersesat gitu-gitu lah. Saya jadi horor juga, ya iyalah ya. Namanya juga di hutan. Pokoknya kunci selama di hutan, jangan ngomong yang aneh-aneh dan jangan takabur. Pamali.
(Ini hanya pohon yang tak berdaun saja, tidak ada maksud apa-apa)
Pas di sana, kita bergembira ria. Berlari ke sana dan kemari, tentunya dengan numpang ikut dicepret sama kamera orang-orang. Teman saya ada yang naik tebing, tapi saya nggak minat. Saya bisanya naik, kalau turun agak diragukan. Hahahha. Lagian ni orang-orang pada buru-buru melulu, jadi kalau saya masih nangkring di atas sana terus orang pada mau pulang (soalnya saya pengen naik itu pas last minute,,wkwkwk), ya nggak lah ya. Sudah Magrib permirsa.
(Salah satu spot di Tanjung Layar, lapangan rumput)
(Berfoto di mercusuar yang sudah runtuh, jadi ya hanya temboknya saja yang terlihat)
Di sana kita juga melihat Mercusuar tua. Tangga menuju ke mercusuar, Masya Allah banyak sekali. Saya yang notabene-nya punya fisik lumayan, sampai merasa kelu di lidah. Lelah sangat. Tinggiiii sekali. Dan di sana, pemandangan laut terpampang jelas, jadi lelah-lelah tadi hilang tak berbekas, digantikan pemandangan yang Subhanallah itu. Meski saya dari tadi berkendaraan laut, tapi kalau melihatnya dari sudut pandang mercusuar, semua terkesaaan indah sekali. Kita bisa melihatnya secara overal.
(Tebing di dekat mercusuar)
Selepas itu kita jalan lagi menuju pantai selama 2 jam. Saat jalan saya mendengar ada daun yang bergerak, cuma cuek aja. Terus foto-foto di sebuah pohon yang unik banget, masih cuek saja. Melalui jembatan yang sama sampai dua kali, masih adem ayem. Perjalanan kok rasanya lebih panjang ya?? Tetapi tadi lama juga sih.1 Oktober 2011, Malam
Malam itu kita berkenalan dengan semua anggota backpackeran. Sedikit ada konflik antara tim saya dengan tim lain. Karena kita mendapat tempat tidur yang nggak layak alias kehabisan tempat. Padahal pagi-nya, si mbak yang nge-handle perjalanan ini bilang kalau kami bakal dapat tempat karena sudah bayar. Sayang, sudah diambil pengunjung lain yang datang lebih cepat dari kami. Jadilah kami tidur di lantai.
Sementara makanan yang disediakan hanyalah nasi dan ikan teri. Saya sih suka-suka saja. Secara salah satu makanan kesukaan saya adalah ikan teriii "jeng jeng jeng". Jadi saya lahap-lahap saja makannya. Saya nggak mikir rasa lagi, yang penting perut terisi dengan baik.
Kalau saya ditanya bagaimana, saya mah sebodoh amat ya. Saya kadang-kadang orangnya tipe nerimo aja, kalau memang begitu adanya. Tetapi ternyata tim saya protes, terutama senior-senior yang emang sepak terjangnya di belantika perjalanan udah mengerti.
Saat tidur, anak-anak cerita horor. Saya kebangun saja tiba-tiba. Ternyata perjalanan itu memang lebih panjang dari seharusnya. Sebab ada sebuah jembatan yang sama dilewati sampai dua kali. Gerakan yang bergoyang-goyang itu juga seperti bergerak mengikuti. (aaah, sekarang saja saya masih merinding waktu menuliskannya, apalagi pas malam itu).
2 Oktober 2011, Pagi
Bermain sejenak di Pantainya Pulau Peucang. Pasirnya putih. Saya bahagia sekali karena tak ada sampah di sana (ada mungkin, tapi saya nggak lihat). Waktu kami memasukkan kaki ke air, banyak ikan kecil yang mendekati. Jadi daerah itu masih terjaga keasriannya. Indaaah sekali.
(Sunrise di Pulau Peucang)
(Sunrise bersama Tas-nya Mbak Anti)
(Seperti biasa, nggak afdol kalau ke pantai nggak lompat. Masih di Pantai P. Peucang)
(Morning in Peucang)
Kami langsung pulang hari itu. Tidak ikut rombongan lain yang terlebih dahulu ke Cidaon. Karena konflik tadi, jadi tim kami ceritanya kesal. Saya, sekali lagi, lempeng-lempeng aja. Bukannya saya nggak ngerti atau mungkin memang saya nggak ngerti kali ya, tapi kan judulnya Backpackeran gitu loh. Hehhe, bagi saya fasilitas ini udah oke lah. Secara tempat yang dituju jauh begitu.
(Sebelum pulang membuat memori lagi)
Sampai di rumah sudah tengah malam. Dan kita terlelap sempurna, kelelahan dengan perjalanan yang lamaa sekali. Dari pagi hingga petang, dan malam tepar.
Untuk biaya, saya menghabiskan Rp.550.000 menuju tempat ini. Di sana semua sudah di-handle. Jadi tipe backpackeran saya masih sedang, bukan hardcore traveller.
Tips melakukan Perjalanan ke Ujung Kulon
0. Poin penting, bayar biaya perjalanan. Wkwkwkw. Kalau nggak ada lupakan. Akomodasi selama di sana minim sekali. Jadi get ready aja.
0. Poin penting, bayar biaya perjalanan. Wkwkwkw. Kalau nggak ada lupakan. Akomodasi selama di sana minim sekali. Jadi get ready aja.
1. Berhubung ini kawasan hutan, jadi jangan lupa minum pil kina. Untuk mencegah malaria.
2. Biasakan pakai celana panjang, supaya tidak digigit nyamuk.
3. Kalau kamu pejalan tipe cengeng, yakinkan kamu dapat penginapan ke panitia acara. Biar nggak ngamuk-ngamuk selama di sana dan lupa esensi perjalanannya. Kasihan yang lain, ke bawa-bawa emosi juga kalau ada yang ngeluh.
4. Sunblock. Asli panas di sana, saya langsung menghitam (dasarnya udah hitam sih, wkwkkw)
5. Yang suka motret, jangan lupa bawa kameranya ya. Jangan kayak saya, numpang hidup sama orang. Pemandangannya dijamin Oke Punya. Masih asri.
6. Ikuti nasehat penduduk setempat. Berhubung mau berkunjung ke tempat orang, jadi taati lah peraturan setempat.
7. Bagi yang tidak bisa berenang (seperti saya), bawalah pelampung. Ombaknya gila, tinggi banget. Kapal kami sempat berada di bawah permukaan laut. (jangan seperti saya, udah nggak pandai renang, tetap cuek-cuek aja karena memang nggak punya juga sih).
Jadi segitu tips dari saya. Intinya, yaah selalu siap siaga dan kalem dengan segala masalah yang muncul selama perjalanan. Jangan seperti saya yang hobinya mendramatisir masalah. Wkwkwkkw.
World in only one page if you do not try to adventure it
(Life Traveler)










1 comment:
ah macam mana ini kapan ini kita jalan-jalan lagi lae..
Post a Comment