Wednesday, February 22, 2012

Renungan Malam

(Source: here)
Wanita itu bangun di kala orang-orang masih tertidur pulas. Rasa dingin yang menyengat hingga ke sum-sum tulang belakang atau kantuk yang mengantung di pelupuk mata tak jua mampu menghalangi tekadnya untuk bergerak. Ya, dia harus bangun demi masa depan anak-anaknya.

Setiap malam dia bersujud kepada Tuhannya, memohon agar roda kehidupan segera berputar. Agar anak-anaknya diberikan yang terbaik dari yang terbaik. Agar anak-anaknya memiliki kemampuan yang terbaik. Agar nasib anak-anaknya tak sama dengannya. Setiap malam dia merenung, berserah diri pada Tuhannya. Karena dia percaya bahwa Tuhannya akan mendengarkan hamba-Nya yang meminta padanya di sepertiga malam terakhir. Dia percaya bahwa masa terang itu akan datang. Selalu seperti itu, sebelum dia memulai rutinitas sehari-harinya. Rutinitas yang akan selalu dimulainya dengan Bismillah.

Tangannya yang sudah mulai menjejakkan garis-garis termakan zaman memulai dengan lihainya. Mengadon semua bumbu masakan yang telah dipersiapkannya pada malam sebelumnya. Masakan yang akan dijual untuk para pelanggan. Bersyukur dia diberi kelebihan oleh Tuhannya untuk memasak, sehingga dapat memanjakan mulut para pelanggan dengan makanan yang dia buat. Senang memandangi lahapnya pelanggan mengunyah makanan yang dia sajikan menghilangkan rasa penat sebelumnya. Uang yang dia hasilkan dari berjualan tidaklah seberapa. Hanya cukup buat membeli kembali bahan makanan untuk dijual, sedikit sisa uang untuk santapan dia dan anak-anaknya di rumah, dan juga simpanan untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Dia selalu bersyukur mempunyai anak-anak yang mengerti keadaan diri. Tak banyak omong mengenai makanan yang dia sediakan. Karena bagi anak-anaknya, semua masakan yang dia buat adalah makanan paling nikmat di dunia. Begitulah anak-anaknya berkata setiap kali makan. Seperti anak-anak lain, anak-anaknya tumbuh dan sehat. Berperawakan cukup besar untuk ukuran Indonesia. Tak sulit merawat anak-anaknya. Mereka bisa tumbuh dengan baik meski dia sering meninggalkan mereka sendirian di rumah. Karena sibuknya mencari uang dengan berjualan, dia menghabiskan waktu lebih banyak di luar. Sempat suatu kali tetangganya berkata: "Uni ko, anaknyo nyo campak-campakan se masih bisa juara."(Kakak ini, meskipun anak-anaknya dia buang-buang saja, masih juga bisa juara). Entah itu perkataan sarkastik atau sebuah pujian. Dia hanya tertawa dan mengaminkan, bersyukur pada Tuhannya.

Jika bertanya, apakah dia lelah atau tidak? Dapatlah orang menganggapnya lelah. Bangun jam 2 dini hari, memasak hingga jam 6 pagi, berjualan kepada pelanggan hingga jam 8 pagi, berbelanja lagi untuk kebutuhan berjualan sore hari, terkadang hingga pukul 10 pagi. Beristirahat sebentar. Mulai memasak lagi dari jam 2 siang hingga jam 4 sore. Berjualan lagi hingga jam 6 sore. Pulang ke rumah. Mempersiapkan bahan makanan untuk diolah kembali jam 2 dini hari. Dan begitu lagi, setiap hari.

Sedikit jeda baginya untuk dihabiskan bersama anak-anaknya. Hanya malam saja, di kala rasa penat sudah mulai datang. Namun, tak pernah dia tak bersyukur dan mengeluh. Dia banyak bercerita pada anak-anaknya. Memberi kiasan pada suatu hal, sebelum memarahi mereka jika nakal. Dia selalu percaya pada anak-anaknya. Selalu meyakinkan anak-anaknya bahwa mereka harus sekolah, tak soal biaya. Dia akan berusaha semampunya.

Di kala dia tertidur pulas, anak-anaknya berkumpul. Sering seperti itu. Berbicara dari hati ke hati, sesama saudara. Bercengkrama dan memupuk mimpi-mimpi yang akan mereka capai di kala dewasa. Berusaha memenuhi janji-janji yang mereka buat bersama. Saling menguatkan dan mendukung. Persaudaraan yang berusaha mereka pondasikan sekuat mungkin untuk kekuatan mereka. Hidup mereka tidaklah gampang, dengan bersatulah mereka kuat. Mimpi-mimpi yang disusun sebagai bentuk pelaksanaan untuk membahagiakan ibu mereka yang sudah begitu banyak berkorban demi mereka. Anak-anak yang tidak biasa mengungkapkan rasa sayang secara frontal, namun hanya bisa diungkapkan dengan perbuatan yang diberikan secara malu-malu.

Sekarang satu anak sudah lepas. Anaknya itu sedang berusaha memenuhi mimpi-mimpi yang dia janjikan kepada saudaranya yang lebih kecil. Adik-adiknya. Seberapapun beratnya, dia juga harus berusaha layaknya ibu-nya. Dia tidak boleh kalah, minimal bermental seperti ibunya. Wanita yang selalu terbangun di malam hari dan berdoa untuk anak-anaknya. Yang menjadi inspirasinya. Yang menjadi tempatnya bercerita dan mendengarkan keluh kesahnya.
____________________________________________________________

Teruntuk buat Mama.
Saya jadi malu ketika saya mengeluh dengan pekerjaan yang sedang saya jalankan hanya karena bosan. Padahal pekerjaan Mama lebih membutuhkan pertahanan yang lebih kuat dari segi fisik daripada saya. Dan saya jarang mendengar Mama mengeluh. Paling hanya aliran air mata saja, jika rasa lelah itu sudah berlebihan. Dan tadi malam, Mama mengingatkan saya untuk selalu membaca sebuah ayat. Agar saya ingat, kalau di atas sana ada yang mengatur segalanya.

"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka"
(At-Talaq 2-3)

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...