Saturday, February 4, 2012

Tingkat 8

(Sumber: di sini)

Siang ini saya berkunjung ke kamar seorang teman. Bersenda gurau dan mendengarkan kisah cintanya. Kisah redundan yang sering saya dengar dari televisi atau roman picisan. Dia bercerita melompat dari satu titik ke titik lain. Tapi selalu kembali ke titik yang sama, tentang pria yang disukainya.

Mungkin dia akan marah jika saya menjabarkannya di sini. Sempat saya tanya "Bolehkah aku menuliskan kisah cintamu di blogku?" Dia langsung berteriak "Jangan-jangan Dina. Aku maluu." Saya rasa tidak juga berdosa saya menulisnya, toh saya tak menuliskan nama dan alamat lengkapnya. Cukup ceritanya saja tentang dia dan pujaannya.

Entah mengapa, apakah itu yang dikatakan cinta. Jika dia bercerita tentang pria itu, dia selalu melakukan tingkah polah aneh. Aneh bagi saya tapi normal baginya. Aaah, cinta. Memang tak ada habisnya. Saat ini, saya tak berniat menceritakan tentang kisah cinta mereka. Tidak, saya tak terlalu tahu tentang itu. Hanya sepotong-sepotong cerita yang saya coba rangkum di kepala saya, atau sebuah cerita lengkap yang rasanya tidak bijaksana saya ceritakan. Itu rahasianya yang dia percayakan kepada saya. Temannya untuk bercerita.

Dia duduk di depan saya. Saya yang sedang menggenggam mug berisi air putih yang disodorkannya, bersandar santai di salah satu dinding kamar. Saya diam, saya mengamati, saya tertawa melihat tingkah polahnya. Kembali seperti seorang anak yang terlihat ceria. Di sana dia bercerita, jikalau pria nya menyapa setelah sekian lama. Menanyakan sebuah pertanyaan retorikal sederhana dalam satu baris saja. Dan di sana dia duduk, memperlihatkan kepada saya suatu reaksi senang yang tersimpan malu. Pipinya yang sedikit tembem langsung memperlihatkan semburat merah. Ya, warna itu sedikit mendominasi wajahnya. Dia menjawabnya, dan si pria pun kembali membalas dengan rentang waktu yang cukup lama. Waktu akan terasa begitu lama, jika engkau terlalu mengharapkan sesuatu. Bingung akan balasan membuatnya berpikir tidak rasional. Rasa rindunya yang membuncah membuatnya mengetikkan dua buah kalimat singkat yang menggambarkan perasaannya selama ini. Tapi pesan itu tak kunjung dia kirim. Dia takut akan ketidak jelasan atau bahkan respon negatif dari seberang.

Dan kembali, dia duduk di depan saya. Bercerita yang memamerkan perasaan yang bingung untuk diungkapkan. Malu, senang, bingung membaur menjadi satu. "Matii, pesan itu terkirim. Tak sengaja aku menindihnya ketika tidur." Benar saja, dia tak sengaja mengirimkan sebuah pesan rahasia yang tersimpan di dalam telepon selulernya, yang langsung dengan kejam membeberkan rahasia hatinya selama beberapa bulan ini.

Kecepatan tangannya melihat telepon seluler, berulang-ulang terlihat dengan jelas. Keraguan dan wajah was-was dia perlihatkan. Apakah dia akan membalas atau tidak? Berulang-ulang dia berbicara pada diri sendiri, berdiskusi pada hati apa dia matikan saja telepon itu. Memutus hubungan dengan dunia luar. Tapi kembali dia ragu, menguatkan diri "Nggak boleh. Nanti ada yang penting."

Sebegitu hebatnya perasaan manusia terhadap manusia lain. Membolak balikkan logika dan naluri. Rasa suka juga dibarengi dengan beban, beban untuk kekhawatiran, beban untuk kebimbangan, beban untuk ketidakpastian. Begitu yang saya lihat dari kisahnya. Dia kembali melihat dan melakukan kesalahan. "Ohh, ini kenapa ya? Ada hubungannya nggak ya? Aduh aduh,' ucapnya lirih dalam kebingungan. Dan hei, apakah rasa itu juga disertai dengan beban kebingungan?

Ah, entahlah. Ini hanya sepenggal kisah anak manusia tentang virus merah jingga. Masih ada lagi banyak kisah yang saya simpan dan meminta untuk diceritakan. Saya suka bercerita tentang mereka, tentang teman saya. Tentang kisahnya yang unik. Karena manusia mempunyai kisahnya masing-masing.

"Aku rindu kamu. Rindu Tingkat 8"
(Sebuah sms yang tak sengaja terkirim. Ruang rindu seorang teman)

1 comment:

Pricil... said...

HUuahahhahhhhahahahaahhahaa....
hahahahaahahahahahha....

adududududu.. syubidam bidam...
ternyata tingkat 8 adalah dia yang menentukan nilainya sendiri.. wakakakka
aku kira kamu yang nilai...

hemmmmm.. baiklah..

saya mau buat blog dulu..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...