Tuesday, February 28, 2012

Thanks For The Time

(Source: here)

Malam tadi saya menangis sejadi-jadinya. Akumulasi kelelahan, akumulasi kekecewaan, dan renungan panjang lainnya. Pertanyaan apakah ini memang yang seharusnya saya dapatkan, atau memang inilah pekerjaan yang layak buat saya mulai kembali menjadi tanda tanya. Ketika kenyataan berkenaan dengan prinsip hidup yang saya tanamkan mulai jauh bersimpang, rasanya terasa janggal. Mungkin ini zona yang terlalu nyaman, diam dalam kekecewaan.

Kemaren, akhirnya pekerjaan itu terselesaikan. Dan siap dicetak. Revisi final akhirnya terselesaikan. Penantian untuk direvisi yang sudah dipending hingga dua bulan. Ya, saya sudah menyelesaikan pekerjaan itu sejak awal Januari lalu. Sayangnya baru direvisi sekarang, karena overlap dengan pekerjaan lain. Jujur saya kecewa, semangat bekerja saya mulai turun perlahan menuju signifikan. Berapa banyak waktu saya terbuang? Berapa banyak malam-malam panjang yang saya habiskan di depan komputer untuk mengejar deadline ini. Tapi apa? Rasanya semua percuma, kalau pada akhirnya saya harus menunggu dua bulan. Deadline itu sudah terlewatkan.

Akhirnya, pekerjaan itu direvisi. 3 hari lamanya saya berdiskusi dan rasanya revisi itu begitu solutif. Terlepas dari pandangan bos saya, betapa bodohnya saya, atau betapa buruknya kualitas grammar saya, saya bahagia. Saya mengerti jalan pikirannya. Saya senang menghabiskan waktu yang panjang itu untuk merevisi. Biarlah, malam saya masih juga mengerjakan pekerjaan. Walau weekend saya dihabiskan juga untuk pekerjaan.

Hingga hari kemaren datang. Ketika rasanya pekerjaan ini sudah ending, sudah siap dicetak, sudah siap dikirim. Ketika saya dengan semangatnya berjalan dari ruangan senior saya, membawa selembar kontrak untuk mengukuhkan penyelesaian pekerjaan. Dan panggilan itu datang, pekerjaan yang saya kerjakan direview lagi, LAGI, HABIS-HABISAN. DAN DIMULAI LAGI DARI AWAL. DARI AWAL.

Bohong saya tak bosan. BOHONG!! Apalagi dalam seminggu ini kondisi fisik saya semakin melemah. Saya tak bisa lagi berpikir. Saya tidak bisa lagi berdiskusi. Karena bos saya kembali mengomentari laporan itu. Berfilosofi panjang lebar mengenai apa itu laporan yang baik, bagaimana melihat dari sudut pandang pembaca. Menanyakan pendapat saya akan sesuatu mengenai tulisan di laporan, ketika saya sampaikan, lantas berkata: "Itu kan pendapat kamu."

Jadi apa poin pentingnya dalam diskusi ini. Mencerca habis-habisan pendapat saya? Saya tahu saya bodoh, saya tahu saya masih kurang pengalaman, saya tahu dan sadar se sadar-sadarnya kalau kualitas tulisan saya masih jongkok. Tapi Tolonglah, Hargai Pendapat saya. Bukan saya tidak berusaha, tapi baru segini tingkat kemampuan saya dibanding Anda yang 30 tahun. Saya baru 1.5 tahun, Pak. Hanya 5 persen dari masa kerja Anda. Masih Jauuuh.

Namun, saya manusia. Saya ada limitnya. Saya bukan dewa.
Tahukah Anda Pak? Kemaren saya berdiskusi dengan Anda, dengan tangis tertahan?
Tahukah Anda Pak, saya tak lagi mendengar pendapat Anda? Saya sudah tak bisa karena kelelahan itu.
Tahukah Anda Pak, malam panjang yang saya habiskan untuk menulis tulisan yang Anda anggap tidak berkualitas itu?
Tahukah Anda Pak, berapa banyak masa hidup saya yang terbuang untuk menunggu pekerjaan itu segera direvisi?
Tahukah Anda Pak, seberapa sering Anda meminta file laporan saya? Langsung dari laptop saya untuk dikopi, tapi tidak dilirik sama sekali. Karena lagi-lagi Anda meminta dan mengatai seolah-olah belum runut. Padahal belum baca sama sekali.
Tahukah Anda Pak, seberapa besar kekecewaan saya dalam menunggu? Sementara
Anda mengajak saya berdiskusi jam 5 sore. Dimana orang-orang sudah pulang dari tempat kerjanya.
Tahukah Anda Pak, saya mulai merasa mungkin ini bukan tempat saya? Untuk tidak menjadi anak buah Anda.
Tahukah Anda Pak, seberapa besar rasa frustasi saya ketika berdiskusi dengan Anda? Berputar-putar pada titik yang sama hanya untuk satu kata. Maaf Pak, saya tidak bisa berpikir.
Tahukah Anda Pak, bahwa Anda sangat senang berkomentar pada saat pekerjaan akan berakhir?
Kita lihat saja hari ini, apakah revisi yang akhirnya Anda kerjakan sendiri ini jadi? Atau hanya kembali terulang menjadi janji-janji tak ditepati. CUKUP, SAYA BOSAN DENGAN JANJI INI
Maaf Pak, mungkin Anda adalah orang yang hebat dalam berbicara, tapi saya tak bisa bekerja sama dengan Anda.
Maaf Pak, mungkin saya terlalu bodoh untuk bisa setara berbicara dengan level kemampuan Anda.

Tiba-tiba saya teringat dengan kuesioner kepribadian yang ditanyakan kepada saya ketika mendaftar pekerjaan ini. Tiba-tiba saya teringat saat wawancara pekerjaan ini, bahwa pekerjaan bisa dikerjakan dimana saja dan akan direvisi. Tapi saya lupa bertanya, revisi akan dilakukan kapan? Apakah segera? Atau beberapa bulan berikutnya?

Bukan kita yang tidak memenuhi deadline, tapi ada pengaruh Anda Pak, selaku penyaring. Dan jika diskusi ini terus dilanjutkan, saya khawatir hanya akan berujung kepada KETIDAK PRODUKTIFAN.

Mungkin benar kata teman saya Pak, pekerjaan saya ini KEJAM dan KETERLALUAN. Saya hanya butuh waktu sendiri untuk menyadarinya, setelah sekian lama menyangkal bahwa inilah kehidupan seorang konsultan.

Dalam doa yang panjang, dalam renungan yang dalam, saya mendapat sebuah pencerahan. Dan hari ini saya akan menyampaikan semuanya. Terlepas dari kenyataan bahwa saya mungkin akan kehilangan pekerjaan. Terlepas dari kenyataan bahwa mungkin saja saya tidak bisa memenuhi tanggung jawab saya. Pada dasarnya saya menyukai keterbukaan. Maka itupun harus diterapkan di sini. Karena rezeki Allah yang mengatur.

Saya sudah terlalu lama terbelenggu dengan janji saya kepada perusahaan pak. Bahwa saya akan loyal. Itu yang selalu saya ingat, bahwa saya akan setia di perusahaan ini. Tapi apa poinnya janji saya, jika perusahaan ini tak memenuhi janjinya kepada saya. Impian saya sederhana kok Pak, saya mau mencari kebahagiaan.

Teman, doakan saya yaaa.. Doakan saya untuk diberi keberanian mengungkapkan pendapat saya. Karena saya manusia, ada limitnya. Doakan sayaa..

Sometimes you just have call it a night
(Nasehat seorang teman)
Kadang kita harus menyadari dimana limit kita, Karena kita bukan Dewa
(Renungan malam seorang saya)

2 comments:

mphirrr said...

Dinaaaaaa... I knew what you felt yesterday :( because I felt it too in the different way.. and you know exactly that I cried too..

Semangaaaaatttt dinnnn..
di balik kesusahan selalu ada kemudahan,
di balik kesusahan selalu ada kemudahan,
di balik kesusahan selalu ada kemudahan,
itu janji Allah SWT. dan pasti terjadi..
yakinlah pada-Nya..

Tetep Semangaaaattt...!!!
Aku yakin dina bisa ngungkapin semuanya dan semoga ada titik terang ya dari kejadian ini.. titik terang yg terbaik untuk semua pihak..

Find your happiness and never ever let it go..
Find it.. :)

Si Petualang said...

Makasiiih ya fiiir.
Bismillaaaah..

Ini proyek ku hari ini
Go or No Go!!
Semoga mendapatkan hasil terbaik, apapun hasil diskusi hari ini. Percaya sama Allah kan fiiir.. Dia ngasih yang terbaik buat kita..

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...